
Selamat pagi guys
Aku kembali
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bilmar masih duduk ditepian ranjang dengan hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada. Ia terus mengusap rambutnya dengan kasar, karena menahan sedikit rasa menyesal di dadanya saat ini. Bilmar melirik istrinya yang sedang terlelap untuk melepas penat karena pergumulan mereka beberapa jam yang lalu.
Nyatanya Bilmar sudah membohongi hatinya. Ia sudah berniat tidak akan menyentuh Alika di awal-awal kehamilan. Namun melihat Alika sangat berbeda malam ini membuat Bilmar lupa akan janjinya. Ia melahap habis istrinya sepanjang malam. Alika dan Bilmar di mabuk kenikmatan duniawi. Mereka berkali-kali merasakan pelepasan tiada tara karena olahraga cinta yang terus mereka mainkan. Tidak perduli seprai yang sudah basah karena persatuan keringat mereka.
"Harusnya aku bisa kendalikan diri!" Batin Bilmar, ia menatap wajah istrinya dengan sendu. "Kasian anak kita, Al.." Rintih nya lagi.
Ia juga tidak bisa menyalahkan kemauan istrinya yang tengah ingin, karena hormon orang hamil tidak bisa diprediksi. Kadang mau disentuh, kadang juga tidak. Jadi bersyukur saja lah Bilmar, ketika Alika terus meminta nya untuk mendatangi Sassy dengan suka rela.
Adzan subuh sudah berkumandang, ia pun bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan bersiap untuk shalat.
Kucuran air shower di kamar mandi menggelitik daun telinga Alika, membuat wanita itu mengerjap kan kedua matanya dan membuka secara perlahan. Menggeliatkan tubuhnya yang masih polos dibawah selimut, wajahnya terlihat senang bukan kepayang. Ia teringat bagaimana dirinya bersama Bilmar beberapa saat yang lalu. Entah mengapa ia terus mendamba suaminya.
Aneh, fikirnya.
"Sayang, ayo mandi. Kita shalat dulu." Ucap Bilmar ketika ia sudah keluar dari pintu kamar mandi. Menggosok-gosokkan rambut nya yang masih basah.
Lagi dan lagi Alika menatap Bilmar dengan tatapan dambaan penuh hasrat. Setan apa sih yang sedang merasuki Alika? Ibu hamil itu seketika berubah menjadi centil dan manja. Ia bangkit dengan selimut yang sedang melilit tubuhnya lalu berjalan memeluk Bilmar. Mencium-cium leher dan dada suaminya.
Bilmar kaget bukan main. Selama menikah ia tidak pernah melihat istrinya seperti ini.
"Sayang aku udah wudhu!" Sergah Bilmar cepat. Ia tidak ingin terpancing lagi dengan keinginan sang istri.
Bukan marah karena ditolak, namun Alika mengubah wajahnya semakin menyeringai penuh makna.
"Ya udah kita lanjut lagi abis shalat subuh ya??"
Bilmar melongo tidak percaya dan Alika hanya bisa tertawa sambil menggelitik perut suaminya.
"Geli, Al.." Desahnya. "Udah sana mandi!"
"Iya sayang...Tapi cium dulu!" Alika memajukan bibirnya. "Aku udah wudhu sayang.." Bilmar memberikan senyuman yang membuat hasrat Alika terus bergelora. Namun melihat Bilmar hanya menatap biasa, ia pun melepaskan pelukannya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Hati-hati didalam ya, awas licin."
****
Mereka sudah selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Setelah mencium tangan Bilmar, Alika pun melepas mukenanya. Ia kembali merangkak ke pertengahan kasur. Menanti sang suami yang masih setia duduk di atas sajadahnya.
Ia terus menatap wajah Bilmar yang begitu gagah karena balutan baju koko dan sarung. Sang suami sangat tampan sekali. Alika pun turun kembali dari ranjang, ia mendekat ke meja riasnya. Menyemprotkan minyak wangi ke area tengkuk lehernya. Membuat Bilmar mengerutkan dahi ketika melihat keanehan pada istrinya.
"Kok pakai parfum, mau kemana?" Tanya nya kepada Alika yang sekarang sedang menyisir rambutnya. Bilmar pun bangkit dan melipat sajadah serta meletakkan kembali di tempatnya.
Alika menghampiri dan menggeliat manja dibawah lengan suaminya. "Aku mau lagi sayang..."
"Hah??" Bilmar dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak, Al! Yang semalam itu udah lebih dari cukup!"
Alika mengerucutkan bibirnya. "Bentar aja, Bil." Alika kembali meminta.
Entah sepertinya urat malu pada diri Alika sudah benar-benar putus begitu saja, ketika mulai dinyatakan positif hamil si kembar. Membuat Alika berubah. Dan tidak tahu kenapa, rasa mual dari dalam tubuhnya begitu saja berangsur menghilang ketika dirinya berdekatan dengan tubuh Bilmar.
"Nanti kamu capek sayang.." Bilmar tetap menolak dalam bahasa lembut.
"Ayo ah sayang, bentar aja!" Alika tidak sabar ia langsung ingin melepas semua kancing bajunya.
"Gak mau ah! Mau nya sekarang, aku ingin lagi, Bil----"
"Mau minta apa pun yang lain gak apa-apa deh, asal jangan minta Sassy buat ditengok lagi. Aku takut buat kamu capek!" Desah Bilmar.
Membuat Alika seketika merajuk kembali dan merangkak naik ke atas kasur lagi untuk menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut. Wanita hamil itu kecewa kembali.
Bilmar menghela nafasnya panjang.
"Iya udah ayo!" Ucapnya pasrah.
Alika pun menoleh ke arah suaminya. Terlihat Bilmar sedang membuka kancing baju koko nya satu persatu. Ia siap untuk menyergap Alika kembali pagi ini. Dan setelahnya Bilmar pasti akan menyesal lagi. Begitu saja terus menerus.
*****
Bilmar sudah rapih dengan kemeja dan dasi yang begitu senada. Jas hitam sebagai pelengkap ditubuhnya menambah aura ketampanannya berkali-kali lipat. Alika mengantar Bilmar sampai ke ambang pintu sebelum suaminya berlalu untuk berangkat ke kantor.
"Sayang...?" Bilmar menghentak bahu Alika yang masih melamun menatapnya.
"Kamu kenapa?" Tanya nya.
"Perut kamu sakit nggak?" Bilmar mengusap perut istrinya.
"Sedikit keram tadi, tapi sekarang udah hilang kok, Bil."
"Tuh kan, pasti karena kamu capek, Al!" Ucap Bilmar dengan wajah cemas. Alika tertawa dan memeluk suaminya.
"Aku kenapa ya, kok lihat kamu mau pergi kerja aja bawaannya sedih gini?" Ujar Alika memelas.
"Loh kenapa sayang? Kamu lagi mau apa memangnya?" Bilmar mengusap-usap tubuh istrinya.
"Gak mau apa-apa, Bil. Hanya mau kamu aja---"
"Ya udah nanti beres rapat, aku langsung pulang, gimana?"
"Benar, Bil?" Alika mendongakkan wajahnya untuk menatap Bilmar lebih jelas.
"Iya dong, masa aku bohong." Bilmar merapihkan rambut Alika yang tidak berantakan sama sekali.
"Tu--tunggu deh. Kok nafas kamu kayak cepat gitu? Kamu sesak gak?" Tanya Bilmar kembali. Ia mencoba meletakan telapak tangannya didada sang istri.
"Kamu sesak nafas, Al?"
"Nggak sayang, aku gak sesak sama sekali."
"Ini pasti karena kamu kecapean, Al! Aduh gawat nih---" Bilmar menggelengkan kepalanya. "Jadi khawatir aku ninggalin kamu dirumah, kita ke Rumah Sakit aja yuk!"
"Nggak sayang, aku gak apa-apa! Ya udah sana berangkat, nanti keburu macet dijalan!"
"Benar, Al?"
"I--ya.." Alika mengangguk dan meraih punggung tangan suaminya untuk dicium. "Hati-hati dirumah ya, jangan----"
Alik menyelak cepat. "....Gendong Maura, Gadis, Ammar. Minum susu, makan buah, minum obat dan jangan naik tangga, gitu kan maksud kamu??"
"Istri cerdas!" Bilmar tertawa lalu mencium dahi istrinya. "Ya udah aku berangkat ya, kalau ada yang dirasa, cepat kabari aku ya.."
Alika mengangguk dan melepas kepergian suaminya yang berlalu menuju kantor. Lalu belum sampai langkah Bilmar di depan pintu mobil ia kembali mendengar suara Alika yang sedang menahan mual dan ingin muntah.
Alika kembali mengalami morning Sickness. Entah mengapa hanya tubuh Bilmar yang membuat ia bisa menghilangkan rasa mual dan muntahnya. Sepertinya anak kembar dalam perutnya selalu ingin diperhatikan oleh sang Papa.
Sungguh kehamilan kali ini membuat Alika sangat berbeda. Hormon Estrogen yang begitu meningkat pesat namun ia mengalami Hiperemesis Gravidarum yang cukup hebat. Melebihi ketika ia mengandung Ammar. Jika keadaan Alika seperti ini terus-menerus, bisa dipastikan ia akan kekurangan cairan dan pasti akan berpengaruh kepada bayinya.
Bilmar harus terus menjadi ayah dan suami yang siaga untuk istri dan calon bayi kembar mereka. Bilmar dan Alika, perjuangkan lah terus anak kembar kalian! Sampai dimana waktunya akan tiba.
Howe Howe Howe
Alika kembali memuntahkan isi perutnya, sampai keringat terus bercucuran. Tubuhnya terasa dingin setelah itu. Seketika itu ia lemas dan kepalanya terasa berputar-putar tidak karuan.
Ia kembali mual dan ingin muntah. Namun dengan sekejap kedua matanya begitu saja redup dan hanya melihat kilasan putih dan berubah menjadi gelap. Dengan cepat muncul lah kedua tangan yang kekar untuk segera meraih tubuh Alika yang akan jatuh terjerembab ke lantai. Wanita itu pingsan, tidak sadarkan diri
*****
Jangan khawatir ya, aku gak apa-apa kok, Bil❤️