
Hayy selamat malam, sengaja episode yang ini aku upload dimalam, biar nemenin kalian buat nyenyak tidur heheh🤭🤭😛
yuk guyss mari baca
❤️❤️
***
"Kayaknya aku nggak jadi deh buat acara pernikahan kita sebesar ini, Kak." Binara menatap wajah Rendi penuh keyakinan.
"Kamu yakin, sayang?" tanya Rendi.
"I-ya, setelah aku fikir-fikir. Kayanya aku lebih ingin acara sederhana dirumah, lebih dekat dengan keluarga besar kita. Menurut kamu, bagaimana sayang?"
"Aku sih nggak masalah, Bin! gimana enak nya kamu aja, yang penting nggak ada penyesalan aja diujungnya."
"Nikah sama kamu aja, aku udah bersyukur, Kak. Makasi ya kamu udah mau nerima kekurangan aku yang kaya gini!"
Bagaimana pun Binar harus terus bersyukur ada lelaki yang masih perjaka mau menerima dirinya yang sudah pernah menikah dan melahirkan. Baginya Rendi adalah lelaki yang sempurna. Gagah, penuh perhatian, romantis dan lebih sabar dari pada Bilmar.
Rendi lebih suka mencari solusi, namun Bilmar lebih suka mencari adegan untuk beraksi.
"Selain itu, aku juga nggak enak sama Kak Alika, kemarin juga pernikahan mereka hanya dirumah. Lebih syahdu kan? aku ingin seperti mereka, Kak."
"Iya sayang, apapun maunya Binar. Aku pasti akan menurutinya, yang penting kamu bahagia."
Rendi mengecup Bibir merah muda kepemilikan Binara. Namun Binar dengan cepat menyudahinya. Ia takut jikalau ada karyawan yang masuk kedalam ruangannya.
"Kenapa?"
"Nanti ada yang masuk Kak!"
"Sebentar aja, Bin." Rendi mulai menyusupi ceruk leher Binara.
"Kak, udah jangan! nanti kalau kepergok sama orang. Terus jadi ramai, aku bakal dimarahin Papa. Aku nggak mau kepergok kaya Kak Alika dan Kak Bilmar.."
"Hah? sama siapa? dimana?" kedua mata Rendi membelalak, ia baru tahu kejadian lucu yang memalukan ini.
"Dipergokin sama Papa Bayu, katanya sih...dikamar mandi!"
Sontak penjelasan itu membuat Rendi terbahak-bahak. Karena gelak tawanya membuat ia sedikit mengeluarkan air matanya.
"Udah ih, kamu jangan ketawain Kakak ku kaya gitu! mending tadi aku nggak usah cerita!" Binara mencebik.
"Aku mah lucu nya sama si Bilmar, ada-ada ajah tuh kelakuannya, hahahaha. Alika mah masih polos, pasti nurut-nurut aja, huh."
"Udah ih, kamu tuh---!"
"Kalau nanti kita mau dimana?" Rendi menggoda Binara.
"Di ******! puas--?"
"Hahahaa, jangan dong sayang kan bau. Nanti aku nggak nafsu lagi sama kamu, hahaha!"
"Euhhh, diem nggak! ketawa kamu tuh berisik, Kak!"
"Oh iya aku lupa, Bin! aku ada pertemuan dengan klien sebentar lagi. Aku tinggal dulu ya!" Rendi pun segera bangkit lalu mencium dahi calon istrinya.
"I love you sayang!"
"I love you too!"
Mereka saling menyahut dalam bahasa cinta. Karena merasa sudah mendapat lampu hijau dari Rendi, Binara bermaksud untuk menjelaskan keinginannya kepada sang Papa. Ia merasa Papa Luky pasti akan setuju.
Ia pun berlalu untuk mendatangi ruangan kerja sang Papa.
"Pah?" panggilan Binara sontak membuat Papa Luky mendongakkan wajahnya ketika ia masih sibuk menatapi beberapa dokumen bersama Pak Khalid.
"Eh, anak Papa yang cantik datang. Ada apa Nak?" Papa Luky menyambut Binara dengan lembut.
Binara mengarahkan matanya ke arah Pak Khalid, sebagai kode agar lelaki itu pergi dulu sebentar.
Tanpa suruhan dan aba-aba.
"Saya permisi dulu Pak, nanti siang saya akan kesini lagi, permisi Bu Binar!"
Pak Khalid pun berlalu dengan cepat.
"Papa akan menginap lagi malam ini dirumah Kakak?"
"Iya Nak, apa kamu ingin ikut?"
"Iya Pah, Binara mau menginap juga disana. Oh iya Pah, ada hal yang ingin Binara sampaikan ke Papa."
"Sepertinya Binar ingin mengadakan pesta pernikahan sederhana saja seperti Kak Alika dan Kak Bilmar beberapa waktu lalu. Dan juga Binar ingin mengadakan pesta pernikahan kami dirumah Papa Bayu, apakah boleh Pah?"
"Oh, Papa fikir tentang apa? ya Nak, Papa setuju saja. Toh pernikahan ini kan Binar yang jalani, kalau dengan seperti ini kamu akan bahagia. Papa akan mendukung mu, Nak!"
Senyum bahagia tercurah diwajah Binara. Ia tidak menyangka sang Papa akan berubah drastis dalam sikapnya.
Tidak terlihat lagi suara kasar, nyaring atau tegas. Yang ada hanya suara lembut dan hangat. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh Binar semata, namun oleh semua orang yang sering berhadapan dengan Papa Luky.
"Ya sudah hubungi saja dulu Kakakmu, minta ijin sama mereka."
"Oh iya Pah betul, aku sampai lupa." Binar pun mulai mencari-cari ponsel disekitaran kantung jas kantornya.
"Duh ketinggalan diruangan aku, sebentar ya Pah, aku akan segera kembali!"
"Iya, Nak."
Wajah Papa Luky terus mengembangkan senyum penuh cinta dan sayang. Ia terus melihati sosok Binar yang sedang berlalu keruangannya untuk mengambil ponsel yang ketinggalan di meja kerjanya.
"Beruntungnya aku, bisa melihat kedua anakku hidup bahagia bersama orang yang dicintainya. Cukup lah hanya aku yang menderita berpuluh-puluh tahun karena ditinggal oleh mu, Alisa !"
Lalu beberapa lama kemudian.
"Ya tolong! hapus jejak tentang kejadian penembakan itu! aku tidak ingin, namaku terseret! aku sudah membayar kalian dengan mahal! pergilah beberapa waktu kemanapun, jangan meninggalkan bekas! ingat itu."
Sebuah kalimat ultimatum tercipta dari mulut lelaki paru baya ini. Ia sedang memberikan perintah kepada si pembunuh bayaran untuk secepatnya pergi tanpa meninggalkan jejak.
Ia ingin polisi tidak bisa mendapatkan pelaku atas kejadian yang telah dialami oleh Alika dan Rendi.
Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jikalau keluarga mereka tahu bahwa Papa Luky adalah dalang dari semua ini.
Pagg.
Seketika terdengar suara ponsel begitu saja terjun bebas ke lantai. Membuat Papa Luky menoleh kebelakang, lalu memutarkan tubuhnya secara maksimal.
Dengan cepat Papa Luky menurunkan ponsel nya yang masih berada tepat didaun telinganya.
Terlihat kedua matanya membulat, mulutnya tercekat. Tiba-tiba saja keringat bercucuran begitu dasyat membanjiri wajahnya. Kulit tenggorokannya naik turun.
Papa Luky merasa habislah nyawanya saat ini! Ia yang punya rencana, tapi ia lupa bahwa Allah lah yang akan memutuskan.
Dilihatnya Binara masih mematung kaku beberapa jarak darinya. Kedua matanya melotot tajam, kedua pipinya begitu memerah menahan kesal. Rahangnya mengeras. Ada air mata yang terus menggenang-genang membasahi kedua matanya.
"PAH?"
***
Nah loh gimana nih? si Papa Luky terancam ketahuan guyss.. terus simak kisahnya ya.
Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:
**1. Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
Jangan Berhenti Mencintaiku
Dua Kali Menikah**
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘