
Haiii selamat malam, aku kembali guyss
Yang udah penasaran semoga nggak semakin penasaran yah
cuss ah, selamat baca
❤️❤️❤️🖤
.
.
.
.
.
.
"Duduk lah Kaney!"
Bilmar mempersilahkan Kaneysa untuk duduk di hadapannya. Maura langsung berhenti bermain ketika ia melihat Kaneysa datang. Ia menatapi wanita ini terus menerus.
"Maura apa kabar sayang?" tanya Kaneysa lembut.
Namun Maura hanya diam, sedikit terpancar rasa ketidaksukaan ketika melihat Kaneysa tengah berbincang dengan sang Papa.
Bilmar hafal dan faham betul apa arti ekspresi wajah anaknya ini.
"Bil?"
"Ya--"
"Alika marah ya? Karena aku datang kerumah tadi pagi?"
Mendengar nama sang Mama disebut, membuat Maura semakin fokus melihati wajah Kaneysa. Ia beringsut lebih dekat menempel dilengan sang Papa.
"Hanya salah faham Kaney, istriku itu amat lah baik. Ia tidak akan gampang marah seperti yang kamu ucap!" Bilmar berdalih, ia hanya ingin terus membuat nama Alika tetap baik.
"Oh ya, syukurlah Bil. Alika memang sangat cocok sebagai istri kamu. Dia adalah wanita yang sangat baik, maaf aku dulu sempat menghina dan memakinya---"
"Sudahlah lupakan, Alika juga sudah tidak mengingat hal itu lagi. Istriku sudah memaafkan kamu--"
"Aku lega mendengarnya, oh ya ini Bil..." Kaneysa menyodorkan undangan pernikahannya dengan Indra.
"Aku ingin kamu datang bersama Alika. Kalian adalah tamu istimewa ku!"
"Insya Allah Kaney, doakan kami selalu sehat."
"Baiklah kalau begitu, Bil. Aku pamit dulu ya!"
Kaneysa pun bangkit dari sofa dan Bilmar mengantarnya sampai ke pintu. Namun sebelum langkah mereka sampai ke pintu, Kaneysa menghentikan langkahnya.
"Bil?"
"Ya, Kaney?" Mereka saling bertatap.
Maura dari jauh masih melihati mereka berdua yang masih berdiri sejajar.
"Apa aku boleh memelukmu untuk yang terkahir kali?"
Kening Bilmar mengerut, ia membelalakkan kedua matanya.
"Boleh ya, Bil? Sebelum aku menikah, ini hanya sebagai tanda perpisahanku dengan kamu!"
"Jangan Kaney, aku sudah beristri. Kamu nggak boleh memeluk suami orang! Lagi pula ada Maura disini---" Ia menoleh ke arah putrinya yang masih melihatinya di atas sofa.
Namun tanpa menunggu aba-aba lagi, walau Bilmar sudah berkata tidak boleh. Kaneysa tetap memeluk Bilmar dengan erat.
Lalu dalam kecepatan angin
Greg.
Pintu ruangan terbuka lebar dari luar. Sebuah langkah terhenti disana dan seketika muncul suara teriakan yang mengaung kencang.
"KAKAK!!"
Terdengar suara nyaring menyakiti telinga, membuat Bilmar mendorong Kaneysa untuk menjauh dari tubuhnya. Mereka langsung menoleh ke sumber suara yang sedang berdiri diambang pintu, melihati mereka dengan penuh amarah
"Kurang ajar kamu!!" Binar langsung menghampiri Kaneysa dan menjambak rambutnya.
"Siapa kamu? Berani-beraninya kalian saling berpelukan!!" Binara terus menjambak dan memukul Kaneysa, ia emosi membabi buta.
"Ah, sakit. Bil, tolong aku!"
Semakin Kaneysa mengerang, semakin pula Binara bernafsu untuk menjambak rambut Kaneysa.
"Tolong!! Sakit...." Desah Kaneysa ketika rambutnya terus ditarik.
Maura hanya bisa teperangah sambil menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan. "Wah Tante?"
"Kurang ajar kamu!" Binara terus memaki.
Bilmar dengan cepat menarik tubuh Binar dari belakang. Agar Binara berhenti untuk tidak menjambak rambut Kaneysa.
"LEPAS KAK! KAMU JUGA BRENGSEK!!" Binara menginjak sepatu Bilmar, membuat lelaki itu meringis kesakitan.
Kaneysa merasa terancam ia pun mencoba untuk cepat berlari dari ruangan ini.
"Eh eh! Mau kemana kamu??" Binara mencengkram lengan Kaneysa.
"Lepasin aku, kamu tuh siapa??" tanya Kaneysa, ia menepis tangan Binara.
"Aku juga istrinya Bilmar! Puas kamu? Kaget kan?Jangan percaya lelaki hidung belang itu! Dia mempunyai banyak wanita, lalu apa yang mau kamu harapkan dari dia???"
Binara sengaja berkata seperti ini, biar Kaneysa tidak lagi mendekati Bilmar. Ia tidak mau Alika menderita.
Sungguh Binara tidak tahu sama sekali siapa Kaneysa dan apa maksud kedatangannya. Semoga saja setelah ia tahu, ia akan langsung meminta maaf kepada mantan suami sekaligus sepupu sekaligus juga Kakak Iparnya.
"Bin, kamu salah faham! Cepat pulanglah Kaney--"
Bilmar kembali menarik Binar agar Kaneysa bisa segera keluar tanpa dihalang-halangi lagi. Kaneysa pun keluar tanpa mengucap kata-kata perpisahan apapun.
Binara menyeret kedua matanya ke arah Bilmar. Nafasnya terlihat kuat dan kasar. Matanya mendelik tajam.
"Aku benci kamu, Kak! Berani-beraninya kamu membawa wanita lain untuk masuk kedalam serta berpelukan dengannya!"
Binar menunjuk -nunjuk kedua mata Bilmar. Binara sudah kepalang emosi, ia sangat tidak suka kakaknya disakiti karena ulah suaminya.
"Yang lebih parah ada Maura juga disini melihat kelakuan kalian berdua! Kamu memang KETERLALUAN, Kak!"
"DASAR PENGHIANAT!!"
Binara menumpahkan segala emosinya. Terus memaki Bilmar tanpa memberi celah untuk Kakak Iparnya bisa menjelaskan tentang duduk persoalannya.
"Ayo sayang, ikut tante! Kita susul Mama--"
"Mama---?"
Maura mengangguk senang ketika ia diajak untuk bertemu Alika. Maura pun turun dari sofa dan menghampiri Binara. Binara pun langsung meraih anak itu dan menggendongnya.
"Kamu kenapa bisa disini, Bin. Lalu dimana Istriku?"
"Istri kata Kakak?? Istri yang sedang berjuang untuk menghilangkan sakit karena tidak bisa menyusui anak kamu, lalu kamu disini sedang asik-asik dengan wanita lain???"
"DASAR GILA!!" ucapan terakhir yang mencuat dari bibir Binara sebelum ia melangkah untuk pergi.
"Ayo sayang, kita susul Mama ya--"
Maura mengangguk dan hanya melihati Bilmar tanpa berucap. Anak itu lebih memilih pergi untuk bertemu Alika dibanding tetap tinggal bersama sang Papa.
Alika masih di Klinik EG, ia meminta bantuan kepada Sofia untuk memerah buah dadanya. Agar air asi nya mau keluar kembali, serta ia ingin meminta obat demam untuk dirinya.
Karena Alika masih malas bertemu dengan Bilmar. Dengan sangat terpaksa ia menyuruh Binara untuk menjemput Maura di EG pusat.
Namun sialnya Binara melihat Kaneysa dan Bilmar tengah berpelukan.
Binara geram!
"Bin! Tunggu, kamu salah faham!"
Bilmar terus berseru dan mengejar Binara. Namun adiknya ini tetap melangkah dengan cepat menembus debu dan angin sambil membawa Maura. Ia ingin mengadukan semua ini kepada Kakaknya.
Tak lama kemudian dari Klinik EG terlihat Alika sudah keluar dari sana. Ada Bella dan Sofia yang menemaninya. Lalu wajah mereka bertiga berkerut-kerut melihati Binara yang sedang menggendong Maura dengan langkah cepat, lalu dibelakang mereka terlihat Bilmar yang juga ikut berlari untuk mengejar.
"Kak, mereka kenapa?" tanya Sofia.
"Iya Kak, kenapa Kak Binar dan Kak Bilmar lari-larian ya?" sambung Bella.
Alika pun melangkah lebih maju untuk menghadang mereka didepan klinik. Jantungnya terus bergemuruh menerka-nerka apa yang telah terjadi dengan adik dan suaminya saat ini.
"Ada apa dengan Binar dan Bilmar ?"
****
.
.
.
Nah kan guyss, pelakor terus kalian mah wkwkwkwkw. Tenang guys, Kaney mah bakalan nikah sama Indra, dan aku nggak minat masukin pelakor kedalam cerita ini, aku juga sama kek kalian nyesek kalo Bilmar dideketin cewek lain, huhuhu.
Ohya,
Bagi yang mau tahu bagaimana kisah Maura dan Gifali yang sudah dewasa, sudah bisa baca di karya ku yang ke tiga ya, boleh cek profil ku❤️
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Gifali Untuk Maura
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘