
Hayy akuu balik lagii🤭🤭 jangan bosen-bosen yaa liat aku selalu bolak balik terus, akuu terharu liat komenan kalian❤️
okeydeh, kita baca yuk..ettapi jangan lupa VOTE aku dulu yaa😘😘
🤗🤗
***
Mah, kita mau kemana?" cicit Maura masih memainkan rambut sang Mama yang sudah ditata rapih. "Mau ke kantor Kakek, Nak."
"Duh, macet ya Mang?" tanya Alika di jok belakang ke arah spion untuk melihat Mang Dana.
"Iya, Non. Kalau mau mendekati jam makan siang, emang selalu kaya gini Non. Jalanan pasti ramai."
Mobil mereka terlihat diam terpaku begitu saja dihimpitan kendaraan yang lain. Alika terus berharap, semoga ia bisa sampai tepat waktu di Arcorp.
"Hemm...ya udah nggak apa-apa Mang, yang penting hati-hati aja ya."
"Baik, Non!"
Karena mengerti kegelisahan diwajah majikannya, Mang Dana terus berusaha untuk bisa menjalankan mobilnya dengan baik di dalam kemacetan seperti ini. Ia berhasil masuk ke jalan alternatif lain untuk menembus cepat agar sampai tepat waktu di Arcorp.
Akhirnya dengan kegigihan Mang Dana, mereka pun sampai dengan waktu yang sudah mepet dengan jam makan siang orang-orang kantor.
Alika terus berjalan sambil menggandeng Maura untuk masuk berjalan masuk kedalam lobby.
"Maaf, Ibu mau mencari siapa?" tanya Satpam didepan pintu lobby. "Saya ingin bertemu dengan Bapak Luky? apakah bisa diantar ke ruangannya?" jawab Alika dengan sangat sopan.
"Sebentar ya Bu, silahkan duduk dulu disini."
Bukannya mengantar ke atas, Satpam ini malah memintanya untuk menunggu sebentar di pertengahan lobby. Terlihat Satpam tengah berbicara lama dengan pegawai resepsionis wanita.
Maura berjalan kesana kemari, mencoba menggapai apa yang ada dan yang ia lihat. Alika pun mengikuti langkah putrinya kesana kemari.
"Maura, ayo kembali Nak. Maura..?"
"Mah, ayo sini kejar aku." Cicit Maura begitu nyaring. Anak itu berlari-larian menyusuri lobby yang luas dengan berbagai arsitektur patung-patung yang menawan.
"Bu, Maaf sebelumnya, ada keperluan apa ya? apakah sebelumnya ada janji?" tanya pegawai resepsionis yang sedang menghampirinya.
"Saya memang belum ada janji Mba, tapi saya ingin bertemu beliau, apakah bisa?"
Sepertinya Papa Luky memang susah untuk ditemui oleh sembarang orang.
"Penjelasan dari Sekretaris nya, bahwa beliau sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa Bu. Karena hari ini ada banyak rapat yang harus beliau hadiri. Apakah ada pesan? saya akan meneruskannya ke Sekretaris Bapak Luky."
"Katakan saja saya An----!"
Seketika bibir Alika terkatup. Sepertinya ia masih sulit untuk mengucap bahwa dirinya adalah seorang anak dari Luky Artanegara. Alika berfikir, pasti mereka tidak akan percaya jika mengaku sebagai anaknya. Karena yang mereka tahu hanyalah Binara dan Bilmar saja selama ini.
"Ya sudah Mbak tidak apa-apa, saya ingin menitip kan ini saja..." alika menyodorkan tas jinjing berisi bekal makanan yang masih hangat.
Ia sengaja memasak dengan tangannya sendiri. "Titipkan saja pada sekretarisnya. Katakan saja kalau Alika tadi kesini, untuk mengantarkan makan siang untuk Bapak Luky."
Kerutan didahi pegawai wanita resepsionis ini seketika melebar. Ia merasa ingin tahu, siapakah wanita ini? seberani itu membawakan makan siang. Jelas-jelas Papa Luky dikenal orang yang sangat arogant dan jauh dari kata wanita.
"Oh baik bu, akan saya sampaikan."
"Baiklah, terima kasih ya " Alika pun memutar langkahnya sambil menggendong Maura untuk berjalan menuju pintu keluar lobby.
Sepertinya kedatangannya hanya sia-sia belaka.
Lalu
Seketika kedua mata Alika terbelalak melihati sosok didepannya, dahinya membentuk tiga ceruk amat dalam.
"Tante Binar.." panggil Maura Keetika melihat Binara tengah berjalan dari luar untuk masuk kedalam pintu lobby.
"Kakak?" seru Binara mendekati mereka lalu mencium tangan sang Kakak.
Allika masih melihati perawakan Binar saat ini. Ia terlihat cantik dan rapih dengan pakaian jas kantor. Binar terlihat seperti Eksekutif wanita muda.
"Kamu..?" Alika seraya menerka.
"Iya Kak, mulai hari ini aku bekerja dikantor Papa. Papa menyuruh aku dan Rendi untuk mengurus Acorp. Kata Papa, kami berdua cikup bisa diandalkan, menurut kakak bagaimana?"
Mungkin nama Artanegara hanya bisa ia emban sebagai nama belakangnya saja.
Alika mengangguk dengan senyuman tipis "Iya Binar kamu dan rendi pantas dalam menjalani Acorp, semoga kalian berdua bisa terus berdampingan membantu Papa."
Seketika dirinya teringat akan Bilmar. Tapi entah memikirkan hal apa.
"Oh iya, aku bawakan makan siang untuk Papa dan Aku tadinya. Tapi karna papa sedang rapat tidak bisa diganggu. Makanlah untuk kalian berdua ya. Aku titipi di respsionis. Aku pulang dulu ya sayang."
Alika mencium pipi adiknya sebagai tanda pamit, lalu berlalu begitu saja mengidahkan panggilan Binar yang terus memanggil namanya setelah itu. Binar merasa aneh melihati sikap sang kakak.
Ia terus lurus menatapi jalan yang tengah ia susuri, mulai berjalan menuju basement untuk menemui Mang Dana.
"Mah, mama kenapa? kok diam aja?" tanya maura yang masih berada dalam gendongannya.
"Nggak kenapa-napa kok sayang." jawab sang Mama lalu menciumi Maura yang seketika bergeliat manja.
"Kok cepet banget Non?"
"Nggak apa-apa Mang, ayo kita pulang."
Alika masih terdiam dengan wajah terus berfikir. Terus mendekap Maura yang tidak mau berhenti berucap-ucap. Apa saja ia akan tanyakan.
***
Alika memaksa Mang Dana untuk kembali menghentikan mobilnya ditaman kota yang terdapat banyak prosotan dan tukang jualan disana. Terlihat banyak anak-anak kecil sepantaran Maura tengah bermain.
Ia merasa kasian dengan putrinya, Maura juga harus tahu dunia luar. Ia harus bisa bergaul dengan teman sebayanya.
"Mama, kita mau main?" tanya Maura masih didalam gandengan tangan Alika. " Iya, Nak. Maura lapar nggak?"
Anak itu mengangguk terus berjalan beriringan dengan sang Mama.
"Bang, bakso nya dua ya. Kalau sudah jadi minta diantar satu ke sayadan satunya lagi ke sopir saya yang itu ya." Alika menunjuk ke arah Mang Dana yang masih memainkan ponselnya berdiri menyandar di pintu mobil.
"Baik Mba."
Alika dan Maura pun mencari tempat untuk duduk menunggu pesanannya datang.
Melihat ada sekumpulan anak-anak bermain Maura pun pergi begitu saja lepas dari sorotan mata sang Mama. Alika masih sibuk menatapi layar ponselnya untuk mengetik pesan kepada sang suami.
Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara menangis yang tak lain adalah Maura yang sudah menjauh beberapa jarak meter dari nya. Ia pun berlari untuk merengkuh putrinya yang sedang jatuh ditanah, akibat dorongan anak sepantarannya.
"Mama...!"
Maura terus menangis memanggil-manggil mamanya. "Kenapa Nak? ayo bangun sayang, ada yang sakit Nak?"
Tubuh Maura diraih untuk didirikan. Ia membersihkan sisa-sisa tanah yang masih menempel ditubuh anaknya.
Lalu seketika wajahnya mendongak cepat keatas ketika namanya dipanggil oleh seorang lelaki.
"Alika..?"
***
Berikan aku semangat dari kalian dengan cara
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘