Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Bukti Kasih Sang PresDir


Haiii selamat pagi guys.


Aku kembali


Oke deh selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


"Kita turun ya sayang.." Ucap Bilmar kepada Alika yang masih menempel lekat di bawah lengannya.


Alika pun mengangguk dan bangkit untuk kembali tegak, Bilmar membantunya untuk melepas seat belt yang ada di tubuhnya.


Semua mata karyawan yang berlalu lalang terus tertuju kepada dua pasangan ini. Setiap karyawan yang bertemu mereka akan memberi salam, sapa dan hormat. Alika dan Bilmar juga membalas mereka dengan senyum yang ramah dan hangat.


Terlihat dilengan tangan kiri Bilmar ia menggendong tas Hermes milik istrinya serta di kepalan tangan kirinya, Bilmar menjinjing sebuah tas Dior besar yang berisi pakaian ganti untuk Alika yang sudah ditata rapih oleh Bik Minah. Lalu tangan kanannya di pergunakan untuk menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam kantor pusat Eco Group.


Tidak satu-dua karyawan yang aneh melihat penampilan Alika. Bagaimana tidak, wanita itu datang masih dengan piyama tidur dan rambut yang sedikit berantakan terurai begitu saja. Walau begitu kecantikannya tetap mempesona.


Bilmar tahu jika karyawannya mengganggap Alika aneh saat ini. Walau istrinya tetap tersenyum kepada semua orang, tapi tatapan matanya terlihat kosong dan tidak berarah.


Melihat Presdir nya datang, Katherine pun bangkit namun kedua matanya melongo hebat ketika melihat Alika ikut datang bersama bosnya dalam keadaan seperti itu.


"Pagi Pak, Bu..." Sapa nya sambil sedikit menundukan kepala tanda hormat.


"Pagi..." Jawab Bilmar terus berjalan cepat sambil menggandeng Alika untuk segera masuk ke dalam ruangannya.


Krekk.


Pintu ruangan seketika dikunci oleh Bilmar. Ia ingin segera menggantikan pakaian istrinya disini.


"Duduk disini ya sayang..." Bilmar menyuruh Alika untuk duduk di sofa.


"Iya, Bil--" Alika tetap merespon apapun yang suaminya bicarakan.


"Apa kamu mau mandi? Atau langsung ganti baju aja?" Tanya Bilmar. Kebetulan diruangan Bilmar tersedia toilet yang lengkap dengan handuk dan peralatan sabun, dll nya.


"Iya aku gerah sayang..." Desahnya sambil mengelap keringat yang ada disekitar pipinya.


"Ya udah mandi ya---Aku yang mandikan kamu."


Bilmar melepas jas kantornya, menanggalkan jam tangan rolex kesayangannya di atas meja. Lalu menaikan lengan tangannya sampai ke siku serta menaikan celananya sampai ke betis. Ia menggandeng Alika untuk masuk kedalam kamar mandi.


Membuka kan piyama tidur istrinya. Lalu memandikan Alika dengan penuh cinta dan kasih.


"Kok panas ya, Bil. Air nya?"


Bilmar makin tertegun heran. Padahal ketika ia memegang air itu, terasa sangat dingin sekali. Ia makin resah, karena sikap istrinya makin tidak beres. Dengan cepat ia menyelesaikan aktivitas itu, walaupun Alika terus mengeluh karena air nya terasa panas.


Ia pun menggiring istrinya keluar dari kamar mandi, hanya dengan lilitan handuk di dada. Mendudukkan nya kembali di sofa. Memakaikan pakaian dalam dan dress polkadot pink cantik untuk menutup keindahan tubuhnya.


Alika hanya duduk dan tersenyum menatap kepiawan Bilmar dalam membantunya berbenah diri. Ia pun membuka tas istrinya dan meraih sebuah sisir disana.


Menyisir rambut Alika dengan rapih. Rambut cokelat itu di kuncir menggantung ke bawah. Ia kembali meraih kotak make up Alika. Mengoleskan lipstik tipis di bibir istrinya. Walau hanya olesan lipstik tanpa bedak, Alika tetap terlihat cantik menawan, ia sudah segar sekarang.


"Kamu sarapan ya sayang? Biar aku pesankan dulu ke pantry..."


Alika hanya mengangguk dan tersenyum sekilas, ia menatap bahagia tanpa arti ke arah suaminya.


Bilmar pun beranjak dari posisinya lalu melangkah keluar menuju meja Katherine.


"Baik Pak..."


Katherine mengangguk dengan tatapan aneh melihat pakaian Bilmar yang seperti itu. Ada percikan basah disekitar celana dan kemeja nya. Dan lengan baju serta celana yang belum ia tata rapih kembali.


"Nanti sehabis sarapan kamu tunggu aku dulu disini ya, aku ada rapat sebentar dengan klien."


Raut wajah Alika terlihat keberatan. Ia pun menggelengkan kepalanya. "Aku ikut ya, Bil. Aku gak mau ditinggal kamu---" Cicitnya sendu.


Bilmar menghela nafasnya. Ia tetap sabar dan kembali mengajak Alika untuk bicara agar faham dan mengerti maksudnya.


"Rapatnya hanya sebentar sayang, ruangannya juga gak jauh dari sini. Sambil tunggu aku, kamu juga boleh tidur dulu. Aku janji gak akan lama, gimana?" Ucapnya penuh permohonan.


Akhirnya Alika mengangguk pelan tanda setuju. Entah ia faham atau tidak, yang jelas Bilmar merasa kalau istrinya sudah mengerti dan mau ditinggal sebentar. Lalu ia teringat akan Sofia dan Bella. Terlintas dalam benak nya ia ingin menelpon mereka untuk menemani istrinya dulu di sini. Namun pemikiran semua itu begitu saja enyah dan ia mengurungkan niatnya.


"Jangan lah, aku nggak mau kalau mereka tahu Alika sedang dalam keadaan seperti ini. Bisa-bisa jadi bahan pembicaraan. Kasihan nanti istriku--" Batinnya.


Tok tok tok


Bilmar pun tersadar dari lamunannya, ketika sudah melihat Ob yang sedang berjalan ke arahnya dengan sebuah nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.


"Silahkan, Pak..."


"Terima kasih ya..."


"Sarapan dulu ya, abis ini kamu tidur lagi ya. Aku ada rapat dulu, nanti setelah rapat. Kita langsung ke Dokter ya.."


"Siapa yang sakit? Kamu sakit memangnya?" Tanya Alika sambil memegang kulit pipi suaminya. "Oh iya tubuh kamu panas, Bil."


Tentu saja Alika semakin aneh. Tubuh Bilmar dalam suasana akral yang stabil. Namun Bilmar hanya mengiyakan saja, ia tidak mau berdebar apapun dengan Alika. Ia tahu istrinya sedang sakit.


"Kamu makan ya, aku suapi.."


******


Bilmar berhasil membuat istrinya tertidur pulas sebelum akhirnya ia pergi ke ruang meeting. Dengan segala keterpaksaan Bilmar akhirnya meninggalkan Alika yang hanya sendirian didalam ruangan kerja nya. Karena klien dari jepang sudah hadir dan menunggu kedatangannya.


Satu jam pun berlalu. Bilmar, Pak Adit dan Katherine masih setia menjalankan rapat untuk membahas proyek baru EG bersama para klien pentingnya ini. Sang Presdir yang gagah dan penuh karisma itu masih fokus menatap ke layar power point yang ada dihadapannya sekarang. Walau setengah dari fikirannya masih memikirkan keadaan Alika yang sedang sakit seperti itu.


Tak lama kemudian


Pintu ruang meeting terdengar terbuka pelan. Bilmar seketika menoleh dan benar saja ia melihat Alika tengah mengintip diluar sana.


"Ya Allah, sayang.." Desahnya.


Lalu ia pun membuka suara dan menghentikan sebentar jalannya rapat.


"Maaf semua saya pamit keluar dulu sebentar."


Sambil merapihkan jas nya ia pun bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar untuk menemui istrinya yang masih mengintip-ngintip untuk mencari sosoknya ke dalam.


"Kamu ngapain sayang?" Tanya Bilmar lembut. Ia kembali merangkul istrinya untuk kembali ke ruangan kerjanya.


"Bil, aku gak mau kesana. Sendirian kayak gitu, aku takut! Aku mau nya tetap sama kamu aja---" Pintanya begitu polos.


"Kenapa kamu jadi seperti ini, Al?" Rintih Bilmar dalam hatinya.


Terlihat kedua matanya berkaca-kaca karena tidak menyangka sikap Alika akan seperti ini. Rasa ketakutan itu terus melanda batin istrinya.


"Kalau saja bukan karena Gadis, Diego sudah ku habisi tanpa ampun!" Batinnya terlihat geram.


Bilmar kembali menatap wajah istrinya dengan syahdu, dengan isakkan pelan ia mencium kening Alika. "Ya udah ikut aku masuk ke dalam ya, tapi ingat. Kamu harus diam, jangan berisik, gimana?"


Alika tersenyum dan mengangguk. Bilmar pun menggandeng dan membawa istrinya untuk ikut bersamanya menjalani rapat. Baru kali ini dalam sejarah selama ia menjadi seorang Presiden Direktur, bisa membawa istri untuk duduk disampingnya menjalani rapat bersama para klien penting.


Tentu saja ini terjadi, karena buah cintanya yang begitu besar untuk Alika. Sungguh ini merupakan bukti kasih dari sang Presdir.


******