
Terlihat Alika sedang menatap dirinya di cermin, setelah menyapukan bubuk blush on di kedua pipinya, ia pun kembali mengoles lipstik di bibir mungilnya. Wajahnya terlihat berseri-seri, ia tampak seperti ratu malam ini. Para tamu yang akan hadir di sana, pasti akan mengira bahwa dialah pengantinnya.
"Mah, kata Papa cepetan. Papa udah nunggu di bawah." ucap Ammar ketika wajahnya muncul dibalik pintu kamar sang Mama.
"Tolong tas Mama, Nak." Alika menunjuk ke arah tas nya yang ia letakan di atas ranjang. Ammar mengangguk dan mengambilkannya. Mereka berdua pun berlalu dari kamar dan menuruni anak tangga.
Bilmar yang sudah rapih dengan jas cream, dalaman kemeja putih dan celana yang senada dengan warna jasnya, terlihat sedang berdiri memunggungi Alika dan Ammar. Pria itu masih saja tampan dan kekar di usianya ke 38 tahun.
Lelaki itu tengah berbicara disambungan telepon dengan Pak Adit, sedikit terdengar membicarakan proyek EG baru yang ada di Lombok.
Bilmar mendengus aroma farfum yang menyengat. Membuat ia menoleh ke belakang. Begitu tercengangnya ia, menatap Alika dari kepala sampai ke telapak kaki, dua kali lipat begitu cantik dan anggun.
"Maaf saya tutup dulu ya, Pak. Mungkin besok kita bicarakan lagi." ucap Bilmar kepada Pak Adit yang ada diseberang sana. Bilmar masih memegang ponsel ditelinganya sambil terus menatap istrinya dengan wajah yang berubah menjadi dingin, masih mendengarkan beberapa bait kata dari Pak Adit.
Tut.
Sambungan telepon terputus, dengan cepat ia memasukan ponsel ke dalam saku celananya.
"Pah, ayo kita berangkat sekarang. Maaf ya, Mama dandannya lama." ucap Alika dengan nada manja.
"Ya udah kalau gitu Adek ke kamar lagi ya, Mah, Pah." Ammar mencium tangan Papa dan Mamanya yang ia rasa sebentar lagi akan berangkat kondangan.
Mereka berdua pun mengangguk dan menatap kepergian Ammar masuk kedalam kamar. Ammar sudah dua hari ini ditinggal oleh Kakaknya. Karena Maura sedang menginap dirumah Gadis.
Dengan cepat Bilmar kembali menggandeng istrinya untuk kembali naik ke anak tangga.
"Loh kok kita ke kamar lagi, Pah?" tanya Alika. Ia bingung kenapa suaminya membawa arah kakinya lagi menuju kamar. Bilmar hanya diam dan tetap menggandeng istrinya.
"Mama duduk disitu!" Bilmar menunjuk ke arah tepian kasur.
"Papa mau ngapain emang?" tanya Alika ketika melihat sang suami tengah membuka lemari miliknya.
"Udah sana duduk!" suara bariton Bilmar kembali terdengar. Semua orang yang mendengar Bilmar dengan nada suara seperti itu, sudah sangat hafal kalau lelaki ini sedang merajuk.
Lalu merajuk karena apa? Alika pun tidak faham.
Bilmar masih fokus mencari-cari, memilah-milah salah satu dress yang tergantung di setiap hanger, didalam lemari milik istrinya.
"Mana sih dress yang itu?" tanyanya. Sepertinya ia sudah menjatuhkan pilihan, dress mana yang harus dipakai oleh istrinya malam ini.
"Nah ketemu kan." ada senyum diwajahnya ketika mendapatkan sebuah dress panjang yang tertutup sampai ke telapak kaki.
Kedua mata Alika melotot tajam, keningnya terlihat mengerut menjadi beberapa lipatan.
"Pakai yang ini aja." titah suaminya.
"Loh kok?"
"Mau kondangan apa enggak?" ancam Bilmar.
Alika memutar bola mata jenga dan mencebik. Mendengus pelan dan menatap wajah suaminya malas.
"Ganti disini aja, aku mau lihat!" Bilmar mencekal tangan istrinya yang ingin mengganti pakaian tersebut di kamar mandi.
"Emangnya kenapa sih, Pah. Kalau pakai dress yang ini? Kan enggak terbuka sama sekali!" decak Alika menunjuk ke arah dress yang saat ini masih bertengger di tubuhnya. Dress polos dengan warna merah maroon, kerah berbentuk huruf V, namun belahan dada tidak terlihat sama sekali. Kedua lengannya pun panjang menutupi tangannya yang putih dan mulus.
"Tapi lutut Mama masih kelihatan, kalau kena angin bagaimana? Nanti akan tersingkap, dan kedua paha Mama akan terlihat dengan mata bebas! Mana pesta kebun lagi, angin semua kan!!" decak Bilmar.
"Jauh banget sih mikirnya?" desah Alika.
Tentu ia sangat tahu bagaimana sifat suaminya kalau sudah rewel seperti ini. Dari pada ia tidak jadi pergi kondangan, lebih baik ia menurut saja. Malam ini adalah acara pernikahan sahabatnya yang sama-sama bersekolah di akademi keperawatan beberapa tahun yang lalu. Namanya Dian, ia baru mendapatkan jodoh di usianya yang sudah terlewat matang. Dian berkali-kali menelepon Alika, agar bisa datang ke pesta pernikahannya.
Alika mulai melepas dress dari tubuhnya, membiarkan ia terlihat hanya menggunakan pakaian dalam saja didepan suaminya.
Bilmar meraih dress itu dan mulai membantu Alika untuk memakainya. Dress panjang berwarna hijau lumut. Tidak ada aksen apa-apa di sana. Pinggang tidak terbentuk, rata dan lurus begitu saja. Namun jangan lupakan, harga dress ini sangat mahal. Dress yang dibelikan Bilmar pada saat mereka sedang berlibur di Belanda. Bilmar memang sengaja membeli dress ini untuk istrinya apabila akan mendatangi acara yang akan melibatkan banyak orang, ia tidak ingin lekukan tubuh Alika dinikmati oleh siapapun.
Hanya dia saja yang boleh, lelaki lain jangan!
"Kenapa sih setiap kondangan harus pakai baju ini terus? Disangka orang kan Mama enggak punya baju yang lain, Pah." ucap Alika mulai geram.
Bilmar tidak mau menjawab, ia terus merapihkan dress itu sampai terlihat rapih. Bilmar tidak perduli apa kata orang.
"Oh iya tunggu!" Bilmar meraih kotak tissu yang ada di nakas. Mengambil beberapa helai dari sana.
Alika semakin geram ketika Bilmar mulai menghapus kosmetik yang sudah terpoles baik di wajahnya. Susah payah dan berjam-jam ia bersolek didepan cermin dan segampang itu lelaki yang ia nikahi selama sembilan tahun ini, mempora-porandakan begitu saja.
"Enggak usah dandan, aku enggak suka!" ucapnya ketika mengusap wajah Alika dengan gerakan cepat. Alika sedikit meringis dan meraih tissu itu dari tangan Bilmar dengan kasar.
"Papah tuh apa-apaan sih! Mama udah capek-capek dandan kayak gini, masa iya di hapus gitu aja!" ucap Alika dengan mimik wajah ingin menangis, ia mendelikan matanya dengan tajam ke arah Bilmar, menghentakkan kakinya ke atas lantai sebelum berlalu ke meja rias untuk kembali menatap bayangannya di cermin.
"Kamu enggak dandan aja, masih banyak lelaki yang suka lirik-lirik kamu. Apalagi kamu dandan, Mah! Papa enggak suka! Pokoknya hapus---" ucap Bilmar dengan bertolak pinggang. Ia masih menatap bayangan istrinya didalam cermin.
Alika kembali menatap suaminya dengan raut wajah jengkel setengah mati.
"Tau gini Mama enggak usah ajak Papa! Lebih baik ajak Ammar aja. Enggak pake ribet kayak gini!" Alika kembali berdecak, masih mengusap wajahnya dengan tissu yang sudah dibasahi dengan cairan remover make up.
Tara!!
Jadilah Alika tanpa make up sama sekali di wajahnya. Begitu polos sekarang.
"Kayak orang abis mandi tau nggak! Pucat!"
"Tapi begini lebih cantik, apalagi kalau pucat nya abis ketemu sassy, beuh! Cantiknya bukan main." jawab Bilmar sambil mengedipkan salah satu matanya kepada Alika.
Bilmar mulai nakal, memperhatikan bokong Alika yang masih sintal dan kencang. Gairahnya seketika bangun dan mendidih.
"Etss! Mama colok nih matanya!" Alika menatap wajah Bilmar di cermin, Bilmar hanya tertawa tanpa rasa bersalah dan berdosa.
"Yah, Mah. Bangun deh---"
"Hah? Apanya?" jawab Alika lalu membalikan tubuhnya untuk menatap wajah Bilmar.
Bilmar membawa arah mata istrinya untuk menatap sebuah bongkahan permata yang masih tertutup dibalik kain celananya, terlihat sedikit berdenyut dan mengeras.
Alika melototkan matanya kembali, menghampiri Bilmar dan ingin mencubit perutnya.
"Bener-bener ya kelakuannya! Makin tua, makin jadi!!"
"Ayo yuk, Mah. Janji deh, bentaran doang." Bilmar mengusap bongkahan tercinta miliknya.
"Papah! Kita itu mau pergi!" Bilmar menahan pergelangan tangan Alika yang ingin mencubit perutnya.
"Bentaran aja, Mah. Janji kok." Bodohnya Alika, karena ia terus meronta-ronta, akhirnya tubuh mungilnya tersandung ke atas kasur.
"Nah kan, kalau kaya gini kan tambah cakep." Bilmar berdecis geli. Dengan cepat ia menkungkung tubuh Alika tanpa ampun. Membekap bibir istrinya yang sedari tadi banyak berbicara dan memaki dirinya karena kesal.
Dan
Dan seperti biasa, sudah dapat dibayangkan, Alika pasti kalah. Ia tidak akan bisa melawan sentuhan-sentuhan nakal yang diberikan oleh Bilmar di setiap lekukan tubuhnya. Alika akan terpancing dengan euforianya.
Cepatlah sadar Alika, Dian sedang menunggu dirimu di panggung pelaminan.
*****
MPS Season tiga sudah hadir ya, ada di profil karya ku, silahkan baca❤️