Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Ayo bangun, kita jalan-jalan!


Hayy kesayangan..selamat pagi menjelang subuh. Dalam cuitan keheningan part ini pun lahir dengan redup menguras hati dan emosiku.


Nggak nyangka aku sebegini jahatnya..


yuk mari tolong Alika


****


Setelah mengetahui keadaan Alika memburuk drastis. Dokter dan beberapa Perawat bergegas datang untuk menghampiri tubuh Alika di ranjang pasien. Wajah mereka terlihat berat dan kacau, dengan nafas tersengal-sengal dan keringat bercucuran membuat mereka menjadi tegang seketika.


"Kenapa ini Dok..Sus?" tanya Papa Luky cepat ketika melihat mereka berdatangan dengan langkah terburu-buru.


"Maaf ya Pak, mohon untuk menjauh sebentar. Pasien sedang mengalami kegawatan, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk Ny. Alika."


Wajah Papa Luky dan Bilmar begitu histeris, sudah bengkak rasanya kedua mata mereka untuk kembali menangis, memecah sumber air mata yang tidak bisa dibendung lagi.


"Sayang..?" cicit Bilmar pelan, dirinya pun di tarik sedikit menjauh oleh Papa Luky yang dadanya terasa berat dan sesak. Bagaimana perasaan mereka sekarang? yang saat ini mereka bisa lakukan adalah tetap berjuang untuk mendoakan Alika agar mendapatkan mukzizat nyata saat ini dari Allah SWT.


"Aku tau kamu kuat! bangunlah sayang!...Pah?" panggil Bilmar lalu meraih tangan Papa Luky untuk digenggam, mencari sebongkah kekuatan jika Alika akan selamat setelah ini.


Papa Luky tetap berdiri mematung dibelakang kursi roda Bilmar, mereka sama-sama tercekat. Tidak bisa bicara apapun, hanya mampu melemparkan pandangan kesana-kesini, untuk melihati setiap proses bantuan hidup untuk Alika yang diberikan oleh mereka, tim medis.


"Dok, bagaimana ini keadaannya semakin memburuk?" tanya salah satu Perawat yang kini tengah membantu Dokter memberikan terapi untuk mempertahankan kelangsungan hidup untuk Alika. Kedua mata mereka terus berpacu ke dalam monitor.


Suasana semakin mencekam, hanya ada untaian dzikir terpatri dibibir Bilmar dan Papa Luky. Mereka hanya bisa menangis dalam doa, memanggil-manggil nama Sang Maha Pencipta untuk menolong Alika saat ini.


Dokter dan Perawat terus beriringan memberikan terapi dan tindakan untuk menyokong tubuh Alika agar tetap hidup.


Namun sepertinya Sang Pemilik Alam berkata lain, keadaan Alika semakin memburuk. Saturasi semakin turun dengan cepat, nadi semakin tidak teraba disusul tendi darah semakin menukik turun drastis.


Garis statistik di monitor yang tadinya terus naik turun bergelombang kini mulai tergambar lurus dan datar.


Kini tubuh Alika terlihat terguncang naik ke udara lalu terempas jatuh ke ranjang ketika dadanya diberikan alat hentakan listrik untuk membantu agar tubuhnya merespon kembali, yang sudah dilakukan sebanyak tiga kali terus menerus.


Namun apalah daya, segala tindakan dan terapi sudah dilakukan. Tetap Allah Yang Maha Kuasa, ia telah mengambil nyawa Alika dengan baik tanpa ada yang tahu didetik dan dimenit keberapa.


Tim medis sudah melakukan semampunya untuk menolong Alika. Namu tetap saja gagal.


Raut wajah Papa Luky dan Bilmar sudah tidak bisa dibendung lagi untuk berteriak. Ketika melihat alat-alat yang tengah terpasang sudah dilepas perlahan dari mulut dan tubuh istri dan putri mereka.


Saat ini tampilam Alika sudah polos dengan mata sudah terpejam semenjak tadi dan bibir yang makin mengering.


Dokter pun mulai menghampiri Papa Luky dan Bilmar yang masih setia berdiri mematung menunggu aba-aba dari tim medis.


"Pak, maaf pasien----"


Belum selesai Dokter berucap, Papa Luky sudah terlebih dahulu melangkah cepat dengan gerakan kaki terseok-seok mendekati tubuh Alika yang sudah tidak bernyawa.


"Berliana! bangun, Nak! ini Papa Nak, Papa kandung kamu!" Papa Luky teriak histeris mengguncang-guncangkan tubuh Alika.


Bilmar histeris, kedua matanya terbelalak. Mulutnya tercekat, ia sudah tidak bisa berfikir jernih saat ini. Seketika ia melepas secara paksa infus yang masih bertengger dipunggung tangannya. Terlihat darah ditangannya terlihat begitu saja mengalir drastis. Ini dilakukan agar ia bisa leluasa untuk menggapai tubuh Alika yang sudah kaku. Ia bangkit dari kursi roda lalu berlari ke arah Alika yang sudah terbujur kaku.


"Sayang...ayo bangun! ayo kita pulang kerumah, katanya kemarin kamu kan ingin jalan-jalan! ayo bangun...bangun Alika!" suara Bilmar yang tadi pelan lalu berangsur naik dengan nada menggelegar ruangan.


"Tolong Dok...Sus. Istri saya masih hidup! badannya masih hangat!" ucap Bilmar terus meraung-raung melihati wajah Alika tepat dibawah kungkungannya. "Bangun sayang..buka mata kamu! buka...Alika!"


Bilmar semakin meradang, emosi dan kesedihannya sudah tidak bisa digambarkan lagi seperti apa saat ini. Ia menangis sejadi-jadinya, menjatuhkan kepalanya diceruk jenazah sang istri.


"Bangun..!"


Suara Bilmar kembali menggema keras di lekukan tubuh Alika. Sudah berkali-kali kakinya terasa lemas dan menggelosor untuk jatuh ke lantai, namun tetap saja ia mencoba untuk bangkit meraih sisa-sisa kekuatan untuk terus menyadarkan Alika.


Kemudian menyusulah masuk Binara dan Pak Adit menghampiri mereka dengan cepat. Pak Adit mulai membantu memegangi tubuh Bilmar yang sedari tadi sudah jatuh dan bangkit beberapa kali.


Suasana semakin gelap dan mencekam dikala teriakan Binar menambah kegaduhan mereka saat ini. "Kakak! Ya Allah..Kak, bangun!" Binara histeris menggoyang-goyangkan wajah Alika agar segera membuka matanya. "Kak! kamu harus hidup, kamu janji mau temani aku! Bagaimana nanti dengan Maura Kak? siang dan malam dia pasti akan menanyai dan memanggil nama Mamanya! aku sebentar lagi akan menikah, aku mau kamu lihat kebahagiaanku, kak! bangun Kak...bangun! siapa yang akan menjaga Kak Bilmar setelah ini?"


Kata-kata yang mencuat dari bibir Binar, semakin membuat Bilmar terperosok lalu lu lantah di atas lantai. Ia masih dalam rangkulan Pak Adit yang masih bisa untuk memberikan bantuan kekuatan fisik untuknya.


Papa Luky sudah tidak bisa apa-apa sekarang fikirannya kalut. Dadanya semakin sakit, mungkin setelah ini, dirinya yang akan menyusul Alika. Lalu ia merasa iba jika Alika diperlakukan seperti ini. Lihat saja nanti bagaimana Sang Maha Pencipta akan menghukum lelaki paru baya ini untuk selamanya.


"Sudah Nak, kasian Kakakmu! tubuhnya sakit jika kita memperlakukan jenazah nya seperti ini!" ucap Papa Luky memegangi bahu Binar agar bisa menjauh sedikit dari Alika.


Sontak kedua mata Binara mendelik tajam ke arah Papa Luky. "Papa bilang apa tadi? jenazah? nggak Pah, Kak Alika harus tetap hidup. Kak, ayo bangun. Kita pulang!" Binar terus meraung-raung memeluki tubuh Alika yang sudah tidak bisa merespon apa-apa lagi, kedua kakinya dihentak-hentakan ke atas lantai untuk mencoba mengeluarkan segala kehancuran hatinya saat ini.


Entah mengapa ia merasa sakit ketika melihat Alika sudah tidak bernyawa. Mungkin ini adalah batin yang kuat karena darah sekandung yang sama-sama mengalir ditubuh keduanya.


Bilmar hanya bisa menangis tidak berdaya, tenaganya sudah habis tidak tersisa semenjak beberapa jam yang telah berlalu. Untuk berucap saja ia sudah tidak mampu. Bilmar terus memanggil-manggil nama Allah dan nama almarhum Mamanya, seraya mengadu jika saat ini ia ingin ikut pergi bersama Alika.


Bayangan-bayangan Alika yang sedang tersenyum, sedih, menangis, manja, bahagia terus bermunculan di hadapan Bilmar. Membuat ia terus memegangi dadanya, karena begitu sakit dan sesak dalam menahannya.


Ayo Alika kembali lah, kamu harus kuat melawan semua ini! kembalilah, sayang..


Terlihat perawat mulai datang kembali untuk menarik selimut yang akan digunakan untuk menyibak tubuh dan wajah Alika serta meminta keluarga untuk tenang dan keluar dari ruang ICU.


Alika harus terus berpacu dalam waktu, ia harus kembali ke asal. Ia harus kuat sebelum terlambat. Ia tidak boleh kalah saat ini. Ia tidak boleh lemah. Ia harus bahagia. Dirinya harus senang. Ada beberapa jiwa yang harus ia bahagiakan. Ada Maura yang terus menantinya dirumah. Mungkin sekarang tengah menangis menanti kepulangannya. Ayo Bilmar, Binara, Papa Luky tetap doakan tubuh yang sudah kalian ronta-rontakan semenjak tadi.


Lalu


Masih dengan keadaan saat ini yang hening dan penuh sesak akan tangis. Perawat kembali membuat geger.


"Dok? tangan jenazah, bergerak!"


***


Part ini paling paling nggak banget 💔💔💔..kalau kalian mau marah ..aku terima😭😭


Doakan mereka ya guyss😭


Berikan semangat kalian untuk aku yaa..


Like, Vote, Rate and Komen..


Thankyou, with love Gaga.❤️❤️