Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Aku tidak mau membahasnya!


Haii cinta-cinta, aku balik lagi nih🖤🖤 bawakan Tiga part beruntun sekaligus. Nggak tau yah yang part selanjutnya bakal cepet lolos review atau nggak..


Yuk guyss selamat baca yaa


🤗🤗🤗


***


Terlihat Alika sudah tenggelam di dalam air yang menggenang di bath up. Hanya tersembul pucuk rambut yang terlihat.


Dengan cepat Bilmar merengkuh tubuh sang istri untuk naik ke permukaan. Wajah Alika sudah putih pucat, bibirnya kering mengeriput.


"ALIKA KU..BANGUN SAYANG!!"


Bilmar kembali menangis, ketika mengangkat tengkuk leher wanita nya. Ia memukul-mukul pipi Alika dengan hentakan kecil agar istrinya cepat bangun dan sadarkan diri. Bersyukurlah ada hembusan nafas pelan dari lubang hidung Alika.


"Pah..." Bilmar menoleh menatap lirih Papa Bayu.


"Angkat dulu Alika, Nak. Ganti baju nya!"


Bilmar mengangkat tubuh istrinya dari riakan air yang sudah membelenggunya sampai tidak sadarkan diri.


Papa Bayu memutuskan untuk keluar dulu dari kamar. Membiarkan Bilmar leluasa untuk mengganti pakaian istrinya.


Di lepaskan baju basah yang masih membenam tubuh Alika. Dengan sabar Bilmar mengelap tiap inci kulit tubuh istrinya. Melihat Alika yang sudah polos tanpa helaian benang membuat hati nya campur aduk. Rasa sedih, gelisah dan juga rasa ingin menjamahi tubuh biola itu pun kembali mengaduk-ngaduk batin Bilmar.


"Enggak, Bil! Istri lo. Lagi sakit !"


Malaikat penjaga dalam hatinya terus mengingatkan. Ia menggelengkan kepala untuk membuyarkan nafsu nya yang akan semakin merekah jika terus di perlebar.


Bilmar terus memiringkan tubuh Alika ke kanan dan ke kiri agar semua bagian tubuhnya dapat tersapu handuk secara bersih dan kering.


Tak berapa lama terlihat Alika sudah memakai baju tidur yang baru dan ditutupi dengan selimut yang hangat. Bilmar terus menciumi pipi istrinya tanpa henti-henti, cara ini akan selalu ia gunakan jika Alika sulit dibangunkan.


"Eum...sayang.."


Bilmar seketika mendongakkan wajahnya ketika ia mendengar jelas saat bibir Alika terbuka dan merintih memanggilnya.


"Alhamdulillah kamu udah sadar, kamu mau minum sayang?"


Anggukan pelan tersirat.


Bilmar membantu Alika untuk menenggak air kedalam mulutnya. "Sayang, aku kenapa ya?" tanya nya dalam suara yang pelan dan lemah.


"Aku nggak ngerti kamu juga kenapa tadi, yang jelas kamu itu udah tenggelam di bath up. Jangan gitu lagi sayang, kamu mau ninggalin aku?"


Alika memutar bola mata nya dengan cepat, berusaha untuk mengingat.


"Perasaan aku tadi mau berendam, Bil. Kenapa jadi tenggelam gitu ya?" Alika mengalihkan rasa cemas yang bertahta di wajah suaminya.


"Bohong ah kamu---" Bilmar mulai menarik tubuh istrinya untuk masuk kedalam dekapannya. Membiarkan kepala Alika jatuh diceruk lehernya. "Aku tau banget kamu nggak pernah berendam kayak gitu, kamu nggak pernah luluran. Mandi juga cepat 15 menit jadi. Aku tau kamu banget, Al!"


Alika hanya terdiam, kedua matanya hanya bisa menatap leher dan dagu sang suami.


"Kamu jangan nahan-nahan kalau mau nangis, aku bisa ngertiin kamu! Aku nggak marah. Tapi aku bakal sedih, kalau kamu nyakitin diri kamu kaya tadi!"


Alika mulai menangis kembali, dada nya masih sesak. Ternyata ia tidak sekuat itu.


"Aku ingin nyusul Mama aja, Bil! Aku capek hidup---" Isakkan tangis kembali muncul. "Aku kayak nya nggak kuat deh, lelah aku, Bil!"


"Kalau tau perjalanan hidup aku bakal kayak gini, aku juga nggak ingin di lahirkan ke dunia--"


"Sssstttt! Jangan ngomong kayak gitu sayang. Kamu tuh jodohnya aku! Makanya kamu di lahirkan, karena kedepannya kamu akan hidup untuk menjadi istri aku! Kaya sekarang!"


"Aku sudah membebaskan Papa mu, Al!"


Entah mengapa rasa sakit itu kembali menggema batin Bilmar. Dengan baiknya ia membebaskan orang yang sudah berniat menghancurkan hidupnya. Namun takdir tidak bisa dielak, ketika ia tahu penjahat itu adalah mertua nya sendiri. Mungkin dengan seperti ini, Alika akan senang.


"Alhamdulillah Ya Allah, aku Lega.." Alika mengucap syukur dalam hatinya.


Tetapi ia tahu bagaimana perasaan Bilmar saat ini. Suaminya pasti terpaksa, ia masih emosi terhadap Papa Luky. Untuk menjaga perasaan suaminya.


Alika hanya diam tidak mau menjawab. Bukan karena ia ikut membenci sang Papa. Tetapi lebih ingin menghargai perasaan Bilmar dan dirinya sendiri tentunya! Mereka masih di rundung rasa duka, lara dan kecewa.


"Aku nggak mau bahas itu dulu---" Jari tangan Alika mendarat di bibir suaminya.


Bilmar hanya mengangguk pelan. Dirinya pun setuju, untuk tidak mau membahas masalah ini. Ia hanya ingin menuruti apa kemauan istrinya saat ini, Bilmar tidak mau Alika akan senekat tadi.


"Mulai saat ini, aku akan selalu mendengarkan nasihat kamu sayang. Apapun yang kamu ucap, aku akan turuti!"


Keputusan bulat telah terucap!


"Sebisa ku, akan selalu jaga kamu!" Bilmar mencium kembali dahi istrinya. Mengelus-elus tangan Alika.


Kelembutan Bilmar saat menyentuh relung jiwa istrinya. Hati mereka saling tersakiti saat ini. Untuk menjaga hati masing-masing, mereka tidak ingin membahas masalah apapun sekarang.


Biarkanlah semua itu berlalu dengan jalannya sendiri.


"Tidurlah sayang..kamu letih!" bisik Bilmar sambil mengecup bibir istrinya.


Alika pun mulai menutup matanya. Tubuhnya tidak beranjak sama sekali dari dekap dada sang suami. Mereka tidur saling memeluk. Melepas asa, penat dan luka batin yang sulit untuk di obati.


***


Stau tune guyss, part selanjutnya melipir.


Hey teruntuk kalian yang baik hati, beri dukungan vote dong buat Alika sama Bilmar. Biar mereka cepat bangkit dari keterpurukan.


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘