Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Alika Murka


Haii selamat pagi, aku kembali


Selamat hari libur guyss


Selamat membaca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


Setelah menidurkan Ammar di box nya, Alika beringsut duduk di depan cermin meja rias. Alika berdandan secara sensual, ia mengoleskan semua produk kosmetik di area wajahnya dan tak lupa ia memblow rambut hitamnya. Menjadi agak blow di bagian ujung rambut.


Cantik, sempurna!


Ia terus tersenyum melihati dirinya.


"Cantik juga ya aku? Hahaha. Kalau bukan kita yang puji diri sendiri, terus siapa lagi?" Gumamnya percaya diri.


Ia ingin membuat Bilmar terpana dengan kecantikannya malam ini. Makan malam berdua dengan Bilmar diluar rumah, hampir jarang terjadi. Ya sudah tahu lah apa saja faktor pengganggu di antara mereka.


Ia pun mengganti pakaian rumahan dengan dress yang sudah ia pilih dan di letakan di atas kasur.


"Alhamdulillah masih muat! Berarti aku udah nggak terlalu gendut lah ya---"


Alika terus senyum riang, berlenggak lenggok di depan cermin. Ia terus riang seperti ingin pergi janjian dengan kekasih hati.


Lalu


Semua itu tidak berlangsung lama, tak kala ia dengar suara Maura akan tiba untuk masuk kedalam kamar. Alika langsung pergi dengan langkah blingsatan menuju lemari pakaian, ia mengambil jubah jaket kulit yang di belikan oleh Binara ketika adiknya pulang sehabis bulan madu dari Amerika. Menutupi dress yang tengah ia pakai dengan jaket yang sudah ia ambil.


"Mama..?" Tentu anak ini tidak lah bodoh.


Maura terus melihati sang Mama dari rambut sampai kaki.


"Mama mau kemana?"


"Mama mau tidur, Nak! Ayo Maura juga tidur ya sayang!" Alika meraih tangan anaknya untuk dibaringkan ke atas tempat tidur.


"Kok mau tidur pakai lipstik sama bedak? Mama mau kemana?" tanya Maura seperti menaru rasa curiga.


"Lalu kenapa Mama pakai jaket tebal, bukannya kamar ini lagi panas, Mah?"


"Mama kedinginan, Nak! Mungkin karena AC nya yang belum dimatikan!"


"Kan AC nya belum dinyalakan, Mah." Jari telunjuk Maura menunjuk AC yang menempel di dinding.


"Ehmm..eh iya, Nak." Alika jadi serba salah.


Bagaimana ini? Setengah jam lagi aku harus sudah ada di restoran! Maura tetap tidak mau tidur.


"Tidur yuk, Nak! Mama sudah mengantuk!"


"Ya udah Mama aja yang tidur, Maura masih mau tunggu Papa, mau main dulu--" cicitnya manja.


"Ayo Mama tidur aja, sini Maura usap-usap." Maura mencontoh gaya orang tuanya ketika sedang mengusap-usap tubuhnya ketika mau tidur.


"Maura memang kesayangan Mama, Nak! Udah ayo tidur sini..." Alika memeluk Maura kedalam dadanya. Menciumi anak ini dan memijit-mijiti punggungnya.


Tak berapa lama Maura pun tertidur karena sentuhan sang Mama, Alika sudah berkali-kali menyanyikan lagu nina bobo, bahkan sampai bukan lagi nama nina yang disebut.


"Bilmar bobo kalau nggak bobo digigit...Eh? Kok nama Bapaknya yang disebut?? Aduh jadi pusing gini..."


Alika pun mulai melepaskan tangan Maura yang begitu saja melingkar di perutnya. Ia memposisikan Maura untuk berbaring terlentang diranjang, menari selimut untuk menutupi kaki sampai ke dada.


"Cantik banget sih anak Mama, maafin mama ya Nak! Mama pergi dulu sama Papa sebentar ya--" Alika meninggalkan kecupan di dahi Maura.


Ia pun bangkit dari tempat tidur dengan langkah amat pelan. Mengambil tas nya di nakas lalu berjalan dengan berjongkok agar sampai ke pintu.


Krekk


Sampai setengah mati untuk membuka pintu dengan suara hampir tidak terdengar, ia tidak mau Maura bangun dan berteriak.


"Hummm, lega nya!!"


Alika menghela nafas ketika ia sudah sampai diluar pintu. Ia pun berjalan untuk menuruni anak tangga sambil melepas jaket tebal yang menutupi dress aslinya sekarang.


"Mau pergi sekarang, Non?"


"Iya Bi, ini tolong Bi--" Bik Minah mengambil jaket tebal itu.


"Tolong Bibi tidur dikamar saya aja dulu tungguin anak-anak, takut Maura mau pipis atau Ammar nangis karena mau susu. Saya sama Bilmar usahain nggak akan lama!"


"Baik, Non--"


"Udah Bibi nggak usah antar saya ya, langsung aja ke atas. Saya bawa kunci pintu kok!"


"Baik, Non. Bibi ke atas ya."


Bik Minah pun berlalu menaiki anak tangga sambil membawa jaket milik Alika.


Belum saja Alika sampai ke pintu utama, sudah terdengar jerit tangis Maura di kamar dan memanggil-manggil namanya.


"Mama...Mama...!!" Maura menangis sesegukan, ketika ia memeriksa ke kamar mandi tidak menemukan keberadaan sang Mama, lalu saat membuka pintu kamar sudah ada Bik Minah yang menghadang.


"Tidur lagi ya Non, ayo sama Bibik!" Bik Minah menggendong Maura untuk masuk kembali ke dalam kamar.


Ya Allah, kasian sekali anakku! Maafkan Mama ya Nak, nanti Mama belikan boneka ya


Alika tetap melangkah pergi, ia memutuskan untuk memakai taxi karena tidak mau merepotkan Mang Dana yang sudah letih seharian berkerja.


Panjangkan umurku Ya Allah, agar aku bisa terus mengurus Maura dan Ammar. Maafkan Mama ya Nak...


Sungguh besar pengorbanan dan perjuangan Alika. Ini semua karena bentuk cintanya untuk Bilmar, sang suami.


"Antar saya ke Gaga Cafe ya Pak!"


Taxi pun melaju membawa Alika ke tempat tujuan yang akan ia datangi. Semoga saja Bilmar tidak marah jika Alika sedikit terlambat


****


Dari arah lain Bilmar pun sedang berusaha melajukan mobilnya dengan cepat, ia pun keasikan menatap layar komputer di kantor, sampai ia hampir lupa untuk datang ke restoran yang terlebih dulu sudah ia janjikan kepada istrinya.


Lalu


Beberapa meter dari jarak yang sepi di dalam kawasan perindustrian, terlihat ada wanita tengah berdiri disamping mobil yang sedang mogok, wanita itu melambai-lambai kan tangan kepada mobil manapun untuk mau berhenti.


"Kaneysa?" Desahnya ketika sedang melambatkan mobilnya.


Bilmar masih dalam stirnya, awalnya ia tidak mau perduli tapi karena rasa kemanusiaan yang tinggi, ia pun akhirnya turun dari dalam mobil.


"Bilmar?" seru Kaney dengan kaget. Ia benar-benar senang bertemu dengan Bilmar.


"Kenapa kamu? Sedang apa malam-malam di kawasan industri seperti ini?"


"Iya Bil. Aku nggak sengaja lewat sini, karena jalanan yang biasa aku pakai di tutup, ada perbaikan jalan! Ini aku sedang menelpon calon suami ku, Bil. Tapi tetap nggak di angkat!"


Kedua mata Bilmar terbelalak mendengar penuturan Kaneysa, kalau wanita ini akan menikah.


"Baiklah coba aku cek mobil kamu!"


Bilmar menaikan lengan baju nya sampai ke siku, lalu mengecek-ngecek bagian kap mesin mobil Kaneysa. Lalu tiba-tiba ada cairan yang tersemprot keluar dan mengenai wajah serta baju Kaneysa.


"Aduh duh..." Keluh Kaneysa. Sekarang wajah nya sudah sebagian menghitam karena cairan itu.


"Kok ketawa sih, Bil!"


"Eh iya maaf, Kaney---"


Bilmar menghentikan gelak tawanya karena lucu melihat Kaneysa. Ia pun merogoh kantong celana untuk memberikan sapu tangan kepada wanita ini.


"Pakailah, basuh wajahmu dengan sapu tanganku!"


Tanpa bertanya lagi Kaney mulai mengambilnya. Bilmar kembali fokus membetulkan kap mesin mobil Kaneysa. Ia lupa dengan janjinya dan lupa dengan wanita yang saat ini tengah menunggunya di restoran.


Satu jam kemudian, mobil Kaneysa akhirnya menyalah kembali.


"Wah makasi banget ya Bil, kamu udah mau bantuin aku!"


"Jadi benar kamu akan menikah dengan Indra? Kok bisa? Kamu kenal dia dari mana?" Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari cicit Bilmar.


Karena selama Bilmar membenarkan mobil Kanyesa. Wanita ini terus bercerita tentang pernikahannya dan dengan siapa calon suaminya.


Kaneysa pun tertawa.


"Ya namanya jodoh, kaya kamu aja sama Alika kan??Aku juga baru tau kalau Indra teman kalian dulu. Oh ya nanti akan aku kirim undangan pernikahan kami ya, Bil. Kamu sama Alika harus datang!"


"Tentu, pastinya aku akan datang bersama istriku." Lalu garis senyum Bilmar begitu saja menghilang dikala ingatannya kembali pulih.


"Ya Allah, aku lupa!!" Bilmar pun bergegas untuk meninggalkan Kaney.


"Kaney aku duluan, aku lupa ada janji dengan Alika--" Bilmar pun melambaikan tangan sebelum masuk kedalam pintu kemudinya.


"Astaga Bilmar, duh aku jadi nggak enak nih!!" Kaneysa menggigit bibir bawahnya, ia takut Bilmar dan Alika akan bertengkar


Setelah pengakuan keluarga Artanegara tentang Alika, Kaneysa semakin sadar bahwa Bilmar akan selalu sulit untuk diraih. Lelaki itu hanya mencintai istrinya seorang, maka ketika pertemuan singkat yang tidak terduga dengan Indra, ia pun mau membuka hati dan mulai belajar mencintai Indra.


Sudah dua jam Alika menunggu di restoran, sudah kering mulutnya dan pegal matanya untuk mengabsen setiap pengunjung yang baru masuk.


"Keterlaluan kamu BILMAR! Tega-teganya buat aku menunggu lama kayak gini! Kamu nggak tahu gimana hati aku was-was ninggalin dua anak dirumah!!"


Grrrrrrrrrr


Dan Alika pun murka, bagaimana keputusannya sekarang di restoran? Apakah masih akan menunggu Bilmar dalam makian dan kekesalannya? Apakah malah pergi pulang tanpa menunggu suaminya?


****


.


.


.


.


.


Bagi yang mau tahu bagaimana kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Gifali Untuk Maura


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘