Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Terima Kasih ya, Istriku!


Selamat pagi semua


Selamat baca ya


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Perdebatan semalam sama sekali tidak membuahkan hasil untuk memadamkan api yang masih berkobar diantara mereka. Bilmar tidak kunjung berhasil untuk mendapatkan hati istrinya kembali. Alika tetap tidak mau membukakan nya pintu kamar malam ini. Membuat Bilmar terjaga dan akhirnya tertidur di sofa ruang tamu. Ia ingin menjaga istrinya walau hanya dari luar.


Kedua mata Bilmar mengerjap perlahan-lahan yang akhirnya terbuka dengan jelas. Sempat menyipitkan kembali kelopak matanya, karena cahaya lampu yang menggantung di ruang tamu sangat tajam menyorot dua bola mata hitam nya yang pekat.


Seketika keningnya mengerut ketika ia merasakan tubuhnya sudah ditutupi oleh selimut tebal dan juga hangat. Ada juga bantal yang tengah menyangga kepalanya. Ia pun tersenyum bahagia, ia tahu Alika lah yang tadi malam melakukan hal ini kepadanya. Walau wanita itu tengah kecewa, tapi segala perhatian kepada sang suami tetap ia lakukan.


"Hemm..." Hidung bilmar begitu saja mekar ketika mengendus aroma enak dari arah dapur. Ia sudah tahu, itu pasti istrinya yang tengah memasak untuk membuatkannya sarapan.


Ia pun langsung bangun untuk menghampiri Alika, namun langkahnya terhentikan ketika ponselnya bergetar di meja.


Drrt drrt drrt


Katherine In camming Call.


"Katherine?" Ucapnya.


"Ya Hallo?" Jawabnya.


"Maaf Pak menganggu pagi-pagi. Mrs Edgar memberi info untuk meminta memajukan pertemuan pagi ini jam 8.."


"Loh kenapa mendadak? Bukannya jadwal pertemuan akan dilakukan besok?"


"Beliau meminta hari ini Pak, ia akan kembali ke Belanda jam 10. Karena istrinya melahirkan, Bagaimana Pak, apakah bisa?"


Bilmar menghela nafasnya panjang, ia menoleh ke arah dapur. Seraya mencari jawaban yang harus ia putuskan kepada Katherine sekarang juga. Sungguh ini akan menjadi tragedi lagi, baru saja semalam ia bilang kepada istrinya kalau hari ini tidak akan ke kantor karena ingin menjaga Ammar dan membiarkan Alika istirahat total.


Namun janji itu hanya akan menjadi sebuah harapan palsu untuk Alika. Bilmar tidak mempunyai pilihan, selain tetap berangkat ke kantor pagi ini. Karena ia tidak mungkin membuat kecewa Mrs. Edgar yang sudah menjadi rekanan EG selama kurang lebih 8 tahun.


Sambil mengusap rambutnya ia berujar kembali.


"Oke baik Kath, tolong siapkan dokumennya. Saya akan tiba satu jam lagi di sana."


"Baik Pak."


Tut.


Sambungan telepon itu pun terputus. Bilmar terdiam sebentar, dada nya kembali bergemuruh ketika ia harus mencari awalan kata untuk memulai pembicaraan dengan istri nya yang masih merajuk. Fikir nya peperangan akan kembali di mulai.


"Sayang..." Seru Bilmar ketika langkah kakinya sudah sampai di ambang pintu dapur.


Dilihatnya sang istri tengah melamun di kursi, sambil menunggu kentang goreng matang. Alika menoleh dan mendapatkan suaminya sedang melangkah ke arahnya.


"Kamu nangis sayang?" Ucap Bilmar kaget sambil menangkup wajah Alika.


Ia melihat leleran air mata menetes turun dari ekor matanya. Alika hanya diam sambil terus menatap kentang goreng yang ada di wajan.


"Kamu masak kentang goreng? Untuk siapa?" Bilmar tahu sekali, Alika sedang tidak memasak kentang goreng untuk siapa-siapa sekarang. Karena mereka berdua tidak terlalu menyukai kentang goreng instan seperti itu.


"Sayang..?" Tanya Bilmar lirih. "Kan Maura nya nggak ada, kenapa kentangnya di goreng?" Tanya Bilmar kembali dengan suara lembut dan hati-hati.


Kebiasaan setiap pagi, Maura akan meminta Mamanya untuk memasak kentang goreng. Itu adalah makanan kesukaannya. Terlihat di kepalan tangan Alika pun tengah menggenggam sebuah kotak susu kesukaan Maura.


"Aku kangen dia!"


Alika merintih dan terus menangis. Bilmar berjalan dulu ke kompor dan memutar knob untuk mematikan api. Ia kembali melangkah untuk mendekati Alika.


Memegang kedua tangan istrinya dan mendekatkan kepala Alika kedataran perutnya. Bilmar mengunci tubuh Alika dengan sebuah pelukan hangat. Berkali-kali ia mencium pucuk rambut istrinya.


"Sabar sayang, satu bulan itu nggak lama. Maura nya aja senang disana, masa kita nya sedih?"


"Maura senang, Bil?" Tanya Alika tidak percaya.


"Maksudku, dia tetap rindu kamu, Al. Rindu Mamanya---" Bilmar berdalih, dengan cepat ia mencari kata-kata yang pas untuk tidak membuat masalah ini menjadi lebih panjang.


"Maafkan aku ya, jika kepergian Maura terasa mendadak, bagi kamu, Al!"


Bilmar tetap mengusap-usap punggung istrinya yang masih mendekapnya dengan tangisan.


"Aku juga gak bisa berbuat apa-apa, kalau keluarga Kannya ingin membawa Maura pergu walau hanya sementara. Aku juga kangen dia, ingin peluk dan gendong anak kita. Tapi mau gimana lagi, Maura memang harus pergi kesana."


Alika terus menangis, namun ia tetap mendengar penjelasan dari Bilmar.


"Waktu itu kamu sedang sakit karena dilanda trauma yang berat. Psikis kamu berantakan, sebagai suami kayaknya gak adil kalau aku harus menambahi beban kamu dengan masalah kepergian Maura. Aku fikir Nayla akan menjemput Maura tidak secepat ini. Maka aku diam, karena aku butuh waktu untuk membicarakan masalah ini dengan kamu pelan-pelan."


"Namun ketika aku sudah berniat untuk mengatakannya ke kamu, kamu di katakan positif hamil si kembar. Daya tahan tubuh kamu juga lemah, kata Dokter kamh gak boleh stress dan banyak fikiran. Maka aku simpan kembali masalah itu!"


"Dan ternyata kamu jadi salah faham sampai sekarang---Aku tau banget kamu gak rela Maura pergi. Tapi demi dia disana, Al. Biar dia senang, kamu disini juga harus senang. Karena disana ia pasti merasakan hati kamu yang sedih terus mikirin dia."


"Kata Nayla, Maura nangis tiap malam kalau mau tidur. Ia sebut-sebut nama kamu terus, sampai kapanpun kamu tetap Mamanya. Maura nggak akan pernah pergi meninggalkan kamu sayang..."


Setelah mendengar penjelasan Bilmar yang lembut dan mempunyai kebenaran akan setiap ucapannya. Alika pun berhenti menangis. Ia melepaskan pelukan itu dan mengusap wajahnya yang masih basah akan air mata.


"Bener Bil? Mereka nggak akan ambil Maura dari kita?"


"Ya dong, aku kan Papanya! Aku yang berhak atas Maura. Dan kamu Mamanya, kamu juga berhak atas hidupnya---"


Samar-samar garis senyum Alika kembali mengembang dengan jelas. Ia menatap suaminya dengan perasaan senang. Hatinya tidak lagi merasa gamang dan hambar. Ia tahu pasti, Maura akan menjadi anak perempuannya selama-lamanya.


"Maafin aku ya, Al." Bilmar mengecup kening istrinya.


"Iya Bil, maafin aku juga ya. Aku kaget banget karena Maura mendadak banget perginya. Aku merasa kayak gak di hargain sama kamu."


Bilmar tersenyum bahagia, ia senang hati Alika sudah kembali melunak. Namun masih ada satu ganjalan lagi sekarang, perihal janji nya semalam yang tidak bisa ditepati hari ini.


"Hemm..." Bilmar terlihat hening, ia diam kembali. Membuat Alika kembali bertanya.


"Kamu kenapa, Bil?"


"A--ku...." Suaranya terhenti sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Kenapa?" Tatapan Alika berubah menjadi serius, ia sudah tahu jika sikap suaminya seperti ini pasti ada hal yang tidak beres.


"Aku harus berangkat ke kantor hari ini, ada rapat yang dimajukan oleh rekanan kita, tapi setelah rapat itu selesai, aku akan cepat pulang, gimana sayang?" Bilmar berharap Alika mau mengerti.


Dan.


Blass.


Alika bangkit dari kursi lalu menggandeng tangan suaminya. "Ayo mandi, aku bantu pilihkan kemeja buat kamu..."


Wajah Bilmar senang bukan main, Alika tidak merajuk. Wanita itu mengerti kondisi suaminya. Ia harus tetap bekerja untuk mencari nafkah.


"Makasih ya Mah, Maafkan Papa..."


****


Kita jemput Maura yuk, Bil❤️