
Haiii selamat pagi guys.
Aku kembali
Oke deh selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Terlihat Alika tengah menggeliatkan tubuhnya di perdalaman selimut yang kini tengah menyelimutinya. Ia terus menguap sambil merentangkan kedua tangannya.
Blass
Tangannya begitu saja terjatuh kepada bantal yang kosong tidak berpenghuni. Seketika ia menoleh dengan cepat dan mendapatkan Bilmar tidak ada disana. Ia pun bangkit dengan mata terbelalak, mencari-cari keberadaan suaminya yang tidak ada dalam pandangannya.
Ia pun turun dari kasur dan bergegas memakai sendalnya dengan rasa cemas dan gelisah. Lalu sayup-sayup Ia mendengar ada percikan air shower didalam kamar mandi. Wajahnya langsunf berubah menjadi senang dan bahagia.
Ia tahu dimana keberadaan suaminya sekarang. Dengan cepat ia melangkah lalu menggedor-gedor pintu kamar mandi.
"Bil, Buka! Buka! Aku mau masuk!" Alika meronta-ronta seperti anak kecil.
Krek
Pintu kamar mandi pun dibuka, terlihat Bilmar mengintip sedikit untuk mencari tahu suara siapa yang terdengar tidak jelas dari luar.
"Buka! Aku mau masuk!" Seru Alika.
Begitu kagetnya Bilmar ketika istrinya menerobos untuk masuk kedalam kamar mandi. Dengan tubuh yang masih polos dan rambut masih berjibaku dengan cairan sampo, Bilmar pun memberikan raut aneh kepada sikap istrinya yang seperti ini.
Ya! Rasa ketakutan Alika kembali muncul.
"Kamu kenapa? Kebelet pipis??" Tanyanya.
Alika menggeleng, ia pun tidak mengerti kenapa ia merasa takut jika Bilmar tidak ada disampingnya walau dalam hitungan menit.
"Kamu mau mandi sayang?" Tanyanya kembali. Dan Alika hanya bisa menggeleng, ia terlihat seperti orang bingung.
"Nggak, Bil..."
"Terus ngapain kamu masuk?" Tanya Bilmar semakin curiga. Ia terus menatap dua bola mata istrinya yang tersirat akan ke anehan.
Alika hanya bisa terdiam dan Bilmar terus menatapnya penuh tanda tanya.
"Kamu duduk disini ya, aku mau basuh tubuhku dulu!" Bilmar membawa Alika untuk duduk di closed. Sedangkan ia kembali melanjutkan mandinya.
Alika hanya terdiam menunggu aktivitas Bilmar selesai.
"Kamu aneh sayang, selama pernikahan kita. Kamu gak pernah sampai nungguin aku mandi kayak gini? Kecuali kalau aku yang maksa dan lagi ingin ketemu Sassy. Kenapa sekarang kamu jadi aneh?" Batin Bilmar terus menyeruak masuk dan hinggap sampai ke pori-pori otaknya.
Lalu ia kembali menerka.
"Atau, kamu?? Nggak mungkin kan?"
Bilmar mendesah frustasi. dengan cepat menyelesaikan mandinya. Dengan melilitkan handuk di pinggang nya, ia pun keluar dari dalam kamar mandi sambil menggandeng tangan Alika.
Alika dibawa duduk di tepian ranjang.
"Bentar ya, aku ambil baju dulu..."
Ia berjalan ke dalam lemari untuk memakai kaos dan celana pendek nya. Alika terus memantau kemana pun kaki Bilmar melangkah. Dan benar saja Alika langsung beranjak ketika Bilmar melangkah mendekati pintu kamar. Ia merasa Bilmar akan meninggalkannya ke luar.
"Bil, mau kemana?" Serunya sambil memegang lengan suaminya. Ia seperti anak kecil yang tengah takut ditinggal oleh orang tuanya.
"Nggak kemana-mana sayang, ini aku hanya merapatkan pintu." Jawab Bilmar semakin dibuat aneh oleh sikap Alika.
"Kamu mau minum, Al? Mau sarapan? Atau mau apa?" Tanya Bilmar sambil merangkul tubuh istrinya kembali ke atas kasur.
Alika hanya diam, ia terus menggenggam tangan Bilmar sampai mereka kembali ke atas kasur.
"Ayo naik.." Seru Bilmar kepada istrinya.
"Mau tidur lagi, Bil?" Alika bertanya. Bilmar pun mengangguk sambil menarik selimut untuk menyelimuti kembali Alika.
"Ayo pejamkan matamu.." Ucap Bilmar, ia pun tidur dengan posisi miring sambil meletakan tangan kiri untuk menopang dagunya. Menatapi wajah Alika yang terlihat seperti orang bingung dan takut ditinggali.
"Bil..." Desahnya ketika ia mau menutup matanya. Tangannya tetap menggenggam tangan kanan suaminya. Betul-betul tidak mau ditinggal sama sekali.
"Sssst! Udah, ayo tidur! Aku juga akan tidur lagi...." Ucap Bilmar terus memberikan rasa aman dan nyaman kepada istrinya yang masih bersikap aneh.
Ini memang hanya fikiran Alika saja, nyatanya Bilmar sudah tidak mempermasalahkan itu semua. Sikap lembut Bilmar semalam yang membuat Alika menjadi berbeda, ada sudut hatinya yang masih tidak menerima dan tidak percaya. Ia takut suaminya berbohong dengan pemberian maaf yang tidak biasa.
****
Dua jam kemudian, 09:00 pagi. Bilmar mau tidak mau harus melepaskan genggaman tangannya dari sang istri karena ia harus bersiap ke kantor. Awalnya ia memang mengurungkan niat untuk pergi kesana, namun beberapa belas menit yang lalu Pak Adit menelponnya mengingatkan akan ada rapat penting dengan klien dari Jepang, tentu tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
"Sarapan dulu, Den...?" Tanya Bik Minah kepada Bilmar yang masih memasang dasi di kerah bajunya. Membuat Papa Luky yang sedang sarapan menoleh.
"Kamu kerja, Nak? Alika gak turun?" Lelaki itu mencari sosok putrinya.
"Nggak Bik, saya sarapan dikantor aja. Tolong nanti sarapan buat Alika diantar ke kamar ya." Lalu ia beralih kepada Papa Luky. "Iya Pah, hanya ingin mengikuti rapat dengan klien penting, sehabis itu Bilmar akan secepatnya pulang. Sepertinya Alika masih dalam trauma Pah..." Ucapnya dengan rintihan frustasi. Bilmar terlihat ikut murung dan sedih.
"Bagaimana ini Pah? Ia seperti ketakutan!" Imbuh Bilmar kembali.
Wajah Papa Luky pun berubah menjadi khawatir, ia terlihat sangat cemas. Ia tidak mau Alika mengidap stress berkepanjangan.
"Kamu tenang, Papa yang akan bawa Alika ke psikiater, dia butuh penanganan medis untuk menyembuhkan ketakutannya itu. Pergi lah dulu, biar urusan kamu cepat selesai.."
Bilmar mengangguk dan membungkukkan tubuhnya untuk mencium punggung tangan sang mertua. "Bilmar berangkat ya Pah."
"Iya Nak, hati-hati ya.."
Bilmar pun berlalu dari meja makan untuk melangkah menuju pintu utama.
Lalu
Beberapa saat kemudian, seruan nyaring atas namanya terdengar dari anak tangga. Terlihat Alika dengan langkah blingsatan menuruni anak tangga ia terus menyerukan nama suaminya.
Membuat Papa Luky bangkit dari meja makan untuk menghadang putrinya dan seketika itu pula Bilmar pun menoleh saat langkahnya terhenti di ambang pintu utama.
"Sayang...!" Panggil Alika. Dengan cepat Papa Luky meraih tangannya.
"Alika mau kemana, Nak? Di rumah aja sama Papa ya sayang.." Papa Luky tetap mengunci langkah Alika agar tidak berjalan menuju suaminya.
"Bil, mau kemana? Aku ikut----"
Alika kembali merengek dan mengulurkan tangannya agar Bilmar bisa meraih dan membawanya pergi.
"Aku kerja dulu ya sayang, aku gak lama kok. Nanti aku pulang lagi ya..." Ucap Bilmar dari ambang pintu. Lelaki itu memandang nanar ke wajah istrinya.
"Tapi aku ikut, Bil. Aku mau ikut!!" Alika menghentak-hentakkan kaki nya agar suaminya tetap membawanya pergi dari rumah.
"Ayo, Bil! Cepatlah pergi! Papa yang akan jaga Alika..."
Papa Luky mendesak agar Bilmar cepat berangkat, agar Alika berhenti untuk meronta-ronta seperti ini.
Dengan hati yang sedikit dipaksakan, akhirnya Bilmar mengikuti perintah Papa Mertuanya untuk berangkat ke kantor. Ia pun akhirnya berlalu sambil membawa tas kerjanya dari ambang pintu dan berjalan menuju mobil. Masih terdengar jelas suara tangisan Alika dari dalam.
"Suamimu hanya sebentar, nanti pulang lagi, Nak. Sekarang Alika sarapan aja ya, Papa suapi ya, Nak." Ucap Papa Luky terus memaksa anaknya agar berhenti menangis dan mau sarapan. Alika terus meminta agar ikut dengan Bilmar ke kantor sekarang juga.
Bilmar sudah masuk kedalam mobil. Ia duduk termenung di kursi kemudinya. Menangkup kan wajahnya di stir sambil memejamkan kedua matanya.
Lalu
Blass.
Dengan cepat ia turun kembali dari mobil lalu melangkah lagi kedalam rumah.
"Sayang..." Panggilnya. Membuat Alika menoleh dan melepas paksa genggaman tangan dari sang Papa.
"Aku ingin ikut kamu sayang..." Rancau nya lagi.
Alika pun langsung berlari menerjang tubuh suaminya. Memeluk tanpa mau melepas, ia menangis dan merengek manja tetap mau ikut dirinya ke kantor.
"Bil?" Panggil Papa Luky.
"Udah gak apa-apa Pah. Bilmar akan membawa Alika ke kantor. Aku juga gak akan fokus Pah disana, Bilmar pasti akan memikirkannya terus---" Jawab Bilmar lalu menatap Alika yang masih mendekapnya erat.
"Bik Minah, tolong siapkan baju buat Alika ya. Masukan saja ke dalam tas. Saya menunggu di mobil!"
"Baik Den." Jawab Bik Minah.
"Pah, Bilmar dan Alika pergi dulu ya..."
"Kamu yakin, Bil? Mau bawa Alika dalam keadaan seperti ini?"
Bilmar mengangguk. "Iya Pah..."
"Ya sudah berangkat lah, hati-hati dijalan. Papa akan tetap disini menjaga Ammar dan Maura."
Yang Alika fikirkan saat ini hanyalah Bilmar. Ia tidak mau sama sekali di tinggal oleh lelaki itu. Perasaan bersalah itu terus menghantuinya. Ia merasa Bilmar akan meninggalkannya. Membuat lupa dirinya kalau dirumah ini masih ada Maura dan Ammar. Tentu ini bukanlah maunya, ini hanya kesalahan dari bawah alam sadarnya.
"Ayo sayang, sembuh ya..."
*****