Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Pagi Yang Menegangkan


Selamat pagi guys


Aku kembali


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alika dan Bilmar terlihat masih berbaring dengan posisi miring ditepi ranjang. Bilmar berada di sebelah Maura dan Alika berada disebelah Gadis. Dua anak perempuan itu berada ditengah-tengah mereka. Setengah jam yang lalu suami istri itu berhasil membuat Gadis dan Maura tertidur karena bacaan dari 5 buah buku bacaan dongeng


Alika masih menatap Gadis yang sudah memejamkan kedua matanya disamping Maura. Malam ini sangatlah berbeda karena ada Gadis sebagai pelengkapnya disana.


"Ssst, sayang...." Desahnya ketika membetulkan kaki Maura yang tidak sengaja membentang di perut Gadis.


Sesekali Alika akan membetulkan kaki dan tangan Maura yang lasak dan suka membentang kemana-mana.


"Muach.." Alika kembali mencium Maura lalu bergantian ke arah Gadis.


"Makasi ya, Bil. Kamu udah bolehin Gadis untuk tinggal di rumah kita dulu."


Bilmar pun tersenyum. "Yang penting kamu bahagia, sayang..." Jawabannya.


"Oh iya kamu masih mual gak?" Bilmar kembali bertanya.


"Tadi setelah dibuatkan air jahe sama Bik Minah, mual nya jadi hilang.."


"Masuk angin berarti, mau aku pijit?"


"Gak usah, Bil, kamu juga kan capek!"


"Kalau buat kamu, gak ada kata capek dan lelah.." Bilmar kembali tersenyum membuat Alika menjadi merona karena terus disanjung.


Tak lama kemudian terdengar Ammar menangis di box nya.


"Kamu gak usah turun, biar aku yang ambil Ammar!" Bilmar bangkit dari ranjang lalu mengambil bayi gendut itu untuk diberikan kepada istrinya.


Bayi gendut itu menjulurkan lidah untuk mencari ****** susu Mamanya.


"Anak ganteng lagi haus ya?" Alika mengajak bicara Ammar yang masih menangis kencang.


Dengan cepat Alika membuka beberapa kancing baju dan mengeluarkan Payudaranya untuk menyusui Ammar. Bilmar pun duduk ditepi ranjang dan memijit jari-jari kaki istrinya.


"Kamu tidur aja sayang, besok kan harus ke kantor?" Ucap Alika kepada suaminya.


"Kamu udah gak apa-apa kalau aku tinggal?"


Alika mengangguk perlahan. "Aku harus coba, Bil. Biar aku sembuh."


"Tapi kamu janji ya, harus minum obat. Apa kamu gak letih nanti urus mereka bertiga dirumah? Mau aku carikan art lagi?"


Alika menggeleng. "Gak usah sayang. Aku sanggup urus mereka bertiga. Lagi pula setiap hari Binara akan datang, ia ingin mengurus Gadis. Tenang aja ya..." Alika mengusap punggung tangan suaminya. "Kalau aku benar-benar butuh art, aku pasti bilang sama kamu."


"Ayo tidurlah, mata kamu udah kriyep-kriyep kayak gitu, Bil.."


Bilmar pun mengangguk lalu ia bangkit dan mengecup bibir Alika. "Aku tidur duluan ya cinta..."


Alika mengangguk. Bilmar pun memutar langkahnya untuk kembali berbaring disebelah Maura. Bilmar langsung memeluk guling dan tertidur pulas sambil mendengkur.


"Aku kok muntah-muntah terus kayak gini ya? Apa mungkin aku hamil?" Gumamnya.


Suatu fikiran terlintas muncul begitu saja di kepalanya. Ia terus memikirkan terkaan nya sambil menatap wajah anak dan suaminya yang sudah terbang jauh ke alam mimpi. Lalu ia beralih menatap Ammar kembali.


"Kalau aku hamil lagi, lalu bagaimana dengan bayi lelakiku ini? Jaraknya begitu dekat, kasih sayang akan terbagi..." Lirihnya panjang, tentu buka hanya itu yang ia fikirkan. Rasa sakit pasca melahirkan saja belum hilang dari benaknya.


Ia kembali mencium pipi Ammar yang begitu tumpah ruah. Kedua mata bayi itu masih terjaga, ia terus menyusu dengan kuat.


"Pelan-pelan, Nak..." Alika mengelus-elus tubuh anaknya. "Gak Bapaknya, gak anaknya suka nyusu semua..."


Alika berdecis geli. Ia terus tertawa dan meledek anak dan suaminya dalam keheningan malam.


****


Dor dor dor


"Alika..." Seru Bilmar sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Lelaki itu terbangun sebelum adzan subuh karena mendengar sang istri kembali muntah di kamar mandi. Air di wastafel terus terdengar bersama iringan suara Alika yang sedang mencoba mengeluarkan isi makanan dan cairan dari dalam perutnya.


"Sayang, ayo buka dulu pintu nya.." Bilmar membujuk Alika untuk membuka pintu kamar mandi yang ia kunci.


Lalu


Krek


Pintu kamar mandi terbuka.


"Jangan dikunci-kunci, Al! Kalau kamu terus muntah dan pingsan didalam, bagaimana?" Masih ada kecemasan dari suara dan raut wajah Bilmar. Alika mengangguk lalu duduk dipinggiran bath up.


"Kayaknya aku nggak sakit deh, Bil." Alika masih memperbaiki ritme nafasnya untuk kembali teratur.


"Terus kenapa?" Tanya Bilmar polos.


Ia masih belum mempunyai fikiran sama seperti yang Alika fikir kan sejak tadi malam. Padahal dirinya sangat ingin sekali istrinya cepat hamil lagi.


"Apa aku hamil lagi ya?" Jawab Alika terbata-bata. Dari wajahnya memang tidak terlalu yakin, karena ia merasa bisa saja hamil bisa juga tidak, mungkin juga hanya masuk angin belaka.


Beda hal dengan wajah lelaki tampan itu. Sudut bibirnya perlahan terangkat ke atas, kedua matanya berbinar-binar, ia terus memandangi wajah istrinya dengan senyuman manis nya yang khas.


"Semoga Ya Allah---Semoga betul kamu memang hamil lagi sayang..." Desahnya Bilmar bahagia. Ia mencium punggung tangan istrinya berkali-kali.


Melihat Bilmar seperti ini, membuat Alika tambah frustasi. Entah mengapa ia merasa terkaan nya memang betul akan terjadi.


"Di tes aja gimana?"


"Tapi aku gak punya tespack cadangan, Bil."


"Ya udah aku ke apotik ya? Mau beli tespack." Bilmar beranjak bangkit lalu dengan cepat tangannya dicekal oleh Alika.


"Masih pagi kayak gini sayang, adzan subuh juga belum!"


"Gak masalah sayang, kan demi anak."


Hati Alika makin berdegup. Bilmar terlanjur mempercayai terkaan nya itu. Jika ia tidak hamil, tentu Bilmar akan kecewa.


"Aku ikut kamu ke apotik!" Ucapnya cepat.


"Gak usah ikut, diluar dingin!"


"Aku tetap ikut!" Alika tidak mau kalah.


Bilmar pun akhirnya mengangguk. Ia menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari toilet.


"Pakai jaket ya---" Ucap Bilmar sambil membuka lemari lalu memilih-milih jaket untuk segera dipakaikan ke tubuh istrinya.


"Kamu gak pakai jaket sayang?"


Bilmar menggelengkan kepala sambil berjalan ke arah nakas untuk meraih dompet dan kunci mobilnya.


"Yuk kita pergi.." Bilmar menggandeng Alika untuk keluar dari kamar mereka.


"Bik, tolong titip anak-anak dulu ya. Saya dan Alika akan pergi keluar dulu sebentar." Ucapnya sambil menuruni anak tangga ketika melihat Bik Minah baru saja muncul dari arah belakang dapur.


"Baik Den, Non.."


Alika dan Bilmar pun berlalu dari rumah menuju apotik 24 jam. Menembus keheningan pagi untuk mengungkap kebenaran dari terkaan mereka berdua.


*****


Setelah 20 menit mengelilingi jalanan, akhirnya Alika dan Bilmar sudah sampai di apotik 24 jam. Bilmar sengaja membeli 10 buah tespack sekaligus, ia ingin istrinya mencoba alat itu semua. Yang lebih dahsyat nya lagi, ia menyuruh istrinya untuk memeriksakan air urine dengan tespack itu saat ini juga di toilet Apotik.


"Di rumah aja ya, Bil.." Pinta istrinya.


"Udah disini aja, apa bedanya dirumah dan disini..kan sama-sama di toilet." Ucap Bilmar tidak sabar.


"Ayo cepat pipis lalu tampung disini." Bilmar menunjuk sebuah cawan penampung urine.


"Ya udah kamu diluar aja ya, jangan ikut masuk!"


"Aku tetap masuk!" Jawab Bilmar tidak bisa dibantah.


Sementara penjaga apotik masih menatap mereka berdua dengan hanya gelengan kepala.


"Aku kan mau pipis masa kamu lihatin? Aku malu, Bil!"


"Gak apa-apa! Aku juga udah tau bentuk, rasa dan wanginya Sassy. Ngapain sih pakai segala malu---"


Alika memutar bola matanya jenga. "Ya tapi kan, beda dong. Ini posisinya aku mau pipis, masa iya dilihatin! Udah ah aku aja sendiri yang masuk."


"Ya udah kalau gitu, nanti kamu pulang sendiri aja jalan kaki ya?"


"Hhhh!!" Alika mendengus. "Ya udah ayo!" Alika akhirnya menyerah dan membiarkan lelaki posesif itu memperhatikan dirinya yang sedang pipis.


"Jangan ketawa ih!" Alika memercikan air ke arah Bilmar. Suaminya tertawa ketika melihat istrinya sedang berjongkok dan buang air kecil.


"Sama aja kayak Maura, gak ada bedanya. Hahahahaha---" Sambung Bilmar dan kembali terkekeh.


"Ya iya lah, kan perempuan!" Alika berdecak sebal.


"Nih..." Alika menyodorkan cawan yang sudah berisi urine nya kepada Bilmar.


Bilmar meraihnya dan memasukan alat tespack kedalam cawan itu. Alika dan Bilmar masih menatap pergerakan warna yang akan menetap disana.


Apakah satu? Apakah dua?


Jantung keduanya pun saling beradu dalam hentakan yang berdebar-debar. Bilmar terlihat seperti suami yang baru saja akan mendapatkan seorang anak, ia lupa jika dirinya sudah menjadi ayah dari dua orang anak.


Lalu tak berapa lama garis merah pun muncul.


"Hah?" Desah Alika dan Bilmar bersamaan ketika melihat hasil tespack tersebut.


Sungguh pagi ini, adalah pagi yang sangat menegangkan untuk mereka berdua.


*****


Like nya jgn lupa ya. ratusan ribu yang baca tapi like nya dikit🥺 ini pada lupa apa gimana ya abis baca🙈🙈..kalau like dan komennya banyak aku akan UP lagi hari ini.


Gimana nih guys? Si Presdir bakal jadi Papa muda lagi gak yah..😁🤭