
Hayy semuaa, sehat selalu yaa🖤 aku kembali datang.
yuk guys selamat baca
🤗🤗
***
Rendi dengan cepat mengakhiri pertemuannya dengan klien hari ini hanya karena mendapat berita bahwa Binara tengah pingsan di ruang kerja calon Papa mertuanya.
"Sayang...Binar..." Rendi terus mencoba memukul-mukul pipi Binar dengan tekanan kecil untuk membangunkannya.
"Kenapa bisa begini, Pah?"
"Papa juga tidak tahu, Ren. Tiba-tiba Binara pingsan, mungkin dia kecapean."
Papa Luky tetap harus bisa menyembunyikan rasa frustasinya untuk saat ini, agar tidak dicurigai oleh calon menantunya.
"Binara? Ayo sayang..bangun.."
Tidak berapa lama kemudian, kedua mata Binara membuka perlahan-lahan. Ada beberapa wajah yang menengadah kebawah untuk melihati perangainya saat ini.
"Aaaaaa.....!!" Binara kembali berteriak, tubuhnya menegang, meronta-ronta. Wajahnya di palingkan kesana kemari. Rendi terus memegangi kedua tangan Binara untuk menghentikan gerakan tubuh yang terus bergeliat histeris.
"Binara, sadar Nak! ini Papa..Binar." Papa Luky masih berada dibelakang Rendi menatapinya dengan rasa penyesalan.
Binara kembali kambuh. Tubuhnya kembali diguncang depresi. Dengan cepat Rendi meminumkan obat ke mulut Binara dan menenggakkan air minum ke dalam kerongkongannya dengan penuh perjuangan.
Beberapa menit kemudian, obat pun bereaksi. Binara masih menatap Rendi namun sudah tidak bersitegang seperti tadi. Nafasnya mendayu-dayu, keringat dingin terus bercucuran.
Kedua matanya terus menatap Papa Luky lalu dialihkan untuk menatap Rendi, dengan cepat Ia pun bangkit masih dalam posisi duduk untuk mendekap Rendi yang ada di hadapannya.
"Kakak!" Binara meletakan kepalanya diceruk leher Rendi.
"Kamu kenapa sayang? Kok tiba-tiba kambuh seperti ini?"
Terlihat Binara hanya menangis, tidak mau menjawab. Ia terus menangis terisak-isak. Hanya ingin mendekap tubuh Rendi. Calon suami yang tidak sengaja menjadi buah kebrutalan dari sang Papa.
Papa Luky begitu amat menyesal dengan kejadian yang sudah ia perbuat kepada semua anak-anaknya. Ia harus terus menanggung kebohongan itu sampai ajal menjemputnya.
"Kak?"
"Iya sayang?" Rendi masih mengunci tubuh Binara didalam dadanya. Terus berperilaku lembut untuk menenangkan hati Binara.
"Aku ingin melihat Kakakku disini! aku ingin Kak Alika datang kesini!"
Mendengar ucapan Binara, sontak membuat hati Papa Luky kembali memanas. Ia tegang bukan main. Yang ada dalam benaknya, jika saat ini Binara akan membongkar semua rahasia dirinya.
"Nak? Kakakmu kan sedang hamil, dia harus banyak istirahat. Hari ini juga sudah mulai masuk kerja. Kakakmu pasti letih, Nak!" Papa Luky secara tidak langsung untuk mengingatkan Binara akan kondisi Alika, yang tidak boleh diberi beban dengan masalah seperti ini.
Ia tahu bukan hanya Binara yang akan terguncang, tapi Alika pasti akan bersikap sama. Apalagi hubungan Papa Luky dengan Alika sedang hangat-hangatnya merekah dalam kasih sayang antara anak dan orang tua yang baru saja terjalin belum lama.
"Kak! Tolong! aku ingin ketemu Kakakku sekarang!" Binara tetap memaksa Rendi. Ia tidak memperdulikan ucapan Papa Luky.
Rendi merasa bingung, sikap Binara terasa aneh baginya.
Papa Luky merasa terhimpit. Fikiran nya terus berspekulasi. Bagaimana setelah ini, apakah hari ini adalah hari kematiannya?
Rendi menoleh ke arah Papa Luky yang masih dilanda kebingungan. Ia merasa ada hal yang aneh diantara mereka. Mengapa Binara bisa pingsan dan kejang, lalu Papa Luky yang begitu panik seperti tengah memikirkan sesuatu.
Tak ada pilihan, Rendi harus menuruti kemauan Binara saat ini. Ia tidak mau Binara kembali shock dan kejang.
Tak lama kemudian.
"Baik, Bil! kami tunggu di Acorp !"
***
"Binara...adikku?"
Suara lembut membangunkan Binara yang sempat tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya. Ada sentuhan manis menggema diatas kulitnya.
Binar pun mengerjap kedua matanya kembali.
"Kakak...!" seru Binar lalu bangkit untuk memeluk Alika.
Papa Luky hanya berdiri membisu melihati putri mereka yang saling berpeluk diatas sofa. Lalu ia lemparkan pandangan itu untuk melihati reaksi Bilmar dan Rendi.
"Iya sayang, aku juga rindu kamu. Ada masalah apa? Ayo ceritakanlah, kami semua ada disini setia mendengarkan mu!" Alika memberikan senyum hangatnya kepada sang adik. Ia merasa Binar telah berbohong jika hanya mengatakan alasan rindu kepadanya.
Jantung Papa Luky kembali bergemuruh, berdetak kembali dengan gugup dan kencang.
Habislah dia! habislah.
Binara menatap wajah Papa Luky agak lama. Tatapan yang datar dan pias. Papa Luky hanya memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.
Binara kembali membawa arah matanya untuk menatap Alika.
"Benar Kak aku cuman rindu sama Kakak! mau tidak Kakak menginap beberapa hari dirumah Papa? aku ingin terus dekat dengan kamu dan Papa sampai hari pernikahanku minggu depan?"
Terlihat Papa Luky menghela nafasnya penuh kelegaan. Binara memang kecewa, tapi ia tahu putrinya tidak akan sampai hati untuk memberikan alarm penghabisan nyawa kepadanya saat ini.
Alika menatap kedua bola mata Binar dalam-dalam. Lalu ia arahkan untuk melihat bola mata suaminya.
Binara pun faham arti lirikan itu.
"Boleh kan Kak?" Binara menatap Bilmar. Sontak lelaki itu tergegap.
"Boleh ya sayang?" Alika menambahkan.
Rendi terlihat mengelus bahu Bilmar. Kode agar lekaki ini mengizinkan. Ya mau bagaimana lagi, Bilmar sudah terhimpit akan semua desakan.
"Aku hanya ingin merasakan hidup bertiga bersama Papa dan Kakak, sebelum aku menikah dengan Kak Rendi, boleh ya Kak. Nggak lama kok, cuman 4 hari sampai acara pernikahanku tiba. Bagaimana Kak?"
Bilmar menghela nafasnya, walau ia akan menahan rindu untuk tidak bertemu istrinya. Namun ia tidak punya pilihan selain b
mengizinkan.
"Iya Bin, aku mengizinkan Alika untuk menginap dirumah Papa Luky."
Binara kembali mendekap tubuh sang Kakak. Senyum indah mengalir dari wajahnya. Alika terus mengelus rambut Binar yang terurai begitu saja ke bahu.
"Dan satu lagi Bil, Binara merubah rencana awal pernikahan kami. Ia ingin nuansa pernikahan seperti kamu dan Alika. Hanya dilakukan dirumah dengan sederhana, pihak WO sudah kami hubungi untuk membatalkan reservasi gedung dan sebagainya. Binara pun menginginkan akad nikah berlangsung dirumah kamu, Bil. Bagaimana? Apakah boleh?"
"Boleh Ren, apapun yang akan membuat adikku senang, aku pasti akan membolehkannya!" jawab Bilmar memberikan senyum terbaik ke arah Binar yang masih memeluk istrinya.
Papa Luky terus mengucap syukur, Ia merasa amat bahagia melihat semua anak-anak nya berkumpul dalam senyum riang kebahagiaan. Sudah cukup ketidaksengajaan yang pernah ia lakukan kepada Alika dan Rendi. Papa Luky berjanji tidak akan melakukan kekejaman lagi kepada siapapun dimuka bumi ini.
****
Oh yaa selagi kalian nunggu cerita ini update kalian juga bisa baca karyaku yang lain ya:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘