Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Kami mencintaimu, Kak!


Malem guys, aku balik lagi.


Masih sedih, maafkan yah💔🖤🖤


yuk mari baca


****


Sudah satu jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda kabar dari dalam mengenai perkembangan jalannya operasi.


Terlihat Pak Adit sudah datang tengah menenangkan Bilmar yang masih tertunduk lemas dibangku. Bilmar hanya bisa menyandarkan kepalanya ke dinding dan menutup kedua matanya untuk berusaha keluar dari mimpi buruk yang saat ini sedang terjadi. Ia terus membayangi wajah Alika yang kini sedang merancau memanggil-manggil namanya. Membuat tetesan cairan bening kembali turun dari pejaman matanya.


"Ya Allah, tolong selamatkan nyawa istriku." gumamnya memohon. "Alika-ku..Sayangku...tepatilah janjimu! kamu harus kuat, demi cinta kita yang baru bersemi menyatu setelah 12 tahun berpisah. Aku cinta kamu...istriku!"


Di sisi kanan ada Pak Khalid yang sudah berdiri tegak disamping Papa Luky untuk menjaga bos nya dikhawatirkan kambuh dari serangan jantung yang mendadak.


Begitupun Bella dan Dokter Hana yang memaksakan menutup klinik EG lebih cepat dari biasanya, karena ingin mengetahui kabar tentang teman mereka yang saat ini sedang meregang nyawa. Mungkin sebentar lagi Sofia akan berlarian datang sambil menangis tersedu-sedu.


Suasana menjadi cekam kelabu. Semua orang menitikkan air mata. Ada yang berdzikir, melamun dan bersitegang. Semua rasa ketakutan dan kegelisahan bercampur menjadi satu.


"Tolong semua, doakan istri saya...dan calon adik ipar saya.." ucap Bilmar sangat peluh dan lirih kepada semua orang yang sama-sama sedang menunggu selesainya jalan operasi.


Mereka hanya bisa mengangguk cepat untuk menemanis kedukaan Bilmar dan Binara saat ini.


Bella dan Dokter Hana terus menangis saling merangkul. "Aku nggak nyangka Dok, tadi itu pelukan terakhir aku sama Kak Alika." rintih Bella dengan penuh penyesalan. "Husss! jangan bicara kaya gitu Bell, Alika pasti selamat. Dia adalah anak yang kuat, Allah selalu sayang sama dia!" balas Dokter Hana begitu percaya diri.


Papa Luky sangat terenyuh mendengar ucapan Dokter Hana. Hatinya seperti sedang tertancap panah yang begitu panas, ia begitu terharu ketika semua orang begitu mencintai Putri sulungnya. Ia hanya bisa memasang wajah penuh penyesalan sambil mengusap-usap kepala Binar yang sedari tadi sudah tertidur diatas paha celananya. Masih terlihat air mata terus menetes dalam pejaman mata wanita ini.


Tak lama kemudian, semua mata mereka tergegap lurus memandang, lampu pintu kamar operasi yang sudah padam. Bilmar dengan cepat bangkit dari duduknya untuk mendekat ke depan pintu operasi. Ia faham jika operasi telah selesai. Semua yang hadir bergerombol menunggu penjelasan sang Dokter Bedah sesaat lagi.


Pintu pun terbuka, semua mata terjerembab lurus dan fokus. Binar dan Papa Luky segera bangkit berdiri disamping Bilmar.


"Keluarga pasien yang mana?" tanya Dokter menatap semua mata yang sedang menatap lurus dirinya. "Saya...Dok. Bagaimana keadaan mereka?" jawab Bilmar terbata-bata.


Dokter menatap Bilmar dalam-dalam, menghela nafasnya sebentar. Sebelum mengatakan perihal keadaan Alika dan Rendi.


"Operasi sudah berjalan lancar, kedua nya dinyatakan selamat---"


Belum selesai Dokter Bedah berucap, semua yang hadir bersamaan mengucap kalimat terima kasih penuh syukur kepada Allah SWT.


"Pasien atas nama Tn. Rendi, sudah melewati masa kritisnya, pelurunya sudah berhasil dikeluarkan dengan baik. Untung saja proyektil itu tidak menembus jantung atau paru-parunya."


Binar bisa menekan nafasnya untuk keluar ke udara, ia amat lega ketika mendengar nasib baik telah berpihak pada Rendi.


Bilmar kembali mengerutkan dahinya ketika mendengar kata namun yang baru saja terucap dari mulut Dokter mereka.


"Namun kenapa Dok? bagaimana dengan keadaan Putri saya, Alika?" Papa Luky sudah tidak bisa menahan lagi rahasia yang sedari tadi sudah memuncak ingin ia semburkan. Membuat Bilmar seketika mengatupkan mulutnya ketika hendak memberikan pertanyaan yang sama kepada sang Dokter.


Kening Bilmar dan Binar kembali saling bersamaan berkerut-kerut. Pertanyaan yang seharusnya keluar dari mulut mereka kini dengan cepat dikeluarkan oleh Papa Luky dengan sikap khawatir dan cemas. Binar dan Bilmar menoleh ke arah lelaki ini, namun ia tetap lurus menatap wajah Dokter untuk menunggu jawabannya.


"Untuk Ny. Alika, kondisinya masih kritis! dua peluru memang sudah berhasil dikeluarkan, namun keadaanya masih sangat lemah karena ibu ini tengah mengandung. Kesadarannya makin menurun, maka saya ingin meminta persetujuan keluarga untuk memasukan pasien kedalam ruang ICU, untuk dilakukan monitoring lebih jauh."


"Hah?" suara Bella begitu menggelegar.


Seketika dengan cepat Pak Adit mulai meraih tubuh Bilmar yang akan jatuh terkulai, tubuhnya tetap merosot ke atas lantai dengan pejaman mata, tidak sadarkan diri.


"Kakak!" teriak Binar, meraih tubuh Kakak lelakinya. Bilmar teramat shock, hatinya terasa tercabik-cabik. Ia tidak kuat melihat Alika dan sang bayi harus kembali berjuang untuk selamat dari masa kritis.


"Berapa persen harapannya, Dok?" tanya Papa Luky menatap dingin ke wajah Dokter. Terlihat Dokter Bedah hanya bisa menarik nafasnya secara pelan. "40% lagi Pak, kondisi ibu Alika memang sangat memperihatinkan saat ini. Saya minta semua keluarga terus berdoa untuk keselamatannya."


"Tolong lakukan apapun untuk keselamatan Putri saya, Dok. Apapun itu akan saya penuhi!" ucapan Papa Luky lagi-lagi membuat Binar kembali menoleh melihati sosok Papanya. Ia merasa aneh dengan perkataan Papa Luky yang begitu mencemaskannya. Mungkin setelah ini Papa Luky harus siap menjelaskan apa yang baru saja ia ucapkan dihadapan Putri keduanya, Binara.


Bilmar masih pingsan, menggelosor dilantai. Wajahnya pucat disertai akral tubuh yang dingin. Entah bagaimana sikap lelaki ini jika mengingat keadaan istrinya yang masih belum bisa untuk di sentuh.


Tanpa menunggu lama, Rendi dan Alika dipindahkan ke ruang perawatan yang berbeda. Rendi dimasukan ke ruang perawatan biasa karena ia kesadarannya sudah berangsur membaik. Namun untuk Alika ia dimasukan kedalam ruang ICU ( Intensive Care Unit), agar mendapatkan pemantauan dan terapi intensif. Karena secara garis besar prioritas terakhir pasien ICU adalah pasien dengan prognosis buruk atau sembuh.


Semoga saja alat-alat yang digunakan untuk menyokong tubuhnya nanti dapat memberikan kehidupan yang abadi untuk Alika. Ia bisa sembuh secara total tanpa kekurangan apapun dan tanpa kehilangan sang bayi mungil yang ada didalam kandungannya.


"Teruslah berusaha untuk hidup, kami mencintai kamu Kak!"


Binara kembali menangis, sambil memeluk tubuh Bilmar yang masih belum sadarkan diri. Semua orang yang hadir begitu lirih dan terisak. Entah bagaimana penyesalan yang semakin menyeruak dihati Papa Luky saat ini.


***


Part ini emang nggak banget 💔💔💔


Doakan mereka ya guyss😭


Berikan semangat kalian untuk aku yaa..


Like, Vote, Rate and Komen..


Thankyou, with love Gaga.❤️❤️