Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Baru Lagi.


Assalammualaikum guys, moga selalu sehat ya, aamiin. Aku ada inpo cerita baru lagi yang aku taro di tempat bacaan gratis yaitu di F I Z Z O.


judulnya SANG CASANOVA bisa cari judul dan cari nama aku di sana (MEGADISCHA) atau DM ke Instagram ku @megadischa.


Berikut Blurb dan Bab 1 nya.


"Jangan panggil aku ... Odelia, Pak Tua! Namaku, Dara!" seru gadis muda yang sedang hamil lima bulan kepada lelaki brewok yang tak terurus karena terus menyebutnya sebagai istri.


"Tolong jangan permainkan aku seperti ini, aku sudah lama mencarimu. Ayo kita pulang ke rumah, sayang. Kamu istriku, wanita yang paling aku cintai," pinta Langit memohon-mohon dengan binar mata bahagia karena istrinya yang dinyatakan hilang lima bulan lalu, kembali ia temui walau dalam kondisi tidak mengingat.


Di saat dulu Odelia begitu mengiba perhatian dan kasih dari suaminya itu, kini, keadaan seakan terbalik. Langit yang hampir tak bernapas karena kehilangan justru sekarang berjuang untuk kembali menggapai hati Odelia yang mana saat ini sudah mengarah kepada tambatan hati lain.


Mampukah, Langit mendapatkan hati Odelia secara utuh seperti dulu?


🌾🌾🌾🌾


Betul memang kata pepatah, hal yang tidak menarik akan terasa berharga ketika hal tersebut sudah sirna tanpa bekas. Begitu juga arti kata penyesalan yang selalu berada di akhir keadaan. Karena kalau tersemat


di awal, sudah pasti namanya pendaftaran.


Seperti halnya ... Langit Arbarayuda, yang lima bulan terakhir ini hanya mampu berbaring tak semangat di tempat tidur mewahnya seperti lelaki jompo tak bertenaga. Padahal dulu, seluruh orang tahu bagaimana Langit terlihat kuat sampai ke ruas-ruas tulangnya. Seperti namanya, ia di kenal begitu megah dan luas.


Lelaki berparas gagah itu terus menantikan kehadiran istri kecilnya, yang polos, yang selalu riang, yang juga cerewet dan banyak melakukan aksi gila untuk merenggut hati dan menggoda batinnya, yang mana sekarang entah kah sudah benar-benar tewas dalam kecelakaan maut? atau Odelia masih tetap hidup tapi tidak tahu tengah tersangkut di mana.


Langit menikahi Odelia bukan karena keterpaksaan, bukan juga karena orang tua Odelia yang mempunyai hutang. Tapi, Langit yang sudah empat kali menikah dan selalu bercerai itu, mulai jatuh hati kepada gadis muda yang mampu meluluhkan kekakuan di dalam dirinya, hanya karena menolong anak kucing yang akan menyebrang di jalan raya.


Segala cara ia lakukan untuk mendekati Odelia, sampai gadis itu bertekuk lutut mencintainya dan mau di nikahi di usianya yang masih muda, dua puluh tahun.


Hanya saja, Langit yang mempunyai tempramental tinggi, cepat tersinggung dan sulit romantis. Seringnya bersikap kaku kepada Odel, sampai gadis itu sering bertanya-tanya benarkah Langit mencintainya atau sekedar mengejar keperawanannya semata?


"Gimana, Mbak? Sudah mau makan?" tanya Jeni, mantan istri ke dua Langit yang pagi ini kembali datang kepada Amara, istri pertama Langit.


Sembari menutup pintu kamar Langit, Amara menggeleng. "Seperti biasa, susah, Jen."


Amara mendaratkan bokongnya di sebelah Jeni dengan menghela napas berat. Ia merasa lelah, mengurus mantan suami yang masih merasa patah hati saat Polisi mengatakan kalau pencaharian Odelia di kedalaman jurang sudah di hentikan dua hari lalu.


"Mas Langit benar-benar mencintainya, ya, Mbak. Aku salut lho sama, Odel. Dia itu bisa banget ambil hati, Mas Langit."


"Ya, dan aku menyesal. Kenapa waktu itu aku tidak mencegah kepergiannya."


Seolah mengingat bayang wajah Odelia yang selalu tampak ramah dan manis kepada mantan istri-istri Langit yang semuanya berhasil memberikan lelaki itu anak.


Jeni yang juga sudah menikah lagi seperti Amara, ikut penat memikirkan keadaan Langit yang tak lagi semangat untuk pergi ke kantor. Bukan karena masih cinta jadi mau mengurus lelaki itu sekarang, hanya saja, anak-anak mereka butuh nafkah dari Langit. Apalagi bisnis Langit sedang berkembang pesat di jagat maya industri. Ia selalu hadir di majalah-majalah investor ternama untuk menjadi sasaran tepat para penanam saham.


Tapi, semua seakan hancur ketika Odelia pergi begitu saja dari hidupnya tanpa aba-aba.


"Waktu itu dia bilang mau pergi ke rumah, Mbak Sekar. Apa jangan-jangan?" iris mata yang membesar itu lekas redup lantaran sorot mata Amara terlihat begitu tajam menusuk.


"Sudahlah jangan menuduh. Kita semua kan sudah di periksa polisi. Dan mereka tidak menemukan apa-apa. Jadi jangan lagi kamu coba-coba melempar bara api kepada saudaramu sendiri. Paham, Jeni?" bagi Amara, mantan istri-istri Langit yang lain sudah ia anggap sebagai saudara bukanlah musuh seperti yang sering Jeni kemukakan. Jika jeni bisa bersahabat kepada Amara dan Odelia. Tapi tidak kepada dua mantan istri Langit yang lain yaitu Sekar dan Elga.


"I-iya, Mbak. Maaf," balas Jeni patuh yang sampai saat ini tidak percaya jika Odelia benar-benar sudah tiada. Walau saat Langit menikahi Odelia, Jeni menaruh rasa cemburu, bukan karena cemburu akan perasaannya. Tetapi, ia takut perhatian Langit kepada anaknya, bisa berubah hanya karena kehadiran Odelia.


Kamar mewah yang Langit izinkan untuk berubah warna menjadi cerah hanya karena permintaan Odelia beberapa waktu lalu, kembali terasa usang nan gelap.


Seolah Langit sedang berjalan dalam terowongan gelap tak tentu arah dalam tujuannya. Odelia ... si berisik, seperti itu lah ketika Langit memakinya karena tak mau diganggu saat sedang fokus bekerja, bagaikan sebuah rumah untuk benar-benar istirahat dari segala aktivitas kotor yang masih ia lakukan sampai detik ini.


Dengan wanita itu, ia dapatkan lagi kepercayaan diri bahwa ia adalah lelaki yang pantas untuk dicintai dengan sempurna. Dengan Odelia, ia yang sudah berumur tiga puluh lima tahun serada pemuda perjaka berusia 22 tahun. Dengan Odelia pula, perlahan-perlahan hatinya mulai tenang karena setiap hari mendengarkan lantunan ayat Al-Quran.


Namun yang menyedihkannya, selama bersama Odelia. Selama masih bersama wanita yang begitu mengabdikan diri untuk mengurusnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, Langit seolah tak memiliki waktu banyak. Ia juga suka melewatkan janji untuk sekedar makan malam bersama di suatu tempat.


"Sepertinya selama ini aku memang hanya cinta sendiri, ya, Mas. Kamu nggak pernah anggap aku spesial. Berapa waktu mu per jam? Bisa kah aku beli dari sisihan uang belanja yang setiap bulan kamu beri?"


"Jangan ke kanak-kanak an, Del! Saya ini sedang kerja. Ada proyek besar."


"Mana ada sih, Mas. Kerja yang dari pagi sampai ke pagi lagi?"


"Sudah lah jangan cerewet! Apa yang saya lakukan ini sangat penting! Toh, hasilnya, kamu juga yang akan menikmati."


"Kalau di bandingkan aku, lebih penting mana?"


"Ya, proyek lah! Mau makan dari mana kamu, kalau bukan dari sini?"


"Mungkin kamu nggak percaya kalau mengajak istri jalan-jalan itu pahalanya lebih besar di hadapan Allah, Mas."


Percakapan terakhir sebelum Odelia dinyatakan hilang setelah kendaraan yang ia tumpangi masuk ke dalam jurang, terus membekas, berputar-putar di kepala.


Dalam baring miring menatap jendela yang hordeng nya tidak mau di seka, Langit meremat kain seprai sampai otot-otot hijau menyembul di punggung tangan, seolah suasana hati yang tengah karam, tergambar seperti itu.


"Gimana nih, Mbak? Kita masuk, temuin, Mas. Atau, gimana?" Jeni terlihat bingung dengan nada bergetar cemas namun takut.


Amara yang juga takut, hanya bisa menghela napas lelah. "Kamu nggak lihat ini?" Amara tunjuk dahi sebelah kanannya. Sebuah perban kecil yang bertengger di sana untuk menutup luka akibat hantaman asbak dari tangan Langit, membuat Jeni mengangguk paham.


"Jadi biarkan aja dulu, Mbak?"


"Masa dibiarin sih, kamu tuh emang lemot, Jeni!" rutuk Amara yang lekas merogoh ponsel di saku celana, menghubungi Abimana, sang asisten pribadi Langit.


Jeni hanya bisa mencebik dalam hati dan berpura-pura tawa di hadapan Amara kalau ia sedang di hina. Karena yang ia takuti dan ia segani memang hanya Amara ketimbang mantan istri yang lain. Atau pun, Odelia.


Sepuluh detik mengulang panggilan kepada Abimana yang tak kunjung di angkat, membuat Amara berdecak kesal. "Kemana sih dia. Bisanya cuman makan gaji buta aja-" makian itu terjeda, karena tiba-tiba sosok yang dibicarakan sudah menyembul keluar dari lift yang tak jauh berhadapan dari pintu kamar Langit.


"Saya telepon kamu, Abi! Kenapa nggak diangkat?" cecar wanita berusia tiga puluh dua tahun itu yang bibirnya merah menyala dengan potongan rambut ala lelaki.


"Maaf, Bu. Hape tertinggal di mobil. Saya langsung buru-buru turun karena ada hal yang ingin saya informasikan langsung kepada, Bapak."


"APA?" tanya Jeni dan Amara bersamaan dengan dagu terangkat naik.


Seolah berita baik ini hanya boleh di dengar Bos nya, Abi hanya berucap maaf dan melewati mereka berdua untuk segera masuk ke dalam, menyambar tubuh Langit yang sudah ia yakini pasti tengah mengering di pembaringan.


Dan nyatanya, lelaki itu tidak ia temukan di ranjang.


"Pak Langit?" panggil Abimana dengan mata memendar ke sekeliling sampai pencaharian itu terhenti ketika ia dengar ada suara air mengalir di kamar mandi walau lampu nya tak menyala.


"Pak? Apa Bapak sedang di dalam?"


"Pak?"


"Pak Langit?" terus memanggil dan mengetuk pintu pelan. "Saya mau kasih kabar, Pak. Kabar baik-"


"APA?" lekas mengusap dada karena kaget ketika Langit sontak membuka pintu kamar mandi dengan keadaan bertelanjang dada yang hanya menyisakan boxer untuk menutup bagian inti tubuhnya.


Rambut yang sudah terlihat panjang dan brewok di wajah seakan kuyu karena siraman air dari shower yang menggulung diri. Abi yang memandang lesu nan kasian akan penampilan Langit yang tak terurus itu, tersenyum.


"Ibu ketemu, Pak. Saya berhasil menemukan beliau."


Seakan tubuh yang terlilit api sontak di siram air es, Langit melebarkan pupil mata dengan jantung berpacu kuat. Ia sampai menarik kerah kemeja Abi untuk memperjelas ucapan lelaki itu.


"Odelia Magandi Nastiti, si sayangku? Iya? Benar, dia yang kamu ketemukan?" padahal ini adalah berita yang amat membahagiakan, tapi, mengapa Abi jadi sulit bernapas? Mungkin karena tangan Langit yang seolah mencekik lehernya.


"Be-bena-"


"Benar kamu, Bi? Benar? Benar, Odelia? Dia?" terus mencecar dengan pandangan kosong, dan di detik selanjutnya, tanpa senyum dan dalam keadaan tubuh masih basah, Langit melepas rematan di kerah kemeja Abi untuk melewati lelaki itu dan merebah lagi di ranjang. Langit yang memang kata Dokter sedang mengalami yang namanya depresi, seakan sudah kehilangan harapan. Apalagi Polisi berkata bahwa pencaharian yang tidak membuahkan hasil sampai sekarang itu sudah di tutup.


"Ayo berbenah, Pak. Kita jemput, Ibu." Abi duduk di tepi ranjang, menggoyangkan kaki sebelah kiri Langit yang merebah menelungkup ke atas kasur. Punggung yang dulu terlihat tegap dan lebar itu seolah mengecil karena kurus. Langit tak mau makan, ia hanya ingin kopi susu, persis seperti kesukaan Odelia.


Langit yang masih tidak percaya, hanya tertawa sumbar. "Jemput kemana? Ke Surga? Saya nggak akan sampai ke sana, Bi. Surga terlalu jauh bagi saya yang hanya pantas kekal di, Neraka."


Mengingat Abi yang sebenarnya ingin mundur lama dari pekerjaan kotor ini, namun, dedikasi tinggi yang selama ini diberikan Langit kepadanya selalu menghalangi niat. "Surga dan Neraka itu adalah rahmat Tuhan kepada hambanya, Pak. Jadi raihlah hati Tuhan agar kita bisa mendapat rahmat itu-" terhenti, ketika Langit mendongakkan kepala menatap tajam Abi. Lekas bangkit dan duduk menyila.


"Ibu yang suka bilang begitu, Pak. Saya cuman ngulang aja," lanjutnya terbata-bata dengan kepala menunduk takut.


Ketajaman itu berubah datar, ketika Langit teringat ucapan Odelia saat gadis berkerudung itu selalu mengingatkannya tentang kewajiban sebagai muslim. Islam adalah Agama yang tersandang di kartu tanda penduduk Langit, walau hanya menjadi pemanis saja dalam hidup tanpa mampu ia resapi keindahannya.


"Saya memang nggak pantas untuk bersanding dengan dia. Makanya, dia pergi."


Abi kembali mendongakkan wajah, menatap Langit.


"Bapak yang tepat bersanding dengan, Ibu. Makanya sekarang Tuhan mengembalikan Ibu lagi-"


Di detik itu juga, pipi kanan Abimana terlempar ke arah kiri akibat hentakan keras dari telapak tangan Langit. Lelaki bertubuh kekar yang masih perjaka itu, tergugu dengan napas memburu. Lagi-lagi ia kena hantaman tanpa melalukan kesalahan. Perlahan Abi menatap lagi Langit yang kini tertawa melihatnya.


"Sakit, ya?" Langit menepuk bahu Abi dua kali. "Maaf, ya." dan tanpa rasa bersalah serta benar-benar menyiratkan kalau ia sudah tak waras, Langit kembali merebahkan diri di pusara kasur, termenung lagi, memikirkan Odelia.


"Di mana kamu, cintaku. Benarkah sudah mati?"


"Ternyata nama panggung Casanova yang mereka sematkan kepada Bapak, hanyalah semu." dalam etiologi Inggris, nama Casanova memiliki makna lelaki dengan banyak pengalaman asmara. Mereka dipandang kuat, tangguh dan tak cukup dengan satu wanita.


Tapi, setelah Odelia pergi yang mampu mempora-porandakan hidup Langit. Masih tepatkah makna itu bersandang sebagai namanya?


Sang Casanova.


🌾🌾🌾🌾bersambung🌾🌾🌾🌾


Aku tunggu di sana, ya, see you guys❣️