
Assalammualaikum guys, moga selalu sehat ya, aamiin. Aku ada inpo cerita baru yang aku taro di tempat bacaan gratis yaitu di F I Z Z O.
judulnya Di Ambang Kerinduan, bisa cari judul dan cari nama aku di sana atau DM ke Instagram ku @megadischa.
Berikut Blurb dan Bab 1 nya.
"Bukan karena aku yang tidak cantik, bodoh dan miskin. Tapi, standar Ibu mu saja yang terlalu tinggi untuk memilih menantu. Dua tahun ini aku sudah berjuang untuk menembus dinding hati Mamimu, Mas. Tapi tidak juga membuahkan hasil. Sabar sudah aku jalani sampai rasanya aku sulit untuk bertahan. Sekarang bagaimana? Mau kah kamu memilih?"
Dan saat suami yang takut sekali miskin karena akan di depak dari nama besar keluarga serta harta itu, tidak kunjung juga mau memilih antara dirinya dan Ibu mertua.
Lantas, Lintang bergerak cepat untuk menyudahi penderitaan. Ia memilih kabur dengan membawa salah satu anak kembarnya. Dan setelah ia mampu mengirup udara lepas, rasa sesalnya muncul diiringi dengan ketidak ridhoan suami yang membuat hidupnya sering kali berteman dengan masalah.
"Harusnya aku bisa sabar, tidak kabur begitu saja meninggalkan, Miana dan Mas Lingga," tuturnya dengan air mata saat membelai rambut Moana. Ia teringat anak kembarnya yang satu lagi dan suami yang masih gencar mencari serta ingin sekali membalaskan rasa sakit hati padanya.
Bisa kah kerinduannya itu berujung dengan kata damai?
๐พ๐พ๐พ๐พ
Moana Aglaya, si bocah perempuan yang baru berusia empat tahun tetapi sudah di masukkan ke dalam taman kanak-kanak tersebut, selama lima belas menit memendarkan pandangan mata ke arah jalan dari dalam gerbang sekolah, menunggu sang Bunda untuk menjemput dirinya yang sejak tadi sudah manyun karena ia kembali menjadi penghuni terakhir kecuali para guru-guru.
"Pasih nanih ngomongna adah yapat, deh. Makanah bica teyat agih jemput akuh." Moana mencebik sedih, terlihat poni nya sudah keluar-keluar dari tepi hijab. Dengan seragam putih-putih yang terlihat kebesaran karena tubuhnya begitu mungil. Moana duduk di ayunan yang terpasang di pohon besar taman sekolah untuk tetap bersabar menunggu. Dengan tas punggung dengan karikatur dora dan monyetnya, ia berkali-kali menguap untuk melupakan kantuk. Hari ini ada pelajaran olahraga, Momo merasa amat lelah sekali.
Saat sedang menyandar lemah karena letih dan kantuk semakin memberondong dirinya, bola mata Moana membeliak ketika ia melihat ada anak kecil yang sebaya dengannya turun dari dalam mobil mewah tengah mendekati pedagang cakwe persis di depan gerbang sekolahnya.
"Kayak penah liyat, yah. Di manah yah." lalu terawangan itu terbuayarkan saat ia memegang kedua pipinya sendiri.
"Kok milip camah akuh?" Pun bocah di luar sana yang tengah menunggu di pinggir gerobak tak sengaja melihat Moana di dalam taman sekolah, bocah berambut cokelat seleher itu mengerjap-erjap menyorotnya. Seakan menautkan alis bingung, apakah ia sedang bercermin?
"Makacih, ya, Ban." Bocah yang mirip sekali dengan Moana itu lekas pergi setelah cakwe sudah terhidang di dalam dibungkus plastik, masuk ke dalam mobil hitam sport.
"Kan udah sarapan tadi, masih lapar emangnya?" tanya sang Ayah yang beralih dari macbook di pangkuan kepada Miana.
Miana yang memang suka dengan cakwe abang-abang pinggir jalan meminta sopir Ayahnya untuk menepikan laju mobil agar ia bisa membelinya, tersenyum manis. "Kalau camah cakweh akuh kan ndak bica nolak, Ayah." Bela dirinya.
"Kan bisa minta tolong bikinin sama, Ibu." sebutan Ibu yang Lingga maksud adalah Ibu sambung Miana yang baru Lingga nikahi empat bulan lalu dan kini sedang mengandung dua bulan.
"Enakan buatan Aban-Aban kayak gituh, Yah," balasnya sembari mengunyah cakwe yang dicampur dengan kuah sambal.
"Sekali ini aja, ya. Besok jangan lagi. Takutnya nanti kamu sakit perut." Lingga beralih menatap Herman dari balik spion dalam. Sopir yang selalu setia dari jaman Lingga belum menikah seakan tahu kalau ia tengah mendapatkan mandat.
"Baik, Pak." Maksudnya Lingga, agar Herman tak lagi mengiyakan jika Miana meminta dirinya untuk menyetopkan mobil seperti sekarang hanya ingin jajan dipinggir jalan. Karena Lingga tahu dirinya tidak bisa keras kepada Miana yang sering disapa Mimi.
Saat mobil kembali bergerak, sembari menikmati cakwe, tatapan matanya terus tertuju kepada bocah mirip sekali dengannya tengah melangkah mendekat ke arah gerbang, guna memperhatikan mobil mewah yang Miana naiki.
"Jadih pengin pakai keludung kayak gituh." Mimi tatap Momo yang seolah ingin mengenal dirinya dan takjub akan mobil bagus.
"Coba Bunda belih mobil ajah, ndak pake motor telus. Kan kalau lagi ujan, aku ndak bacah kuyup." Ekor mata Momo tak kunjung surut memperhatikan mobil tersebut yang mulai merangkak jauh.
๐พ๐พ๐พ๐พ
Ada acara besar di sana, karena pemilik Pabrik yang sekarang menjual nya kepada pemilik baru yang akan memperkenalkan diri nya di hari ini. Sebagai kepala perawat atau penanggung jawab klinik, Lintang sudah seharusnya bersiaga untuk menyiapkan diri. Tetapi, karena perkara harus menjemput Momo dan sekarang anak itu memilih pulang duluan membuat Lintang menjadi dag dig dug tak tenang.
"Kan Bunda udah bilang, Mo. Jangan berani pulang sendirian!" Lintang berdecak marah sembari terus menyusuri jalan menuju rumah kepada bayangan Momo yang mulai beranjak besar lebih terasa amat cerewet dan serba ingin tahu.ย
Di iringi dengan rasa khawatir takut Momo diculik orang jahat, Lintang jadi memutuskan untuk datang telat ke klinik. Biar saja ia mendapat masalah, yang penting anaknya ketemu dulu. Pasalnya Momo belum pernah naik angkot, karena jarak dari sekolah kanak-kanak ke rumah memang cukup lumayan jauh.
"Kalau semisal jalan kaki pasti nya masih disekitaran sini kan? Ya Allah, Mo. Kamu tuh nakal banget sih, dibilangin nggak ngerti-ngerti! Pokoknya kalau Bunda belum jemput, ya, jangan berani pulang dulu. Awas aja nih kalau ketemu. Bunda cubit kamu!" dan kenyataannya saat mereka akan bertemu, seperti biasa Momo yang selalu dikecewakan akan lebih galak dari Bundanya.
Terus melajukan motor second yang ia beli hasil kumpulan gaji dari bekerja di Klinik selama kurang lebih tiga tahun sebelum ia kabur dari rumah mertua, yang kini sudah masuk ke gapura desa tempat tinggal mereka yaitu kontrakan tiga petak. Dan sama sekali ia tidak temukan langkah kaki Momo sedari di perjalanan.
"Apa udah sampai rumah, ya? Soalnya juga aku kan jemput dia agak telat tadi. Bisa aja kan Momo udah sampai? Tapi masa sih dia kuat jalan kaki sejauh itu?" seketika, jantung Lintang yang seolah-seolah sejak tadi bergemuruh hebat mulai normal karena saat mematikan deru mesin motor di depan kontrakan, ia melihat pintu rumah sudah terbuka dan ada suara televisi menyalah.
"Ya Allah syukur alhamdulillah. Ternyata anakku memang udah pulang." cepat-cepat turun dari atas motor untuk berhambur memeluk Momo. Seperti biasa nya ia akan meminta maaf kepada anak itu karena lagi-lagi telat menjemput.
"Assalammualaikum cintanya, Bunda ...." betul kan? Kalau Lintang tidak akan tega untuk marah apalagi ingin mencubit seperti niatnya saat mencari Momo.
"Waakumcallam," balas Momo datar yang sedang berbaring di atas karpet dengan hijab sudah di buka namun seragamnya belum. Ada kipas menyala dan menyemburkan angin segar ke arahnya.
"Kenapa pulang sendirian, Nak? Bunda kan khawatir. Takut kamu kenapa-napa." Lintang mencium pipi Momo yang gembil.ย
"Akuh malas cama, Bunda. Bohong telus." hari ini Lintang memang sudah berjanji akan menjemput Momo tepat waktu tapi sayangnya ia kembali tidak mampu menepati ucapannya.
"Di Pabrik lagi-
"Yapat agih? Yapat ajah telus." Momo yang kesannya sedang kesal tapi terlihat lucu dan menggemaskan, membuat Lintang terpingkal dan anak itu memiringkan bibir malas.
"Akan ada Bos baru di Pabrik, Nak. Jadi Bunda harus ikut mempersiapkan segalanya. Emang Momo mau kalau Bunda di pecat?"
"Ya, ndak apa-apa. Kan Kata Om Adi juga Bunda lebih baik ndak ucah kelja. Bial Om aja yang kelja." ada salah satu manager Pabrik yang kebetulan duda namun tidak memiliki anak. Dalam beberapa tahun ini sedang berjuang untuk mendekati Lintang agar mau dijadikan istri.ย
Jika Lintang masih teringat akan masa lalu yang menjadikan ia ragu untuk menapak jalan akan percintaan baru, rasanya Momo lebih tertarik kepada Adi. Momo merasa Adi bisa mencukupi kebutuhannya sebagai anak yang butuh belaian seorang Ayah yang Momo tahu kalau Ayah kandungnya sudah tiada.
"Momo sayang banget, ya, sama, Om Adi?"
Momo mengangguk. "Ayo don, Bun. Cepat nikah cama, Om. Bial kita pindah lumahnya, ndak di cinih telus. Nanas." dengan baju perawat yang masih bertengger menutup kulit tubuh, Lintang mengela napas panjang. Jika melihat Momo seperti ini, rasa bersalah yang memang akan selamanya hadir, kembali muncul ke permukaan hati.
Ia jadi teringat akan lelaki yang sampai detik ini masih berstatus sebagai suami, belum menceraikannya, malah masih sekuat tenaga untuk mencari. Pun kembaran Momo, yang amat Lintang rindukan.
"Sabar, ya, Nak." Jika saja Lintang tidak menurutkan ego nya. Mungkin sampai detik ini ia tidak perlu bersusah payah untuk mencari nafkah dan membuat Moana hidup dalam kesederahanan karena sejatinya anak itu mampu hidup dalam berkemewahaan.
๐พ๐พ๐พ๐พbersambung๐พ๐พ๐พ๐พ
#Boleh DM aku untuk tanya-tanya. atau langsung download F I Z Z O nya ya guys