Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Huru Hara Maura


Haii aku kembalii, sudah dua episode beruntun dihari ini yaa..


Selamat baca guyss


🤗🤗


***


"Baik Nyonya saya permisi ya. Kalau ada apa-apa telepon saja, ada telepon rumah di dalam dan ada nomor kami disana.." ucap Bu Marni.


"Oh iya sebentar, ini, Nak. Ada cokelat buat kamu. Ayo ambilah!" Alika memberikan sebuah cokelat mahal kepada Sinta.


"Jangan Nyonya, ini sangat merepotkan Nyonya..."


Mendengar ucapan sang ibu, Sinta pun menurunkan kembali tangannya.


"Nggak merepotkan sama sekali bu, Ayo Nak ambilah..!"


Karena melihat kebaikan hati Alika, Bu Marni pun terpana.


Dengan anggukan sang ibu, akhirnya Sinta teguh untuk mengambil cokelat itu dari tangan Alika.


"Makasi ya tante--"


Alika hanya tersenyum dan mengelus rambutnya yang hitam dan tebal.


"Baik Nyonya kalau begitu saya permisi, salam kan salam pamit saya kepada Tuan--" Bu Marni merubah tatapan matanya untuk melihat ke arah Bilmar yang sudah berada di dalam membawa koper-koper mereka untuk masuk.


"Baik Bu, akan saya sampaikan!" Senyuman Alika mengantar kepergian Bu Marni dan Sinta yang bersorai gembira karena cokelat yang ada dalam genggamannya.


Di area paviliun Berliana ini terdapat 5 paviliun. Dengan posisi saling melingkar yang berjarak sekitar 3 meter dari paviliun satu ke paviliun berikutnya.


Ada taman kecil yang mengapit setiap paviliun dan tidak lupa juga bangku penerima tamu dari kayu pun terpasang di taman, membuat aksen teduh dan damai.


Paviliun dengan dasar marerial rangka kayu hasil perpaduan kayu bangkirai dan kayu jati. Membuat paviliun ini terlihat mewah dan mahal. Pijakan lantai pun dari kayu, yang menariknya dipan tempat tidur di buat etnik dari pahatan permanen yang lagi-lagi terbuat dari kayu.


Brugg.


Semua koper sudah mendarat cantik di dalam kamar untuk sementara waktu.


"Sungguh indah---" seru Alika terus memandangi paviliun ini.


"Kamu suka sayang?" Bilmar memeluk tubuh istrinya dari belakang dan menciumi ceruk leher sampai ke pundak. Alika hanya membidik geli dan mengusap-ngusap pipi suaminya.


"Alhamdulillah Bil, aku terpukau. Andai saja Mamaku bisa merasakan semua ini sekarang. Tapi Allah lebih cinta padanya--"


"Saat ini, Mama kita sedang senang, Al. Melihat kita telah bersatu kembali."


Alika mengangguk senyum dan terus menatap jendela luar.


"Sayang..?"


"Hemm.." Bilmar masih memeluk tubuh istrinya dengan kedua mata terpejam.


"Aku kayaknya kasian kalau harus ninggalin Maura di kamar sebelah, lampu nya agak remang-remang gitu. Nggak kayak kamarnya di rumah, nanti malam pasti nangis--"


"Ya udah nanti aku ganti dengan lampu yang lebih terang." balasnya singkat.


"Tetap aja sayang..aku nggak tega lihatnya--"


"Terus maunya bagaimana?"


"Maura tidur sama kita aja ya, bertiga di kamar ini, bagaimana?"


Kedua mata Bilmar terbuka dengan cepat. Ia pun menoleh melihati istrinya, Alika meringis melihat perangai Bilmar saat ini.


"Loh kok gitu? Di rumah aja dia bisa kok tidur sendiri, anak tuh jangan di manjain, Al! Lagian liat tuh ranjang kita minimalis!" Bilmar mencari alasan.


"Minimalis dari mana, besar kaya gitu kok! Aku bukan manjain anak, Bil. Tapi kan kasian, aku nggak tega ah, masa dia tidur disebelah dengan keadaan kamar kaya gini."


"Kamar nya bagus kok, ada tv, ac, tempat tidur besar, dll nya. Kenapa kamu jadi nggak tega?"


"Ih kamu tuh, bilang aja kalau tidurnya nggak mau di ganggu!!"


"Iya kan tujuan aku bawa kamu kesini, biar kita bisa berduaan terus, Al--" Bilmar kembali menciumi bahu istrinya.


"Iyaa kaya kuman ama tubuh, beriringan. Heran deh gituan aja yang ada difikiran kamu!"


"Ya kan terbukti tuh, udah ada Bilka di perut kamu?"


"Bilka??" Alika mengulangi.


"Iya, Bilmar dan Alika---" Bilmar berdecis geli.


"Tapi aku mau nya Ammar, bagaimana??"


"Ammar??" giliran Bilmar yang mengulang.


"Iya, Alika dan Bilmar---" Akhirnya mereka berdua pun tertawa.


"Ya apapun lah antena nya, mau Bilka dan Ammar. Aku ingin mereka sehat--" sambung Bilmar.


"Iya sayang, aamiin--"


"Mama..Papa...sini, itu ada pantai!!" suara teriakan Maura dari luar paviliun.


Jika berjalan sedikit ke utara dari area Paviliun Berliana, kedua mata kita akan dimanjakan dengan deruan pantai yang mengharu biru berdesir disana.


Suara ombak pun semakin terdengar jelas ketika langkah Alika, Bilmar dan Maura tiba di bibir pantai.


Terkadang banyak wisatawan yang berjemur disini, tetapi mereka tidak diperkenankan untuk masuk kedalam kawasan area paviliun Berliana.


"Masya Allah Tabarakallah, Bil. Lihatlah, indah sekali ya--" seru Alika kepada suaminya.


"Sejuk ya, Al. Udaranya segar banget disini."


"Kapan-kapan aku akan ajak Dokter Hana, Bella dan Sofi untuk datang kesini, pasti mereka akan--"


"Guling-guling di pasir pantai karena saking senangnya." selak Bilmar dengan gelak tawa yang tidak urung-urung.


"Ih, kamu tuh! Mereka itu teman aku loh--"


"Iiihh---" Bilmar mulai menjauh menghindari cubitan dari sang istri.


Siapa musuh Alika? Kaneysa? Si kanebo kering itu? Tenang Al, wanita itu tidak akan lagi mengganggu kamu dan suamimu.


"Aku besok mau bawa Maura untuk berenang disana," Bilmar masih menatap pantai didepan matanya.


"Jangan ah, Bil! Nanti ada ombak besar bagaimana? Kan di area paviliun kita juga ada kolam renang khusus, berenang aja disana--"


"Ya udah baiklah, apa kata ibu ratu aja sekarang." Bilmar mencoba mengalah, ia lebih sayang dengan keinginan istrinya dibandingkan kemauannya sendiri.


"Maura ayo kembali..!" Alika melambai-lambaikan tangannya untuk memanggil Maura yang sudah bermain pasir disekitaran bibir pantai.


"Sayang, jemput Maura. Bawa ke paviliun. Ia belum makan sedari tadi, aku takut nanti dia sakit."


Alika menyuruh Bilmar untuk berjalan ke bibir pantai untuk membawa sang anak pulang. Alika pun memutar langkahnya untuk kembali ke Paviliun. Menyiapkan makan siang untuk mereka.


***


Malam sudah menjamah. Bilmar masih bersandar di tepian ranjang menunggu kedatangan sang istri yang masih sibuk di kamar Maura. Karena bujukan sang Papa tanpa diketahui oleh Alika, Maura akhirnya mau dirayu untuk tidur sendiri dikamar sebelah.


Sebelum itu, ada sebuah percakapan penting antara Papa dan Anak.


"Maura tidur sendiri ya, Nak. Nanti kalau mau pipis tinggal ketuk kamar Papa, Papa akan antar Maura ke kamar mandi."


"Kalau aku tidur disini, memang kenapa, Pah?"


"Tuh lihat.." Bilmar menunjuk perut Alika yang yang masih polos, walau sudah 2 bulan namun kandungannya masih terlihat kecil, karena di sokong dengan tubuh nya yang mungil dan kecil.


"Mama kan lagi ada dedek bayi nya didalam perut. Nanti kasian kalau tidurnya sempit--"


"Ya udah Papa aja yang tidur di kamar aku?"


Bilmar kembali menelan salivanya. Berfikir keras mencari cara agar anak ini menyerah.


"Kalau malam-malam Mama kesakitan dan muntah-muntah, bagaimana? Kan kalau ada Papa disini, bisa jagain Mama selalu--"


Maura terdiam, ia terus melihati Alika yang masih berbenah diluar kamar. Anak ini begitu sayang dengan sang Mama, tidak mau melihat Alika bersedih. "Ya Baik Papa, Maura akan tidur sendiri--"


"Nanti Papa akan temani Maura sampai tertidur, bacakan dongeng sebanyak Maura mau."


"Yeee hore!!" Maura memeluk sang Papa dengan sorai gembira.


Dasar Bilmar! Raja modus.


****


Alika awalnya merasa heran mengapa sang anak mau dengan mudah tidur sendiri. Ia fikir Maura akan merajuk dan menangis.


"Siap ya, sekarang sayang...!" Aba-aba Bilmar kepada Alika, ketika ia hendak melakukan pelepasan.


Lalu


Begitu saja terhenti mendadak.


Tok..Tok..


"Papah!!.pah..aku mau pipis lagi!" teriakan nyaring Maura diluar pintu kamar mereka.


"Astaga!! Anak kamu tuh udah 10x bolak balik ketuk pintu minta ditemani ke kamar mandi, Al!!" gerutu Bilmar disela-sela permainan mereka.


"Udah sana, anterin dulu anaknya. Nanti kalau sampai pipis di celana, kamu loh yang nyuci--"


Bilmar hanya menggeleng dan membuang nafasnya secara asal. Ia pun bangkit dari atas tubuh istrinya.


"Ett..et! Kamu yakin telanjang begitu keluar?"


"Eh iya--" Bilmar kemudian memakai pakaiannya kembali. Ia seperti orang frustasi yang sudah berkali-kali melepas pasang pakaian dari tubuhnya.


Ini sudah dini hari, sudah tiga jam mereka melakukan namun belum sampai ujung akhir pelepasan. Alika pun sudah lelah dan akhirnya memutuskan untuk tidur meninggalkan Bilmar yang masih sibuk menemani Maura.


Sepertinya Bilmar butuh keramas air dingin malam ini.


🤭🤭


****


Oh iyaa di part selanjutnya, aku akan undang tokoh lain untuk menyempurnakan liburan mereka disini. Penasaran kan?Ayo tebak siapa?hehehe, stau tune terus ya😘❤️


Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘