
Bruggg...
Sebuah koper telah diturunkan dilantai hotel kamar.
"Baik lah Tuan dan Nyonya, beristirahat lah dulu. Nanti jam 7 malam saya tunggu di restaurant hotel di lantai bawah, sehabis makan nanti kita akan menikmati malam di menara Eiffel." ucap Aldi kepada mereka.
"Baik Al---di !" Alika melirik papan nama yang terpasang di baju Aldi.
Pemuda itu tersenyum kepada Alika ketika namanya disebut.
"Oh ya jangan panggil kami Tuan dan Nyonya, panggil saja Mas dan Mba, itu terdengar lebih baik dibanding yang pertama!" Alika menjatuhkan pilihan yang memang sudah dipilihkan sendiri oleh nya. Bahkan Bilmar yang sedari tadi ingin berkomentar hanya bisa menelan ludah tidak bisa membantah ucapan sang istri.
"Kerja lah yang memuaskan, saya sudah membayar kamu dengan mahal..!" Bilmar memegang bahu Aldi, tunggu. Itu terlihat bukan hanya memegang melainkan seperti remasan akan suatu penolakan.
"Bil ?" Alika menatap wajah Bilmar dalam-dalam sambil melepaskan tangan suaminya dari bahu Aldi.
Ia merasa Bilmar tidak boleh mengintimidasi pemuda ini hanya karna masalah tatapan nya yang tidak sengaja saat dimobil tadi.
"Baik Mas, Mba, saya permisi!" Aldi angkat kaki dan berlalu dari kamar hotel dengan cepat.
"Wahh...subhanallah.."
Alika melepaskan dirinya ditengah-tengah ranjang kasur yang berukuran sangat besar lebih dari ukuran King size. Kamar hotel ini terlihat sangat mewah dan megah. Entah berapa banyak uang lagi yang sudh dikeluarkan oleh Bilmar untuk menyewa kamar ini untuk beberapa hari kedepan.
Ia mengusap-ngusap seprei yang ia tiduri, matanya terpejam sebentar merasakan kelembutan dan kenyamanan dari kasur ini.
Bilmar yang masih berdiri melihati sikap istrinya, hanya bisa senyum-senyum bahagia. Ia merasa dirinya telah berhasil membuat Alika terpana.
"Nyaman ya?"
"Hmmm.." Alika mengangguk terus menutup mata nya.
Bilmar kemudian berbaring miring memeluk tubuh Alika, kepalanya diletakan diceruk leher sang istri. Sontak Alika membuka mata nya cepat. Ia diam agak lama mematung melihati langit-langit kamar.
Lalu dirinya tersadar jika tubuhnya memang harus bisa beradaptasi dengan sentuhan Bilmar. Lelaki itu mempunyai hak penuh atas apa yang ada pada istri nya.
Stimulus pun bereaksi dalam tubuhnya. Ia mulai mengelus-elus lembut punggung dan lengan tangan Bilmar. Mengangkat wajahnya sedikit untuk mencium dahi sang suami. Hembusan nafas tercuap dari Bilmar yang tidak sengaja sudah tertidur lelap, ia sedikit mendengkur karna saking lelah nya.
Alika mengikuti irama tubuhnya untuk mengunci tubuh Bilmar dengan sebuah pelukan.
Kaca jendela dengan gorden transparan yang berada disebelah kanan nya, memberikan pemandangan indah untuk menatap langsung ke menara Eiffel. Membuat Alika merasa takjub bukan kepalang. Dengan didukung cuaca yang baik serta udara yang sejuk membuat mood Alika menjadi lebih bahagia.
Kali ini Bilmar kembali berhasil membuat Alika menjadi sang ratu berkali-kali.
"Bil, ayo bangun. Kita mandi dulu yuk, satu jam lagi kita harus turun ke bawah untuk makan malam!" ucap Alika mengusap-usap lengan sang suami untuk membangunkannya.
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir istrinya, Bilmar dengan cepat membuka mata dengan mantap dan bangkit dari posisinya untuk menarik tubuhnya ke atas, mengkunkung tubuh Alika dengan penjagaan erat darinya. Sontak perlakuan ini membuat dirinya kaget bukan main.
"Aku tidak mau mandi, aku ingin kamu sekarang..!"
Jag.
Jantung Alika bergemuruh kencang. Terlihat irama penggerakan dada istrinya turun naik dengan cepat. Dua hembusan nafas saling beradu, Bilmar tidak akan melewatkan kesempatan ia tidak akan memberi kesempatan untuk Alika bisa lolos. Degupan jantung keduanya saling berdetak.
Suatu pertemuan lidah menari-nari dengan gemas didalam sana, gigitan kecil berlalu lalang tiada henti. Suara saliva saling mencuat nyaring diantara keheningan mereka.
Bilmar terus meraup menghabiskan oksigen yang ada di wajah Alika, wanita ini pun merintih untuk melepaskan. Namun Bilmar semakin erat tidak mau memberi ampun.
Lalu ia menjalarkan hidungnya untuk meresapi kulit pipi dan leher sang istri, aroma wangi farfum yang bertahta ditubuh Alika membuat ia semakin bersemangat.
Lain dengan Alika, ada perasaan ingin namun takut untuk menyerahkan
nya sekarang, semua berspekulasi didalam kepalanya.
"Hmmm.." rintihan Alika makin menjalar ketika Bilmar sudah menenggelamkan wajahnya disebuah kain renda yang menutupi bagian kenyal dirinya.
Terbuka lebar, pekat dan kencang.
"Bil !" Alika meremas pungungg Bilmar yang masih terbalut pakaian.
Ia terus mengecupi isi dalamnya, membuat Alika dan dirinya semakin menggila.
"Bil !" Alika kembali memanggil sambil terus menutup mata nya.
"Sayang...panggil aku sayang !" Bilmar mengangkat kepalanya dan berbisik ditelinga sang istri. Suatu kegelian tercurah disana.
"Sa--ya--ng!" suara sexy Alika terbata-bata yang diringi dengan erangan ketika Bilmar berhasil membuatnya terseret dalam suatu kenikmatan.
Alika makin terbuai dalam keheningan dan kehangatan yang diciptakan oleh sang suami.
dan kemudian
Alika mendorong tubuh Bilmar dengan cepat, menghentikan pergumulan mereka ketika ada suara dering HP miliknya didekat nakas.
Alika tahu itu pasti Maura yang sedang menghubungi dirinya.
"Bil!" Alika membuka suara ia memberi kode untuk mengizinkannya mengangkat telepon
Bilmar mengangguk dengan sedikit rasa kecewa, lagi-lagi ia gagal bertemu Sassy. Namun karna Maura yang menelpon, ia pun mengalah, lalu bangkit dari atas tubuh sang istri untuk turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Alika menarik tubuhnya untuk duduk ditepi ranjang lalu menjepit Hp nya dengan lengan yang ia lekatkan menempel ditelinga, kedua tangannya digerakkan untuk memposisikan kembali kain renda yang melekat ditubuhnya kedalam dua pucuk yang kenyal dan padat, mengancingi kembali pakaiannya dengan rapih.
"Iya Nak, Maura sedang apa?"
Sekali lagi Bilmar salah waktu untuk bertemu dengan Sassy. Bilmar harus bisa memulai kembali permainan mereka dengan sangat lembut dan pelan mengingat ini adalah yang pertama bagi Alika. Bilmar pun merasakan hal yang sama, ia merasa masih seperti perjaka. terakhir ia melakukan nya dengan Kannya pada malam pengantin pernikahan mereka dulu. Ia melakukannya hanya ingin membuat Kannya hamil untuk segera memberikan cucu kepada orang tua mereka. Setelah mengetahui Kannya hamil maka ia tidak pernah lagi menyentuh istrinya sampai Kannya meninggal dunia. Bilmar tetap menahan hasratnya sampai detik ini, ia belum menjamahi dirinya ditubuh wanita mana pun.
Entah jika dengan Alika, tubuhnya selalu bergemuruh cepat untuk melampiaskan hasrat yang sudah terkungkung lama dimakan waktu. Mungkin karna rasa cinta nya yang terlalu menggebu-gebu akan wanita ini.
Kaya biasaa..
Like dan Komen yaa...makasi guyss🖤🖤🖤
Hatur thankyuu😘