
"Tidur ya sayang, i love you," satu kecupan mendarat di kening Maura. Menaikan selimut sampai ke dada atas anak sambungnya.
Alika dan Bilmar kembali menginap di Rumah Sakit untuk menjaga Maura pasca operasi. Terlihat Bilmar masih menatap notebook nya dengan kedua tangan mengetik cepat di atas keyboard.
"Kamu mau apa? susu ? kopi ? teh?" Alika menawari calon suaminya itu dengan sederetan pertanyaan.
"Aku mau nya kamu aja...sini duduk disampingku!" Bilmar menghentikan tangannya, seraya memberi lambaian kepada Alika yang masih menepi diranjang Maura.
Mau tidak mau atau suka tidak suka, Bilmar adalah calon suaminya. Mantan kekasih yang dulu sangat ia cintai. Alika harus menerima keadaan, menghapus rasa cinta untuk Alm. Aziz yang tidak akan mungkin kembali. Kini hanyalah Bilmar, lelaki yang nyata untuk dirinya.
Alika menjatuhkan dirinya di sofa persis disamping Bilmar. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Bilmar untuk ikut melihati layar notebook nya.
"Udah malem kaya gini, kamu masih kerja ?" tanya Alika terus melihati kelihaian jari-jari Bilmar dalam mengetik serta membalas beberapa email yang baru dibuka olehnya.
"Demi kamu dan anak kita kelak," Bilmar tersenyum lalu menoleh, pergerakan jari-jemari dihentikan sebentar. Ia terus menatap kedua bola mata Alika yang indah berwarna cokelat. Mereka saling berhadapan, dalam hening nya ruangan tanpa kelibatan suara.
Bilmar terus mendekati wajahnya lekat ke hadapan Alika. Mereka saling bersitatap erat, bibir tebal sang Presiden Direktur telah mendarat cantik dibibir Alika. Mereka saling memejamkan mata, menunggu siapa yang akan memulai.
Alika yang masih polos dan lugu, hanya bisa menunggu, diam, pasrah dan menikmati. Bilmar faham dengan kondisi Alika saat ini.
Ia terus menjelajah dan membuka setiap apitan benua di bibir Alika. Terdengar suara rintihan mencuat ditelinga Bilmar dari gadis ini.
Bilmar makin semangat untuk melancarkan aksinya, ia semakin dimabuk cinta. Alika seperti mencoba untuk memberikan Bilmar kesempatan agar hatinya bisa mencintai ia kembali seperti dulu.
Lalu itu semua tidak berlangsung lama, ketika nada dering HP Bilmar berbunyi nyaring sangat keras.
Mata mereka membuka cepat, Alika pun mendorong Bilmar untuk bangkit meraih HP nya. Ia tidak mau Maura bangun dan melihat adegan mesra mereka.
"Ya hallo ? Iya Ren, nanti ku telpon balik!"
Tanpa menunggu jawaban disana, ia pun langsung mematikan HP nya dan kembali menerjap Alika yang masih menyandar kan dirinya di sandaran sofa.
"Lagi ya?" Bilmar dengan cepat mengulangi kembali memuncah kecupan dibibir Alika yang mungil itu. Sikap nya masih sama seperti di awal, ia hanya bisa diam dan menikmati saja.
Tunggu saja, sebentar lagi dia yang akan lebih handal dalam adegan ini.
Sang duda beranak satu ini sepertinya sudah lama merindu. Ia sangat kesepian mengingat sudah hampir 5 tahun hidup sendiri. Beberapa wanita cantik selalu mendekati dirinya, namun ia sadar dirinya tidak akan bisa mencintai dengan utuh.
"Mama," Suara Maura yang sedang mengigau. Dengan cepat Alika mendorong tubuh Bilmar menjauh dari nya. Mereka tersengal-sengal, Alika pun bangkit menghampiri ranjang Maura untuk menenangkan anak itu.
"Mengapa rasa nya begitu berbeda, belum pernah ku rasakan nikmatnya seperti ini," gumam Bilmar terus menatapi Alika yang sedang mengelus-elus tubuh putri nya itu.
Enggak bosen-bosen aku mah, minta Like nya yah. Kalau mau vote ke BDCT aja ya..thankyou❤️❤️