Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Pra Kejujuran


Hayy kesayangan❤️❤️


Selamat baca ya


🤗🤗


***


Jam di dinding sudah menunjukan pukul 21:00 wib. Suara jangkrik di taman luar pun sudah terdengar saling bersautan malam ini. Menemani hati Bilmar yang terus di hinggapi rasa gugup, gundah dan cemas. Ia bingung harus memulai dari mana untuk menguak semua rahasia yang sudah lama terjadi. Ia terus mengatur pola nafasnya, sama seperti halnya ketika ia ingin mengucap ijab qabul untuk sang istri.


Dan yang ada didalam benaknya saat ini adalah bahwasanya malam ini dirinya tidak akan selamat dari makian Alika.


Sudah satu jam lebih Bilmar menunggu sosok istrinya yang tidak kunjung datang ke dalam kamar. Sedari tadi ia melemparkan tatapannya ke arah pintu bergantian menatapi layar handphone miliknya.


Ia terus memikirkan kalimat awal apa yang cocok untuk membuka pembicaraan mereka kali ini. Karena ia tahu Alika masih dingin lebih dari bongkahan es kepadanya.


Lalu tak lama kemudian doanya pun terjawab.


Krekk..


Ada suara ringkikan pintu dibuka, masuklah Alika kedalam kamar sambil membawa segelas susu untuk Bilmar. Kebiasaan malam yang selalu Alika lakukan untuk suaminya sebelum tidur.


Tuk...


Suara segelas susu diletakan di nakas persis disamping tepian ranjang yang kini Bilmar tempati.


"Minumlah susumu." tukas Alika.


Bilmar pun menoleh melihati wajah istrinya, namun tetap saja Alika tidak mau membawa kedua bola matanya untuk menatap sang suami. Hatinya masih tidak ingin untuk diajak bicara dulu kali ini.


Bola mata Bilmar terus bergerak mengikuti langkah istrinya yang saat ini sudah naik, lalu merangkak ke tepi ranjang yang berlawanan dengan dirinya. Kemudian Alika menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tidur dengan posisi miring memunggungi lelaki ini.


Begitulah Alika, ia sangat susah untuk ditebak. Hanya dengan diamnya saja, Bilmar langsung gugup bukan main.


Lalu, sebuah ide tersentil diotak nya.


"Aduhhhh...duh...sayang tolongin aku!" rintih Bilmar berpura-pura sambil melirikkan matanya ke arah Alika, ia terus berakting kesakitan agar istrinya menoleh dan bangkit.


Dan tepat saja, Alika langsung menoleh dan mendekati sang suami yang sedang menjerit histeris.


"Kamu kenapa, Bil?" tanya Alika cemas. "Bagian mana yang sakit?"


Begitulah Alika, walau hatinya telah dijepit rasa sakit sejatinya ia tidak akan tega membiarkan orang yang ia sayangi sakit begitu saja.


Bilmar menunjuk kaki sebelah kirinya "Kaki ku keram sayang," jawab Bilmar dengan ringisan sakit.


Tanpa banyak bicara, Alika menaikan celana training Bilmar sampai ke dengkul, ia pijati kaki yang keram. Lalu ia bangkit untuk mengambil air hangat kedapur lalu mengisinya didalam baskom.


"Ayo turunkan kakimu, biar direndam dulu beberapa menit disini!" ucap Alika sambil menurunkan kedua kaki Bilmar untuk direndam. Alika berjongkok dibawah dan Bilmar tetap duduk ditepian ranjang melihati Alika yang terus menyapu bulu-bulu yang ada disekitaran betis suaminya.


Bilmar terus melihati pucuk rambut istrinya yang kini tengah menundukan wajah untuk melihati keadaan kakinya yang keram.


"Bagaimana aku bisa mengatakan semua ini kepadamu? lalu bagaimana kalau kamu akan meninggalkan aku? tidak mau menerima posisi ku yang serba salah saat ini?" batin lelaki ini bergeming parau.


Kemudian suara teriakan memuncak dari bibir Bilmar.


"Ahhhh...perih Al!"


Alika sengaja mencabut beberapa bulu kaki Bilmar dengan gerakan cepat, sepertinya ia tahu kalau sedang dibohongi. Dengan begini Bilmar akan terbangun dari mimpinya.


"Keram dari mananya sih? kamu tuh bohongin aku ya?"


"N--ggak kok sayang, aku beneran keram." tuturnya dengan tatapan sendu.


"Uhhh...udah ah, kamu urus aja sendiri kaki kamu itu!" Alika mulai bangkit melingkari ranjang untuk tidur diposisi nya yang semula.


"Sayang..kamu kenapa sih hari ini? aku benar-benar nggak tahu kalau---"


"Nggak tahu kalau si rambut jagung itu mau datang? mau cium, mau peluk dan mau kangen-kangenan sama kamu?" cicit Alika. Kini ia duduk ditepi ranjang masih memunggungi suaminya.


Bilmar memutar tubuhnya untuk melihati sang istri. Ia pun mulai merangkak untuk memeluk tubuh Alika dari belakang, seraya memberi pijatan di pundak untuk menghilangkan kelelahan dan merayu Alika dari masalah ini.


"N--ggak usah pijit-pijit aku segala!" Alika menggeliatkan tubuhnya agar tangan Bilmar terhempas jauh.


"Kamu kan capek seharian abis marah-marah, nangis, lari-larian, gegerutuan nggak kelar-kelar, pastikan tubuh kamu letih, makanya nih aku pijitin biar enak!" ledek Bilmar tanpa rasa bersalah.


Alika pun menoleh menatap dua bola mata Bilmar yang saat ini tanpa jarak dan sekat. Mereka saling bersitatap dalam rahasia mereka.


"Dengar ya Bil, berani kamu bohongin aku soal wanita manapun! aku nggak akan pernah beri kamu ampun atau kesempatan kedua! catat itu semua dikepala kamu--!" lirikan Alika begitu getir dan penuh ketegasan. Ia pun mendorong tubuh Bilmar untuk kembali ke posisi tidurnya, agar Alika bisa menarik selimut untuk menutupi dirinya.


Rencana kejujuran yang ingin ia bicarakan sepertinya urung untuk dilakukan malam ini. Ia masih ingin terus memikirkannya kembali sampai dirasa mood Alika sudah membaik.


Bilmar hanya menatapi wajah Alika dari samping, terus membelai rambut sang istri.


Mungkin besok ia akan menceritakan semuanya, semua yang terjadi tanpa tersisa.


Mungkin.


Dan lagi-lagi Bilmar gagal.


***


Part selanjutnya aku akan jebol siapakah sosok Binar sebenarnya..semoga aja review nya cepat..stay tune terus yaa❤️❤️


Aku terharuu banget sama komenan positif kalian dukung banget aku..unch sosweet😘❤️ maaf kalo ada yg kelewat nggak dblas chatnya..insya allah kalian kesayangan akuu..hehehe🤗


Oh iya aku pengen promoin NOVEL TERBARU aku "Jangan berhenti Mencintaiku". Boleh cek di profil aku ya, jangan lupa jadikan Favorite di rak buku kalian.🖤🖤


Kaya biasa


Like dan Komen yaa..meminta kebaikan hati kalian untuk mem Vote dan Rate bintang dicerita ini..biar aku semangat.


thankyou❤️😘😘