Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Sentuhan Papa Bayu


Hayyy kesayangan aku balik lagi. Semoga kalian selalu sehat, jadi bisa selalu baca.❤️❤️


***


Papa Bayu yang masih menyandarkan tubuhnya disofa dengan kedua tangan melipat didada, sontak langsung mencondongkan tubuhnya untuk menatap wajah anak dan menantunya lebih dalam.


"Apa..? Alika sudah hamil?" teriakan Papa Bayu begitu menggema didalam ruangan, seketika membuat wajah Alika dan Bilmar meringis bersamaan.


Papa Bayu merasa shock setelah mendengar penuturan Bilmar mengenai kondisi Alika saat ini.


"Bilmar...Bilmar! keterlaluan kamu tuh!" Papa Bayu memejam kedua mata nya sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan rasa tidak percaya. "Istri kamu lagi hamil muda dan keadaannya juga masih lemah, kamu tega masih ngajak main bom-bom tar disaat lagi kaya gini?"


Bilmar yang sedari tadi ingin membuka suara untuk membela diri, kembali terselak oleh suara sang papa.


"Kamu tau kan, Bil? Alika baru saja keluar dari ICU. Dia aja baru berperang untuk mempertahankan hidupnya. Emang dasar kamu tuh! kaya Harimau lapar..!"


Tidak sengaja, kalimat terakhir yang diucapkan Papa Bayu, membuat Alika tidak bisa menahan diri dari gelak tawanya.


Ia terus tertawa sampai ia lupa jika Papa Bayu dan Bilmar terus memperhatikannya dengan wajah serius. "Kok, kamu ketawa sih, Al? ini juga kan, kamu yang mau." ucap Bilmar mendayu-dayu.


"Ih, enggak Pah." Alika berpindah duduk disebelah Papa Bayu, untuk meyakinkan bahwa itu bukan keinginannya semata. "Kamu ih..!" wajah Alika merengut ke arah Bilmar. Sang suami hanya tawa terkekeh.


"Udah Bil, kamu keluar dulu sana!"


"Pah?" ucap mereka bersamaan. "Masa cuman karena kaya gini, Papa sebegini marahnya sama aku?"


"Iya Pah, maafin kita ya." sambung Alika cepat untuk membela suaminya.


"Nggak, Bil. Papa udah nggak bahas masalah yang tadi. Memang sih kalian itu agak sedikit memalukan, tapi ya udah nggak apa-apa. Dari pada cairan Bilmar keburu berubah jadi jeli kalau ditahan-tahan keluar, kan bahaya?" kini giliran Papa Bayu yang tawa terbahak-bahak.


"Papa..!" ucap mereka beriringan.


Papa Bayu menyudahi gelak tawanya. "Udah sana Bil, kamu keluar dulu! Papa mau bicara berdua dengan Alika."


Kening Bilmar pun merengut. Ia hanya bisa mengiyakan yang diinginkan oleh sang Papa. Bilmar pun bangkit berlalu keluar dari ruangan.


"Kalau butuh apa-apa, aku diluar ya sayang.." ucapnya sambil mengedipkan satu matanya.


"Nanti malam kita sambung lagi ya..muach." goda Bilmar sembari memberikan kode cium dari bibirnya.


"BILMAR..!" Papa Bayu mendelikan kedua matanya. "Turunan siapa sih anak itu!" dengusnya kesal.


Kini tinggalah Papa Bayu dan Alika yang hanya berdua duduk di sofa yang sama. Mereka saling memiringkan tubuh agar pandangan mereka saling bertemu. Papa Bayu memasang wajah serius namun hangat. Ia akan berusaha membuat menantunya bersikap baik untuk menerima Kakak dan keponakannya.


"Alika..anak ku?"


"Iya, Pah?"


"Sebelum Papa berbicara panjang lebar dengan Alika. Papa ingin dulu berterima kasih, karena Alika sudah mau menjadi istri yang baik dan ibu yang bijak untuk Bilmar dan Maura, Putra dan cucu Papa."


"Papa nggak usah berterima kasih. Ini semua udah kewajiban Alika. Aku tulus cinta dan sayang dengan Bilmar dan Maura."


Terlihat garis senyum Papa Bayu tersimpul dengan manis diwajahnya.


"Nak, sebelumnya Papa begitu kaget dan shock, ketika tahu Alika adalah keponakan yang sudah lama Papa cari-cari selama ini. Selama bertahun-tahun Papa membantu Papa Luky untuk mencari keberadaan kamu dan Mamamu. Tapi semua hasil itu nihil, kami selalu gagal."


"Papa mu begitu terpuruk. Sepeninggal kalian, kami harus terus membawa Papa mu untuk mengikuti terapi anjuran Dokter spesialis jiwa. Batinnya begitu terguncang, hidupnya hancur tidak karuan!"


"Kasian Binara, sejak bayi ia belum bisa mendapatkan utuh kasih sayang dari orang tua kalian. Mamamu pergi dan Papamu sakit. Masa kecilnya kurang bahagia, ia hanya tahu Bilmar lah kakak yang ia sayangi."


Wajah Alika berubah menjadi sendu, hatinya ikut terenyuh. Tetap menutup rapat mulutnya, karena masih bingung ingin berucap apa.


"Lalu, Papa mu mulai bangkit dari kehancurannya. Ia menata kembali hidupnya untuk terus bekerja, mencari uang untuk menyimpannya. Jika suatu saat nanti Alika dan Mama akan ditemukan, lalu berkumpul bersama kembali membentuk suatu keluarga."


"Dalam masalah ini, memang bukan hanya salah Mama mu yang telah memisahkan kalian bertiga, tapi ini juga kesalahan Papamu yang mungkin tidak bisa memilih antara rumah tangga dan tahta."


Seketika Alika menangkup wajah dengan kedua tangannya dan mulai menangis kembali. Papa Bayu dengan sigap mendekapnya penuh kelembutan.


"Kecewa itu wajar. Jika Papa dalam posisi Alika, pasti Papa akan menangis tidak percaya. Tetapi ini adalah kenyataannya, Nak! semua ini hanya karena atas izin Allah, Yang Maha Kuasa ingin membuat kalian bersama kembali menata keluarga."


Alika makin menangis, dadanya kembali sakit. Ia terus teringat bayang-bayang ketika selama ini, ia hanya hidup sendiri setelah sepeninggal Mama Lisa dan Papa Samsul. Hidup dengan keras, harus dapat mandiri menatap hidup sendiri tanpa bantuan siapapun menemaninya.


"Alika harus mencoba untuk menerima Papa Luky, bagaimanapun anak dan bapak itu tidak ada bekasnya. Bagaimanapun masalahnya, Alika tetap harus berbakti kepada Papa Luky."


"Mumpung--" Papa Bayu tiba-tiba diam. Ia seperti tercekat untuk meneruskan kata-katanya. Karena merasa ucapan itu terdengar menggantung ditelinga Alika, ia pun mendongakan wajahnya untuk melihati Papa Bayu.


"Mumpung kenapa Pa?"


"Mumpung Papa Luky masih hidup, Nak. Kalau beliau sudah tidak ada, semua ini akan menjadi penyesalan hebat untuk Alika."


"Alika, akan menyesal selama-lamanya!"


Menyesal


Menyesal


Menyesal


Kata-kata itu terus menerus meraung-raung dikepalanya. Seperti ada getaran menyeramkan setelah kalimat itu diucapkan. Ia kembali mengingat Mama Lisa, Papa Samsul dan Aziz yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Kini mereka semua berada dialam yang berbeda tidak mungkin bisa diraih kembali oleh Alika.


"Alika harus bersyukur, karena Papa kandung Alika nyatanya saat ini masih hidup. Ia begitu mendamba kehadiran Alika selama 29 tahun lamanya."


"Papa.." Alika kembali mendekap tubuh Papa Luky dengan erat, ia menumpahkan rasa bersalahnya semakin pesat. Terus menangis terisak-isak. Lalu kemudian, badannya mulai lunglai terperosok dan kedua matanya pun terpejam cepat. Kemudian Ia terkulai didekapan Papa Bayu begitu saja.


"Alika..bangun, Nak. Alika?"


***


Berikan aku semangat terus ya...


Like Vote Rate dan Komen..🖤🖤


Soal komen, terserah kalian mau komen apapun. Aku sangat menghargai setiap kritikan yang dilandasi dengan kata sopan tanpa menghina, berbicara baik tanpa harus menyakiti. Karena tujuan ku membuat cerita, untuk hanya kalian nikmati. Ini bukan novel berbayar yang harus terlebih dahulu membeli koint untuk membacanya. Aku membuat rangkaian cerita ini secara ikhlas serta bahagia melihat antusias dari kalian semua.


Makasi yaa readers yang budiman selalu support aku..Maaf jika aku salah-salah ucap dalam membalas komen kalian. Kalian aja bisa kan terbawa suasana, aku pun sama hehehe


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘