
Haiii selamat siang guys
Selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
Diego yang melihat kedatangan Bilmar, Alika dan Maura langsung memberi tatapan hangat tanpa perselisihan. Perangai Diego terlihat tenang, tangannya masih mengelus-elus tubuh Gadis yang tidak sengaja tertidur sambil memeluk dadanya.
Terlihat di sekitaran kelopak mata Gadis yang sedang tertutup ada sisa-sisa basahan air mata. Anak itu sangat rindu dan terharu karena kedatangan Daddy nya.
"Siang Bilmar, Berlian..." Diego membuka suara terlebih dulu ketika langkah kaki mereka telah sampai di bangku taman yang dilindungi dengan pepohonan rindang.
Alika mengangguk dan memberikan senyuman seperti biasa, berbeda dengan Bilmar masih menatapnya dengan wajah alot.
"Kamu sehat, Berlian?" Tanya Diego kepada Alika sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Alika.
"Istri saya sehat, Diego----" Bilmar yang menggantikan tangan Alika untuk berjabat tangan dengan Diego. Lelaki posesif itu tidak mau Diego menyentuh istrinya, walau hanya bersalaman.
Diego pun tertawa, ia seperti mengerti kode tersebut. Ia menganggukan kepala dan mempersilahkan mereka duduk dibangku yang berlawan dengannya.
"Dis, ayo bangun. Kita kembali ke kelas.." Maura menggoyang-goyangkan tubuh Gadis yang masih tertidur di dekapan Diego.
"Sela bangun, Nak.." Diego pun membantu membangunkan sang anak.
Gadis yang merasa mendapatkan banyak tekanan ditubuhnya pun terbangun. Menyipitkan kedua matanya karena silau dengan cahaya matahari. Ia pun menoleh ke arah Alika dan Bilmar.
"Tante, Om.."
Alika tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Gadis. Anak kecil itu pun bangkit turun dari pangkuan Alika dan menghampirinya dengan langkah yang masih tertatah-tatah.
Walau sudah lepas dari tongkat, tetap saja jalannya masih belum bisa stabil. Maka beruntunglah Gadis ketika Maura bisa bersekolah sama dengannya, Maura akan membantu Gadis berjalan. Maura selalu siap memmapah tubuhnya sepupunya itu jika sedang ingin ke toilet, apabila Binar sesekali hanya bisa mengantar dan menjemput mereka tanpa bisa menunggui.
"Hemmm....sayangnya tante nih." Alika mencium Gadis.
Anak itu pun kembali mencium Alika. Maura yang dulunya sempat cemburu, sekarang sudah mengerti bahwa Gadis adalah adiknya. Ia juga boleh mendapatkan kasih sayang dari Alika.
"Ayo kita ke kelas, Dis!" Ucap Maura lalu menggandeng tangan Gadis untuk berlalu ke kelas.
Alika, Bilmar dan Diego masih melihat dua anak itu berjalan meninggalkan mereka untuk kembali memulai pelajaran.
"Saya sudah ijin dengan Binar untuk datang kesini bertemu Marsela, saya rindu anak saya---Sampai kapanpun Sela tetap anak saya, kan?"
Alika mengangguk tanda setuju sedangkan Bilmar hanya memiringkan sudut bibirnya. Lelaki itu masih saja kesal dengan Diego karena sikapnya lah pernah membuat istrinya mengalami trauma yang mendalam.
"Asal kamu tahu batasan Diego. Kalau Gadis tetap anaknya Binar!" Ucap Bilmar.
Sepertinya lidah lelaki itu gatal jika tidak menyentak lelaki ini yang masih saja memandang suka kepada istrinya. Alika hanya bisa mengangguk dan diam, ia tidak ingin menatap wajah Diego lama-lama. Karena bayangan kejadian itu masih saja suka timbul dibenaknya walau selalu ia tepis dengan segala kekuatan.
"Iya saya mengerti batasan itu.." Jawab Diego.
"Kamu sedang hamil lagi, Berlian?"
"Iya, hamil anak saya!" Bilmar kembali menyelak, membuat Alika dan Diego tidak bisa menahan tawa karena melihat sikap Bilmar yang aneh tapi menggemaskan.
Demi labu rebus tanpa garam yang paling dibenci oleh Bilmar, ia menjawab hal yang diluar nalar. Tidak nyambung dengan pertanyaan, ya tentu saja lah itu anaknya. Ya begitulah jika sedang cemburu, segala sesuatu bisa saja terucap diluar akal sehat.
Mereka pun akhirnya tetap berbincang-bincang dan memutuskan untuk bersama-sama menunggu kepulangan Maura dan Gadis dari sekolah.
****
Karena dua anak perempuan ini merancau ingin makan steak. Maka orang tua mereka hanya bisa mengiyakan. Diego pun tetap ikut menemani mereka. Jujur ini adalah suatu pukulan untuk Bilmar, bayangkan saja steak tenderloin adalah makanan kesukaannya bersama Maura. Jika saja sedang tidak berjuang untuk menemani Alika, ia pasti sudah memesan dua steak tenderloin sekaligus.
"Yes yes steak nya sudah datang!" Maura dan Gadis saling berseru menatap steak plate mereka yang baru saja diantar oleh pelayan tepat dihadapan mereka sekarang.
Membuat dua bola mata Bilmar tercekat parah. Para cacing diperutnya seperti menagih ingin juga memakan steak yang saat ini sedang ia ratapi. Namun semua itu hanya tinggal kenangan bagi Bilmar, ia sudah berjanji untuk terus berpuasa menyantap makanan seperti itu dulu.
"Aku tidak terlalu suka daging steak, Diego---" Alika menjawab. Lalu ia berbalik menatap suaminya. "Tapi kalau kamu mau pesan juga, gak apa-apa sayang. Mumpung kita sedang disini.."
Alika tersenyum menatap wajah Bilmar yang memang sedari tadi sudah banyak menelan air liur karena melihat Maura dan Gadis begitu nikmat dalam menikmati makanan mereka.
"Nggak, Al. Aku lagi gak kepingin makan steak!" Bilmar berdalih, ia kembali fokus agar hati kecilnya tidak kembali menyulut untuk menguasai kepalanya agar kalah untuk memakan steak itu.
"Atau mau yang lain? Steak ayam?" Diego ikut menawarkan. Tentu menurut Bilmar itu adalah suatu godaan. Walau sejatinya Diego tidak tahu menahu jika Bilmar sedang menemani istrinya untuk menjaga pola makan.
"Kamu sendiri kenapa gak pesan?" Bilmar berbalik tanya.
"Aku bukan penyuka daging. Lebih suka ikan dan sayur-sayuran.."
"Permisi." Suara pelayan menghentikan pembicaraan mereka. Pelayan meletakan semangkuk salad di hadapan Diego. "Pesanan nya sudah semua ya.." Tanya si pelayan sambil mengusap tablet pemesanan bahwa pesanan yang dipesan sudah tersaji semua.
Alika menganggukan kepala. Pelayan pun berlalu dari meja mereka. Alika kembali menatap Bilmar dan suaminya masih menatap Maura dan Gadis dalam tatapan sedih. Ia hanya bisa mencium aroma makanan itu tanpa boleh menyentuhnya. Mungkin saja setan jahatnya sedang berbisik, kalau besok ia boleh datang sendiri kesini.
Kriuk kriuk
Perut lakhnat milik Bilmar memang tidak bisa ajak kompromi. Membuat Maura dan Gadis melongo dan akhirnya tertawa. "Papa lapar ya, ini Maura suapi..ayo Pah, a..." Maura menyodorkan garpu berisi steak ke arah mulut Papanya. Papa nya menggeleng dan meraih garpu itu untuk disuapi ke mulut Maura.
"Kakak aja yang makan, Papa sama Mama gak makan ini..."
Melihat suaminya seperti itu membuat Alika tidak tega. Ia pun bangkit dari kursi lalu melangkah menuju meja pemesanan.
"Alika?" Panggil Bilmar.
"Mama mau kemana, Mah?" Tanya Maura menoleh dan semua mata yang ada dimeja pun menoleh ke arah ibu hamil yang sedang berjalan.
Alika hanya memberikan kode tangan agar mereka duduk saja disana dan menunggu kedatangannya kembali.
Setelah sudah cukup memesankan makanan untuk Bilmar, ia pun kembali ke meja. "Kamu pesan sayang? Kan gak boleh, Al!" Bilmar mengingatkan Alika, takut-takut istrinya tidak bisa menahan diri.
"Sst, udah kamu jangan berisik. Duduk aja santai, sebentar lagi steak buat kamu akan datang.."
Netra hitam milik Bilmar menggelegar. "Al---"
"Udah gak apa-apa. Sekali ini aja sayang..." Tutur Alika dengan suara amat lembut. Tentu pemandangan itu membuat Diego tidak enak hati, ia kagum dengan kelembutan dan perhatian Alika kepada suaminya.
Bilmar mendesah keberatan, padahal jauh dalam hatinya ia pasti bersorai gembira. Tanpa menunggu lama pesanan pun datang. Dua steak tenderloin dengan Sauce Mushroom sudah tersaji di hot plate. Makanan itu menari-nari didepan mata Bilmar.
Lelaki yang sedari tadi terus menahan nafsunya untuk tidak memakan makanan itu, terlihat gembira dan senang. Ia seperti orang yang tengah berpuasa empat puluh hari didalam goa. Alika tersenyum lalu diringi canda tawa dari Maura dan Gadis, mereka lucu melihat sikap Papa nya sekarang. Alika meletakan beberapa helaian tisu yang kaitkan di kancing atas kemeja Bilmar, agar kemeja suaminya tidak terciprat saus.
"Cocok banget, kaya bayi..." Diego tertawa sarkas.
"Iya, Papa kaya Ammar kalau mau makan pasti kayak gitu Om.." Maura menimpali.
Gadis pun tertawa.
"Bilmar memang bayi saya, Diego..." Sambung Alika. Bilmar tidak perduli dengan semua orang yang menertawainya, difikirannya saat ini hanya ingin langsung melahap steak itu.
Lalu sebelum ia memotong daging steak, Bilmar menoleh lagi, menatap wajah istrinya. "Beneran, Al, gak apa-apa?"
Alika mengangguk. Masih dalam posisi sedikit miring ke hadapan suaminya ia pun tersenyum dan menjawab. "Iya sayangku..gak apa-apa. Ayo makanlah!" Jawab sang istri sambil mengelus-elus punggungnya. Membuat Diego terasa sedikit mual karena Alika begitu memanjakan Bilmar.
Bilmar pun tersenyum senang ia kembali menatap makanannya di hot plate dan menyantapnya dengan rakus. "Hati-hati dong sayang---Nanti kamu tersedak!" Alika meraih tissue untuk mengelap sudut bibir Bilmar yang meninggalkan jejak bumbu disana.
"Kamu benar gak mau pesan yang lain, Al? Disini kan banyak macam menu?" Tanya Diego kembali.
"Aku sedang diet garam, Diego. Kata Dokter juga harus menghindari makan-makanan yang berlemak---"
"Wah kalau istri sedang berkorban seperti ini, harusnya Bilmar sebagai suami juga ikut berjuang. Harus juga menemani kamu untuk tidak memakan makanan seperti ini!" Ucap Diego asal.
Bilmar yang sedang mengunyah begitu saja tersedak. Ia terbatuk-batuk tidak karuan, tentu saja ia sudah banyak berkorban untuk terus menemani istrinya selama sebulan ini.
"Tuh kan jangan cepat-cepat makannya Papa!" Seru Maura. Anak itu dengan cepat menyodorkan gelas berisi air kepada Bilmar.
"Ayo, Bil. Minum!" Alika membantu memegangi gelas tersebut.
"Selama ini Bilmar selalu menemani aku untuk ikut makan-makanan sehat, Diego. Tapi untuk kali ini aku biarkan dia menyantap makanan kesukaannya, tentu hal itu sama sekali gak masalah buat aku..." Alika membela suaminya, lalu menatap Bilmar kembali. "Ayo sayang, habiskan makananmu. Kalau mau pesan untum dirumah juga boleh----"
Dengan refleks Alika mencium pipi suaminya. Ia tidak ingin Bilmar tersulut emosi karena ucapan Diego yang hanya asal ucap. Alika tahu jika di manja seperti ini, emosi Bilmar pasti akan meredup.
Hanya karena steak, pertahanan Bilmar seketika goyah dan terpatahkan, ia tidak bisa menolak paksaan dari istrinya. Alika hanya tidak ingin membuat suaminya menderita. Good Alika, kamu istri terbaik❤️
****
Senang-senang dulu ya, Bil. Sebelum nanti nangiss💔💔