
Haii selamat pagii❤️
Aku kembali guyss
Selamat baca ya
🤗🤗🤗
****
Paviliun Berliana, 19:00 Wib.
Alika masih menuangkan air di gelas suaminya. Bilmar terlihat sedang makan malam dengan lahap di meja makan.
"Habiskan ya sayang!" Alika meletakan tambahan omlete di piring Bilmar. Lelaki itu hanya mengangguk dan terus memakannya.
"Maura? Ayo makan dulu, Nak..." Alika memanggil putrinya yang masih tidak bergerak dari tempatnya saat ini.
Terlihat Maura masih berdiri di dekat jendela, kedua tangannya menangkup di kaca. Ia menempelkan kedua matanya agar lebih jelas melihati Gifa yang sedang berdiri juga di jendela paviliunnya, persis seperti Maura saat ini.
Kedua anak ini saling bertatap dalam perasaan bersalah dan menyesal. Karena sejak kejadian tadi pagi, Bilmar dan Galih mengultimatum anak-anak mereka untuk tetap berada di paviliun, tidak boleh keluar apalagi bermain.
Maura melambai-lambaikan tangannya dari balik kaca, Gifa pun menyambutnya kembali dengan lambaian dan senyuman.
"Bil? Kasian anak kita--" Alika memelas, ia meminta kebaikan hati Bilmar untuk membolehkan Maura bermain kembali.
Bilmar hanya menggeleng, ia terus melahap makanannya sampai habis. Alika sudah frustasi membujuk Bilmar. Bagaimanapun kejadian ini memang sangat mengkhawatirkan. Sungguh saja Allah masih berbaik hati untuk terus menjaga mereka.
"Nak?" tangan lembut sang Mama begitu saja mengelus bahu sang anak. "Maura makan dulu ya, Nak. Mama udah masakin kentang goreng buat Maura--"
Kentang goreng adalah makanan kesukaan Maura. Ia akan beranjak senang kalau Alika membuatkannya selalu, tapi untuk saat ini. Semua yang ia senangi telah tertutupi dengan kesedihannya.
Maura hanya diam tidak mau menoleh, ia masih tetap melihati Gifali yang masih berdiri juga terus melihati dirinya.
Alika kembali bertutur, ketika tidak mendapatkan respon apa-apa dari Maura. "Sayang? Maura dengar Mama kan?" Karena anaknya masih diam, ia pun mulai meraih dagu anaknya, agar berpaling sejenak dari jendela.
Jag.
Alika tercengang melihati kedua mata Maura yang telah berkaca-kaca. Kedua bibirnya bergetar, sekuat tenaga anak ini menahan agar isakkan tangisnya tidak di dengar oleh dirinya dan Bilmar.
"Kenapa, Nak?" tanya Alika lebih lembut lagi, ia tahu hati Maura tengah patah.
Alika pun menoleh sebentar ke arah Bilmar yang masih menikmati makan malamnya.
"Maura mau keluar?" Dan anak ini pun mengangguk, kedua mata nya menyeret mata Alika untuk melihat ke arah Gifali. Kini terlihat juga Nadifa tengah berada di belakang tubuh anaknya.
Dan kedua sang Mama pun, berfikir yang sama. Mereka ingin keluar untuk kembali mempertemukan Gifali dan Maura agar bermain kembali.
Mereka tahu anak-anak sedang bersedih.
"AL!" seruan Bilmar tak menggetarkan hati Alika untuk terus memutar kunci agar pintu paviliun dapat terbuka dengan mudah.
Begitu juga, dari arah lain.
"MAH!" seruan Galih yang begitu saja tidak menghalangi Nadifa untuk tetap keluar dari paviliun.
Maura dan Gifali tetap berada dalam gendongan Mama mereka masing-masing. Alika memberikan senyuman kepada Gifali dan Nadifa, mereka sama-sama masih berdiri di halaman paviliun masing-masing.
Tiba-tiba, ada suara mencekam dari dalam paviliun Galih.
"MAMA MASUK, CEPAT!!"
Sontak suara itu membuat mereka semua tersentak hebat. Dengan langkah cepat Nadifa kembali masuk bersama Gifali.
Lalu
Bragg.
Gebrakan pintu paviliun begitu saja menggema telinga Alika dan Maura bertepatan dengan langkah Bilmar yang sudah menepi di samping mereka.
"Kurang ajar, dia! Gebrakin kalian pintu!! BRENGSEK!!"
"Bil, bil---!!" Alika meraih cepat tangan suaminya untuk menghentikan langkah Bilmar agar tidak jadi mendatangi paviliun Galih.
"Udah sayang! Sabar, nggak baik kamu emosi kayak gini!" Alika pun mendorong tubuh Bilmar sampai masuk kedalam paviliun dengan susah payah.
Alika pun langsung mengunci pintu dengan cepat.
"Maura masuk dulu ke kamar ya, Nak!" Alika menurunkan Maura dari gendongannya, anak itu pun berlalu dengan cepat untuk masuk ke dalam kamar.
Emosi Bilmar terus berlanjut dari pagi sampai saat ini. Ia terus memaki Galih dan Gifali, karena sudah mengancam nyawa putrinya.
"Kenapa tadi kamu keluar? Kamu nggak mendengarkan seruan aku, Al??"
Alika masih menatapi kedua mata suaminya yang sudah mendidih.
"Aku nggak tega, Bil! Sama Maura--"
"Terus kamu lebih tega liat anak kita mati tenggelam??" Nada suaranya mulai meninggi.
"Loh?? Lihat dong sekarang! Maura baik-baik aja, kan? Makanya kamu sekarang nggak usah marah kayak gini, Bil!"
"Ya kita harus sabar, Bil! Mungkin Mas Galih cemas karena anaknya baru aja lolos dari maut. Gifali itu hampir tenggelam karena menolong Maura--"
"Siapa suruh anaknya bawa-bawa anak kita!"
"Bil, dalam masalah ini Maura dan Gifali sama-sama salah, sayang--"
"Oh, jadi sekarang kamu belain dia?"
"Aku nggak belain! Aku hanya---"
Bilmar menyelak cepat. "Suami kamu tuh, dia atau aku sih??"
Alika memejamkan matanya, menundukan wajah ke bawah membuang nafasnya dengan kasar. Sepertinya ia sudah kehilangan cara, ia pun berbalik menjadi emosi.
"Susah banget ya ngmong sama kamu kalau lagi emosi kaya gini! MENTAL SEMUA UCAPAN AKU!!" Alika mengakhiri perdebatan ini, lalu berjalan menuju kamar Maura dan menutupnya dengan kasar.
Bragg.
Pintu kamar di gebrakkan lalu kunci diputar. Malam ini Alika memilih tidur bersama putrinya.
Bilmar hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Ia termenung lama di sofa. Melihati pintu kamar Maura.
"Al? Buka sayang, aku gimana nih? Masa tidur sendirian??" Bilmar terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Maura, agar Alika mau membukakan pintunya.
****
"Pulang besok?"
"Ia kita besok pulang aja dari sini! Aku ada kerjaan mendadak!" balas Galih.
"Mendadak?" Nadifa tersentak
"Mama bisa nggak? Nggak usah ngulang lagi ucapan Papa?"
"Ya kan aneh aja Pah, waktu liburan kita masih ada dua hari lagi, kenapa juga harus buru-buru pulang?"
"Aku udah nggak suka disini! Aku cemas sama keselamatan anak-anaku!"
"Ini semua karena Kakak sih segala berenang di pantai segala! Liat tuh Mama sama Papa sekarang bertengkar di dalam--" ujar Ganaya kepada Gifali. Mereka masih setia menunggu Mama Papa nya keluar dari kamar.
Gifali hanya bisa diam. Jika saja dia tidak berinsiatif membawa Maura ke tepi pantai dan mengajaknya berenang, mungkin kejadian seperti ini. Tidak akan terjadi.
"Ya udah kalau Papa mau pulang, pulang aja sendiri! Aku sama anak-anak masih mau disini! Kasian mereka lagi liburan, Pah!"
Lagi-lagi karena soal anak, para orang tua jadi berselisih faham, mengumpat dan saling memaki. Karena sejatinya, sesalah apapun seorang anak, Orang tua akan selalu membelanya.
Bagaimana sekarang, Maura dan Gifali akankah secepat itu berpisah?
****
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘