Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Jangan diam, Al. Bicaralah!


Haii selamat pagi


Selamat membaca yaa


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


"Ahh! LEPAS!!"


Alika menepis tangan Bilmar yang sedang merengkuh lengannya. Alika membuang celemek nya ke lantai lalu berlari menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamar.


Bertepatan langkahnya yang sampai di kamar, ada Ammar yang tengah menangis di box nya.


Alika langsung menggendong Ammar, bayi lelaki itu terus menangis kencang. Ia ingin menyusu. Alika membawa Ammar dan duduk di tepian ranjang.


Namun sayang tiba-tiba asi Alika tidak keluar. Ammar yang sudah gelisah dan terus menangis.


"Kenapa sih ini kok nggak keluar?" Alika berdecak marah.


"Sayang..." Bilmar ikut duduk disamping Alika.


"Kenapa dada kamu? Asi nya nggak keluar?" Bilmar terus bertanya, namun Alika tidak mau menjawab. Ia hanya diam dan terus berfokus untuk memijit buah dada nya agar mau mengeluarkan asi.


Ammar terus menangis kencang, bayi itu gelisah. Terlihat wajahnya memerah karena menahan haus.


"Ammar bisa diam nggak? Mama pusing kalau kamu nangis terus!"


Alika setengah membentak bayi itu. Fikirannya kacau, disatu sisi ia emosi karena telah di bohongi oleh Bilmar serta disisi lain ia panik karena asinya tidak mau keluar.


"Jangan kaya gitu, Al! Kalau kamu kesal sama aku, jangan dilimpahkan ke Ammar! Kasian kan dia!"


Bilmar terlihat sedikit emosi. Ia mengakui dirinya salah, namun jika Alika melampiaskan ke anak- anak mereka, ia akan menentangnya.


"Ammar! Mama bilang jangan nangis!!" Alika tidak mau mendengarkan ucapan suaminya. Ia tetap memarahi Ammar.


"Alika? Kamu nggak dengar ucapan aku??" Suara Bilmar semakin terdengar lugas dan tegas.


Alika tetap diam. Ia merasa sudah letih dan lelah untuk mendengarkan berbagai alasan dari Bilmar. Sungguh tega lelaki yang baru saja mengangkat dirinya ke awan lalu dihempaskan begitu saja ke dalam dasar jurang.


Bilmar frustasi karena melihat istrinya terus diam tidak mau menjawab sedikit pun ucapannya. Ada air mata yang ingin turun dari mata Alika namun dengan cepat ia menyekanya.


Masih dalam posisi menggendong Ammar, Alika pun bangkit dari tepian ranjang untuk mengambil ponselnya di meja.


Ia menelpon Binar.


"Hallo, iya Kak?"


"Binar, tolong jemput Kakak sekarang!"


"Oke Kak, baik!"


Tut..sambungan terputus. Bilmar seketika bangkit dan menghampiri Alika ia mencoba meraih tubuh istrinya untuk bisa diajak bicara dengan baik.


Ammar masih tetap menangis, dengan sangat terpaksa ia meletakkan dulu Ammar di box dan mulai membuatkan sufor untuk Ammar.


Buah dadanya terasa linu karena harusnya asi sudah dikeluarkan namun asi tetap tidak mau keluar. Bilmar terus mengikuti langkah Alika kemanapun, mengajaknya bicara, menceritakan duduk persoalan tentang kebobongan yang tidak disengaja, namun semua itu mental begitu saja.


Alika tetap diam, ia tidak mau bicara. Hati dan fikirannya sudah tidak singkron sekarang.


"Kamu mau kemana sama Binar, sayang?"


"Kenapa kamu diam terus?"


"Aku salah, aku minta maaf ya, Al. Tapi tolong jangan diam terus kayak gini!"


"Kamu mau tampar aku? Ayo boleh, aku memang pantas mendapatkannya--"


Percuma saja Bilmar terus merancau, Alika tetap dalam keputusannya hanya untuk diam.


Hari ini sesuai rencana Alika dan Binar sepakat untuk mendatangi rumah Ny. Gweni ingin mencari keberadaan Gadis.


Alika menyusui Ammar dengan botol sufor. Bayi itu seketika diam dan terus mengecap bibir botol susu.


"Sayang, dada kamu sakit ya? Sini aku pijat dengan air hangat ya!"


Bilmar menawari istrinya. Namun tetap saja Alika hanya diam tidak mau menjawab.


Ia terus meminumkan susu untuk Ammar sampai bayi itu terlihat tidur kembali. Setelah dirasa Ammar sudah kenyang. Alika pun beringsut untuk mengganti pakaian dan berdandan hanya menggunakan lipstik dan bedak.


Tuk.


Alika meletakan cincin mutiara yang semalam baru saja di pasangkan oleh Bilmar di jarinya. Ia melepaskannya dan menaruh nya di meja rias.


"Kenapa kok dilepas, Al?" Bilmar meraih cincin itu untuk dipasangkan kembali ke tangan Alika. Tapi istrinya tetap menolak untuk disentuh, ia tidak mau.


"Mama..mama mau kemana, Ma?" Ada suara Maura yang sudah bangun.


"Maura mau ikut Mama, Nak?"


Dalam keadaan masih mengantuk anak itu pun mengangguk.


"Sayang, mau kemana?" Bilmar terus bertanya tanpa pantang menyerah.


Alika tetap bungkam. Ia tidak mau menoleh, melihat wajah suaminya dan tetap tidak mau menjawab sepatah kata pun.


"Ayo sini turun, nggak usah mandi ya, nanti aja dirumah kakek!"


Alika meraih tubuh Maura untuk turun dari ranjang. Ia pun bergegas untuk menggendong Ammar. "Ammar ikut Mama ya, sayang."


"Tolong lah, Al! Jangan kayak gini. Aku akui karena sangat salah tidak jujur sama kamu, tapi aku begini hanya karena nggak mau kamu marah sayang..."


"Ayo sayang kita turun!" Ucap Alika kepada Maura.


"Mama gendong---"


"Nggak bisa, Nak. Mama kan lagi gendong adik!"


Alika tidak mengidahkan ucapan suaminya. Ia tetap fokus dengan diri serta anak-anaknya saat ini.


Membawa kedua anak-anaknya untuk turun menuruni anak tangga.


"Pah?" cicit Maura ia melihati sang Papa yang terus merayu sang Mama.


"Iya, Non?"


"Tolong siapkan susu nya Maura ya, mau saya bawa!"


"Baik, Non."


Bik Minah pun bertanya-tanya mengapa sikap dan wajah Alika begitu berbeda, padahal tadi pagi masih mengajaknya mengobrol dengan wajah senang gegap gempita.


"Kalau kamu mau pergi ya udah, pergi aja sendirian tanpa bawa anak-anaku!"


Akhirnya ultimatum Bilmar keluar juga. Ia terpaksa mengatakan hal ini agar memancing Alika untuk bersuara.


Tapi Alika tetap diam. Ia tidak mau menjawab, hanya duduk di sofa sambil menggendong Ammar dan merangkul Maura.


Tak lama kemudian Bik Minah datang membawa tas kecil berisi susu Maura.


"Ini, Non--"


Bik Minah ingin sekali bertanya mau kemanakah majikannya ini, namun ia tidak berani untuk ikut campur. Ia hanya bisa menunggu instruksi apa lagi untuknya.


Tiba-tiba


Tas susu Maura ditarik begitu saja oleh Bilmar.


"Bik Minah ke dapur lagi aja!"


"Iya, Den."


Tanpa berucap, Alika dengan cepat menarik tas susu yang ada ditangan suaminya. Bilmar tetap menari, ia ingin Alika berbicara kepadanya.


"Kembalikan!"


Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Alika, ia melihati wajah Bilmar dengan tatapan kesal dan dingin. Hati dan Jiwa Bilmar menciut, sikap Alika seperti ini sungguh sangat menakutkan dibanding ia harus memaki atau mengomel.


"Sayang, kamu jangan pergi. Apalagi bawa anak-anak, aku nggak ijinkan!" Bilmar merubah suaranya menjadi lembut kembali, sebisa mungkin ia terus merayu istrinya.


"Maura dirumah aja ya Nak, Mama pergi dulu!" Alika terpaksa melakukan ini karena Bilmar tetap menahannya. Alika tetap memutuskan membawa Ammar.


Maura seketika merajuk dan menangis. Ia terus meraih tangan sang Mama. Karena melihat Alika yang tidak mau menurut, akhirnya Bilmar menggendong Maura untuk menjauh dari Alika. Ia sangat hafal Alika tidak akan pergi ketika Maura menangis seperti ini.


Alika memutar langkahnya sambil menggendong Ammar untuk berjalan ke luar pintu utama, ia akan menunggu kedatangan Binar disana.


"Mama!! Mah, Mama...." Seruan Maura yang disertai tangisan kencang tetap tidak membuat Alika urun dari keinginannya tetap pergi.


Hatinya sesak, namun apalah dayanya. Ia tidak punya daya untuk mengambil paksa Maura, ia tahu siapa dirinya.


"Kak?" Sapa Binar yang sudah sampai.


"Ada apa ini? Kenapa Maura menangis?" Binar bertanya ia melemparkan pandangan kepada Alika dan Bilmar.


"Bin---"


Seketika sapaan Bilmar diselak oleh Alika. "Ayo kita pergi sekarang, Bin!" Lalu ia menoleh ke arah Maura yang masih terus meronta-ronta untuk diturunkan.


"Maura jangan nakal ya, Nak. Mama pergi dulu sama Adik ya."


"Al?" Desah Bilmar.


"Ayo, Bin. Antar dulu aku ke rumah sakit!" Alika menggandeng tangan adiknya untuk mengikuti langkahnya.


Binar menoleh ke arah Bilmar seraya bertanya sedang kenapa dan ada masalah apa.


"Ke Rumah Sakit?" Bilmar mengerutkan keningnya.


"Biar aku yang antar sayang, masih sakit kah dadamu?" Bilmar tetap mengikuti langkah Alika dan Binara dari belakang. Maura tetap menangis ingin terus meraih tubuh sang Mama.


Dengan cepat Alika masuk kedalam mobil. Ia tetap duduk menatap lurus kedepan, tidak mau menoleh melihat Bilmar dan Maura. Ia terpaksa, ia tidak ingin ribut sekarang maka ia pergi meninggalkan Bilmar.


Ia juga ingin ke rumah sakit untuk terapi laktasi dan tentunya ia harus menepati janjinya untuk menemani Binara ke Ny. Gweny. Papa Luky dan Rendi tidak bisa ikut karena mendadak harus pergi ke cabang Acorp di Jogja, ada beberapa masalah disana.


"Kak, aku jalan!" Ucap Binar kepada Bilmar sebelum ia masuk kedalam pintu mobil.


Maura tetap menangis dan Bilmar hanya memandang sendu. Mobil pun berlalu membawa sang istri tercinta yang tengah kecewa dari pandangannya.


Bilmar kembali membawa Maura yang masih menangis untuk masuk kedalam rumah. Ia akan meminta Bik Minah untuk memandikan Maura, ia akan membawa putrinya ke EG bersamanya.


" Jangan diam, Al. Bicaralah! Binar, tolong bantu aku!" Batin Bilmar menyeruak


****


.


.


.


.


.


Bagi yang mau tahu bagaimana kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Gifali Untuk Maura


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘