Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Kemana saja kamu?


Hayy kesayangann❤️❤️ udah ada yang nungguin belum yah? ayo deh mari baca🤗🤗


***


"Iya, suatu saat nanti Binar pasti akan bertemu dengan Alika," Bilmar menaikan garis senyum dipipinya, menatap penuh kasian kepada wanita dihadapannya.


"Kenapa suatu saat nanti? kenapa nggak secepatnya aja Pak?" sambung Rendi dengan gusar. Ia tetap menginginkan Binar untuk secepatnya menjadi miliknya.


Bilmar hanya menoleh datar ke arah Rendi dan mengembalikan lagi tatapannya ke arah Binar.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Bilmar membawa arah mata Binar untuk melihat sosok Rendi yang sedari tadi berdiri disamping dirinya.


Binar melihati Rendi dengan agak lama, matanya terlihat sayu dan sendu. Rendi terus menatapi Binar, ia berharap wanita ini akan menjawab sesuai yang ia maui.


Binar kembali menatap wajah Bilmar dan mulai membuka mulutnya untuk berucap lalu seketika mulut itu terkunci lagi dengan rapat, hanya anggukan menunduk yang bisa mewakili jawabannya.


Sungguh misterius wanita ini!


"Yes..!" Rendi bersorai-sorai menanggapi jawaban Binar, yang juga mencintainya.


"Betul itu?" tanya Bilmar kembali. Mengangkat dagu Binar sehingga kedua mata mereka menjadi sejajar sekarang.


"Iya Kak, Binar sayang sama Rendi."


Seketika Rendi tanpa sadar langsung memeluk Binar dengan erat, mencium kening dan kedua pipinya. Seperti bisul pecah akan penantian cintanya agar terbalas oleh Binar. Rendi menerima apapun masa lalu Binar dan berjanji akan membuatnya sembuh dari penyakitnya.


Karena ia tahu Binar hanya gadis lugu yang tengah menjadi korban masa lalu.


"Sudah...sudah! kalian belum halal, ingat Ren?" ucap Bilmar sambil melepas pelukan diantara mereka.


Binar dan Rendi saling menatap bahagia, baru kali ini selama tiga tahun Binar bisa terlihat seceria itu, mungkin betul adanya bahwa alam sepertinya sudah ingin menyudahi penderitaan dan penyiksaan yang terus membelenggu dirinya dan Bilmar.


"Doakan aku ya, aku akan memperjuangkan cinta kalian. Meminta restu Papa Luky dan berkata jujur dengan Alika."


Binar kembali memeluk Bilmar. "Makasi banyak ya Kak, aku sayang Kakak!" Binar mencium pipi Bilmar dengan amat sayang.


"Aku nggak dicium nih?" tanya Rendi mengiba.


"Ihh..apaan sih Kak," Binar mulai gesit untuk bercanda dengan Rendi. Mereka pun terlihat begitu mesra dalam gelak tawa melingkar dalam keakraban.


Bilmar hanya memandangi mereka dengan senyum bahagia, namun tak lama kemudian senyuman itu berubah menjadi pias gundah gulana.


Bilmar tahu, jurang kehancuran akan semakin mendekati dirinya. Ia tahu siapa Luky Artanegara, lelaki itu pasti akan menghancurkan diri dan keluarganya.


***


"Kamu sudah menikah?" tanya Papa Luky yang sudah bisa duduk disandaran ranjang pasien di kamar perawatan. Karena setelah dua jam di IGD akhirnya Papa Luky bisa masuk kedalam kamar perawatan.


"Sudah Pak, dua kali malah." ucap Alika berdecis geli.


Luky yang sedang menenggak air minumnya langsung tersedak terbatuk-batuk.


"Pak, nggak apa-apa?" tanya Alika mulai bangkit dari kursi untuk mendekati Papa Luky.


"Su..dah nggak apa-apa, uhuk..uhuk..." jawab Papa Luky sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


Alika kembali memundurkan langkahnya untuk duduk lagi disofa.


"Kamu terlihat masih kecil, kok bisa sudah nikah dua kali?"


"Umur saya udah 29 tahun Pak, cuman tubuh saya aja yang kecil." jawab Alika sangat bangga dengan dirinya yang merasa masih dianggap baby face.


Luky terlihat ikut terkekeh dengan ucapan Alika, lelaki yang dikenal dengan keganasannya untuk menghancurkan lawan, bisa juga terlihat tertawa manja, walau dengan orang asing yang baru dikenalnya seperti Alika.


"Suami pertama saya meninggal dimalam pernikahan kami, selang berapa bulan kemudian Allah mempertemukan saya kembali dengan kekasih saya yang dulu telah pernah pergi selama 12 tahun. Mungkin ini yang dinamakan jodoh Pak,"


Dengan gamblang Alika menceritakan jati dirinya, ia merasa lelaki ini hanya akan menjadi bayangan saja tanpa harus dikhawatirkan.


"Sungguh terharu saya mendengarnya, semoga kamu dan suami mu yang sekarang selalu hidup rukun dan tidak ada yang mampu memisahkan."


Alika tersenyum lalu mengamin kan doa beliau. "Ini buat kamu, Alika!" Papa Luky memberika dua ikat lembaran merah ke arah Alika. "Ambilah buat kamu, bawa suami mu pergi ke restauran, biar kalian bisa makan malam berdua."


Mungkin dengan penampilan Alika yang begitu sederhana saat ini, bisa menafsirkan bagaimana gambaran derajat kehidupan Alika dimata Papa Luky.


Ia merasa Alika adalah gadis yang biasa saja, mungkin bisa dibilang, ia hanya gadis miskin.


"Simpan saja Pak, atau berikan kepada mereka yang membutuhkan." balas Alika dengan sangat sopan, tidak saja dirinya bilang kalau suaminya itu adalah Presiden Direktur ditempatnya bekerja.


"Baiklah!" balas Papa Luky tanpa bisa memaksa.


"Apakah keluarga Bapak sudah dihubungi? biar mereka bisa menjaga Bapak nanti malam,"


"Saya sudah mengabari mereka, kamu tidak perlu khawatir!" Papa Luky berdusta.


Alika pun mengangguk senyum, mereka terus besitatap penuh keramahan bercerita dengan gelak tawa yang mengembang pekat.


Entah mengapa Alika merasa nyaman berdekatan dengannya, ia menilai Papa Luky mirip seperti Alm Ayahnya dan begitupun sebaliknya melihat Alika, Papa Luky seperti merindukan seseorang, ya...dia merindukan putrinya, Binara Artanegara.


Karena secuap dua cuap kata-kata menjadikanya beribu-ribu kalimat yang dapat disusun menjadi paragraf. Alika sampai terlupa jika ia sudah seharian di RS menemani Papa Luky, ia jadi tidak masuk kerja dan lupa memberitahu Bilmar jika dirinya tengah berada disini.


"Pak, cepat sembuh ya. Jaga kesehatan Bapak, diatur pola makan dan istirahatnya. Alika pamit dahulu." Alika meraih punggung tangan lelaki ini untuk dicium nya, sebagai tanda hormat dan salam perpisahan.


***


Malam pun tiba, kini pasangan suami istri itu bersama anak mereka sudah berada dikamar.


Bilmar masih duduk selonjoran ditepi ranjang kasur, ia hanya diam menunggu penjelasan dari Alika kemana saja seharian ini. Ia terus melihati sang istri yang sekarang sedang duduk diatas sajadah memunggunginya. Terlihat Maura sedang merangkul peluk, mengganggu sang Mama yang tengah berdoa.


"Kamu kemana saja seharian ini?" Bilmar melontarkan langsung pertanyaan yang sedari tadi sudah ingin ia muntahkan, ketika melihat Alika sedang melepaskan mukena dari tubuhnya.


Alika kaget, sontak ia menoleh cepat kebelakang melihati wajah Bilmar yang sedikit memerah menatap juga dirinya. Ia memang salah seharian ini berada di Rumah Sakit untuk menjaga Papa Luky.


"Aku telepon ke klinik, kata mereka kamu tidak masuk bekerja hari ini, lalu aku telepon HP kamu malah mati. Lalu sekarang kamu pulang dengan luka lecet seperti itu! dari mana kamu?"


Penjelasan panjang kali lebar yang keluar dari mulut suaminya, kini ia sudah melipat kedua tangannya di dada. Terus menatap dengan rasa tidak suka.


"Maura, pergi dulu ke kamar ya Nak, nanti Mama nyusul." Alika menggandeng tangan anaknya untuk keluar sebentar dari kamar.


"Kamu bisa nggak kalau mau marah-marah itu jangan depan anak?"


Bilmar membuang nafasnya dengan kasar. lalu ia bangkit untuk menghampiri Alika yang masih berdiri dipertengahan kamar.


"Kemana aja kamu? terus ini kenapa?" Bilmar menyentuh sikut tangan sebelah kiri istrinya yang telah ditutupi dengan perban.


"Ihh..sakit, Bil!" Alika kembali merintih menahan sakit.


"Kamu nya tenang dulu, aku akan jelasin!" Alika menggandeng tangan suaminya untuk ikut duduk bersama dirinya ditepi ranjang.


Lalu dengan lancar tanpa ada yang dilebihkan Alika mulai menjelaskan apa saja yang terjadi dengannya hari ini. Dahi Bilmar terus berkerut naik turun mendengarkan cerita sang istri.


"Nah jadi gitu deh ceritanya, maafin aku ya. Aku lupa ngabarin kamu!"


"Iya udah kalau gitu, aku percaya. Lain kali kamu harus hati-hati, aku kan khawatir sama kamu!" Bilmar mencium pipi istrinya.


"Makanya lain kali jangan langsung marah, kita harus bisa menyelesaikan kesalahfahaman ini dengan saling terbuka karena kejujuran amatlah penting sayang." Alika kembali mencium pipi suaminya. Sepertinya ia sudah terlupa jika sedari pagi ia tengah merajuk dengan sang suami perihal struk belanjaan wanita yang tidak sengaja ia temukan tadi pagi.


Mendengar kata saling terbuka, membuat Bilmar mempunyai angin segar untuk menceritakan siapakah Binar didalam hidupnya. Ia merasa Alika akan menerimanya dengan baik.


"Sayang, aku ingin--"


"Ingin apa? nanti aja ya, aku mau ke kamar Maura dulu. Nanti anaknya ngambek lagi kalau nggak ditemenin main." Alika pun bangkit menuju pintu keluar, sebelum handle digerakan ia pun menoleh kembali


"Nanti aja maleman dikit yah." ucap Alika manja sambil mengedipkan salah satu matanya.


Mungkin dibenak Alika, Bilmar hanya ingin berucap kalau malam ini, ia ingin bermain gasing lagi bersama dirinya.


Bilmar hanya terkekeh geli, ia janji secepatnya akan memberitahukan Alika.


***


Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗


Oh iya aku pengen promoin NOVEL TERBARU aku "Jangan berhenti Mencintaiku". Boleh cek di profil aku ya, jangan lupa jadikan Favorite di rak buku kalian.🖤🖤


Kaya biasa


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


thankyou❤️😘😘