
Haii selamat pagi, adakah yang rindu mereka? Bacanya pelan-pelan ya. Episode ini adalah epsiode terpanjang dari seluruh episode yang pernah aku tulis. Aku juga ada kejutan buat kalian di akhir cerita.
Oke deh, selamat baca ya
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
Tujuh hari berlalu pasca kelahiran dan kematian si kembar. Hari ini Alika sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter Kandungan nya. Sejak semalam dirinya sudah terbebas dari selang infusan.
Alika masih terduduk ditepian ranjang dengan kaki menjuntai kebawah. Tubuhnya masih sedikit basah dengan lilitan handuk didada. Aroma sabun menyelimuti tubuh mulusnya. Bilmar baru saja memandikan Alika, karena sebentar lagi ia akan membawa istrinya pulang ke rumah.
Alika masih menatap hordeng yang sedang terkibas-kibas karena hembusan angin dari luar. Menatap cahaya matahari yang menyerbu masuk menyoroti indera penglihatannya.
Tidak ada keceriaan di wajahnya, sekalipun sedang menonton acara lucu ditelevisi. Ia hanya diam membisu. Setiap malam, ia masih saja menangis. Walau ia tidak lagi mengeluh kepada siapapun, karena ia sudah berjanji kepada Bilmar untuk belajar menerima ini semua. Padahal kenyataanya, ia masih sulit untuk menerima semua ini dengan cepat.
"Mau sarapan dulu?" tanya Bilmar sambil merangkak naik ke atas ranjang. Lelaki itu duduk menyila dibelakang punggung istrinya. Meraih sisir dari dalam tas,untuk menyisir kan rambut Alika.
Alika hanya menggeleng dan memberikan senyuman setipis benang.
Bilmar mengangguk dan menuruti kemauan sang istri. Ia bangkit menuruni ranjang lalu meraih baju yang akan dipakai istrinya dari dalam koper. Ia Kembali berjalan menghampiri Alika. Mengelap tubuhnya agar benar-benar kering dari basahan air. Lalu setelah itu,ia memakaikan dress hamil yang istrinya miliki.
"Pakai bedak ya, biar nggak pucat?"
Alika mengangguk dan menunjuk tas Hermes miliknya. Bilmar meraih bedak untuk di oles kan dipipi istrinya.
"Pakai lipstik ya.." Bilmar mengoles lipsmate dengan gerakan amatir. Alika hanya membiarkan saja apa yang diinginkan oleh suaminya.
Tok tok tok
Ada ketukan dari luar pintu kamar perawatan Alika. Bilmar sengaja menguncinya karena tadi sedang memandikan sang istri. Ia pun menghampiri ke pintu dan membuka kuncinya.
"Sudah siap, Pak?" tanya Perawat sambil membawa rostur.
"Iya, Sus, sudah."
"Perawat pun masuk kedalam sambil membawa rostur.
"Pagi, Bu.." sapa Perawat itu kepada Alika. "Sudah siap pulang pagi ini?"
"Iya, Sus." jawab Alika dengan senyuman menawan.
Bilmar pun membantu menggendong Alika untuk di dudukan di kursi roda. "Biar suami saya saja yang dorong, Sus. Suster bisa kembali bekerja.." pinta Alika.
"Benar, Bu, tidak mau diantar sampai pintu utama?" Perawat memastikan.
Alika mengulas senyum kembali. "Iya Sus, benar---"
"Baik, Bu, Pak. Saya permisi sebentar untuk mengambilkan obat-obatan yang harus diminum oleh Ibu di rumah, ditunggu sebentar ya." Perawat itu pun berlalu meninggalkan mereka.
Alika dan Bilmar mengangguk bersamaan. Bilmar kembali duduk di sofa.
"Kamu tetap mau pulang kerumah Papa, Al?" tanya Bilmar memastikan kembali.
"Iya, Bil. Enggak apa-apa kan?"
Sebenarnya hati Bilmar berat, tapi mau tidak mau akhirnya ia membiarkan juga. Karena ia tahu istrinya sedang dalam keadaan yang sulit. Bilmar berusaha untuk mengalah dan tidak mau menekan fikiran Alika dalam masa-masa seperti ini.
Semalam Alika meminta kepada Bilmar untuk mengizinkannya tinggal sementara dirumah sang Papa. Alika masih belum siap jika pulang kerumah. Ia takut terbayang-bayang kenangan selama mengandung dirumah dan yang lebih sulit adalah ketika ia akan menatap kamar, box tidur dan perlengkapan bayi kepunyaan Bilka dan Abrar. Itu semua masih sangat sulit untuk Alika.
Alika melarang semua untuk datang kerumah sakit walau hanya sekedar menjemput. Ia hanya menginginkan keluarganya untuk menunggu saja kedatangannya dirumah. Ia pun rindu dengan dua anaknya. Selama ia di rawat, Alika tidak bertemu dengan Maura dan Ammar. Ia tidak ingin kedua anak nya yang sehat dibawa-bawa ke Rumah Sakit.
"Iya sayang..." Bilmar kembali mengiyakan. "Tapi kamu harus makan yang banyak ya." pinta Bilmar.
"Iya, sayang. Makasi ya."
******
Sungguh hati Papa Luky saat ini sangat begitu merona dan bahagia walaupun jauh dari dalam lubuk hatinya ia masih merasa perih karena kehilangan cucu kembarnya. Ia bahagia karena anak sulungnya akan tinggal untuk sementara bersamanya. Sudah lama Papa Luky menginginkan hal ini, bisa lebih dekat dengan anaknya setiap hari. Apalagi dengan keadaan Alika yang masih gegana seperti sekarang.
"Anakku, sayang.." ucapnya ketika Alika sudah tiba di ambang pintu.
Papa Luky melangkah cepat untuk memeluk, mencium dan merangkul putrinya. Dengan bahasa tubuh seperti itu membuat Alika merebahkan kepalanya di dada Papa Luky sambil memeluk perutnya.
"Pah.." Desahnya.
"Sudah, sudah. Ada Papa disini!"
Papa Luky membawa Alika masuk kedalam rumah. Bilmar pun mengikutinya dari belakang sambil membawa tas Alika. Papa Bayu, Maura dan Ammar masih dalam perjalanan menuju rumah Papa Luky. Sedangkan Binara, Rendi dan Gadis masih diluar untuk berbelanja kebutuhan sang Kakak.
"Pelan-pelan, Nak.." Papa Luky dan Bilmar ikut memapah Alika untuk duduk disofa. Bekas luka jahitan di perut Alika masih saja terasa linu jika ia bergerak cukup berat.
"Alika tinggal disini dulu, gak apa-apa kan, Pah?"
"Kenapa pakai nanya, Nak. Ini juga rumah kamu."
Alika mengangguk dan tersenyum. "Apa kamu mau pindah tinggal disini selamanya, Nak?" ucapan Papa Luky sontak membuat raut wajah Bilmar seketika menegang. Ada tatapan ketidaksukaan darinya.
"Jangan, Pah.."
Namun mendengar jawaban istrinya baru saja, membuat hatinya seketika menjadi lega. Ia tidak akan ber-agumen panjang dalam masalah ini bersama mertuanya.
"Tapi mungkin beberapa bulan aja, Alika disini, Pah."
Jag.
Kelegaan yang baru saja menyelimuti hati Bilmar, begitu saja padam.
"Maksudnya gimana, Al?" Bilmar akhirnya bersuara.
Alika dan Papa Luky menoleh. "Aku mau disini dulu, Bil. Tiga bulan, boleh?"
"Hah? Tiga bulan?" tanya Bilmar mengulang.
"Iya, sayang, gak apa-apa kan?" Alika menatap dua netra gelap Bilmar dalam-dalam.
"Aku fikir hanya beberapa hari atau seminggu aja, Al. Kenapa lama banget jadinya?"
"Apa salahnya, Bil? Apa bedanya Alika disini dan disana? Toh, sama-sama rumahnya, kan?" sahut Papa Luky.
"Tapi, Pah---"
"Alika juga anak saya. Ini rumahnya, dia berhak tinggal disini dan saya juga berhak atas Alika!" suara Papa Luky terdengar tegas dan serius. Membuat Bilmar hanya bisa bungkam tanpa membantah.
Sejujurnya ia tahu, ini hanya alasan Alika untuk mengubur kenangan Bilka dan Abrar. Bukan Bilmar tidak mengizinkan Alika tinggal dirumah Papanya. Tapi untuk selama itu, sepertinya tidak mungkin baginya. Ia lebih suka tinggal dirumah dan jarak kantor pun jadi sangat jauh.
"Maafin aku, Bil. Aku belum siap!" Batin Alika.
****
Sudah jam delapan malam. Setelah selesai makan malam bersama keluarga, Alika dan Bilmar memilih masuk ke dalam kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Binara. Rumah malam ini terasa ramai, karena semua keluarga Artanegara berkumpul. Maura dan Ammar pun terpaksa ikut tinggal dirumah ini.
Terlihat Bilmar sedang menyandarkan tubuhnya disandaran tempat tidur. Melipat kedua tangannya didada, Ia terus saja menatap punggung istrinya yang sedang menimang-nimang Ammar. Dari luar masih terdengar suara Maura dan Gadis yang tertawa terpingkal-pingkal karena bermain bersama Rendi dan Binar.
Hanya ada keheningan didalam kamar. Sampai akhirnya Bilmar kembali membuka suara.
"Tiga bulan disini, apa itu tidak terlalu berlebihan, Al?"
Alika hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab. Itu tanda nya ia tetap dalam pendiriannya.
"Jarak dari rumah ke kantor sangat jauh, Al---"
"Ada sopir yang bisa antar jemput kamu!" selak Alika.
"Aku nggak pernah suka di supirin, Al---"
"Mulai sekarang kamu harus suka!" Alika kembali menyelak.
"Maura juga pasti nggak nyaman kalau bukan tidur dikamarnya dan Papaku juga, nggak mungkin kan dia tinggal sendirian dirumah?Papaku udah tua, Al!"
"Ya udah kalau gitu, biar aku aja sama Ammar yang tinggal disini!" Alika tetap dalam keputusannya.
Sejujurnya wanita itu belum bisa berfikir jernih, ia belum konsisten dengan janjinya. Kadang hari ini ia akan bilang A, jika suasana hatinya sedang baik. Namun ketika kesedihan itu muncul, maka ia akan bilang B. Alika masih belum menerima kepergian anak mereka dalam waktu sedekat ini.
"Berarti kamu tega ninggalin Maura sendirian dirumah? Gimana PR nya? Gimana sama makannya? Dia udah lama ditinggal kamu seminggu, Al!"
Alika terdiam lama. Bukan itu yang ia mau. Merasa istrinya hanya diam, Bilmar mengira Alika akan berubah fikiran. Memang Maura lah menjadi alasan jitu untuk membujuk Alika.
Namun, Bilmar kembali salah menebak.
"Makanya Maura disini aja, Bil. Ada Binar juga dan Gadis, bisa bantuin PR Maura. Kondisi aku masih kayak gini, aku masih belum fokus dan Papa Bayi juga pasti mengerti."
"Terus gimana sama aku?" Volume suara Bilmar terdengar meninggi.
"Ya kamu juga disini, Bil! Sama aku dan anak-anak. Apa susahnya sih?" Alika ikut meninggikan suaranya. Membuat Ammar yang sudah terlelap sedikit mengerjap kan mata lalu tertidur kembali.
"Ya tapi nggak harus tiga bulan disini, Al. Tolong ngertiin aku..."
Alika menoleh, memutar tubuhnya dan menatap jelas wajah suaminya.
"Apa salahnya? Ini kan rumahku juga, rumahmu! Apa bedanya tinggal disini dan disana?"
Alika masih memandang lurus kedua mata suaminya. "Aku hanya minta sedikit pengertian dari kamu, Bil. Semua ini sulit bagi aku!"
Bilmar hanya diam. Ingin ia terus menyadarkan istrinya kalau dirinya pun sulit. Namun tetap saja semua ini harus dijalani dengan lapang dada. Namun sepertinya pemikiran Bilmar tidak diterima begitu saja oleh istrinya.
"Tolong mengerti aku, Bil. Aku sudah mengikuti kemauan mu untuk tidak mengeluh dan tidak sering menangisi mereka. Tapi aku juga manusia yang rapuh, Bil. Aku butuh waktu. Sudah berkali-kali aku ditinggalkan orang-orang yang ku kasihi dengan cara mendadak. Itu berat, Bil! Jujur aku belum bisa menerima kepergian anak-anak kita!"
Bilmar kembali terdiam. Ia terus saja memijit-mijit celah dahi nya. Ingin ia peluk istrinya dan menenangkannya kembali. Tapi sepertinya itu sangat mustahil. Alika tetap saja tidak akan merubah niatnya. Lalu Bilmar menyerah, ia tidak ingin ribut malam ini. Bilmar hanya mendiamkan Alika dan bangkit turun dari ranjang untuk meninggalkan kamar. Lelaki itu yakin bahwa besok Alika pasti akan mengikuti kemauannya.
****
Satu bulan berlalu. Alika tetap dalam pendiriannya, ia tidak mau pulang dulu ke rumah. Ia masih ingin berada disini, dirumah Papa Luky. Entah mengapa hatinya terasa sejuk jika berdekatan selalu dengan Papa dan Adiknya. Sekumpulan semangat kini sudah kembali ia kantongi.
Walau Bilmar selalu mengeluh capek, letih dan lelah ketika sampai dirumah Papa Luky sehabis pulang dari kantor. Ini ia lakukan agar Alika kembali lagi kerumah. Namun tetap saja Alika hanya ingin dirumah Papanya.
Sudah pukul 11 malam, Bilmar belum juga pulang. Alika masih saja mondar-mandir diruang tamu untuk menunggu suaminya pulang. Ia cemas dan khawatir, mengapa bisa suaminya pulang selarut ini. Fikiran yang tidak-tidak terus saja menghias kepalanya.
"Ada apa ya?" Alika bergumam sendiri.
Ia terus menatap layar ponselnya yang sedari tadi ia gunakan untuk menelpon suaminya. Namun Bilmar tidak menjawab panggilan teleponnya dan tidak membalas pesan darinya.
"Kamu kemana, Bil!" Alika semakin resah. Waktu terus saja berputar, kini waktu menunjukan pukul 00:00.
"Sudah tengah malam, tapi Bilmar belum pulang juga?" Akhirnya ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Binara.
Belum sampai tangan itu terayuh, seketika terdengar suara ketukan dari pintu utama. Membuat Alika urung untuk membangunkan Binara, ia sudah tahu itu pasti suaminya yang pulang. Dengan cepat Alika melesat menuju pintu utama, walau masih ada rasa linu di bekas jahitannya ketika ia sedang berlari.
Krek
Pintu dibuka lebar.
Seperti petir yang tengah mencacah langit dengan suaranya. Begitu pun pandangan Alika saat ini, terasa sakit dan pedih menatap keadaan lelaki yang ia tunggu selama berjam-jam barusan. Telapak kaki Alika seketika lemas tidak berdaya. Air matanya menetes turun dan jatuh, ia tidak akan menyangka sama sekali keadaan Bilmar seperti ini. Alika pun menjerit frustasi.
Apakah karena kecelakaan?
Bukan!
Tapi, karena malam ini Bilmar pulang dalam keadaan yang tidak lazim.
Bilmar mabuk!
Lelaki itu pulang dalam keadaan mabuk, ia terlihat sempoyongan, setengah sadarkan diri. Pak Adit masih setia merangkul Bilmar agar bisa berdiri maksimal. Walau berkali-kali tubuh Bilmar begitu saja menggelosor dilantai.
"Maaf, Bu. Bapak kebanyakan minum. Saya sudah coba ingatkan, tapi beliau tetap saja ingin minum banyak."
"Sayang...Alika ku.." Bilmar merancau mendekati tubuh Alika dan menciumnya.
"Aku kangen kamu sayang..." rancaunya lagi. Membuat Alika tidak enak hati kepada Pak Adit.
"Kalian dari Klub malam?" tanya Alika dengan keberanian.
"Bil jawab! Kamu dari mana?" Alika beralih menatap suaminya yang masih mendekap dadanya. Posisi itu membuat tubuh Alika seperti ingin jatuh karena menahan berat.
"Maaf Bu, kami tidak dari Klub malam. Tadi ada undangan makan malam dengan klien, namun kami disuguhkan dengan minuman beralkohol. Dan Bapak memilih untuk meminumnya."
Terlihat wajah Alika memerah karena menahan amarah. Air mata yang tadi menetes kini sudah surut.
"Makasi Pak sudah mengantar Bilmar, Pak Adit bisa pulang sekarang." Alika dengan refleks mengusir Pak Adit dengan paksa dan halus. Hatinya sudah kepalang tanggung emosi. Ia tidak akan menyangka Bilmar bisa melakukan hal seperti ini.
Kebetulan diwaktu bersamaan. Binara keluar dari kamar untuk mengambil air minum dingin ke dapur. Ia menoleh ketika mendengar suara ribut dari ruang tamu.
"Sudah tengah malam, suara apa itu? Kayak ada yang sedang ribut?" bisik Binara, awalnya ia takut. Namun tetap ia paksakan untuk melangkah mendekati suara tersebut.
"Ya Allah, Kakak!" seru Binar sambil menutup kedua mulutnya. Ia tidak percaya jika Alika sedang menyeret tubuh Bilmar yang sedang mabuk untuk dimasukan kedalam kamar mandi.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Kak Bilmar?" Binara terus bertanya.
Alika tidak menjawab, ia terus menyeret tubuh suaminya yang menggelosor dilantai untuk masuk ke dalam kamar mandi. Bilmar yang tidak sadar hanya bergumam tidak jelas, kadang ia mendendangkan nada, sedih, marah dan tertawa.
Alika tetap memasukan suaminya kedalam kamar mandi. Alika meraih gagang shower untuk diarahkan ke tubuh suaminya. Bilmar masih saja duduk menyandar di dinding kamar mandi, ia masih saja merancau.
Dan
Brrr
Air dingin begitu saja menerpa kemeja kerja Bilmar. Membuat lelaki itu gelagapan karena hawa dingin dan basahan air menjadi satu menggeluti tubuhnya.
"Kebangetan kamu, Bil! Aku tungguin kamu sampai tengah malam. Dan kamu malah MABUK!!"
"Siapa yang ajarin kamu kayak gini!"
"Bahkan kita baru saja kehilangan anak, kamu masih sempat seperti ini!"
"Keterlaluan kamu, Bil!"
"Ayo sekarang kamu mandi! Biar menghilang minuman alkohol itu dari dalam tubuh kamu!"
Rentetan kemarahan Alika terus saja mencuat untuk suaminya. Bilmar terus merancau belas kasih kepada Alika, dalam setengah kesadarannya.
"Kak..Kak.." Panggil Binara dari luar pintu kamar mandi yang sengaja dikunci oleh Alika.
"Istri mana yang tidak akan marah, jika melihat suami pulang dalam keadaan mabuk seperti ini, Bilmar!" suara Alika semakin meninggi. Ia terus saja menghardik suaminya.
"Kamu cantik sayang kalau sedang marah.." Bilmar sedikit tertawa. Membuat emosi Alika semakin naik.
Pada tengah malam seperti ini. Alika terus saja mengguyur suaminya dengan air dingin. Memandikan lelaki itu agar cepat sadar. Alika menangis. Wanita itu terus menangis sampai dimana gagang shower ia lempar ke bath up. Ia menyesal mengapa keadaan rumah tangganya menjadi seperti ini setelah kehilangan si kembar.
Bilmar frustasi. Ia rindu Bilka dan Abrar, mengapa kepergian begitu sangat terasa saat ini. Ditambah lagi ia rindu menjamahi istrinya, namun ia sadar, ia belajar dari pengalaman. Kalau ia tidak akan memaksakan hasratnya yang bisa membuat istrinya terluka.
Bilmar tidak sekuat itu.
****
Sejak kejadian malam itu, Alika tidak lagi berbicara hangat dengan suaminya. Setiap Bilmar mendekat, Alika menolak. Terlihat ada jarak diantara mereka. Bahkan disaat Bilmar memutuskan untuk kembali kerumah Papa bayu, Alika mengiyakannya. Ia tidak melarang sama sekali.
Satu minggu sudah mereka berpisah. Mereka tidak lagi berbagi tempat tidur atau saling memeluk seperti biasa. Dua pasangan suami istri ini sebenarnya saling merindu, namun egois dikedua nya tetap saja membulat.
"Papa..." seru Maura ketika melihat Bilmar baru saja datang dari ambang pintu. Lelaki itu memeluk dan mencium anaknya yang sangat ia rindukan.
"Papa bawa bunga sama cokelat?" tanya Maura.
"Cokelat buat Maura, kalau bunga buat Mama. Mama lagi apa, Nak?"
Maura hanya diam menatap Papanya. Ia lebih memilih mengambil cokelat dan kembali bermain.
"Baru datang, Bil? Malam banget." Rendi menghampiri Bilmar di sofa. Lelaki itu pun memutar bola matanya untuk melihat jam yang sudah menunjuk pukul delapan malam.
"Iya Ren, kebetulan jalanan macet tadi."
Selama satu minggu ini Bilmar membiarkan Alika bersama Maura dan Ammar di rumah Papa Luky. Sedangkan dirinya tetap pulang kerumah Papa Bayu. Hal ini ia lakukan, karena tidak ingin membuat Bilka dan Abrar kehilangan dirinya.
Ia seperti percaya jika sebelum empat puluh hari berakhir, arwah anak-anak mereka masih setia dirumah. Dan ia memancing agar Alika mau ikut dengannya, nyatanya sang istri tetap dalam pendiriannya. Ia tetap ingin di rumah Papa Luky.
Dari dalam kamar.
"Berikan Ammar kepada Bilmar, aku tau dia rindu dengan anaknya, Bin.." Alika menyerahkan Ammar kepada Binara.
"Tapi, Kak. Selama seminggu ini kalian tidak pernah bertemu, aku tau kamu juga rindu sama papanya anak-anak."
"Sudah sana, aku nggak mau Bilmar menyusul ke kamar!"
"Tuh liat jerawat kamu, udah segede giok. Masih nahan untuk nggak ketemu Papanya anak-anak?" Binara meledek wajah Alika yang menyembulkan satu jerawat di dagunya. Wajah Alika memerah karena menahan malu.
"Udah sana!" Alika berdecak kesal.
"Ya, ya baiklah----" Binara mengalah untuk tidak berdebat. Ia tahu sekali ada cahaya rindu yang menerpa wajah sang Kakak. Tapi ia tahu Alika masih marah kepada Kakak iparnya.
Kening Bilmar berkerut-kerut, ketika melihat Binara membawa Ammar seorang diri digendongan nya.
"Alika nya mana, Bin?"
"Kamu tau lah, Kak. Gimana Kakakku." Binara memberikan Ammar kepada Bilmar. Anak lelaki itu terlihat sedang mengemut jarinya. Bilmar kembali menghujani wajah Ammar dengan kecupan rindu.
"Duh kangen banget Papa sama kamu, Nak--" Ammar seperti biasa, ia akan tertawa jika Bilmar membercandai nya.
"Rayu Alika, Bil. Susul istrimu ke kamar." sahut Rendi.
"Tapi kakakku pantas marah! Karena Kak Bilmar sudah keterlaluan pakai mabuk segala, sayang.." ucap Binar kepada Rendi.
"Maaf, Bin. Waktu itu aku khilaf. Fikiranku sedang kacau."
"Makanya jangan sok kuat, kami tau persis hati kalian masih belum bisa menerima. Maka dari itu Kakakku ingin kalian disini dulu. Ia hanya ingin mengumpulkan kekuatannya saja!"
"Wajar kan dalam keadaan seperti ini dia butuh aku, butuh papa dan butuh keluarganya untuk menemaninya? Jangan lupakan, Kak. Kamu yang memaksa Kakakku, untuk hamil lagi!"
"Bahkan rasa sakit melahirkan Ammar saja belum pupus dari ingatannya. Lalu kemudian hamil anak kembar. Ia harus membagi kasih sayang dengan Ammar yang masih terlalu kecil kepada dua anak anak kembar kalian!"
"Tidak hanya disitu, Kakakku juga merasakan masalah di awal-awal kehamilannya, harus menjaga pola makan. Berjuang sebaik mungkin untuk mempertahankan anak-anak kalian!"
"Lalu sekarang? Anak-anak kalian tiada, pergi meninggalkan kalian begitu saja. Kamu aja sakit, Kak. Apalagi Kakakku, dia yang mengandung dan dia juga yang melahirkan! Bahkan sampai saat ini, ia masih suka menangis karena menahan sedikit linu di bagian lukanya. Apa kamu mengerti semua itu? Apa kamu faham?"
Demi mewakili sang Kakak, Binara mengeluarkan unek-unek yang ada didalam hati Alika kepada Bilmar. Membuat Bilmar terdiam, tercengang dan terperangah. Seketika lelaki itu terdiam agak lama. Mengapa baru sekarang ia menelaah apa alasan dibalik keinginan istrinya. Air mata Bilmar menetes.
"Maafkan aku, Binar. Aku salah!" suara Bilmar terdengar bergetar.
"Tolong gendong Ammar, Bin. Aku mau menemui istriku." Bilmar menyerahkan Ammar kembali kepada Binar.
Membuat bayi gendut itu menangis. Ia merindukan Papanya. Namun saat ini Bilmar ingin kembali merebut kata maaf dari bibir istrinya. Ia melangkah cepat untuk menyusul Alika ke dalam kamar.
"Sayang..." Panggil Bilmar ketika sudah berhasil membuka pintu kamar dan mendapati istrinya masih duduk ditepian ranjang.
Bilmar menjatuhkan tubuhnya dengan kedua lutut menyangga dirinya. Ia menangkupkan wajahnya di atas paha Alika. Memeluk perut istrinya dan menangis.
"Aku banyak salah sama kamu, Al...aku minta maaf!" Bilmar menangis terisak-isak.
Begitulah istri, ketika melihat suami yang dicintai seperti ini, tentu saja hatinya tidak tega. Alika sangat merindukan Bilmar, pun sama dengan Bilmar. Ia merindukan istrinya.
"Aku tau kok kamu nggak sekuat ini melepas kepergian anak-anak kita!"
"Kamu hanya pura-pura selama ini, Bil. Supaya aku kuat kan? Supaya aku bisa berlapang dada kan?"
"Aku tau kok, malam-malam kamu selalu bangun dan nangis! Kamu selalu usap-usap foto usg anak kita!"
"Dan dikantor pun aku tau kamu suka nangis! Kamu gak nafsu makan, kamu suka melamun. Aku tau, Bil!"
Bilmar mendongakkan wajahnya. Ia menatap istrinya dengan leleran air mata. "Kok kamu bisa tau, Al?"
"Aku selalu telepon Katherine untuk pantau kamu. Dia yang laporin semua aktivitas kamu ke aku. Kamu fikir aku rela lepasin kamu gitu aja sendirian?"
Bilmar melongo tidak percaya. Ternyata perhatian Alika tidak pernah menghilang darinya.
"Tapi aku nggak bisa apa-apa, Bil. Aku gak bisa pura-pura bohong untuk kuatin kamu, karena aku juga sedang rapuh, Bil. Aku masih belum bisa menerima kepergian mereka, walau aku lagi nyoba untuk ikhlas. Namun itu semua masih sulit!"
Bilmar mengangguk. Ia mengerti dan faham sekarang. Bahwa diri mereka masih rapuh dan tidak kuat.
"Kamu gak perlu membohongi diri sendiri untuk bersikap seolah sudah kuat dan menerima, hanya untuk menyenangi hati aku, Bil."
"Kalau kamu mau nangis, kamu lagi rindu sama mereka. Aku siap dengerin. Aku siap peluk kamu, aku kan istri kamu, kamu mau lari kemana selain ke aku, Bil?"
Dada Bilmar semakin terhimpit. Terbuka lebar mata dan hatinya akan tamparan dari setiap perkataan istrinya. Bahwa ia tidak perlu menjadi orang lain. Lepaskanlah semuanya dengan apa adanya, saling bersama-sama melepas kesedihan lalu berubah menjadi kebahagiaan.
"Maafin aku ya, Al. Aku udah egois. Aku gak mikirin perasan kamu, keadaan kamu yang udah berkorban banyak."
"Iya, Bil. Aku maafkan kamu---"
Mereka pun saling berpeluk dalam kesedihan.
*****
Tiga bulan berlalu pasca kepergian putra dan putri mereka. Alika memenuhi janji untuk kembali pulang kerumah. Hatinya sudah lebih tegap, ia sudah kuat untuk masuk kedalam kamar almarhum anak-anak mereka. Memang semua butuh proses.
Alika terlihat sudah mengikhlaskan Bilka dan Abrar. Wanita itu sudah kembali ceria dan bergelora lagi. Seperti di malam panas ini. Bilmar yang sudah menahan hasratnya selama sembilan puluh hari akhirnya terbayar dimalam ini.
"Ayo sayang...eugh." Rintihan Bilmar ketika merasakan tubuh Alika bergerak diatas tubuhnya. Malam ini, Bilmar meminta Alika yang memimpin permainan. Ia ingin melihat istrinya bersemangat lagi.
"Keluarin tenaga kamu sayang, aku tau kamu rindu ini." bisik Bilmar ketika ia membantu memegang pinggul Alika yang sedang bergerak secara sensualis untuk menyentak inti ditubuhnya.
Ia tersenyum ketika melihat istrinya melenguh.
"Kamu cantik, sayang.." Bilmar terus saja memuji Alika, membuat hasrat istrinya semakin berkobar. Dengan gerakan turun naik, membuat rambut Alika terkibas-kibas berantakan. Semakin mendidihkan gelora Bilmar untuk kembali menginvasi rongga mulut istrinya.
Alika merasa pinggulnya menegang. Seperti ada ledakan yang akan menyembur keluar. Dadanya membusung ke udara.
"Bil..." Rintih Alika.
Dirasa sang istri akan menembus puncak, Bilmar pun dengan cepat menggulingkan tubuh Alika. Ia kembali memimpin permainan. Menghentak-hentak miliknya dengan cepat. Dan mereka berdua akhirnya menembus pangkal kenikmatan.
Nafas keduanya saling memburu. Terengah-engah dan berkeringat.
Namun tak berapa lama wajah Alika menegang dan memerah. Ia mendelik tajam menatap lurus dua netra pekat milik suaminya. Bilmar masih setia berada diatas tubuhnya belum mau melepas persatuan mereka.
"Bil?"
"Iya sayang..."
"Tadi kamu dengar?" tanya Alika, takut-takut ia salah dengar.
Bilmar mengangguk senyum. "Ia aku dengar, Al.."
"Seperti suara cekikan bayi, Bil..."
"Iya betul, Al!" Bilmar membenarkan perkiraan Alika. Padahal itu adalah suara yang terdengar dari dalam boneka Maura yang koslet. Entah mengapa selalu berbunyi ditengah malam.
"Apa itu----?" suara Alika terdengar sangat pelan. Seketika bulu kuduknya merinding.
"Itu hanya jin yang sedang menjelma menjadi Bilka dan Abrar! Tidak usah direspon." Bilmar terus mengerjai Alika dengan dramanya.
"Berarti kamu sudah sering?"
"Sering diganggu---" sambung Bilmar.
"Apalagi dulu aku sempat tidur sendiri tanpa kamu, kakiku seperti sedang digilitik. Kadang kelopak mataku seperti ada yang menyolok-nyolok. Tangan juga seperti ada yang suka mengelus." Bilmar terus saja mengada-ada.
Alika melototkan matanya, ia terihat meringis.
"Wajar, Al. Jangan takut. Besok kita ke makam ya, jenguk Bilka dan Abrar..." Bilmar sengaja membohongi Alika agar istrinya mau mendatangi makam. Untuk menebar bunga dan melihat fisik rumah anak-anak mereka. Karena sampai saat ini Alika masih belum siap menjenguk makam mereka. Alika masih belum bisa menghilangkan rasa tega dari hatinya meninggalkan Bilka dan Abrar seorang diri didalam tanah.
Alika mengangguk pasrah. "Iya Bil, kita akan kesana..Doakan anak-anak kita."
Bilmar menurunkan kepalanya untuk berbisik ditelinga Alika.
"Tuh, dia lagi disamping kamu."
"Siapa, Bil?"
"Tuyul!"
Bilmar terus saja menggoda istrinya. Alika dengan ketakutan maksimal, hanya bisa memeluk suaminya dengan erat.
"Ahhhh...takut!" Alika berteriak nyaring, namun seketika ia terdiam ketika mendengar gelak tawa Bilmar menggema di udara.
"Kamu bohongin aku ya, Bil?"
"Ahh...sakit sayang." Bilmar seketika mengeram ketika Alika mencubit perutnya. Bilmar kembali memeluk Alika dan mencium keningnya.
"Sampai tua ya, sama aku..."
"....Iya, Bil."
.
.
.
.
***
TAMAT
Mau Info guys : MPS Season tiga sudah hadir ya, ada di profil ku. Tinggal kesana aja untuk cari.
Oh iya boleh follow IG aku ya @megadischa Aku suka tulis seputaran novel-novel ku❤️