
Hayy para readers kesayanganku🖤🖤
semoga kalian selalu sehat ya
Aku balik lagi nih guyss
selamat baca yaah
🤗🤗
***
Terlihat Papa Bayu sudah rapih dan berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju pintu utama rumah nya. Wajar ia begitu panik, karena Papa Bayu adalah orang terakhir yang mengetahui kejadian kebakaran gudang obat klinik di EG dan serangan jantung yang di alami sang kakak hari ini.
"Pah?" sapa Alika yang menghentikan lajuan Papa Bayu.
"Loh katanya Kakak dirawat di Rumah Sakit? kenapa sudah pulang?" tanyanya penuh kecemasan.
Ia melihat wajah Papa Luky yang masih pucat tengah diapit oleh kedua putrinya. Di susul oleh langkah Bilmar dan Rendi yang baru saja turun dari mobil.
"Aku ingin dirawat oleh putri-putriku saja disini, apakah aku boleh menginap lama sampai Binara menikah, Bayu?"
"Untuk apa meminta izin, ini juga rumahmu, Kak..."
Kemudian mereka masuk bersama-sama ke dalam. Papa Luky meminta untuk duduk di sofa terlebih dahulu, sebelum ia akan pergi melanjutkan istirahatnya di kamar tamu.
"Hari ini Papa benar-benar shock sekali! Sudah mendengar kabar kalau gudang obat EG terbakar ditambah lagi keadaan Kakak yang seperti ini, teganya juga kalian nggak ada yang memberitahu Papa.." Papa Bayu bergantian melihati wajah anak-anaknya.
"Lalu Papa tahu dari mana??" selidik Bilmar
"Adit lah, siapa lagi.." balasnya masih dengan wajah frustasi. Ia kembali menatap wajah menantu nya. "Kamu nggak apa-apa, Nak?"
Alika memberikan senyumnya walau masih berat dan tipis. Alika akan sangat munafik jika dirinya harus berbohong untuk menjawab tidak apa-apa, sekarang.
Nyata nya!
Alika kembali menggenangkan air matanya lalu menetes ke permukaan pipi. Sambil menyeka air matanya ia pun jatuh kembali ke pelukan sang Papa. Kembali menangis terisak-isak.
"Sayang---" Bilmar ingin bangkit menenangkan sang istri, namun Papa Luky lebih dulu menggelengkan kepalanya, seraya perintah agar Bilmar tetap duduk disana, karena ada dirinya yang sedang mendekap Alika.
"Aku dan dr Hanna adalah orang yang pertama kali ada, ketika kinik EG didirikan. Di saat luas bangunan itu hanya cukup untuk memeriksa satu pasien saja!"
"Bermodalkan alat dan obat-obatan seadanya. Lalu dengan proposal yang Alika buat, akhirnya direksi EG mau mengabulkan untuk melebarkan klinik itu, menambah alat-alat kesehatan dan melengkapkan obat-obatan!"
Alika berucap masih dalam sesegukannya. Nafasnya terbata-bata karena sesakan dada yang begiti berat.
"Delapan tahun aku mengabdi untuk ECO GROUP, namun belum pernah ada kecacatan yang aku buat di sana. Selain untuk mendapatkan upah, aku pun ikhlas turut membantu mengobati para karyawan. Lalu kenapa, kejadian seperti ini bisa terjadi, Pah! Aku kehilangan sebagian nyawa dari klinik ku!"
Semua menjadi lirih mendengarkan rintihan Perawat cantik itu. Mereka sadar, Alika adalah wanita yang mandiri dan cerdas. Kegigihannya dalam memajukan klinik EG sudah tidak di ragukan lagi.
Kini, klinik itu mempunyai daya pemasukan yang tinggi. Bisa membeli peralatan apapun dari income yang di dapat dari hasil usaha klinik itu sendiri.
"Betul sayang, aku berjanji..." sambung Bilmar yang masih duduk disamping Papa Bayu.
"Kamu dengar kan? Untuk itu, sekarang Alika jangan bersedih lagi, kasihan anak dalam kandungan mu, Nak! Melihat sang Mama menangis terus seperti ini." Papa Luky terus memeluk putrinya dengan erat. Alika masih memejamkan kedua matanya di dada sang Papa sambil memberikan anggukan pelan.
"Sabar ya, Nak...Alika kuat.." sambung Papa Bayu dengan amat sayang.
Hati Papa Luky kembali bergetar, jika dengan masalah seperti ini saja. Alika sudah cukup terpukul, bagaimana jika putrinya mengetahui tentang perbuatan sang Papa yang mungkin sebentar lagi akan terungkap.
Apa kah Alika bisa tegar dan kuat untuk menerima semua ini secara lapang dada.
Dalam beberapa saat kemudian, akan ada sebuah kereta kencana yang mendarat tepat di kediaman Bilmar Artanegara, untuk melaksanakan tugas perintah penangkapan seseorang.
Dalam sore yang mau beranjak hilang berganti dengan malam yang akan mencekam semua nyawa dirumah ini. Sepertinya angin pun ikut berubah untuk lebih berhembus sangat kencang, lebih dari biasanya.
Semoga saja buka angin tornado yang hadir menemani mereka, untuk menjadi saksi setia dalam proses meminta pertanggung jawaban dari setiap tindakan yang telah di perbuat oleh lelaki paru baya ini.
Bersiap lah, Luky Artanegara!
***
Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘