
Adakah yang senang melihat cerita mereka lagi? yuk ah mari baca guyss
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
Dengan segala pertimbangan matang, akhirnya Bilmar tetap melesat menuju Bandung untuk mendatangi belahan hatinya yang sedang ada di sana.
Bilmar mendapat restu dari Maura dan Ammar untuk pergi menyusul sang Mama. Tentu dengan berbagai alasan yang klasik.
Salah satunya adalah,
"Mama minta Papa jemput, Nak. Tapi kan acaranya Mama selesainya malam, jadi terpaksa Papa dan Mama menginap dulu di sana, apakah boleh?"
Mau bagaimana lagi, Alika adalah harta terpenting bagi Maura dan Ammar, tentu saja kedua anak itu mengizinkan ketika sang Papa ingin menjemput Mamanya. Ditambah lagi Bilmar meninggalkan beberapa lembar uang jajan untuk mereka dan mengizinkan Ammar untuk kembali memainkan gadget, tentu semua itu semakin membuat hati Maura dan Ammar bahagia, dengan semangat mereka pun memperbolehkan Bilmar untuk menyusul Alika.
Begitulah Bilmar, apapun demi istrinya. Akan ia lakukan. Dengan kaos polos di tutup dengan jaket cokelat kulit dan celana jeans serta sepatu cats menutup telapak kakinya. Lelaki berusia 38 tahun ini melangkah dengan tubuh tegap masuk kedalam gedung serbaguna. Dimana tempat ini menjadi tempat seminar yang diikuti oleh istrinya.
"Permisi, Mba. Acara seminar apakah sudah selesai?" suara bariton Bilmar meletupkan pendengaran petugas penerima tamu yang sedang menundukkan kepalanya ke bawah karena sedang menulis.
Mereka pun mendongak sambil menelan ludah. Tampan sekali, fikir mereka.
"Be-be-lum, Mas, Pak, eh...." salah satu dari mereka menjawab dengan gugup. Tak hanya ketampanan Bilmar yang membuat dua bola mata mereka membelalak. Namun wangi tubuh Bilmar begitu sangat menenangkan hati mereka---Apa lagi para jomblo.
"Berapa lama lagi selesainya?"
"Setelah coffee break terakhir, Mas. Acara seminar akan selesai untuk hari ini."
Apa? Mas? Dengarkan, si petugas itu memanggil apa? Mereka memutuskan untuk memanggil Bilmar dengan panggilan, Mas! Bilmar memang awet muda, ia selalu menjaga stamina tubuhnya.
Olahraga teratur, makan yang sehat dan istirahat yang cukup. Ia hanya ingin mensetarakan dirinya dengan Alika yang selalu terlihat awet muda dan energik. Bilmar tidak mau dianggap sudah loyo untuk membobol si Sassy.
"Baik kalau begitu, terimakasih." jawab Bilmar sambil memberikan senyumannya yang renyah. Membuat dua wanita itu termangu dan terhipnotis dalam waktu sekejap.
"Rommy Rafael kalah sama dia, sis..." celos salah satu dari mereka.
"Sayang ya gue udah punya suami..." Sambung teman wanita tadi, ia masih saja melihat sosok Bilmar yang sudah melangkah jauh dari mereka.
Lelaki itu memutuskan untuk berdiri tepat didekat jendela. Meletakan earphone ditelinganya untuk mendengarkan lagu dari ponselnya. Jika dilihat dari penampilan Bilmar yang seperti ini, tidak akan ada yang menyangka jika dia sudah mempunyai empat orang anak.
"Terus kalau lo udah punya suami, emang si ganteng tadi mau sama lo?" sahut salah satu dari mereka dengan suara nyeleneh.
"Kira-kira dia kesini mau jemput siapa ya? Istrinya atau pacarnya?"
"Siapa tau aja adek nya ya. Terus kita deketin deh adeknya, biar bisa deket sama Kakaknya yang ganteng itu, hihihihi." Mereka berdua terus menerka-nerka dan tertawa terbahak-bahak.
Mereka tidak akan menyangka jika Bilmar adalah suami dari salah satu narasumber sekaligus peserta di acara seminar kali ini. Bilmar terus berada dalam tatapan mereka. Seperti anak kucing yang sedang dijaga jangan sampai merangkak menuju jalan raya.
****
Acara seminar pun telah selesai. Sorai-sorai suara peserta seminar pun terdengar nyaring keluar dari dalam pintu aula. Bilmar dengan sigap tetap berdiri ditempatnya untuk menanti sang istri keluar dari sana, begitupun dua wanita petugas penerima tamu tadi, mereka tetap menyelidik siapakah yang ditunggu oleh Bilmar.
Namun seketika senyum Bilmar berubah menjadi redup, ketika ia melihat Alika tengah bersenda gurau dengan seorang lelaki yang sedang melangkah keluar bersamanya. Alika dan si lelaki terlihat akrab. Mereka masih mengobrol ringan sambil saling menatap sertifikat yang sedang mereka genggam ditangan masing-masing.
Bilmar tetap saja Bilmar, lelaki posesif dan pencemburu yang tidak pernah suka melihat istrinya tersenyum lepas kepada lelaki lain. Bagi Bilmar, Alika hanya miliknya. Istrinya.
"Hem..." suara deheman nyaring membuat Alika dan teman lelakinya itu menoleh ke arah sumber suara yang mengagetkan telinga mereka.
"Papah?" seru Alika ketika melihat kedatangan Bilmar yang mulai menghampiri mereka.
"Sis lo denger gak? Narasumber kita manggil si ganteng dengan sebutan, PAPAH!"
"Yahhhhh...udah kawin dong berarti..."
"Iya lah udah, lagian juga, liat dong istrinya. Cantik banget, beda sama kita yang kaya kremesan rempeyek---"
"Kita? Lo aja kali, ngapain ajak-ajak gue, ck!"
Begitulah keributan yang tertahan dengan bisik-bisik kekecewaan di antara mereka berdua.
Alika mendekat maju untuk menghampiri Bilmar dan menyalaminya.
"Papa kesini kok nggak bilang-bilang dulu?"
Si lelaki posesif itu tidak menjawab, baginya pertanyaan itu tidak penting. Yang penting saat ini, baginya adalah penjelasan dari Alika. Ia hanya memainkan mata ke arah lelaki yang masih terdiam menunggu Alika. Seraya bertanya siapakah lelaki itu.
Menikah dan hidup bersama dengan Bilmar selama sembilan tahun, sangat membuat Alika faham dengan kode tersebut.
"Pah kenalin ini Kang Adi..." Alika memperkenalkan Adi kepada Bilmar.
"Ini suami saya, Kang."
Adi pun tersenyum lalu mengayuh kan tangannya ke udara untuk berjabat tangan dengan Bilmar.
"Saya, Adi, Kang.."
Seperti ada remasan di dalam jabatan tangan itu membuat Adi sedikit meringis dan kaget.
"Kang Adi ini adalah senior di kampusku, Pah. Kita enggak nyangka bisa ketemu lagi disini, iya kan, Kang?" Alika buru-buru menjelaskan sebelum Bilmar berfikir macam-macam.
"Iya betul, Kang. Dulu saya---"
"Udah selesai kan seminarnya?" Bilmar memotong cepat ucapan Adi, ia menoleh hanya untuk menatap wajah istrinya. Tentu sikap Bilmar membuat Alika tidak enak hati dengan Adi.
"Ya udah, Kang. Aku permisi pamit ya, salam untuk istri dan anak-anakmu dirumah."
"Baik, Al. Terima kasih, hati-hati dijalan."
Alika mengangguk, begitupun dengan Bilmar. Si pencemburu itu hanya memberikan senyuman getir kepada Adi. Lalu ia menggandeng tangan istrinya untuk cepat berlalu dari sana.
Adi hanya menahan napas sambil terus mengusap dadanya. Ia terlihat takut dengan perangai Bilmar yang lebih tinggi dan tegap darinya. Untung saja Adi tidak merangkul Alika ketika keluar dari aula tadi, sudah dipastikan riwayat nya akan berakhir dengan obat dan perban di klinik.
****
"Mesra banget ya, Akang-akangan sama dia.." Bilmar tertawa sarkas. Ia terus memutar-mutar stir kemudinya.
"Dia kan senior Mama, Pah. Wajar kan kalau Mama berperilaku sopan?"
"Selama tiga hari seminar, kamu selalu sama dia?" Bilmar semakin menyelidik.
"Ya biasa aja, Pah. Kita ikut seminar bareng-bareng. Mama sama Kang Adi, sama-sama jadi narasumber---"
"Pantes aja kalau ditelepon sama di chat, kamu tuh lama banget bales nya, lagi asyik sih ya?" ucap Bilmar nyeleneh.
"Ya nggak gitu, Pah. Mama emang sibuk dari kemarin. Seharian seminar teori lalu beralih ke praktek, enggak mungkin kan bisa main hape terus-terusan?"
"Apa lagi sibuk dengan si Kudis?"
"Adi namanya! Kok kudis, sih..." Alika memutar bola matanya jenga, ia malas jika sudah menghadapi kecemburuan Bilmar yang akan lama sekali untuk meredah.
Masih teringat dalam ingatannya, ketika ia hanya memberikan senyuman tanda terima kasih kepada pelayan lelaki di restauran. Lelaki itu memang masih muda dan sedikit tampan. Sontak membuat Bilmar murka dan tidak senang hati. Ia takut Alika akan menyukai brondong muda seperti itu. Dari kejadian itu Bilmar terus merajuk berhari-hari. Memang betul cinta bisa membuat Bilmar menjadi gila.
Gila karena Alika!
"Pah, tolong deh. Mama lagi capek nih, enggak mau berdebat! Cemburuan terus, heran deh!" Alika berdecak kesal. Ia mengalihkan dua matanya kearah lain. Ia hanya melipat kedua tangan di dadanya sambil menyandarkan tubuhnya disandaran jok.
Bilmar hanya diam dengan tatapan masih tidak suka. Sesekali ia melirik ke arah istrinya yang jadi ikut merajuk.
****
Jalanan Bandung kali ini padat merayap. Mereka harus menempuh perjalanan selama satu jam untuk sampai ke hotel, dimana tempat Alika menginap selama tiga hari di kota ini.
Bilmar sedang merentangkan kedua tangannya dan menelungkup kan tubuhnya dipertengahan kasur. Ada desahan letih mencuat dari bibirnya. Beda hal dengan Alika, wanita itu masih sibuk menata semua baju untuk dimasukan kedalam koper. Membereskan barang-barang yang akan ia bawa pulang hari ini juga menuju Jakarta.
Setelah semua selesai. Ia pun melangkah untuk menghampiri Bilmar. Mengelus punggung lelaki itu dengan lembut dan sedikit memberikan pijatan kecil di sana.
"Papa mau tidur dulu?"
Bilmar mengangguk pelan dengan mata terpejam.
"Mau Mama pesankan makanan?" Alika menawarkan.
Bilmar menggelengkan kepalanya.
"Papa hanya mau Mama malam ini."
Kedua alis Alika terlihat menyambung di iringi dengan beberapa lipatan gelombang di keningnya.
"Maksudnya gimana, Pah?" Alika tetap memijit-mijit bagian leher dan pundak suaminya.
Bilmar pun membalikan tubuhnya dan tersenyum manis menatap istrinya. Tangannya dengan cepat menyingkap dress istrinya dan mengelus paha mulus Alika.
"Malam ini sampai besok, kita akan menginap di sini! Papa mau bulan madu lagi sama Mama---" Bilmar terus saja mengelus-elus paha istrinya sampai bergerak menuju inti kepemilikan Alika.
Alika menepis tangan suaminya. "Yang bener aja, Pah. Anak-anak dirumah, gimana? Kamu tinggalin mereka gitu aja, hanya karena ingin berduaan sama aku disini?" Alika berdecak kesal.
"Kakak sama Adek pasti enggak belajar malam ini, mereka senang kalau kita nggak ada dirumah, karena nggak ada yang ngawasin, gimana sih kamu!"
Bilmar hanya tertawa sambil kembali mengusap paha istrinya. "Sekali-kali kasih mereka udara segar, Mah. Belajar mulu nanti ngebul otak mereka. Lagian nggak belajar sehari, enggak akan nurunin rangking mereka kan?"
Betul memang, Alika selalu mengultimatum semua anak-anaknya untuk rangking tiga besar. Ia ingin menjadikan Maura dan Ammar seperti dirinya dan Bilmar dulu ketika disekolah. Jika anak-anaknya ingin sesuatu, maka Alika akan memberikan syarat terlebih dulu. Yaitu dengan nilai terbaik disekolah mereka.
"Mama enggak bisa nolak keinginan Papa! Sebenarnya Papa tuh masih kesal sama si Kudis tadi. Tapi karena berhubung mood Papa masih baik, jadi Papa enggak mau bahas dulu disini. Nanti aja dibahasnya kalau udah dirumah!"
Alika memiringkan sudut bibirnya ke atas. Ia hanya bisa tepok jidat dengan kelakuan suaminya yang tidak pernah berubah.
"Sekarang Papa ingin Mama." Bilmar tersenyum penuh damba. Dengan cepat ia menarik tubuh Alika untuk jatuh ke dekapannya.
"Mau berapa ronde malam ini?" bisik Bilmar dengan suara sensual dan esapan lidahnya tepat di daun telinga istrinya. Membuat Alika menjerengit geli dan hanya pasrah karena tubuhnya sudah dikunci dengan erat.
Untung saja ada masalah dengan Kang Adi, membuat Bilmar bisa menggunakan cara itu untuk mengikat Alika untuk menyetujui rencananya. Sassy siapkan dirimu, karena sebentar lagi si Jaguar akan membobol pertahanan mu tanpa ampun.
*****
Ayo mana nih suaranya yang rindu sama mereka? moga kerinduan kalian terobati yaa❤️❤️