Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Teka-Teki Papa Luky


Hayy malam..aku datang lagi..kadang nggak nyangka, hari ini. Dari pagi, siang dan malam aku muncul terus🤭🤭🤭😁


Mood aku lagi baik soalnya, hihihi❤️❤️


okeydeh, kita baca yuk..ettapi jangan lupa VOTE aku dulu yaa😘😘


🤗🤗


****


Papa Luky sengaja membawa mereka terlebih dahulu untuk masuk kedalam restauran termahal dikota ini. Ia ingin memanjakan kedua putri-putrinya, terutama Alika. Anak yang selama ini belum pernah ia nafkahi dan membuatnya senang dengan uang yang ia miliki.


Papa Luky saling merangkul anak-anaknya, bersenda gurau lalu tertawa bersama-sama.


Alika terlihat duduk dipertengahan antara Papa Luky dan Bilmar tepat dihadapannya ada Binara, Rendi dan Papa Bayu. Mereka berenam berkumpul menjadi satu di meja makan.


"Bil? apakah malam ini, Alika boleh menginap dirumah Papa?"


Seketika Bilmar sedikit memuntahkan air yang sedang ia tenggak kedalam mulutnya. Ia menoleh cepat ke arah istrinya. Menatap matanya yang memang sedang menatapnya balik.


"Bilmar terserah Alika aja, Pah." ucapnya menahan rasa tidak ingin. Bukan karena tidak suka, tapi malam ini ia hanya ingin berduaan lagi dengan sang istri. Ia masih rindu dengan Alika.


"Alika pasti akan menginap dirumah Papa. Tapi nggak sekarang ya Pah? Insya Allah, minggu depan Alika akan menginap lama dirumah Papa, bagaimana?"


"Iya, Nak. Papa mengerti." balas sang Papa sambil merangkul putrinya.


Binara tidak akan melupakan momen tersebut, ia terus mengambil beberapa foto ketika Alika dan Papa Luky saling mendekat dan bercanda.


"Wah Pah, makanannya lezat semua ya. Udah lama kayanya nggak makan steak." ujar Binara membuat semua orang tertawa melihatinya.


Berbeda dengan Alika, ia terus mengamati makanan yang ada dihadapannya saat ini. Ia terlihat kikuk, teringat pertama kali makan berdua di pesawat bersama Bilmar. Bagaimana potongan daging itu susah untuk dilahap. Alika tidak terbiasa menggunakan pisau dan garpu.


Terlihat semua sudah menyantap makanan mereka masing-masing dengan lahap.


"Kamu kenapa diam aja, Nak. Ayo makan." Papa Bayu menyita semua mata yang sedang menatap ke atas piring mereka, untuk sedikit berbalik menatap ke arah menantunya itu.


"Alika mau pesan yang lain? Papa pesankan ya?" sambung Papa Luky menawarkan menu makanan yang berbeda.


"Oh, enggak kok Pah. Ini saja sudah cukup buat aku." Alika memberi senyum bergantian ke arah Papa Bayu dan Papa Luky.


"Oh iya sayang. Maafkan aku lupa. Sini, aku bantu memotonginya!" Bilmar mulai meraih steak platenya, ia memotongi daging-daging itu menjadi potongan kecil-kecil agar Alika bisa memakannya dengan mudah.


"Makasi ya sayang, Maaf aku merepotkanmu." Alika menatapi wajah Bilmar yang tengah asik memotong-memotongkan daging untuk istrinya.


"Makasi nya nanti aja ya sayang, pas malam, muach..." Bilmar setengah berbisik sambil mengedipkan mata dan memberikan kode cium dimulutnya.


"BILMAR---!" Papa Bayu kembali membuat Bilmar dan Alika terbelalak.


"Ampun Pah." Bilmar berdecis geli.


"Tahan Bil, Alika harus istirahat total dulu." sambung Rendi untuk mengingatkan.


"Malah kalau kaya gitu, Alika akan cepat sembuh, Pah, Ren!" Bilmar kembali tertawa.


"Udah ih kamu, malah makin menjadi-jadi!" Alika mencubit tangan suaminya dengan pelan.


Papa Luky dan Binara hanya tertawa melihati Alika saat ini. Mereka merasa seperti suatu keajaiban melihat Alika mau menerima keberadaan mereka secepat ini.


Mungkin ini lah yang dinamakan doa orang tua sangat mustajab untuk anak-anaknya.


"Alika, Rendi. Papa ingin bertanya serius kepada kalian! ucap Papa Bayu menatap Alika dan Rendi secara bergantian.


"Kenapa Pah?" balas mereka bersamaan.


"Apakah, kalian punya musuh selama ini?" tanyanya menyelidik.


Sontak pertanyaan itu membuat suasana yang tadinya hangat berubah menjadi cekam menggelut. Papa Luky sudah mulai panas, ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh adiknya setelah ini.


"Karena Papa merasa ini bukan sekedar tembakan nyasar atau hasil perbuatan dari ketidak sengajaan!"


"Betul Pah, Binar merasa bahwa si penembak memang tengah mengincar Kak Alika dan Rendi---"


Bilmar menyelak cepat. "Mungkin lebih tepatnya Alika yang akan menjadi sasaran utamanya!" Ia meletakan kembali potongan daging-daging itu untuk dimakan oleh sang istri.


"Hem..iya si betul juga Kak. Buktinya setelah Kak Rendi terkapar, ia kembali menembak tepat ditubuh Kak Alika. Jika memang penembak itu akan berbuat jahat kepada kita semua, ia pasti juga akan menembak aku!"


Tiba-tiba saja selera makan Papa Luky hilang.


"Tapi, mengapa Papa bisa ada ditempat kejadian untuk menolong aku?" Alika menoleh ke arah Papa Luky untuk membangunkannya dari lamunan.


"Pah?" Binar mencoba memanggilnya, ketika sang Papa hanya diam melamun.


"Eh iya Nak, kenapa..kenapa?" balas Papa Luky untuk mengembalikan wajahnya agar senatural mungkin untuk menghindari dirinya dari kecurigaan.


"Bagaimana Papa ada ditempat kejadian? itu yang tadi ditanyakan oleh Kakak, Pah." Binar mengulangi pertanyaan Alika.


"Oh ya.. itu! ehmm.." Papa Luky kembali tersedak, tenggorokannya seketika kering. Lalu alasan yang sedikit dibumbui kebohongan pun mulai muncul dengan cepat.


"Itu karena Papa sudah tau kalau Alika anak kandung Papa, informan Papa sudah selesai menyelidiki Alika. Maka Papa langsung mencari Alika kerumah, karena tidak ada..ya terpaksa Papa datang ke EG!" penjelasan Papa Luky begitu sigap, cekat dan mantap. Begitu hebatnya Papa Luky dalam bermain drama.


Papa Bayu seperti menatap hal yang lain ke arah Kakaknya dan tatapan itu pun bersambut di wajah Papa Luky. Tanpa menunggu lama Papa Bayu mulai menepisnya.


"Apakah Bayu, mulai mencurigai aku?"


Papa Luky mulai tersiksa.


"Tidak mungkin kan Kakak yang melakukan semua ini ?


Papa Bayu terus menatapi wajah Kakaknya dalam-dalam. Tetapi dengan sekejap, perasaan itu dimusnahkan untuk tidak terus bertahta didalam batinnya.


"Apakah Kakak, sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib?" tanya Binar kepada Bilmar.


"Sudah Bin, maka dari itu aku sedang menunggu hasil pelacakan dari polisi!"


"Jika pelakunya tertangkap, apa yang akan kamu lakukan terhadapnya, Nak?" tanya Papa Luky, untuk mencari bayangan apa yang akan diperbuat oleh menantunya suatu saat nanti.


"Akan Bilmar bunuh Pah atau setidaknya ia harus mendekap mati dipenjara, membusuk! bayangakan saja, nyawa Alika dan Rendi menjadi taruhan kebrutalannya. Mereka salah jika sudah bermain-main dengan Artanegara!"


Seketika kedua mata Papa Luky membulat, belum pernah selama sejarah ia begitu menakuti Bilmar dengan keperkasaannya. Selama ini ia merasa hanyalah dirinya yang berkuasa.


"Bil, jangan kaya gitu ah! aku takut..sayang! aku nggak mau mereka balas dendam sama keluarga kita. Udah jangan lapor-lapor polisi segala!" Alika merintih dan memelas.


"Udah dong sayang, aku nggak akan bisa lagi nurutin kemauan kamu! dulu aku dengan bodohnya, begitu saja tidak memenjarakan si Danu yang hampir saja memperkosa kamu---"


"Hah? apa?" ucap mereka bersamaan, memotong ucapan Bilmar dengan menghentak nyaring ke permukaan udara. Semua menatap serius ke arah Alika dan Bilmar.


"Tuh kan, Bil! jadi pada tau. Kamu sih mulutnya nggak bisa direm sedikit. Buat semua menjadi cemas!" Alika mendengus kesal.


"Kurang ajar dia, mencoba untuk melakukan hal tidak senonoh terhadap kamu, Nak!" ucap Papa Luky dengan amat geram.


"Biar saja, nanti Papa akan suruh orang untuk membunuhnya!"


Papa Luky kembali berucap, menggetarkan hati semua yang hadir. Bukan karena hal ingin membalas Danu, tapi semata-mata dengan penuturannya barusan mengingatkan semua untuk mengaitkan ucapan Papa Luky terhadap kejadian Alika dan Rendi yang baru saja terjadi.


Lalu semua hening terjerembab. Mungkin saat ini mereka tengah bermain-main dalam kecurigaan yang makin mendalam.


Bertanya-tanya apakah ini betul atau salah.


"Ayo, makan Nak. Habiskan makanan mu!" ucap Papa Luky sambil meraih garpu dipiring Alika untuk menyuapi anak sulungnya itu.


"Ayo semua kembalilah makan, Alika dan Rendi harus cepat kembali kerumah untuk beristirahat!"


Suara ketegasan Papa Luky kembali hadir. Mereka hanya bisa diam melanjutkan kembali makanan mereka yang sedikit tertunda.


"Semoga saja, bukan Kakak dalang dari semua ini!"


***


Nah abis guyss tiga episode buat hari ini. Kalian enjoy terus ya ikutin ceritanya❤️❤️


Berikan aku semangat terus ya...


Like Vote Rate dan Komen..🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘