
Selamat malam
Aku kembali guys
Selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga hari berlalu pasca kepergian Maura ke Maldives bersama keluarga Mama kandungnya. Dan selama itu pula, Alika tidak mendapatkan kabar apapun tentang Maura. Walau Nayla selalu bertukar pesan dengan Bilmar untuk memberitahukan keadaan Maura selama disana.
Alika terus saja membisu dan bungkam. Wanita hamil itu masih marah kepada suaminya. Alika terus mendiamkan Bilmar, menjauhi dan membatasi segala gerak-gerik mereka. Sudah tiga malam pun Alika memilih untuk tidur bersama Ammar dan Gadis, ia meninggalkan Bilmar seorang diri di kamar.
Terkadang ia menyuruh Binar untuk menanyakan kepada Bilmar tentang Maura. Bilmar pun tahu tentang itu, namun ia hanya diam dan mengikuti saja kemauan Alika. Ia tahu istrinya tengah hamil, ia tidak mau memperburuk suasana hati Alika.
Mulai malam ini, Gadis sudah dibawa untuk menginap di rumah Papa Luky, walau hanya sementara karena Rendy harus pergi ke luar kota. Gadis pun semakin dekat dengan Binar, anak itu mulai menerima sosok Binar walau belum bisa mengucap kata Mama kepadanya.
Trang.
Hanya ada suara sendok dan garpu terus beradu di piring Bilmar dan Alika. Mereka berdua terlihat hening dan tidak ada yang memulai suara selama makan malam kali ini.
Sesekali Bilmar mengangkat wajahnya untuk menatap istrinya yang masih menunduk kebawah.
Ia selalu mengajak Alika bicara, namun wanita itu hanya menjawab seperlunya. Kadang Bilmar selalu mengintip ke kamar dan mendapati Alika tengah menangis ketika sedang berdua dengan Ammar. Alika rindu Maura.
"Bagaimana Ammar hari ini? Kata Bik Minah, ia rewel sepanjang hari?" Bilmar memecah keheningan itu, ia berharap Alika mau merespon pertanyaannya.
"Iya." Alika menjawab singkat dan padat. Bilmar tetap tidak patah semangat, ia terus mengajak Alika untuk berbicara. Ia tidak bisa menahan tiga hari tanpa sentuhan dari istrinya.
"Kamu lelah sayang?" Tanya Bilmar lalu menjulurkan tangannya untuk menyentuh tangan istrinya. Alika langsung melepaskannya.
"Enggak!" Ia tetap menjawab, namun ia enggan untuk menatap Bilmar.
Hati lelaki itu terasa sedang dicacah dengan sengaja. Ia sedih karena Alika belum bisa memaafkan dan menerima berbagai penjelasan dari nya.
"Ya udah, besok aku gak masuk kerja dulu, aku mau jagain Ammar, biar kamu bisa istirahat.."
"Gak usah! Besok aku mau menginap dirumah Papa. Aku kangen sama Gadis."
Seketika wajah Bilmar kaget dengan keputusan Alika yang begitu saja mendadak dan tanpa meminta ijin lebih dulu kepadanya.
"Kenapa harus menginap? Gadis nya dibawa aja kesini ya..." Ucap Bilmar memelas, ia kembali ingin memegang tangan istrinya. Namun Alika masih tidak mengizinkannya.
Dengan segala keterpaksaan, akhirnya ia mendongakkan wajahnya untuk menatap Bilmar yang masih menatapnya dengan wajah nanar.
"Gadis kan punya Mama. Aku hanya Tante, lagian aku gak ada hak untuk paksa dia menginap disini, lagi pula Diego sudah mengizinkan Gadis bersama Binar." Alika mengalihkan tatapannya kembali ke dalam piring, ia mengayuh sendok berisi nasi lagi kedalam mulutnya.
"Aku gak ijinkan kamu menginap!" Ujar Bilmar lugas.
Alika tetap tidak memperdulikan larangan suaminya. Ia tidak menjawab, malah ia terus melahap makan malamnya. Sikap Alika membuat Bilmar terlihat geram dan merasa tidak di hargai.
Lalu
Drrt drrt drrt
Ponsel Bilmar bergetar dan layar nya pun menyalah. Dengan cepat ia meraih ponsel itu yang tidak jauh dari piring nya.
Ia membaca pesan masuk dari Nayla. Mengirimkan foto Maura yang tengah tertawa sambil minum ice cream.
"Maura lagi senang banget kayaknya, dia lagi minum ice cream.." Ucap Bilmar.
Ia berbicara sendiri sambil mengetik untuk membalas pesan itu. Alika yang mendengar langsung mendongakkan wajahnya. Ia menatap Bilmar yang sedang asik sendiri dengan layar ponselnya.
Bilmar sengaja, ia terus memanas-manasi hati istrinya. Ia ingin dengar kalau Alika menanyakan kabar Maura kepadanya secara langsung.
"Maura, Mama kangen kamu, Nak..." Lirih Alika dalam batinnya. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Ia terus menatap sendu ke arah suaminya yang masih berdecak bahagia.
"Hemm..." Ingin ia mengeluarkan suara untuk menanyakan keadaan Maura kepada Bilmar, tapi rasa kesal kepada suaminya masih saja muncul dan belum hilang.
Masalah kemarin betul-betul membuat ia terluka. Entah mengapa ketika melihat Nayla mengambil Maura, ia merasa bukan lagi satu-satunya yang bisa memiliki Maura selain Bilmar. Ia harus menerima bahwa dirinya hanyalah ibu sambung bukan ibu kandung yang mempunyai hak penuh untuk Maura.
Ia lebih memilih bangkit dan meninggalkan Bilmar di meja makan.
"Al?" Panggil Bilmar.
Langkah kakinya terhenti, namun Alika tidak menjawab dan tidak menurut. Ia kembali melajukan kakinya.
"Alika!" Seru Bilmar lalu bangkit untuk berdiri. Ia menghentak meja dengan telapak tangannya.
"Kamu dengar aku kan?" Ucap Bilmar semakin lantang. Alika kembali diam dan mematung di posisinya. Ia enggan untuk menoleh apalagi kembali duduk berhadapan dengan suaminya di meja makan.
"Aku hitung sampai tiga! Kalau kamu gak duduk kembali, aku akan seret kamu!" Perintah Bilmar. Alika meringis dan menggigit bibir bawahnya, sejujurnya ia takut jika Bilmar sudah seperti ini.
"Sa---tu...Duu---a...Ti---" Bilmar terus menghitung.
Dengan cepat Alika memutar tubuhnya untuk melangkah menuju meja makan dan duduk disana. Alika kembali melanjutkan makan malamnya. Ia masih tidak mau bersuara atau menatap Bilmar.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu tetap menyalahkan aku!"
Alika tetap tidak menjawab ia terus mempercepat kunyahan nya. Ia ingin secepatnya meninggalkan Bilmar, ia tidak mau ribut dengan lelaki itu.
"Kamu tuli, Al?" Bilmar kembali bertanya.
Alika tetap diam. Melihat istrinya masih saja keras kepala, Bilmar menjadi emosi.
"Aku dari tadi bicara sama kamu, kenapa gak ada satu pun yang kamu jawab??" Tanya Bilmar dengan nada tinggi.
"Kesabaran aku kayaknya gak ada artinya dimata kamu! Kamu semakin besar kepala, besar ego!"
Mendengar ucapan itu sontak membuat Alika kesal dan mengerang. Ia melemparkan sendok dan garpu ke piringnya dengan tekanan kuat dan menimbulkan suara yang begitu nyaring. Alika bangkit dan berdiri, mereka pun bersitatap kembali.
"Aku besar ego kata kamu? Kamu harusnya ngaca, Bil!" Alika menandingi suara Bilmar yang kasar dan kencang. Ia menatap tajam ke dalam kornea mata gelap kepemilikan sang suami.
"Aku?" Bilmar tertawa. "Jelas-jelas kamu yang egois! Karena kamu kesal sama aku, kamu gengsi untuk tanya gimana kabar Maura di sana, selama tiga hari, aku gak pernah dengar kamu menanyakan kabar anakku! Mama macam apa kamu!" Bilmar semakin di sulut emosi.
Telinga Alika semakin memanas dan hatinya seperti diremas. Ia merasa sakit sampai ke ulu hati.
"Aku memang bukan mamanya! Harusnya aku bisa membatasi hati aku buat dia! Harusnya aku gak kasih rasa sayang aku semua untuk Maura!"
"Toh, pada akhirnya aku tetap tidak dianggap! Suara aku tidak diperlukan untuk kehidupan Maura!"
"Hanya kamu dan keluarga Kannya yang mempunyai peran penting untuk Maura. Aku hanya peran pengganti! Hanya pembantu---"
Alika menatap garang. Ia terus mengeluarkan unek-unek nya yang masih bertahta. Ia belum bisa menghilangkan rasa kecewa di hatinya.
"Tega kamu bicara seperti itu, Al!" Kedua mata Bilmar terlihat berkaca-kaca. Begitu pun dengan Alika, air matanya menetes begitu saja. Dadanya sesak ketika ia sudah berhasil mengucapkan kata-kata seperti itu untuk menyakiti Bilmar.
Tiba-tiba rasa mual kembali melanda tubuhnya. Ia pun berlalu sambil menutup mulutnya agar cairan muntahan itu tidak tumpah.
Howe Howe Howe
Alika memuntahkan semua isi makanan ke dalam wastafel. Tanpa terasa ada tangan yang terus memijit tengkuk nya untuk membantu dirinya mengeluarkan isi muntahan dari perutnya.
"Ayo, Al. Keluarkan, sampai kamu lega." Ucap Bilmar lembut. Lelaki itu melupakan rasa sakit di hatinya. Ia tahu wanita ini tengah mengandung, emosi dan suasana hatinya sedang tidak menentu.
"Tarik nafas, keluarkan, ayo tarik lagi..." Bilmar terus membimbing Alika yang masih mencoba untuk mengatur ritme nafasnya menjadi lebih baik.
Bilmar menangkup sebuah air di telapak tangannya untuk membasuh wajah istrinya yang masih menunduk ke dalam ceruk wastafel. Alika terus memegangi perutnya. Ia terus berusaha mengeluarkan kembali makanan yang baru saja ia telan.
"Hhh..." Desahan nafas Alika terasa begitu pekat. Ia melepas tangan Bilmar begitu saja. Memutar tubuhnya untuk kembali melangkah menuju kamar Maura.
"Sayang, tidur sama aku aja ya. Nanti kalau malam-malam kamu muntah lagi gimana?" Bilmar terus berucap sambil mengikuti langkah istrinya.
"Aku bisa kok tanganin sendiri, tanpa bantuan kamu. Nyatanya tiga malam kemarin, aku sanggup kan??"
Bilmar memegang tangan Alika untuk menghentikan langkah istrinya yang sebentar lagi akan sampai di ambang pintu kamar Maura.
"Lepas, Bil. Aku mau tidur!"
"Tapi tidurnya dikamar kita aja ya, aku khawatir sama kamu..." Bilmar terus memohon.
"Aku gak mau! Aku mau tidur di sini aja!" Alika tetap dalam pendiriannya.
"Ya udah kalau gitu aku ikut tidur disini juga. Ayo kita masuk ke dalam!" Bilmar merangkul tubuh istrinya.
"Nggak Bil! Aku gak mau tidur sama kamu!" Alika melepas tangan Bilmar dari pundaknya.
Ia pun beringsut cepat masuk ke dalam dan mengunci pintu kamar Maura.
"Buka sayang! Aku mau masuk. Aku kangen kamu, Al!" Bilmar terus mengetuk-ngetuk pintu kamar. Ia terus meminta kebaikan hati Alika untuk mau memaafkannya.
Tak lama kemudian terdengar suara Alika kembali mual dan muntah. Dan suara itu terdengar lebih nyaring serta lebih lama.
"Sayang buka pintunya!" Bilmar semakin cemas. Ia takut jika Alika pingsan seperti beberapa hari yang lalu.
"Al, ayo buka! Kalau kamu gak buka juga, aku akan dobrak pintu ini!"
****
Kita baikan yuk, Al