
Selamat pagi guys
Aku kembali
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jantung mereka yang tadinya tengah berdebar-debar, begitu saja terhenti ketika melihat dua garis merah sudah muncul dengan jelas di sebuah tespack yang sedang dipegang oleh Bilmar.
"POSITIF!" Teriak lelaki itu dengan sorai gembira, penuh ucap syukur dan terus memeluk Alika yang masih melongo tidak percaya.
Suara mereka berdua kembali gaduh dalam suasana berbeda. Jika Bilmar tampak sangat bahagia, namun berbeda hal dengan Alika. Ia masih terperangah, mencoba menyadarkan bahwa pagi ini ia masih bermimpi di atas kasur.
"Bangun, Al..bangun!" Bisiknya kepada diri sendiri sambil memukul-mukul pipinya dengan tekanan pelan. Seketika jantung Alika mencelos begitu saja, telapak kakinya terasa lemah tidak berdaya. Ini memang nyata, bukan mimpi.
"Alhamdulillah, alhamdulillah! Yess! Yess!!" Bilmar tetap bahagia dalam dunianya.
"Ya Allah, alhamdulillah." Bilmar terus merancau senang. "Aku memang sangat perkasa!" Kelakarnya.
Ia pun menoleh ke wajah istrinya yang masih diam mematung tidak percaya.
"Kamu kenapa sayang? Kamu hamil, Al!" Bilmar mencoba menyadarkan sang istri, ia merangkul tubuh Alika yang masih melamun untuk keluar dari toilet.
Alika tahu dirinya memang hamil lagi dengan tanda dua garis ditespack yang sudah terlihat sangat jelas. Namun ia belum bisa menerima jika memang hal itu terjadi. Mengapa terlalu cepat? Mengapa sekarang disaat usia Ammar baru dua bulan? Bagaimana nanti, apakah mereka akan berebut asi?
Segala pemikiran jauh sudah ada dibenak Alika, ia terus bergeming tanpa menyadari jika dirinya sudah melangkah dan masuk kedalam mobil.
Cup.
Bilmar membangunkan lamunan istrinya dengan sebuah kecupan di bibir. Lalu melepasnya dan menatap dua bola kornea mata gelap Alika yang terlihat kosong.
Bilmar tersenyum sangat manis. "Aku senang banget, Al. Tolong kamu jaga kandungan ini ya, ada anak aku didalam---" Ucapnya lembut sambil mengelus perut Alika yang masih belum berbentuk apa-apa.
Alika hanya diam, ia tidak menjawab namun tidak menggelengkan kepala. Ia tetap menatap wajah Bilmar yang selalu tampan dan berkarisma.
"Kenapa sayang? Kok diam?" Tanya Bilmar lagi sambil meraih punggung tangan istrinya untuk dicium.
Akhirnya Alika menggelengkan kepalanya dengan pasrah.
"Hhh..." Desahan nafas begitu saja mencuat dari bibirnya. Ia masih tidak menyangka.
"Kita ke Dokter ya, aku ingin mengeceknya lewat USG langsung pagi ini!"
"Pagi ini?" Tanya Alika masih dengan wajah datar, seperti orang tengah terhipnotis.
"Sebentar aku akan daftar online dulu..." Terlihat Bilmar merogoh kantung celana dan meraih ponselnya. Lelaki itu akhirnya menghubungi Rumah Sakit untuk membawa istrinya kesana.
Alika masih menatap lurus jalanan kosong yang ada di hadapannya. Kedua tangannya mengelus-elus perut yang mulai saat ini baru diketahui, tengah hadir sebuah janin disana.
"Kita ke Rumah Sakit ya. Dokter Obgyn mulai praktek pagi ini jam 7, aku sudah pesan nomor untuk kamu. Dapat nomor satu!"
"Apa nggak sebaiknya kita pulang dulu untuk mandi dan---" Alika membawa arah mata Bilmar untuk melihat pakaian dan keadaan mereka pagi ini. Masih berpiama dan belum mandi.
"Kamu juga kan harus berangkat ke kantor?" Imbuhnya lagi.
Bilmar menggeleng. "Aku gak perduli walau kita masih berpakaian seperti ini, yang penting aku tau memang ada anak kita didalam! Masalah kantor, biarin aja dulu. Aku kan Presdirnya, gak ada larangan aku harus masuk jam berapa..."
"Tapi ini masih gelap, Bil. Adzan subuh aja baru berkumandang 15 menit yang lalu. Masih ada waktu 2 jam untuk pulang kerumah---"
"Kita shalat subuh di Masjid aja ya. Kalau pulang lagi kerumah lalu pergi lagi ke Rumah Sakit, jalanan pasti udah macet sayang. Karena bersamaan orang-orang yang berangkat kerja!" Jawab Bilmar tersenyum dan lagi-lagi hanya membuat Alika pasrah dan menurutinya.
"Humm..."
Alika menyandarkan kembali tubuh dan kepalanya disandaran jok. Bilmar mulai memutar kunci mobil dan menyalakan pedal gas untuk melaju meninggalkan apotik 24 jam tersebut.
Ia ingin secepatnya tahu bagaimana keadaan bayi mereka. Berapa usianya dan sejak kapan ada disana.
*****
Dua jam berlalu. Alika dan Bilmar sudah berada didalam ruang poli kebidanan. Mereka menjadi pasien eksekutif disana walau Dokter dan Perawat sesekali melihat penampilan mereka dari atas rambut sampai ke ujung kaki. Mereka ditatap aneh karena hanya memakai piama tidur saat ini. Namun wajah priyayi tetap melekat pada perangai mereka berdua. Bilmar tetap gagah, tidak ada yang bisa menandingi begitupun Alika, ia tetap cantik dan mempesona.
Bilmar dan Alika masih fokus menatap layar buram yang hanya berwarna putih dan hitam di sebuah monitor televisi. Baru saja dua bulan setengah mereka berhenti untuk memasuki ruangan ini. Namun saat ini sampai sembilan bulan kedepan, Bilmar akan rutin kembali membawa Alika.
"Maaf Bu, jika lewat perut tidak terlalu jelas..." Ucap Dokter. "Saya akan melakukan USG trans vaginal, yaitu melihat keadaan bayi dari dalam ****** Ibu. Jika nanti Ibu merasakan sedikit sakit, tolong di atur nafasnya ya."
Alika mengangguk tanda setuju.
Dokter meraih crusor USG yang dalam bentuk seperti pulpen namun sedikit besar dikepalanya. Alika terlihat meringis ketika alat itu dimasukkan kedalam inti tubuhnya.
"Sabar sayang, atur nafas kamu..." Ucap Bilmar untuk menenangkan istrinya.
Wajah Dokter terlihat senang ketika gerakan tangannya bisa menemukan keberadaan janin disana.
"Bagaimana Dok?" Tanya Bilmar tidak sabar.
"Alhamdulillah sudah terlihat janinnya..."
Entah mengapa mendengar kalimat itu membuat raut wajah Alika yang sedari tadi menegang kini berubah menjadi hangat dan syahdu. Ada buah cintanya kembali untuk menetap didalam perutnya.
Garis senyumnya yang semenjak tadi menghilang kini berangsur merekah kembali. Alika pun tersadar bahwa ia hanya lah seorang hamba yang harus bisa menerima takdir dan jalan hidupnya.
Mau tidak mau, siap atau tidak siap. Allah sudah melimpahkan karunia teramat sangat untuknya. Maka dari itu ia harus menerima dan bahagia ketika dinyatakan hamil kembali.
Seketika itu pula enyah dari benaknya tentang sakit pasca melahirkan yang baru saja ia rasakan dua bulan yang lalu.
"Masya Allah..." Desah Dokter kembali. Membuat Bilmar dan Alika menoleh.
"Kenapa Dok?" Tanya Bilmar cepat.
"Ada dua janin disini, Ibu sedang mengandung BAYI KEMBAR." Jawab Dokter sambil terus menatap layar USG nya.
"Apa Dok? Dua? Dua bayi maksudnya? Kembar?" Selak Bilmar dengan pertanyaan beruntun yang tidak mau putus. Kedua mata Alika kembali terbelalak hebat.
"Yang benar, Dok? Ada dua janin di perut saya?" Alika menimpali.
"Iya Bu, Pak. Ada dua janin disini."
Lagi dan lagi, Bilmar mengucap syukur dan bersorai gembira.
"Masya Allah Tabarakallah..." Ucap mereka bersamaan.
Ia tidak pernah menyangka bisa memiliki anak kembar didalam hidupnya. Mungkin kehamilan kali ini akan membuat Bilmar menjadi lebih posesif, lebih perhatian dan kembali menjadi suami siaga untuk sang istri tercinta.
"Usianya janin juga masih muda baru jalan 4 minggu, masih sangat rentan ya. Jadi untuk Ibu harus istirahat yang cukup, makan yang bergizi dan minum susu secara teratur. Karena ada dua janin, pasti akan memporsir tenaga Ibu lebih dalam."
Bilmar mengecup dahi Alika berulang-ulang, tidak perduli disana ada perawat dan Dokter yang sedang memperhatikan. Benar-benar pagi ini adalah pagi yang membahagiakan. Walau mereka sedari tadi menjadi buah cibir para pasien karena keanehan pakaian yang mereka gunakan, mereka tidak perduli. Karena kini rasa bahagia akan kedatangan dua bayi kembar sudah memenuhi hati dan perasaan mereka.
****
"Bil, kayaknya gak perlu pakai kursi roda deh. Aku masih mampu kok buat jalan!" Ucap Alika ketika ia dipaksa untuk duduk di kursi roda dari poli kebidanan sampai kedepan pintu utama Rumah Sakit.
"Aku tuh Ibu hamil bukan orang sakit!" Ujarnya lagi.
Bilmar tidak menggubrisnya. Ia tetap mendorong kursi roda itu sampai ke pintu mobil. Menggendong tubuh istrinya dan meletakan nya di kursi penumpang dengan hati-hati.
"Bil, aku bukan---"
Suara Alika terhenti begitu saja ketika Bilmar mengecup bibirnya kembali.
"Pokoknya mulai saat ini kamu gak boleh capek, harus istirahat, dan mengikuti semua perintah Dokter!"
"Mulai hari ini kamar tidur kita akan aku pindah ke bawah, biar kamu gak naik turun tangga!"
"Aku akan mencari baby sitter untuk mengurus Maura, Gadis dan Ammar. Kamu gak boleh gendong-gendong Maura atau Gadis!"
"Boleh gendong Ammar tapi ketika sedang menyusui aja, itu pun dalam keadaan duduk!"
"Kamu gak boleh makan pedas dan asam!"
"Nanti akan aku stok makanan, buah, susu dan perlengkapan kamu selama mengandung. Aku yang akan beli, kamu hanya duduk manis aja dirumah!"
Serentetan ucapan Bilmar mengaung-ngaung dikepala Alika tanpa bisa dibantah. Wanita itu hanya bisa mendesah pasrah ketika suaminya sudah posesif seperti ini.
"Tolong nurut sama kemauan aku ya sayang, karena punya anak kembar memang keinginan aku sejak lama. Dan makasi banyak karena kamu udah memberikan mereka buat aku."
"Jangan khawatir ya, aku akan selalu jagain kamu. Urus anak kita bareng-bareng. Aku juga akan usahain untuk nggak ketemu Sassy dulu. Aku pasti bisa!"
Senyum manis itu kembali mengembang dari wajahnya yang makin mempesona. Ia mencium kembali bibir istrinya sebagai tanda terima kasih dan kembali mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Semoga saja bayi kembar itu selalu membawa kebahagiaan dan suka cita, bukan membawa kesedihan yang teramat panjang untuk mereka berdua.
Semoga!
***
aku akan selalu gendong kamu kemana pun, biar kamu gak capek❤️