Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Mencoba merubah


Aku balik lagi nih❤️


***


Ngikkk


Suara gesekan ban mobil di garasi rumah Bilmar sudah terdengar. Mang Dana membawa mereka pulang dengan selamat. Alika masih tetap di dalam dekapan Bilmar, ia memeluk perut lelaki itu dengan erat. Masih terlihat sisa-sisa air mata yang membasahi ujung kelopak matanya. Ia merasa sangat gegana hari ini. Kesalahan fatalnya yaitu menuruti apa kata hati untuk pergi ke makam sebelum sampai kerumah, yang membuat ia menjadi urakan bersimbah kesedihan. Entah apa yang harus ia jelaskan kepada Muara dan Papa mertuanya dengan wajah sembab yang saat ini masih menghiasi wajah cantiknya.


"Den, Mamang izin turun duluan ya, mau angkatin koper sama barang-barang." Mang Dana memberanikan diri menoleh ke arah Bilmar yang masih memeluk istrinya. Hanya kedipan mata dan anggukan pelan yang dicuatkan oleh Bilmar ke Mang Dana. Ia pun berlalu menyelesaikan tugasnya.


Masih hening sebentar, Bilmar tau Alika masih ingin dulu di mobil. Ia harus bisa merubah mood nya dulu untuk kembali membaik.


"Bil?" Alika mengangkat kepalanya dan melepas pelukan itu, melihati wajah Bilmar yang masih tetap tersenyum kepadanya.


"Kenapa sayang?" tanya Bilmar lembut lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil beberapa helai tisu untuk mengelapi sisa-sisa cairan tidak berwarna yang masih tertinggal ditepi kelopak. Lalu mengelapi sedikit keringat yang berkumpul di tepi anak rambut Alika.


Begitu perhatiannya lelaki ini. Ia tetap bersikap rendah hati walau hatinya sedikit tercabik. Lihatlah cinta Bilmar begitu besar untuk wanita ini.


"Bil?" tangan Alika menyeka tangan Bilmar untuk berhenti. "Kalau semisal aku.." Alika kembali diam, mengumpulkan kembali tenangnya yang hilang. "Kenapa?" lirih Bilmar.


"Bukan..bukan..gini loh maksudnya. Hmmm.." Alika diam lagi, ia bingung untuk memulai menjelaskan dari hal mana tentang sikapnya yang lepas kendali dimakam Aziz barusan.


Bilmar adalah lelaki yang tidak kalah cerdas nya dari Alika, tentu ia sangat faham dengan gerak-gerik istrinya saat ini.


"Udah nggak apa-apa, sikap kamu yang tadi masih dalam batas wajar. Aku cuman minta sama kamu untuk bisa berfikir realistis. Aziz memang selamanya akan menjadi suami pertama kamu dan dia sudah tenang disana. Mau bagaimana pun kamu menangis tetap ia tidak akan kembali lagi ke dunia. Ini terdengar pahit memang, tapi inilah kenyataanya. Dan yang paling nyata di dunia ini, seperti yang kamu lihat! ada aku yang udah jadi suami kamu, ada Maura yang udah jadi anak kamu dan ada Papaku yang juga udah jadi orang tua kamu. Ada kami yang begitu nyata untuk kehidupan kamu saat ini!"


Alika yang sedari tadi hanya bisa menatap kemeja yang dipakai ditubuh Bilmar kembali memberanikan menatap wajah suaminya yang begitu sangat baik untuk menerima keadaan dirinya saat ini.


"Umur kita sama Bil, sepantaran! tapi kamu lebih dewasa dibanding aku. Aku malu Bil sama kamu," Alika menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Kedewasaan akan hadir jika kita mau terus belajar dan mencoba. Mulailah mencintai aku seutuhnya, coba lah dengan cara kamu sendiri. Aku yakin kamu nggak akan merasa bersalah lagi sama Almarhum Aziz."


"Tapi sekarang aku udah cinta kok, Bil sama kamu!" kedua mata Alika membulat terus menatap bola mata Bilmar seraya membenarkan apa yang ia ucapkan barusan.


Bilmar tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu kedua tangannya mengusap-ngusap merapihkan rambut Alika agar tertata dengan rapih kembali.


"Ayo minum dulu, kamu harus rileks dan atur nafas kamu. Jangan sampai Papa dan Maura sedih lihat kamu kaya gini!" Bilmar menyodorkan air botol kemasan yang ada di mobil.


Setelah Alika sudah selesai menenggak air minum itu lalu ia menyodorkan kembali tepat di bibir Bilmar.


"Minumlah sayang..!" ucap Alika membuat kedua mata Bilmar mengerjap karena kaget dengan panggilan itu. Entah rasa sedikit sakit yang bertahta dihatinya sedari tadi, terasa langsung sirna dengan ucapan panggilan itu.


Kemudian Alika mengecup bibir suaminya yang masih terasa basah karna habis menenggak air barusan.


Bilmar masih tersenyum senang, ia amat bahagia karna Alika sudah mau mencoba dengan saran yang telah ia berikan.


Alika harus bisa mencoba mencari-cari sesuatu yang dapat betul-betul menggenapkan perasaannya.


"Ayo sayang!" Bilmar mencium punggung tangan Alika lalu menggandeng tangan istrinya untuk menuruni mobil.


***


"Hey, udah sampai kalian. Sehat kan?" sapa Rendy yang tengah berjalan menghampiri mereka. Ia melakukan penekanan dikalimat terakhir karna melihat wajah Alika yang masih terlihat sembab walau sudah bisa memberikan senyuman manisnya.


"Sehat Ren, saya sama Alika sehat!" Bilmar merangkul tubuh istrinya. Mengisyratkan bahwa diantara mereka sedang tidak terjadi apa-apa.


"Papa sama Maura kemana Ren? kok rumah sepi?" tanya Alika menyelidik, sedari tadi ia datang tidak mendengar suara anak itu bermain.


"Oh itu, Pak Bayu sama Maura lagi pergi ke Apartemen Bin---"


Ucapan Rendi terhenti karena melihati kedua mata Bilmar yang cukup tajam melihati matanya. Sebuah kode untuk menghentikan ucapan itu sekarang.


"Lagi ke Mall kayanya---"


Rendi dan Bilmar sama-sama berhasil menghela nafas untuk mengelabuhi Alika. Memang wanita ini sedikit polos dan langsung percaya. "Pergilah ke kamar untuk istirahat dulu. Aku masih ada perlu dengan Rendi!" Bilmar menyuruh Alika untuk pergi ke kamar.


"Ya baiklah, kalau kalian mau minta sesuatu bilang aja ya, aku akan buatkan." ucap Alika lalu menghempaskan satu kecupannya di pipi Bilmar.


Alika pun berlalu meninggalkan dua lelaki itu.


Sesekali Alika menoleh ke arah Bilmar lalu memberikan lambaian tangan dengan senyuman menawan dari anak tangga yang sedang ia naiki. Begitu menggoda imannya sekali.


Bilmar merasa tergugah dengan tatapan Alika yang begitu manja, tanpa sengaja ia melangkahkan kakinya untuk menyusuli istrinya. Lalu terhenti ketika kerah lengannya dicengkram paksa oleh Rendi.


"Ayo ke ruang kerja dulu Pak, ada beberapa hal yang bermasalah dengan EG beberapa hari ini!"


Rendi merubah raut wajah bahagia Bilmar menjadi gelap gulita. Seketika garis senyum itu menghilang dan membawa langkah kaki mereka cepat untuk masuk ke ruang kerja.


***


Makasi yaa semangat nyaa❤️❤️.


kaya biasa jangan bosen untuk terus kasih aku semangat dengan Like, Vote, Rate dan komen kalian..Makasi yaw💋💋