
Selamat pagi guys
Aku kembali
Selamat baca yaa
❤️❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Main sama Mama ya sayang..." Ucap Binar kepada Gadis yang tengah asik bermain bersama Maura. Anak kecil itu menatap Binar dengan tatapan aneh, ia pun dengan cepat menggeser tubuhnya untuk bersembunyi dibelakang Maura.
"Kenapa Dis, ini Mama, Nak!" Ucap Binar kembali. Gadis menggelengkan kepala, ia merasa aneh ketika dirinya dipanggil dengan sebutan Gadis oleh wanita yang mengaku menjadi Mamanya.
"Aku Sela, bukan Gadis, Tante..." Jawab Gadis polos, ia kembali menyembunyikan kepalanya dibelakang kepala Maura. Sungguh, ucapan Gadis membuat Binara tersentil hebat.
Maura pun menatap aneh kepada Tantenya. Mengapa bisa menyebut Gadis dengan sebutan anak.
"Kamu kenapa Sela?" Tanya Maura menolehkan sedikit kepalanya untuk bisa menatap Gadis.
Gadis hanya menggelengkan kepalanya. Entah mengapa ia merasa tidak nyaman kalau berdekatan dengan sang Mama. Padahal lusa adalah jadwal Gadis kontrol ke Dokter, tentu jika sikap Gadis masih seperti ini kepada Binara. Maka sudah dipastikan sikap Gadis nanti tidak akan kooperatif lagi.
"Sela, sini sayang..." Binar mencoba lagi dan memutuskan untuk memanggil anak itu dengan nama yang ia ketahui. Gadis tetap bergeming, ia tidak mau menghampiri pelukan itu.
Binara yang tidak sabar akhirnya beringsut cepat untuk menggendong Gadis. Namun anak itu menolak, meronta lalu menangis. Beda hal ketika digendong oleh Papa Luky tadi pagi, anak itu begitu nyaman, mungkin karena ia sedang ingat dengan sesosok lelaki yang ia cintai yaitu Daddy nya, Diego.
"Gak mau, turunin aku!" Gadis meronta-ronta ketika tubuhnya sudah berhasil digendong oleh Binar. Binara mencoba mencium pipi sang anak namun Gadis terus memalingkan wajahnya kesana kemari.
"Bin?" Suara Alika terdengar memanggil setelah keluar dari kamar barunya.
Gadis menoleh dan menjulurkan tangannya ketika melihat Alika tengah berjalan. "Suster...gendong.." Seru Gadis sambil menangis.
"Kak jangan, biarkan aku sama Gadis!" Binara menghalau tangan Kakaknya ketika hendak menggendong Gadis.
"Pelan-pelan, Bin. Kamu butuh proses untuk mendekatinya..."
Alika tetap meraih tubuh Gadis dan digendongnya. Anak itu mengalungkan kedua tangannya di leher Alika dengan erat. Ia terus memunggungi Binar.
"Jangan nangis ya sayang.." Ucap Alika.
Melihat pemandangan syahdu seperti itu bukan hanya membuat hati Binar yang lirih, tetapi Maura pun merasakan yang sama. Anak itu cemburu dengan dua hal. Yang pertama Ketika sang Mama memanggil Gadis dengan sebutan sayang dan yang kedua ketika Alika terus menggendong dan mengusap-usap tubuh Gadis untuk menghentikan tangisnya.
Seketika Maura melepas boneka dari tangannya dan bangkit untuk berdiri.
"Mama, aku juga mau digendong.." Maura terus menarik-narik tepi bawah baju Alika.
Alika pun mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk meraih tubuh Maura.
Kini dua anak itu digendong secara bersamaan di tubuh mungil Alika yang sedang mengandung dua anak. Alika sepertinya lupa akan janjinya kepada Bilmar.
"Kak.." Desah Binara.
"Gadis butuh waktu! Dan kamu, masih punya banyak waktu untuk memahami sifat dan sikap anakmu.."
"Sampai kapan Kak?" Binara semakin merintih. "Aku ingin secepatnya membawa Gadis pulang kerumah Papa. Aku ingin menemaninya tidur, menyuapinya makan, memandikannya dan jalan-jalan sama dia..."
"Kenapa harus dirumah Papa, mulai lah semua itu disini! Kita juga kan sudah berjanji dengan Daddy nya kalau Gadis akan tinggal dulu disini. Jadi kamu harus mengalah dan bersabar."
Binara mengangguk dan mulai mengarahkan tangannya untuk mengusap tubuh Gadis, namun sikap Gadis tetap sama, ia menjauhkan tubuhnya ketika merasakan usapan dari tangan yang lain.
Alika tersenyum untuk menyemangati Binara. "Aku akan bicara kepadanya pelan-pelan, Bin. Kamu sabar dulu ya.."
Karena ada suara Bilmar yang akan muncul dari dalam kamar, dengan cepat Alika menurunkan kembali kedua anak itu di sofa.
"Mah..."
"...Suster!"
Kedua anak itu meronta kembali. Mereka masih berdiri di sofa untuk meminta di gendong lagi.
"Mama ke kamar dulu ya Nak, Adik kalian haus." Jawab Alika berdalih, ia tidak mau hanya karena masalah seperti ini membuatnya ribut dengan suami.
Maura dan Gadis adalah anak yang baik. Seketika itu pula mereka faham untuk mau diam dan tidak meminta digendong lagi.
Alika pun kembali berfikir lalu ide baik pun muncul. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia sedih melihat Binar dijauhi oleh Gadis. Ia memutar langkahnya dan kembali menghampiri Binar.
"Buatlah cemilan untuk anakmu. Buat dengan tangan kamu sendiri, lalu suapi Gadis. Ambil hatinya..."
"Tapi aku gak bisa masak Kak?"
"Makanya mulai sekarang belajar, kamu mau jadi Mama sesungguhnya kan?"
Binara mengangguk mantap. Ia menoleh ke arah Gadis dengan senyum penuh kegirangan.
"Baiklah demi putriku!"
Alika sengaja meminta Binara seperti ini, agar ia merasakan bagaimana letih nya ketika mengurus seorang anak. Dan hal ini pun bisa membuat batin diantara Gadis dan Binara semakin kuat.
Melihat Binara berfikir lama dengan apa cemilan apa yang harus ia buat, Alika pun bertutur kembali. "Sandwich, roti bakar isi cokelat, sereal dicampur susu, membuat puding, membuat spageti, masih banyak cemilan lain yang gampang dan mudah.."
"Apa kamu gak mau ajarin aku Kak?" Tanya nya sendu. "Aku mau sih, tapi lihat tuh, Bin!" Alika menunjuk ke arah Bilmar yang sudah berdiri didepan pintu dan melambaikan tangan kepadanya. Mengisyaratkan kalau dirinya harus tidur siang.
"Hhh..." Binara berdecak malas. "Ya udah sana!" Binar mengizinkan Alika pergi dari hadapannya. Alika pun menoleh ke arah Maura.
"Ikut Mama yuk sayang..." Alika meraih tangan Maura.
"Sela disini dulu sama Tante ya, nanti suster akan balik lagi."
"Disini aja sama Tante ya, nanti Tante buatkan sandwich." Ucap Binara yang memberanikan dirinya untuk duduk disebelah sang anak.
Wajah Gadis pun berangsur berubah, ia terlihat senang karena Binar menyebutkan nama makanan kesukannya. Ia pun mengangguk suka. Melihat perubahan tatapan Gadis yang menjadi hangat membuat Binara menjadi bersemangat.
"Temenin Tante didapur, mau?" Tanya Binar lagi, Gadis pun samar-samar mengangguk.
"Tante gendong, boleh?" Binar tetap mengikuti saran dari sang Kakak, kalau ia harus pelan-pelan mendekati sang Anak.
Akhirnya misi hari ini pun berhasil. Binara sudah mendapatkan peluang untuk mendekati, mencium dan menggendong sang anak.
Alika hanya tersenyum ketika melihat Binara sedang sibuk didapur sambil menggendong Gadis.
"Jadilah ibu yang baik untuk anakmu ya, Bin!" Gumamnya.
Alika pun beralih menatap Maura yang masih melongo melihat Gadis tengah digendong oleh Tantenya. Ia melihat Binara sesekali mengecup pipi Gadis.
"Ayo Nak, kita susul Papa ke kamar.."
"Mah gendong!" Rengek nya.
Alika menggelengkan kepala. "Jalan aja ya sayang, nanti Papa marah."
*****
Malam pun tiba, Bilmar kembali masuk kedalam kamarnya yang sudah berubah letak di lantai bawah. Lelaki itu menyuruh beberapa pekerja untuk memindahkan semua barang- barang dari kamar atas ke kamar yang saat ini mulai mereka huni. Kamar Maura, Gadis dan Ammar pun terpaksa dipindahkan juga di salah satu kamar yang bersebelahan dengan mereka.
Ia menyodorkan segelas susu langsung ke mulut Alika. Alika pun menenggak habis susu hamil buatan suaminya.
"Enak, Bil. Makasi ya sayang.." Ucap Alika kembali menyandarkan dirinya di punggung ranjang dengan ponsel ditangannya.
"Udah malam, main ponsel terus gak baik!" Bilmar meraih ponsel Alika dan diletakan begitu saja di atas nakas.
Bilmar merangkak naik ke atas kasur dan mendekati Istrinya. Ia terus mendekap Alika dan mencium tangannya berulang-ulang. Wajah bahagia itu terus memancar.
"Ada yang lagi di pengenin gak? Biar besok aku beliin buat kamu."
Alika menggelengkan kepala. "Tadi sore si sempat ingin makan kepala gurame, tapi ya cuman ingin aja gak terlalu mau banget.." Jawabnya jujur.
"Terus kenapa gak bilang? Aku kan bisa beli ke luar."
"Tempatnya jauh, Bil. Aku ingin makan kepala gurame di tempat kesukaan Mama."
"Dimana tempatnya?" Bilmar terus mengusap-usap perut istrinya.
"Jauh deh pokoknya, harus pakai kapal dulu. Waktu itu aku makan disana, ketika diajak Mama dan Papa Syamsul"
"Iya tapi dimana? Masih di Indonesia kan?" Bilmar terus bertanya dimanakah letak rumah makan itu. Untuk apa lagi, jika bukan ingin mendatangi tempat itu dan membawakan makanan yang diinginkan istrinya.
"Di pulau seribu, Bil. Jauh kan dari sini."
Gleg.
Terdengar suara saliva terdorong begitu saja masuk kedalam kerongkongan Bilmar. Fikir nya hanya karena sebuah kepala ikan gurame ia harus bertandang melawan angin laut untuk mendapatkan makanan itu. Tapi demi istri dan anak kembarnya, itu bukanlah masalah yang sulit baginya.
"Oke sayang.."
"Apanya oke?" Kening Alika mengkerut marut.
"Bil jangan aneh-aneh, aku gak minta kamu datang kesana loh!" Ucap Alika mengingatkan.
"Benar kamu udah gak mau makanan itu? Jangan ditahan, Al. Kasian si kembar, mungkin mereka lagi ingin.."
Cup.
Alika mencium bibir Bilmar karena merasa gemas. "Mereka masih kecil, mana tau sih tentang kepala ikan gurame, hahahaha." Alika tertawa.
Sepertinya ada tatapan lain dari Alika kepada Bilmar.
"Kamu kenapa sayang, kok ngeliatin aku nya gitu?" Tanya Bilmar ketika melihat wajah Alika penuh damba ke arahnya. Alika terus mengusap-usap pipi sampai ke tengkuk leher suaminya.
Membuat bulu kuduk Bilmar seketika merinding. Harusnya ia senang diperlakukan begini oleh istrinya, namun karena ia sudah berjanji untuk tidak mau mengguncang tubuh Alika, ia takut akan menyakiti si kembar. Tentu sikap Bilmar berubah drastis. Bayangkan saja, belum pernah kan selama menikah ia bisa menolak Sassy? Bahkan ia selalu menggoda, memaksa dan ingin terus berjumpa dengan Sassy.
"Jangan ya sayang, nanti aja..." Ucap Bilmar ketika Alika sudah berhasil mengecup tengkuk lehernya.
"Aku mau, Bil." Desahnya sensual. Membuat hasrat Bilmar begitu mendidih. Hormon kehamilan membuat Alika berubah, Ia terus menggoda Bilmar agar suaminya mau menengok Sassy malam ini.
"Jangan dulu sayang, kandungan kamu masih lemah!" Bilmar melepas paksa kecupan Alika.
Melihat suaminya seperti ini, membuat ibu hamil itu merasa jengkel.
"Aneh deh kamu, dulu waktu aku hamil Ammar. Kamu tetap kok minta Sassy. Kandungan ku selalu kuat sayang, coba deh kamu ingat. Gimana dulu ketika aku lagi hamil Ammar, sampai ditembak dan hampir mati, kandungan aku tetap kuat kan?"
Alika terus meyakini suaminya tentang kehamilannya dulu.
"Iya sih, dulu aku masih belum bisa menahan, Al. Tapi kan sekarang beda, anak dua anak didalam perut kamu, kalau aku masuk tiba-tiba, takutnya mereka kaget, gimana?" Bilmar tertawa.
Alika mencebik sebal.
"Tau ah!" Alika pun berbalik untuk memunggungi Suaminya.
"Kalau kamu yang mau, aku harus selalu siap! Tapi giliran aku yang mau, kamu nolak!" Alika menggerutu.
Bilmar beringsut untuk mendekati kembali istrinya.
"Ya udah kalau gitu, kamu nya aja yang pelepasan ya, aku nya nggak. Kalau udah ketemu Sassy, aku gak bisa berhenti, Al! Kamu nanti capek." Bilmar mencium pipi istrinya dari samping. Benar saja, sekali olahraga Bilmar akan melakukannya 2-3 kali dalam satu ronde. Memang sangat perkasa si tampan itu.
"Loh terus gimana caranya?" Alika mendongakkan sedikit kepalanya untuk menoleh menatap wajah Bilmar. Ia memastikan kalau suaminya tidak sedang bercanda.
"Pakai tangan aku aja ya... gimana?" Jawabnya serius namun polos. Sepolos wajah Ammar yang sedang tertidur.
"Hah??"
****
Benar-benar babang bilmar, ia mencoba puasa. Liatin aja sampai kapan sih bisa gak ketemu Sassy..
🤪🤪🤪🤪