
Haii selamat sore, aku kembali❤️❤️
Selamat baca ya guys
🖤😘
*****
Artanegara Resort, 09:00 Wib.
Cuaca hari ini begitu baik. Terasa dingin tapi sejuk. Ombak laut pun sedang terlihat dalam keadaan tenang. Terdengar kicauan burung menari-nari di udara. Terlihat kapal sudah menepi di dermaga, untuk membawa keluarga Hadnan kembali ke Jakarta. Bilmar terus membantu Galih untuk menaiki semua koper-koper ke dalam sana.
Memang yang paling dibenci dari setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Karena perpisahan akan selalu membawa luka dan lara.
Terlebih saat ini untuk Gifa dan Maura. Sepasang anak kecil ini terus saling menggenggam tangan satu sama lain.
Maura dan Gifa terus menatap kedua Papa mereka yang masih sibuk di atas kapal lalu beralih melihat kedua Mama mereka yang masih berbincang-bincang, serta Gana dan Gelva yang masih bercanda-canda.
"Aku pulang, Maura--" Tatap Gifa dengan wajah sendu dan sedan.
Maura mengangguk. "Iya, Gifa--"
Kedua mata mereka terlihat berkaca-kaca. Terus saling menggenggam. Ingin berucap tetaplah tinggal disini, tetapi semua itu tidak akan mungkin terjadi. Umur mereka masih terlalu kecil untuk mengerti arti itu.
"Walau ini jelek, jangan hilang ya--!" Gifa meraih tangan Maura serta membawa arah matanya untuk melihat ke untaian gelang yang sudah ia sematkan kemarin.
Mendengar kata-kata itu membuat Maura terisak sebelum akhirnya menangis, bibirnya bergetar. Akhirnya genggaman tangan itu terlepas ketika namanya dipanggil.
"Ayo, Kak. Naik ke kapal!" seru sang Mama.
Terlihat Alika, Nadifa, Bilmar, Galih, Gana dan Gelva sudah berada dibawah anak tangga kapal menunggu kedatangan Gifali.
"Aku pulang ya, Maura---"
Cup!
Gifali dengan cepat mencium pipi anak ini, sebelum akhirnya ia berlari meninggalkan Maura.
Maura yang masih terdiam, kemudian refleks mengejar Gifa dan menangis.
"Aku ikut, Gifa!" Suaranya terus merancau bercampur dengan tangisannya yang kencang.
"Tunggu! Aku ikut--" teriaknya lagi.
Bilmar terus menggendong Maura yang masih menangis, tangannya dijulurkan ke arah keluarga Hadnan yang sudah berada di atas kapal, sebagai kode bahwa dirinya ingin ikut mereka.
"GIFA!!" seru Maura berulang-ulang.
Dua keluarga ini saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Terlihat Gifa sedang memeluk sang Mama dan memalingkan wajahnya yang penuh air mata dari pandangan Maura.
Kedua anak ini sama-sama menangis.
"Papa..." Akhirnya tangisan kencang itu kembali tumpah. Maura menangis di dekapan sang Papa.
"Sabar ya, Nak--" Alika terus berdiri disamping Bilmar, ia terus mengelus-elus tubuh anak itu.
Suara isak tangis terus menggema bercampur dengan suara deru ombak laut yang semakin mendorong kapal itu untuk melaju meninggalkan dermaga.
Kapal itu terus berlalu. Karena tidak mampu menahan, Gifali mengubah pandangannya untuk kembali menatap Maura.
Ia pun berteriak. "Maura...ra...ra...." Suara nya menggema bercampur dengan angin di laut. Anak ini terus melambaikan tangannya ke arah Maura yang masih menangis tersedu-sedu
"MAURA!!" Gifali terus bersua. Ia baru menangis terisak ketika bayangan Maura sudah menjauh dari pandangannya. Kapal terus melaju membawa mereka kembali untuk pulang.
"Mama..." Gifali memegang tangan Nadifa. Seketika itu sang Mama berjongkok untuk menyeka air matanya. "Nanti, kita ketemu lagi dengan Maura ya, Nak! Gifa jangan menangis--"
Maura terus menangis, wajah putihnya langsung memerah. Air matanya terus mengalir membasahi pipi dan lehernya. Ia terus mengulurkan tangannya agar meraih kapal itu kembali.
Amat pedih, perih dan linu. Di tinggal pergi oleh orang yang mulai membuat kita nyaman. Entah kapan lagi waktu bisa mempertemukan mereka, atau mungkin Alam semesta tengah membuat skenario untuk kehidupan mereka selanjutnya setelah ini.
****
.
.
.
.
Buat kamu! Ya kamu, siapa tau baca epsidoe ini Semoga masih ingat aku ya❤️🖤. Gelang kamu masih aku simpan, hiduplah berbahagia dimanapun berada🥰🥰
Sebentar lagi episode mereka akan berakhir, aku akan terus crazy up sampai END
Like dan Komen ya guyss❤️🖤