Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Tidak akan meridhoi mu!


Hayy kesayangan, udah pada nungguin belum? Hehehe...


Yuk ah mari kita baca🤗🤗


***


Mendengar kalimat durjanah itu, Bilmar tidak bisa berhenti dari gelak matanya yang tajam. Hatinya sangat pedih, ibarat luka teriris oleh sembilu. Ia tidak akan menyangka bahwa ucapan Rendi itu ada benarnya, bahwa betul Alika akan meminta cerai dari nya. Sesuatu yang harusnya di ungkap terlebih dahulu sebelum bernafsu untuk menikahi Alika dengan segera. Tentu akan sangat pahit untuk dikenang dan diakhiri.


Bilmar kemudian bangkit untuk berdiri, menegakkan kedua kakinya yang saat ini masih lemas tidak bernyawa. Buket bunga mawar dan cokelat sudah mengampar begitu saja dilantai.


"Jangan sayang...aku tidak ingin kita bercerai, aku sangat mencintai kamu. Kamu itu segalanya buat aku!" Ucap Bilmar penuh penyesalan diringi air mata yang sudah memenuhi kelopak matanya.


Hanya karena sosok Alika lah, yang bisa membuat ia menjatuhkan harga dirinya secara dramatis, baginya jika Alika meminta Bilmar untuk mencium kakinya, ia akan dengan senang hati melakukan itu semua.


Kemudianangkah nya tertatih-tatih untuk mendekati sang istri. Namun Alika dengan cepat memundurkan langkahnya untuk menjauh. Ia tidak ingin disentuh.


"Kenapa sih Bil? Disaat aku udah bisa menerima kamu, mencoba melupakan almarhum Mas Aziz. Kamu dengan seenaknya hati kamu, menggores aku dengan luka. Membuka kembali sayatan yang sudah aku tutup untuk melupakan perjalanan 12 tahun kita kemarin!"


Bilmar menggelengkan kepalanya merasa bahwa apa yang diucapkan Alika tidak lah benar. Lalu ia berjalan cepat untuk menghampiri tubuh istrinya dan menangkup wajah Alika dengan kedua tangannya.


Kedua mata mereka saling menatap, mereka menangis bersamaan. Dengan suara merintih ia kembali bertutur.


"Demi Tuhan, bukan ini kemauan aku Al! Ketika aku menikahi kamu, aku sudah berencana untuk menceraikan Binar. Aku tidak masalah jika aku harus kehilangan semua ini, yang penting aku bisa bersama kamu dan Maura. Karena aku merasa Pernikahanku dan Binar hanya---"


"Nggak usah dijelasin! aku udah tau ceritanya!" Alika melepas tangan Bilmar dari wajahnya yang basah penuh buliran air mata suci yang terus berguguran tidak mau surut.


"Itu kamu sudah tau alasannya, kenapa sekarang malah mau minta cerai sama aku?" Nada Bilmar sedikit meninggi. Ia merasa pernikahan dengan Binar hanyalah pernikahan mainan saja.


"Tetap aja kamu bohongin aku, Bil! Aku nikah sama kamu dengan semua kejujuran yang aku punya, tapi kamu malah membohongi aku, menghianati aku!" Alika membuang nafasnya pelan, mengikuti ritme dadanya yang sedari tadi hanya naik turun. "Dimana hati kamu Bil? disaat kamu nikahin aku, kamu itu masih berstatus suami orang! apapun alasannya aku nggak suka dibohongi! kamu nggak bisa injak-injak harga diri aku kaya gini, minggir! Aku mau pulang."


Alika mendorong bahu suaminya untuk menjauh.


"Mama....aku mau ikut Mama.." Maura kembali memeluk perut Alika dengan sesegukan air matanya. "Maafin Papa ya, Ma." Ucap anak itu terbata-bata, ia sudah tidak bisa lagi mengatur nafasnya. Mungkin sebentar lagi ia akan muntah.


Bilmar pun ikut menangis, mengusap wajahnya dengan kasar. Ia ingin berteriak meminta pertolongan untuk menyelamatkan rumah tangganya yang kini diujung kehancuran. Namun entah kepada siapa yang bisa melunaki hati Alika sekarang.


"Maura tetap jadi anak Mama sampai kapanpun, Nak. Jangan nangis ya sayang, Mama cinta banget sama Maura---"


"Kalau sama Papa gimana? Mama cinta juga kan?" Tanya Maura menyelidik, menanyakan hal yang ia sendiri belum tahu apa artinya.


Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir anaknya, membuat Bilmar terus menunggu kejujuran dari hati Alika. Ia terus menatapi mereka yang masih saling berpelukan.


Dan akhirnya, memang ia tidak akan mau menjawab pertanyaan itu. Ini akan memberatkan kepergiannya dari rumah. Ia pun menjawab dengan perkataan lain yang mengalihkan.


"Ada Papa yang jagain Maura disini, besok kita ketemu lagi ya sayang, muach.." satu kecupan mendarat didahi Maura. Sudah habis tenaganya untuk terus berada dirumah mewah ini. Rumah yang tidak akan pernah membuat dirinya menjadi ratu selamanya. Sepertinya ia harus membuka mata untuk kembali ke kodrat asalnya, yaitu menjadi orang yang biasa-biasa saja.


Menyakitkan sekali nasib Alika. Bahwa saja sampai detik ini, ia belum menggunakan uang Bilmar untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.


Alika kemudian bangkit untuk berdiri, serta mengambil kopernya yang sedari tadi sudah terjulang ke lantai. Dengan sisa-sisa air matanya, ia kembali membawa langkahnya menuju pintu keluar. Maura tetap saja merengek dan mengejar sang Mama dan menarik-narik bajunya.


Sungguh malang nasib anak itu, baru saja menikmati kebahagiaan dimanja, dicinta, di sayangi oleh sosok ibu. Namun sepertinya takdir sudah harus menyudahi percintaan antara anak dan ibu sambung ini.


"Tunggu Alika!" Suara menggelegar mencuat dari bibir Bilmar. Mungkin awan gelap sudah tepat berada diatas kepala mereka.


Sontak suara tersebut membuat Alika mematung kembali, ia begitu kaget. Tidak pernah semasa hidupnya, mendengar Bilmar bersuara seperti itu. Mulutnya terkunci rapat menelan semua salivanya dalam-dalam.


"Jika kamu masih berani melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah ini, aku sebagai suami tidak akan pernah meridhoi hidupmu! Aku tetap suami sah kamu, di mata Agama dan Negara! Aku punya hak atas diri kamu! Kamu mempunyai kewajiban untuk tetap tinggal dirumah! Jika kamu melanggar, aku pastikan kamu tidak akan pernah melihatku lagi bersama Maura untuk selama-lamanya!"


Jag.


Dentuman keras menggema bagai kilat membentak wajah Alika yang hanya bisa tercengang dan terperanjat. Ia tidak bisa berkata-kata apapun lagi saat ini, sepertinya kalimat terakhir itu adalah suatu ancaman yang tidak akan bisa ia langgar. Bilmar dan Maura adalah hidupnya saat ini.


Bilmar mengambil koper dari genggaman Alika secara paksa dan menggendong tubuh Maura yang masih menangis tersedu-sedu.


"Aku tunggu kamu, dikamar!" bisikan suara itu tepat terdengar ditelinga Alika. Bilmar pun berlalu membawa koper itu kembali dan Maura untuk menaiki anak tangga menuju kamar mereka.


***


Kalian emang Amazing for me❤️ enggak nyangka loh apreciate kalian untuk ngebahas cerita mereka..begitu terharunya aku. Kalian ikut terenyuh, coba aja difilmin aku pengen kasih lagu firman yang judulnya kehilangan buat iringan perdebatan mereka..hihihi🤭🤭


Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗


Oh iya aku pengen promoin NOVEL TERBARU aku "Jangan berhenti Mencintaiku". Boleh cek di profil aku ya, jangan lupa jadikan Favorite di rak buku kalian.🖤🖤


Kaya biasa👇👇


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


Thankyou, with love Gaga❤️😘😘