Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Kamu lebih dari kata, Pantas!


Haiii guyss aku balik lagi nih


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


Si wanita bertubuh mungil itu melangkah turun dengan cepat dari mobil, walau deru mesin mobil masih menyala dan kendaraan itu belum menepi sempurna dengan baik di parkiran Rumah Sakit.


"Ya Allah, Non!" Hanya desahan nafas yang mencuat keluar dari bibir Mang Dana, ketika melihat majikannya begitu saja berlari menuju tempat yang bertuliskan IGD di daun pintu.


Di sana lah sang suami berada kata si penelpon tadi. Siapa sih istri dimuka bumi ini yang akan santai saja ketika di beri tahu kalau suami sedang terbaring lemah di IGD Rumah Sakit? Kalau sedang berada diketinggian gunung dan suami tengah berada di bawah, sang istri pasti akan terjun bebas untuk langsung mendekapnya.


Begitulah Alika, jantung, paru dan hatinya begitu saja seperti tidak berfungsi ketika mendengar bahwa sang suami yang menjanjikannya untuk bergulat dengan Sassy siang ini, dinyatakan telah mengalami kecelakaan.


Krek


Pintu ruang IGD terbentang lebar dengan tangannya. Semua mata menoleh, Dokter, beberapa Perawat, Administrasi terus menatapnya dengan kaget dan aneh.


Bagaimana tidak aneh? Wanita itu hanya menggunakan daster rumahan dan celemek yang masih memeluk dadanya serta ia tidak sempat menggunakan alas kaki saat ini. Kedua matanya sembab karena terus menangis selama diperjalanan. Alika tidak bisa tenang untuk menahan rasa takut dan cemas. Rambutnya sudah tidak beraturan, terlihat dikuncir namun sudah asal.


Dengan nafas terengah-engah ia mengedarkan pandangannya ke penjuru manusia yang tengah berbaring di ranjang pasien.


"Ya Allah?" Desahnya tajam, ketika ia melihat potongan baju dan celana yang mirip dengan kepunyaan Bilmar. Namun wajah nya tertutup kain hordeng.


"Ah, sayang...." Jeritnya, Alika pun berlari. Ia tidak mengidahkan sapaan Perawat yang sedang melangkah ke arahnya.


"Bil, kenapa bisa kayak gini!" Alika memeluk langsung tubuh yang masih berbaring diranjang. Ia menyandarkan kepalanya di atas perut yang buncit, tanpa terlebih dulu menatap atau memastikan wajah si pemilik tubuh itu.


Srek.


Hordeng pemisah antara ranjang satu dengan ranjang lain pun terdengar bergesek keras.


"Al?" Seru Bilmar ketika ia mendengar suara istrinya menangis namun tengah memeluk lelaki lain.


Alika menghentikan tangisannya. Kedua matanya terbuka tegap. Membulat dan melebar, seperti mencari-cari siapa yang tengah berbisik memanggil namanya. Ia pun mendongak dan mendapati pelototan dari Bilmar yang masih duduk berselonjor disamping ranjang pasien yang tengah ia peluk sekarang.


"Astagfirullohaladzim..." Alika melepas dirinya paksa. Ia membidikan bahunya ketika ia menoleh ke arah wajah pasien yang masih ia peluk sekarang.


Suara ngorok serta muka yang hancur, tengah meregang nyawa dan menunggu keluarga datang, sungguh kasian!


"Ya Allah.." Berkali-kali Alika mengucap asma Allah dan menutup kedua mulutnya.


"Kok warna baju nya sama ya??" Alika meringis. Ia ingin tertawa, namun sepertinya mustahil.


"Sini.." Bilmar menjulurkan tangannya agar bisa meraih Alika untuk mendatanginya.


Bilmar menggeser kembali hordeng tersebut. Ia meraih tubuh istrinya untuk duduk ditepi ranjang berhadapan dengan dirinya.


"Sayang.." Alika langsung memeluk erat si pak suami yang masih gagah walau ada perban di dahinya.


"Syukurlah kamu gak apa-apa, aku udah macem-macem aja ngebayangin keadaan kamu disini!" Alika terus menghela nafas dan mengusap dadanya untuk meluweskan kelegaan.


"Kamu kenapa, kok bisa begini?" Tanya Alika sambil memperhatikan lakban kecil yang masih bertahta di dahi suaminya.


"Apa kamu yang nabrak Bapak itu?"


"Yang mana?" Bilmar mengernyit.


"Bapak-bapak yang tadi aku asal peluk---"


Bilmar menaikan pangkal bahunya lalu menggeleng. "Aku gak kenal, kayaknya sih dia korban tabrak lari!"


Alika meringis. "Kamu kenapa bisa kayak gini?" Alika kembali memusatkan wajahnya untuk menatap dua bola mata Bilmar yang sedang menggambarkan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Kok bisa kecelakaan? Kamu pasti gak hati-hati!"


Bilmar membuka mulutnya untuk membela diri, namun lagi-lagi suara istrinya lebih mendominasi.


"Ngebut ya bawanya? Oh aku tau, main hape ya pas lagi nyetir??"


"Hemm..."


"Atau kamu ngantuk ya? Kan aku udah bilang----"


Cup.


Alika menghentak bahu Bilmar. "Gak tau tempat kamu tuh!"


"Siapa suruh cerewet? Suami bukannya dibelain, malah diomelin---"


Ya begitulah para istri didunia ini, ketika melihat suaminya baik-baik saja yang lolos dari kecelakaan pasti akan mengucap syukur lalu mengumpat, katanya sebagai nasihat agar tidak mengulangi kesalahan itu lagi.


"Ya maaf Pak Suami, istri kamu ini cemas! Lihat tuh!" Alika membawa arah mata Bilmar untuk melihat ke arah kakinya. "Aku lupa pakai sendal! Lupa lepas celemek, aku pingsan setelah mendapat kabar kamu di IGD!"


Bilmar tersenyum tipis, ia menyesal terkena musibah seperti ini dan membuat istrinya kelelahan. Wajah Alika masih pucat dan ritme nafasnya masih saja tidak beraturan.


"Maaf ya, sayang." Ucap Bilmar lalu kedua tangannya menarik kunciran rambut Alika dan menguncirkan kembali rambut cokelat itu dengan rapih.


"Kamu kok bisa kecelakaan, Bil?"


"Aku gak kecelakaan, Al!"


"Loh terus? Tadi si penelpon bilang---"


"Itu Perawat yang nelpon ke rumah, kayaknya pas aku lagi pingsan. Dia coba cek nomor rumah dari ponsel aku!"


"Hemm..." Alika hanya bergumam menunggu lanjutan ceritanya.


"Ceritanya tuh gini, emm. Tapi inget ya jangan ketawain aku??"


Kening Alika mengerut-marut. Matanya terus terbuka untuk menahan agar tidak mengedip, perlahan-lahan ia pun mengangguk.


"I-ya, kenapa memangnya?"


Bilmar menundukkan kepalanya kebawah lalu membuang nafasnya kasar. Ia kembali mendongak untuk menatap wajah Alika. Si istri yang sudah tidak sabar menanti penjelasan, seperti anak bocah yang sedang berpuasa setengah hari terus menanti adzan Dzuhur.


"Jadi waktu lagi nyetir tuh, aku kebelet pipis. Aku nepiin mobil di dekat pohon, ya udah aku turun buat pipis disana. Eh gak tau nya ada motor yang rem nya blong dan nabrak aku dari arah depan. Ya udah deh aku kesungkur, jatuh dan pingsan. Kayaknya kepala aku sempat terbentur, tapi gak inget terbentur ap---"


"Tapi burung nya gak apa-apa kan??" Alika menyelak cepat.


"Hah?" Bilmar kembali menukik kan kedua alisnya dengan tajam. "Kok burung sih?"


"Ya, burung milik Sassy gak apa-apa kan? Kan tadi kamu bilang ditabrak pas lagi pipis??" Alika tidak bisa menahan gelak tawanya. Demi apapun ia terus terpingkal-pingkal.


Bilmar melototkan matanya agar istrinya diam sejenak.


"Ketawa kan? Udah ah males!" Bilmar bercedak malas, bibirnya seketika mengerucut seperti bebek yang ingin dicium.


"Maaf ya, Bil. Ya lucu aja gitu, momen kecelakaannya tuh gak banget. Lagi pipis di sruduk, hahaha. Eh, maaf sayang..."


Cup.


Alika mengecup bibir Bilmar kembali, agar lelaki nya itu tidak merajuk.


"Si pengemudinya ketakutan, ia terus nungguin aku sampai sadar. Dia bilang mau ganti rugi, tapi malah aku yang kasian. Aku malah kasih dia uang buat benerin rem motornya yang lagi rusak."


"Masya Allah...cintaku ini memang lelaki luar biasa!" Alika menjawil pucuk hidung Bilmar yang bangir. "Baik banget si hati kamu, sayang..."


"Iya dong kan istrinya baik hati, aku juga mau jadi suami yang baik, sebaik hati kamu." Bilmar mencium pipi Alika.


"Aku hanya ingin memantaskan diri untuk selalu berdampingan dengan kamu, Al."


"Kamu itu udah lebih dari kata pantas----SEMPURNA!!" Ucap Alika membuat roh Bilmar menari-nari, seperti spongebob yang sedang bergandengan tangan dengan patrcik untuk mencari ubur-ubur.


"Makasi ya cinta...tenang si jagur aman kok, dia masih bisa buat nengok Sassy--"


"Hahh?? Jagurr??"


"Ini..." Bilmar membawa arah mata Alika untuk menatap gundukan yang mulai meninggi dibalik kain celana hitamnya.


"Ihh!!" Alika mencubit perut suaminya. Seketika itu pula Bilmar memeluk tubuh mungil Alika.


"Lepas sayang.."


"Hem....nggak!" Jawab Bilmar nyeleneh.


"Lepas ih!"


Suara mereka terdengar berisik dan bayangan grasak-grusuk tercetak dibalik hordeng.


"Tolong jangan berisik ya! Ini IGD bukan pasar!"


Entah suara dari mana, Dokter atau Perawat yang memberikan ultimatum seperti itu. Mereka pun hening walau masih berbisik tertawa. Sekarang bagaimana caranya Alika dan Bilmar turun dari ranjang pasien dan berjalan meninggalkan IGD untuk menyembunyikan rasa malu nya.


Hahahaha. Gak apa-apa, yang penting malam ini Jagur tetap bertemu dengan Sassy.


🤭🤭


*****


Yang sayang sama mereka, like, komen dan votenya ya..