Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Terserah suamiku, saja.


Lanjutannya ya guyss❤️❤️


selamat malam minggu


🤗🤗🤗


***


"Kamu tau kan apa yang tadi kamu lakukan itu salah?" ucap Bilmar berdiri di tepi ranjang menatapi wajah istrinya. Terlihat ia masih menggosok-gosokan rambutnya yang basah. Tetesan air sehabis keramas terus menetes sampai ke dada bidangnya.


Alika masih menyandarkan diri di bantal dengan selimut menutupi tubuh polosnya.


Bilmar sudah tenang sekarang, karena rasa kesalnya sudah mencair akibat pertemuannya dengan sassy beberapa belas menit lalu.


Alika menarik tubuhnya untuk duduk berselonjor. "Aku tau sayang, aku memang salah.."


"Bagus kalau kamu faham!" Bilmar melangkah untuk mengambil kaos dari dalam lemari pakaian.


Alika masih terus menatapi punggung kekar Bilmar dari belakang. Ia ingin berucap sesuatu namun takut Bilmar akan marah. Terasa hatinya masih terganjal, walau kasus Danu dan Johan sudah beres terselesaikan.


"Sayang, aku ingin--" Alika menatap kembali wajah suaminya yang mulai melangkah menuju dirinya.


"Kamu ingin lagi sayang?" Wajah Bilmar kembali terang benderang. "Ayo, aku siap 86 buat istriku tercinta!!" Bilmar kembali ingin melepas kaos yang baru saja melekat di tubuhnya.


Dengan cepat Alika berseru untuk menggagalkan nya. "Ett!! Enggak..nggak, sayang! Aku masih capek!"


Bilmar menghela nafasnya lalu menurunkan baju yang mau terangkat ke atas.


"Jadinya ingin apa?" Bilmar kembali duduk ditepi ranjang untuk merangkul bahu istrinya.


"Bil? Besok adalah pernikahan adikku, harusnya aku udah ada disana untuk membantu!"


"Kamu kan bukan pembantu, ngapain bantu-bantu disana?"


Tangan Bilmar terus menjalar dengan jahil. Kali ini jarinya telah masuk kedalam selimut.


"Bukan maksud aku tuh---" Seketika wajah Alika mengerut, membuat delikan tajam ke arah suaminya. "Lepas nggak!"


Bukan melepas, tangan jahil itu makin menggerayang. "Bilmar?" Seru alika dengan mengganti nadanya menjadi lembut. Ia secara halus mengingatkan suaminya agar berhenti.


Plup.


Jari-jarinya makin menyusuri lembah inti. "lagi yuk sayang, jarang-jarang nih siang bisa berduaan sama kamu. Mumpung Maura lagi nggak ada.."


"Bil, aku tuh lagi mau ngmong penting sama kamuu..eugg.." ada suara rintihan tak sengaja keluar dari bibir Alika.


"Jangan salahin aku, salahin si sassy. Ngapain dia setiap hari godain aku!" bibir Bilmar sudah menjalar kembali mengecupi ceruk leher istrinya.


"Hemm..gurih sayang--" keluhnya.


"Enak yah daki aku?" Gelak tawa Alika begitu nyaring. Sontak membuat Bilmar menarik wajahnya.


"Apaan sih kamu! Bikin aku jadi ilfeel aja!!" Bilmar menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur.


"Aku boleh ngmong lagi nggak?"


"Loh, dari tadi kamu bukannya ngmong terus??" Decaknya malas.


"Besok kan---"


Lagi-lagi ucapannya terputus, ketika maura sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka


"Mama..Papa..buka! Aku pulang!


"Mama...!!" Seru anak itu tidak sabar


Dengan cepat Alika bangkit dari tempat tidur, masih terlilit selimut lalu berlari menuju kamar mandi dengan langkah blingsatan.


"Makan tuh daki.." Bilmar mencebik lalu bangkit dari tempat tidur menuju pintu kamar.


"Ayo nak kita turun!" Bilmar menggendong Maura untuk menemui Papa Bayu di lantai bawah.


***


"Pah?"


"Iya, Nak. Duduklah, Alika dimana?" Papa Bayu menyuruh Putranya untuk duduk di hadapannya. Ia mencari-cari keberadaan menantunya.


"Lagi mandi, Pah."


"Mandi apa? Siang-siang begini?" Papa Bayu berdecak.


"Biasa, abis lari maraton--" balas Bilmar santai, ia masih mengelus-elus rambut putrinya.


"Maraton itu Papa?" Maura mengulangi ucapan sang Papa. Ia masih menempel dilengan Bilmar sambil menyantap ice cream pemberian Binar.


"Tapi ini tante Binar yang kasih--" cicit Maura tanpa rasa bersalah.


Kemudian Bilmar mulai menceritakan kejadian yang baru saja dialami oleh dirinya dan Alika. Meringkus dua penghianat EG sampai tuntas.


"Hukum dengan seadil-adilnya! Cabut semua fasilitas yang sudah kita beri kepada mereka. Tuntaskan gaji mereka sampai bulan ini saja! Papa nggak ingin ada sangkut paut lagi dengan dua orang yang tidak tahu diri itu!" Ultimatum keras keluar dari mulut Papa Bayu.


"Pah, sudah pulang ya--"


Alika menembus obrolan mereka, ia turun dari anak tangga, menghampiri Papa Bayu dan duduk disampingnya.


"Alika jangan sekali-kali lagi berani seperti itu ya, untung saja Bilmar peka. Coba kalau tidak, kamu bisa celaka nanti, Nak!"


"Kamu ngaduin aku ya, Bil?"


"Iya nggak apa-apa lah, biar kamu semakin jera.."


Wajah Alika mengerut.


"Ada yang ingin Papa bicarakan dengan kalian. Menyangkut pernikahan Binara, sesuai kesepakatan akhir, acara tetap dilangsungkan besok dirumah Papa Luky--"


"Bagus lah!" selak Bilmar sambil melipat kedua tangannya di dada. Roman ketidaksukaan masih bertahta.


Alika hanya menatap sedih ke arah suaminya.


"Allah saja maha pengampun hamba nya yang banyak dosa, mengapa kita sebagai sesama hamba tidak bisa saling memaafkan?" Papa Bayu kembali menyentil hati Bilmar. Ia tahu anaknya sangat keras kepala.


Alika terus menatapi wajah suaminya. Mencari secerca harapan untuk merubah wajah keruh itu menjadi berbinar.


"Papa ingin kalian datang ke pesta pernikahan Binara dan Rendi. Bagaimanapun kalian adalah Kakak-kakak mereka, pengganti Papa dan Papa Luky nanti!"


Seketika Alika teringat dengan ucapan sang Papa dulu, bahwa ia akan berjanji untuk terus menjaga Binara sampai titik terendahnya.


"Kalau Papa mau datang. Datang saja, Bilmar dan Alika tidak akan melarang!"


Mendengar ucapan itu, membuat Alika mengurungkan niatnya untuk memelas kepada suaminya. Alika takut, ia tidak berani. Sungguh letih jiwanya jika ia harus kembali bersitegang dengan Bilmar.


Alika hanya bisa diam dan menunduk.


"Nak, apa kamu mau datang?" Papa Bayu membuat Alika menolehkan wajahnya. Namun tatapan Bilmar tetap mendominasi. Seketika ia menjadi bimbang.


"Alika akan menurut apa kata suami, Pah. Jika ia mengizinkan, maka aku akan datang. Tapi jika tidak, Alika akan tetap di rumah..."


Mungkin jika tidak ada masalah seperti ini, pasti Alika dengan lantangnya akan menerobos dinding Bilmar untuk tetap pergi. Namun karena saat ini ia merasa di khianati oleh Papa dan Adiknya. Maka keputusan patuh terhadap Bilmar, adalah suatu keamanan untuk dirinya.


"Bil?" Papa Bayu kembali menatap kedua mata anaknya. "Bagaimana?"


Bilmar menghela nafasnya berkali-kali. Melemparkan pandangannya ke berbagai arah seraya terus berfikir. Sesekali ia mengusap wajah sampai ke belakang rambutnya. Hati kecilnya ingin, namun ia masih kecewa.


Biarkanlah dulu Bilmar merenungi nya sampai malam suntuk. Semoga saja hatinya bisa memaafkan Binar dan Papa Luky.


****


Hey teruntuk kalian yang baik hati, beri dukungan vote dong buat Alika sama Bilmar


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘