
Haii selamat siang
Salam hangat untuk para readers kesayangan
Selamat baca yaa
🤗🤗
***
Pagi kembali menjelang.
Alika masih terduduk diam dikursi penumpang Jet pribadi kepemilikan Papa Luky.
Ia terus Melihati putrinya yang masih berlari kesana kemari. Beberapa koper sudah memajang di pandangannya. Keluarga besar akan segera bertolak ke Amerika beberapa saat lagi.
Terlihat Binar dan Rendi tengah berfoto-foto dengan ponsel mereka, menikmati keindahan sebagai pengantin baru. Di sebelah kanan ada Bilmar yang tengah berbincang-bincang dengan Papa Luky dan Papa Bayu tengah membicarakan tentang EG dan ACORP
"Nak, sini..." Sang Mama melambaikan tangannya kepada sang Anak. Sesekali anak itu menghampiri untuk mencium Mamanya lalu kembali berlari-lari.
Alika masih membisu, tidak terlihat raut bahagia sama sekali di wajahnya. Hatinya gundah semenjak semalam. Tidurnya tidak nyenyak, ia terus memikirkan Maura. Ia merasa tidak enak jika harus berpisah lama dengan putrinya.
"Bagaimana nanti makannya, ya? Maura kan susah sekali makan??"
"Kalau nanti tiba-tiba badannya panas, apa bisa Binar mengurusnya?"
"Lalu apa bisa anak itu jauh dari ku selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan?"
"Pasti ketika ditinggal olehku, Maura akan makan banyak ice cream dengan sembarang, siapa yang tega melarangnya...Kalau bukan aku dan Bilmar !"
Semua keluh kesah Alika menyatu di kepalanya. Ia begitu khawatir.
"Mama...kapan kita berangkatnya?" cicitnya tidak sabar. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi pesawatnya akan berangkat.." Alika terus menciumi anak itu, entah mengapa air matanya turun mengekor.
"Kok Mama nangis lagi?" Kali ini suara Maura berhasil membuat semua orang mengubah kesibukan mereka untuk berbalik menatap Alika.
"Kamu kenapa sayang?" Bilmar menghampiri istrinya, ia menyudahi pembicaraan bersama Papa Bayu dan Papa Luky. Begitupun Binar mengakhiri kesibukan berfoto ria nya bersama Rendi.
"Aku akan kangen dia, Bil.." Alika menatap suaminya dengan wajah nelangsa.
Maura masih diam menatapi sang Mama, ia bingung dan masih belum faham apa yang Mamanya sedang katakan.
"Nggak akan lama kok, Al----"
Seketika ucapan Bilmar terhenti, karena info dari pramugari bahwa Jet yang mereka tumpangi akan segera terbang.
Binara mulai menggendong Maura, melepaskan anak itu dari sosok Mamanya.
Alika dan Bilmar pun pamit untuk keluar dari Jet.
"Mah? Mama kok mau pergi Mah?" Maura seketika ingin menangis, kedua tangannya dijulurkan untuk meraih Alika, namun Binar dengan lembut menghalaunya. "Kan Maura kemarin bilang mau ke Disneyland, makanya sekarang Maura pergi dulu sama tante, om dan Kakek..."
Bilmar dan Alika menatapi anak ini dengan mata sendu.
"Terus Mama dan Papa? Nggak ikut sama kita, tante?" suara Maura sudah terlihat parau merintih, sudah dipastikan ia akan menangis.
"Nak, nanti Mama sama Papa akan susul Maura kesana, sekarang Maura duluan yang pergi ya, liat tuh kursinya..nggak cukup sayang--" Maura mengikuti arah tangan Alika yang menunjuk kursi penumpang. Ia hanya memberi alasan kecil semacam itu agar Maura percaya.
"Nggak Mah, Maura nggak mau pergi kalau nggak sama Mama dan Papa..Papa!!" Maura mulai bergerak untuk meraih tubuh sang Papa.
Bilmar harus tegas walau hatinya sebenarnya berat, ia pun terpaksa. Mau bagaimana lagi, rencana semua sudah didepan mata.
Bilmar menghalau tangan putrinya dengan hangat lalu mencium dahi Maura. Anak itu kemudian menangis sesegukan, bergerak tidak tentu arah dalam gendongan Binara.
"Jangan nakal disana ya, Nak. Nanti Mama sama Papa akan susul Maura secepatnya. Bin tolong jaga anakku.." Bilmar merubah tatapannya ke arah Binara. Binara pun mengangguk mantap. "Jangan khawatir, aku akan memberitahukan kabar tentangnya selalu ke ponsel kalian."
"Mama..." Maura mulai menangis kencang, suasana semakin tidak kondusif.
Maura terus menjulurkan kedua tangannya meminta agar Mama atau Papa nya meraih tubuhnya. "Aku nggak mau pergi tante!" suaranya mulai serak karena terus menangis.
Alika pun jadi menangis. Ia bingung.
"Bil?" desahnya kepada Bilmar.
"Sudah ayo, mereka harus berangkat sekarang!" Bilmar meraih tangan Alika.
Mereka pun berpamitan secara beruntun kepada Kedua Papa, Rendi dan Binar.
"Hati-hati ya Pah, jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah disana, harus ingat kondisi dan stamina tubuh." Alika menasehati kedua Papanya secara bergantian.
"Kamu juga ya, Nak. Jangan terlalu letih, ingat disana kalian hanya ingin berbahagia--"
Alika mengangguk lalu memeluk kedua papanya secara bergantian.
"Jaga istri dan kandungannya ya, Bil!" ucap Papa Bayu. "Iya Pah, pasti!"
"Titip putriku ya, Bin, Ren..jangan sering dikasih ice cream, nanti giginya rusak!" Alika mengubah tatapannya untuk melihati Maura yang masih menangis, ia pun mengelus wajah sang Anak.
"Maura harus jadi anak penurut ya, Nak. Patuhi apa kata tante Binar dan Om Rendi.." Alika menciumi wajah anaknya yang sudah peluh karena air mata.
Bilmar dan Alika terus berjalan menuju pintu untuk turun, mereka kembali menoleh untuk melambaikan tangan kepada sang Anak.
Maura tetap memaksa ingin turun. Namun dekapan Binar terus kuat memegangi tubuhnya.
"Ayo sayang..." Bilmar merangkul Alika untuk turun dari Jet saat ini juga.
Langkah demi langkah kakinya menuruni anak tangga sampai terus ke aspal landasan. Bilmar terus menggandeng tangan istrinya yang masih berjalan lambat karena tidak ingin berpisah dari sang putri. Melihat Maura sebegitu histerisnya, hatinya terasa sakit.
Lalu
Tak berapa lama, kemudian.
"Mama...mama...mah...!!"
Teriakan nyaring dari belakang mereka menggema bersatu dengan kebisingan angin.
Alika langsung berlari ketika ia melihat putrinya telah berlari-lari ke arah dirinya.
Blasss.
"Sayang..." Alika menjatuhkan dirinya untuk berjongkok memeluk tubuh sang putri.
Maura masih menangis, ada cairan saliva yang mengenang disekitaran dagunya. Benar saja anak itu terus menangis sampai ingin muntah.
Terlihat Binara dan Rendi berlarian mengejar Maura yang sedang menangis dalam pelukan sang Mama.
Seketika hati Bilmar terenyuh.
"Jangan tinggalin, Mah. Maura mau ikut Mama aja, nggak usah ke Disneyland!" Ia memeluk Alika amat kuat, tidak mau melepas. ini ia lakukan sebagai bentuk pertahanan jikalau Binar kembali meraih tubuhnya.
"Maura.." Panggil Binar sambil ingin meraihnya kembali.
"Jangan, Bin!" Alika menghalau tangan adiknya. "Maura akan ikut bersamaku ke pulau!" Alika menyeret kedua matanya untuk melihat respon Bilmar.
Maura tetap menangis mendekap sang Mama. Bilmar pun mengangguk untuk menyetujui keputusan sang istri.
"Tapi, Kak. Kalian kan--?"
"Enggak Bin, aku nggak akan bisa kalau tanpa ada anakku disana. Malah aku akan kacau karena terus memikirkannya."
"Sudah Nak, sudah. Jangan menangis lagi ya, Maura akan ikut bersama Mama dan Papa.." Alika terus menenangkan sang anak.
"Baiklah Kak, jika itu sudah menjadi keputusan kalian. Kami berangkat ya Kak, Aku akan merindukanmu---" Binar memeluk Alika. "Jaga adikku ya Ren, berikan ia selalu yang terbaik!" ucap Alika.
"Siap, Al. Pasti, selamat berlibur ya buat kalian bertiga."
"Kak, tolong jaga Alika dan Maura. Jangan cepat emosi ya, aku titip mereka." Binar memeluk Bilmar. "Iya Bin, itu sudah pasti. Aku akan menjaga anak dan istriku, jangan khawatirkan kami. Ayo cepat berangkat."
Binar dan Rendi pun berlalu menuju kembali anak tangga jet pribadi mereka. Papa Bayu dan Papa Luky masih berdiri diambang pintu. Melambaikan tangan ke arah Bilmar, Alika dan Maura.
Dan pada akhirnya, Maura Zivannya berhasil menggetarkan hati Mama dan Papanya, untuk membawanya turut serta ke Pulau.
Entah bagaimana jika ada Maura disana, tentu Bilmar akan bersusah payah untuk mencari jalan agar ia bisa leluasa bertemu dengan sassy atau hanya ingin bermesraan dengan Alika selama disana.
Kita tunggu aja, 😛😛
***
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘