
Haii kesayangan selamat pagi
Aku kembali
Selamat baca ya guyss
❤️❤️❤️
Beberapa jam kemudian
Terlihat Alika keluar dari ruang kerja Bilmar dengan langkah tertatih-tatih sambil mengancingkan beberapa kancing piyamanya yang masih terbuka.
Terlihat beberapa tanda merah ada disekitar leher dan pangkal dadanya. Rambutnya terlihat sangat berantakan. Alika terus meringis sakit ketika sedang berjalan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar.
Dari belakang ada Bilmar yang berjalan cepat menyusul sang istri. Ia masih bertelanjang dada hanya mengenakan boxer saat ini.
"Sayang..."
Bilmar mencoba mensejajarkan langkah kaki nya dengan Alika. Tetapi Alika tetap berjalan terus sambil menundukkan kepalanya sampai masuk ke dalam kamar tidur mereka.
"Sayang.." Seru Bilmar lagi setelah menutup pintu kamarnya.
Ia terus mengejar Alika, tapi sayangnya Alika sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang...!"
Bilmar terus memanggil diluar pintu kamar mandi. Alika pun menyalahkan air keran wastafel agar suara tangisannya tidak terdengar keluar.
Ia tidak ingin Bilmar semakin mengetuk pintu. Ia takut kedua anaknya yang masih terlelap bangun begitu saja.
Alika masih berdiri di depan cermin wastafel, ia terus memegangi perut bagian bawah. Ia menangis di iringi dengan ringisan sakit yang masih terasa sangat jelas. Lalu ia semakin menangis, ketika melihat jarinya membawa setetes darah dari inti miliknya.
Sepertinya ada luka robek disana. Alika terus menangis menahan perih. Ia semakin membesarkan air keran, agar erangan kesakitannya tidak didengar dari luar.
"Sayang??" Bilmar kembali memanggil dan masih setia menunggu didepan pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa?"
Kenapa katanya? Jelas saja Alika tengah merintih kesakitan karena perbuatannya barusan. Karena merasa sudah butuh pelepasan, ia tidak memperhatikan bahwa istrinya belum merasakan pemanasan sesungguhnya. Justru itu yang membuat sangat sakit dan perih.
20 Menit kemudian, terlihat Alika sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan seluruh tubuhnya sudah harum karena sabun.
Bilmar pun seketika bangkit dari tepian ranjang untuk menghampiri Alika yang tengah berjalan menuju lemari pakaian.
Terlihat wajah Alika sedikit menahan sakit ketika langkahnya sudah sampai di depan lemari.
"Kamu sakit sayang?" Tanya Bilmar kepada istrinya yang masih memilih baju untuk ia pakai.
"Kamu nggak mandi, Bil. Sebentar lagi subuh!" Alika mengalihkan pertanyaan suaminya.
"Sayang, aku tanya, kamu sakit?" Bilmar memegang kedua lengan istrinya, Alika pun menatap wajah Bilmar.
"Enggak, Bil!" jawabnya datar. Setelah sudah mendapatkan baju ia pun memakainya dengan cepat.
"Kamu nangis? Kamu sakit, Al?" Bilmar terus bertanya berulang-ulang.
Semakin ditanya, hati Alika semakin merasa terpojok, sedih dan sakit. Ingin ia menangis, namun menangisi hal apa? Tentu apa yang dilakukan Bilmar tidak ada kesalahan sama sekali, Alika tahu ini merupakan suatu kewajiban dalam melayani suaminya dan ia lupa Bilmar adalah sesosok lelaki yang tidak bisa dibantah.
"Aku nggak apa-apa! Kamu cepat lah mandi!" Mendengar balasan singkat dari sang istri membuat Bilmar semakin bersalah. Ia tahu istrinya sedang merajuk.
Bilmar membawa Alika untuk duduk di sofa. "Aku tau kamu sakit, aku minta maaf ya sayang, apa kamu mau ke dokter?"
Alika hanya menggeleng. Ia terus menunduk menahan tangis yang sepertinya ingin cepat tercuat.
Bilmar meraih tubuh istrinya untuk menyandar di dada bidang polos miliknya. "Kalau mau nangis nggak apa-apa, aku faham! Aku juga salah udah maksa kamu, maafkan aku ya---"
Bilmar terus memeluk istrinya, karena Alika tidak sekuat itu akhirnya ia pun menangis dan mengeluh.
"Sakit, Bil. Perih banget!" Ia terus menangis dipelukan suaminya.
"Aku periksa ya? Aku mau lihat ke dalam, apa boleh?"
Alika mengangguk. Bilmar pun mulai membaringkan tubuh istrinya di sofa, ia melihati bagaimana keadaan inti milik Alika.
"Aku basuh air hangat ya, sebentar aku ambil siapkan dulu!" Bilmar pun berlalu menuju dapur untuk mengambil air hangat. Dengan cepat ia pun kembali dan menemukan Alika sudah memejamkan kedua matanya.
"Cepat sekali kamu tertidur sayang--"
"Hemmm, Bil?" Alika kembali ingin membuka matanya.
"Sudah pejamkan mata mu dulu, nanti ketika adzan aku akan membangunkan kamu!"
"Iya, Bil! Pelan-pelan ya---" Alika meringis kembali ketika inti nya tengah diusap air hangat oleh Bilmar. Suaminya tetap fokus meneliti keadaan di dalam.
"Nanti siang aku akan pergi bersama Papa dan Binara ke panti asuhan untuk mencari Gadis, apakah kamu mengizinkan?"
"Iya sayang aku izinkan! Sudah tidurlah dulu, aku masih fokus melihati luka mu!"
"Hemmm---" Alika mengangguk dan memejamkan kedua matanya kembali.
"Maafkan aku ya sayang!" Kata hati Bilmar ketika ia menemukan sedikit kemerahan di inti istrinya dengan telaten ia terus membasuhnya dengan handuk hangat.
****
"Panti Asuhan Kasih Ibu." Alika mengeja nama panti asuhan yang sedang ia lihat dari dalam mobil.
Alika, Papa Luky dan Binara sudah sampai disebuah panti asuhan tersebut.
"Papa yakin ini panti asuhannya?" Tanya Alika menoleh ke wajah Papa nya yang juga sedang melihat keadaan panti dari kursi penumpang.
Binara terlihat sama, dengan kedua tangan masih dalam gagang stir, ia masih menoleh melihat panti asuhan ini.
"Iya Nak, Papa yakin--"
"Baiklah kalau begitu, ayo kita turun!" Alika mengajak Papa dan Adiknya untuk turun dari mobil.
Mereka pun berjalan untuk masuk ke dalam pekarangan panti. Terlihat banyak anak-anak kecil yang sedang bermain. Membuat langkah Binara seketika terhenti. Ada air mata yang mengalir dari kedua ekor matanya. Hatinya terenyuh, bagaimana nasib anaknya selama ini.
"Ayo, Nak!" Papa Luky merangkul tubuh Binara untuk masuk ke dalam panti asuhan.
"...Waalaikumsallam, Pak, Bu ada yang bisa saya bantu?" Seorang ibu sedang menjawab salam dari mereka yang masih berdiri diambang pintu daan bertanya maksud kedatangan mereka kesini.
Kedua mata Binara masih menyisir keadaan didalam rumah ini.
Betulkah selama ini, anakku tinggal disini? Jika memang betul, sungguh sangat kasihan!"
"Kami sedang mencari seorang anak yang pernah dititipkan di panti asuhan ini, apakah kami bisa bertanya-tanya lebih jauh kepada ibu?" jawab Alika, mewakili Adik dan Papanya.
"Baiklah kalau begitu, ayo masuk dulu ke dalam---"
****
.
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘