Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Ada Apa dengan Bilmar


Selamat siang guys


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hati Alika dan Bilmar kembali mekar dan berbunga. Terutama Bilmar yang senang karena wajah istrinya sudah tampak hilang dari kesedihan. Alika terus menarik sudut bibirnya ke atas untuk tersenyum dan memperlihatkan barisan gigi depannya yang putih dan bersih.


"Kamu gak mau ikut aku lagi ke kantor?" Tanya Bilmar ketika Alika sedang mengaitkan dasi di kerah lehernya.


Alika menggelengkan kepala. "Aku di rumah aja ya sama Ammar..."


Setelah selesai merapihkan dasi, tangan Alika turun untuk merapihkan kemeja di dibagian pinggang untuk menyisipkan dengan baik kedalam celana Bilmar. Lalu ia berjalan ke ranjang untuk mengambil jas kantor berwarna hitam dan memakaikan di tubuh suaminya.


"Kemarin-kemarin kamu kaya ulet bulu, mau nya nempel terus sama aku. Sekarang malah aku dilupain..." Bilmar pura-pura sedih. Alika menggandeng tangan Bilmar dan menyuruhnya duduk di sofa seperti biasa.


"Jadi kamu senang kalau aku sakit?" Alika mengerucutkan kedua bibirnya. Lalu ia berjongkok sambil memakaikan kaos kaki dan sepatu di kaki Bilmar.


"Jangan dong, aku sedih banget waktu itu.."


Bilmar mengusap-usap pipi istrinya. Tatapan Bilmar penuh suka dan cinta. Tidak ada hari tanpa mencintai istrinya. Ia selalu menatap Alika dengan kesempurnaan. Wanita yang bisa dalam segala hal.


Alika pun bangkit dan duduk disebelah suaminya. "Sifat aku banyak jeleknya, Bil. Semoga kamu bisa terus menerimanya---" ucap Alika syahdu.


"Udah jadi tugas aku, kamu kan manusia. Manusia tempat nya salah, aku juga sama. Banyak salah nya sama kamu..." Bilmar tersenyum. Alika pun membalas senyuman itu.


"Bisa banget sekarang kalau nasihatin..."


"Iya dong, kan buat kamu---" Bilmar mencolek ujung dagu istrinya. Bilmar menyeringai bagai harimau yang siap menerkam mangsanya. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh hasrat.


Mengelus-ngelus tengkuk leher Alika. Hal itu membuat bulu kuduk Alika merinding. Ia sudah tahu jika Bilmar terus seperti ini, akan dipastikan baju yang saat ini, tengah ia pakai pasti akan terlepas begitu saja dari tubuhnya.


"Aku kangen sama kamu." Bilmar semakin bergelora. Rasa rindu itu seperti melupakan tentang niatnya agar tidak menjamahi tubuh istrinya di awal-awal kehamilan.


"Kamu cantik banget selama hamil si kembar.." Bilmar berbisik ditelinga istrinya, lalu lidahnya yang nakal begitu saja mengusap daun telinga Alika.


"Jadi sebelum hamil si kembar, aku jelek ya?"


"Gak ada jelek di diri kamu, semuanya cantik. Sampai ke Sassy pun, cantik, indah dan mempesona...." Bilmar terus memainkan lidahnya disana.


"Geli, Bil..."


Alika membidikkan kedua bahunya karena terasa geli.


"Biasanya bilang enak kan?" Jawab Bilmar nyeleneh. Tangannya kini terangkat untuk masuk kedalam dress Alika dan mengusap perut istrinya.


"Sayang-sayang nya Papa nih.."


Alika dan Bilmar pun tertawa.


Lalu Bilmar melanjutkan kembali, ia mengendus aroma kulit istrinya yang begitu wangi. Meraih dagu istrinya dan membenamkan kedua bibir nya di katupan bibir sang istri.


Lidah nya begitu saja menyesap masuk untuk menginvasi rongga mulut Alika. Permainan bibir pun terjadi, libido Alika sudah terpancing dan tubuhnya seketika mendamba belaian yang lebih dari Bilmar. Kepala mereka saling beradu, decitan saliva terdengar dari keduanya.


Alika terus mengerang nama suaminya dan semangat Bilmar terus mendidih. Ia menggendong tubuh Alika tanpa membiarkan ciuman itu terputus. Membaringkan tubuh mungil itu dengan hati-hati di ranjang. Kedua tangan Alika sudah bergerak untuk menarik kemeja Bilmar agar dinaikan ke atas.


Blup.


Seketika Bilmar tersadar dan teringat kalau ia harus berangkat bekerja.


Bilmar melepaskan pagutan bibir tersebut dan menatap wajah istrinya. "Segini aja ya, aku hanya ingin ciuman sama kamu---" Bilmar mengacaukan hasrat Alika yang sudah mendidih. Ia tertawa ketika kemejanya sudah terangkat naik dan hampir bertelanjang dada.


"Aku gak bisa nahan, Bil---" Alika tetap ingin menarik wajah Bilmar untuk melanjutkan kecupan itu.


Bilmar menggeleng dan mencium dahi istrinya. "Nanti aja pulang dari kantor ya, kalau sekarang aku akan telat sayang." Bilmar mengecup lagi bibir istrinya.


Alika berdecak malas. "Makanya kalau kayak gitu tuh, jangan mancing-mancing!"


Bilmar tertawa terpingkal-pingkal. "Ya udah maafin aku ya, janji deh abis aku pulang kerja...janji..." Bilmar memperlihatkan dua jari nya sebagai tanda suer.


Alika mengangguk lalu mendorong tubuh suaminya untuk bangkit dan turun dari atas tubuhnya.


Alika kembali membantu Bilmar untuk merapihkan kemeja dan jas kantor nya.


*****


"Iya Bin, maaf ya aku gak jadi hari ini menginap dirumah Papa, mungkin besok aku akan main kesana..." Ucap Alika sambil mengepit ponselnya diantara telinga dan pangkal bahu nya. Tangan kanannya masih mengaduk-aduk bahan adonan donat di baskom. Alika sedang sibuk dapur, ia sengaja ingin membuat donat hari ini untuk suaminya. Karena Donat adalah kue kesukaan Bilmar.


"Memangnya kamu sedang sibuk, Kak?"


"Aku lagi buat donat buat Papa nya anak-anak.." Jawab Alika, lalu ia berjinjit untuk membuka lemari dan mengambil beberapa bahan yang masih kurang.


"Wih mantap, kayaknya udah baikan nih." Suara Binar terdengar meledek.


"Hahahahaha. Jujur aja sih sebenarnya aku gak bisa lama marahan sama dia---" Alika tertawa.


"Masa??" Suara dari seberang sana terdengar nyeleneh.


"Iya dong, buktinya kita udah baikan nih sekarang." Alika berucap bangga.


"Kamu mau donat gak? Aku buat banyak nih, nanti biar Mang Dana yang antar ke rumah Papa!"


"Boleh deh Kak, oh iya mau request boleh gak??"


"Request apa?" Kening Alika mengerut.


"Buatin aku nasi goreng yang pedas ya Kak. Aku lagi ingin nasgor buatan Kakak." Terdengar suara Binar tertawa lagi.


"Tumben, Bin. Kamu lagi kenapa? Ngidam?"


"Doain ya, Kak. Aku udah telat haid satu minggu."


Wajah Alika terlihat senang. " Ya Allah, Bin. Semoga aja jadi ya, biar Gadis punya adik..."


"Makanya buatin nasgornya, banyakin ya. Hahahaha."


"Selain nasgor kamu mau apa lagi?"


"Puding mangga Kak, kayaknya enak deh--"


"Oke, siap. Kakak buatin, buat calon keponakan." Alika berdecis geli. "Aku tutup teleponnya ya..."


"Ya udah, cium dulu dong." Jawab Binar manja.


"Muach sayang..." Alika memberi suara kecupan jauh untuk Binar.


"Muach, Kak.."


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Begitulah Alika, ia sangat mencintai keluarganya. Apapun untuk kebahagiaan mereka, akan ia lakukan secara sukarela.


*****


Setelah dua jam berkutat di dapur, akhirnya beberapa buah donat dan makanan pesanan Binar sudah tersaji di meja makan. Beberapa dari makanan itu ia masukan kedalam tempat bekal untuk dibawa Mang Dana kepada Binar.


"Udah siap Non?" Tanya Bik Minah.


"Iya Bik, tolong semua ini bawa ke mobil ya. Biar Mang Dana langsung antar kerumah Papa." Alika menyodorkan tas bekal makanan.


Lalu tiba-tiba tubuhnya terasa begitu lemas dan ingin jatuh, untunglah kedua tangannya dengan cepat meraih dipan kursi.


"Ya Allah Non, kenapa? Non pusing?" Bik Minah meletakan tas bekal itu di meja dan membantu Alika untuk duduk. "Bibik ambilin minum dulu ya, Non."


Alika mengangguk. Ia mengusap air keringat yang terus menetes di wajahnya.


"Minum, Non.."


Alika meraih segelas air putih dan meminumnya sampai habis. "Non kecapean ya? Tadi Bibik mau bantuin, sama Non gak boleh--"


Alika tersenyum melihat Bik Minah yang cemas, bukan hanya cemas dengan keadaan Alika tapi ia juga gelisah, dirinya takut kalau Bilmar akan marah.


"Nanti Aden pasti ngomelin bibik, Non. Makanya Non jangan lama-lama berdiri didapur----Bahaya Non."


Alika tertawa karena melihat Bik Minah semakin dirasuk kekhawatiran.


"Bibik tenang aja, saya juga kan gak sering-sering masak banyak kayak begini...Gak udah pikirin Papa nya anak-anak, biar jadi urusan saya." Alika mencoba menenangkan Bik Minah.


"Tapi wajahnya Non pucat banget, mau ke Dokter Non? Biar Bibik yang temenin---"


"Pucat ya Bik?" Alika mencoba meyakinkan Bik Minah, kalau wanita itu tidak salah menatapnya.


"Iya Non, pucat banget."


"Ya udah tolong Bik, ambilkan obat saya ya di kamar." Alika mengambil tissu untuk kembali mengusap keringatnya yang terus menetes.


"Tunggu ya, Non." Bik Minah bangkit dari kursi lalu melangkah menuju kamar.


Alika menyeret bola matanya untuk menatap jam dinding.


"Kok udah lewat dari jam makan siang, Bilmar belum sampai juga kerumah?" Desahnya. Ia merasa hatinya tidak enak sekarang.


"Apa dia lupa ya sama janjinya, kalau mau pulang cepat hari ini?" Alika kembali bergumam.


Kring kring kring


Dering telepon rumah terdengar nyaring. Bik Minah yang sedang berjalan langsung berbelok ke arah meja telepon.


"Assalammuaikum, ya hallo?" Jawab Bik Minah.


Alika masih menatap Bik Minah dari meja makan. Terlihat wajah Bik Minah berubah drastis, wanita tua itu melongo dan menutup kedua mulutnya ketika mendengarkan seseorang tengah berbicara ditelepon.


"Ya Allah, kok bisa, Bu?" Tanya nya.


Tentu perangai Bik Minah yang seperti ini membuat Alika membulatkan kornea matanya.


"Kenapa, Bik? Siapa yang telepon?" Tanya Alika. Bik Minah menatap majikannya dengan rasa campur aduk. Ia tahu pasti setelah ini Alika pasti akan berteriak.


"Aden Bilmar, Non..." Suara Bik Minah tergagap, bibirnya bergetar.


Alika pun bergegas bangkit dan menghampiri Bik Minah. Degupan jantungnya begitu saja muncul dengan hebat.


"Kenapa Bilmar?" Tanya nya masih dengan suara was-was, ketika langkahnya sudah sampai dan berhadapan dengan Bik Minah. Alika dengan cepat meraih gagang telepon yang masih ada di kepalan tangan art nya.


"Hallo? Ada apa dengan suami saya??" Tanya Alika panik. Keringat di wajahnya terus bercucuran.


"Hah?? Apa??" Suara Alika kembali terdengar nyaring lalu menghilang begitu saja dengan tubuhnya yang akan terhempas lemah ke lantai.


"Non..." Seru Bik Minah, dengan sigap ia meraih tubuh Alika yang tidak sadarkan diri.


"Non, bangun, Non..."


****


Haii semua, beri vote dan like yang banyak buat cerita ini ya. Sebelum cerita Alika dan Bilmar berakhir..❤️❤️ oh iya FYI ya, buat kalian yang mau masuk grup, bisa tinggalin jejak dulu ya di novel. like, komen dan vote.


Babang tampan kenapa ya?