Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Keinginan Alika


Terlihat lelaki yang akan berusia genap 31 tahun di bulan depan itu, beberapa kali mengusap keringatnya yang sedang bercucuran membasahi pelipis nya. Karena ruangan saat ini terasa panas, AC tidak menyala.


Bilmar masih berdiri dengan tatapan fokus kedepan menatap para tukang bangunan yang sedang bekerja untuk mengecat dinding kamar anak-anak mereka. Kamar Maura dan Ammar saat ini dijebol untuk di buatkan satu pintu yang bisa terakses langsung ke kamar Alika dan Bilmar.


Fikiran Bilmar memang sudah jauh kedepan. Ia membayangkan istrinya pasti akan letih karena harus terbangun tengah malam untuk menjaga ketiga bayi mereka, jangan lupakan Ammar. Anak lelaki itu tentu masih dianggap bayi. Maka dari itu ia memberikan alternatif termudah seperti ini, agar dirinya dan sang istri bisa efisien tenaga dalam mengasuh anak-anak mereka.


"Yang bagian sini, warnanya gimana Pak? Tetap sama?" tanya tukang bangunan itu.


"Sama kan saja."


Tukang bangunan itu mengangguk dan kembali bekerja sesuai instruksi Bilmar. Kamar anak-anak mereka sudah 85% selesai. Sederet furniture yang diperlukan untuk si kembar sudah tersedia. Bilmar mendesign nya sendiri ke toko mebel dengan ukiran kayu jati yang harganya fantastik.


Dua box bayi sudah bertengger bersebelahan dengan box Ammar disana. Baju-baju, topi, kaos kaki dan segala keperluan untuk Bilka dan Abrar sudah tertata rapih di lemari mereka masing-masing. Beragam mainan anak laki-laki dan sekumpulan boneka sudah terpajang disana.


"Sayang...ayo minum dulu!" Alika datang menghampirinya. Bilmar tersenyum dan menoleh. Ia pun menenggak minuman manis itu langsung kedalam kerongkongannya tanpa sisa. Setelah sudah hilang dahaganya, ia merangkul bahu istrinya untuk mengajak nya keluar dari kamar.


"Disini bau cat sayang, nanti kamu mual!"


Alika mengangguk dan tetap berjalan mengiringi langkah suaminya. Ngomong-ngomong saat ini usia kandungan Alika sudah memasuki usia 8 bulan. Bilmar berharap Alika akan melahirkan Bilka dan Abrar tepat di bulan kelahirannya. Pintanya lagi kalau Allah mengizinkan anak kembar mereka bisa lahir di satu tanggal yang sama dengan hari kelahiran Bilmar.


Pucuk pusar Alika semakin terlihat karena dorongan perutnya yang semakin membesar. Menurut pemeriksaan Dokter dua minggu yang lalu mengenai kondisi anak mereka. Dokter mengatakan kalau kondisi Bilka dan Abrar masih dikatakan aman.


Air ketuban juga masih dikatakan baik dan cukup, walau berat tubuh Abrar tidak terlalu banyak bertambah, padahal berat Bilka selalu saja naik drastis. Abrar adalah bayi pendonor.


"Kamu mau makan? Aku ambilkan ya, mau?" Alika menyeka keringat di wajah Bilmar dengan telapak tangannya.


"Nanti aja..aku belum lapar." Bilmar masih menggandeng tangan istrinya untuk dibawa menuju sofa.


Alika akan selalu menanyakan hal itu per tiga jam kepada suaminya. Karena dua hari yang lalu Bilmar harus masuk ke UGD Rumah Sakit karena maag nya yang sudah akut begitu saja kambuh. Kata Dokter Bilmar tidak boleh telat makan, atau mungkin bukan hanya telat tapi asupan makanan yang masuk kedalam perutnya hanya sedikit.


Bilmar masih belum bisa berdamai dengan makanan-makanan sehat yang sudah menemaninya selama 5 bulan ini, dari diketahuinya kalau Alika mengalami tanda-tanda preklamsia. Sungguh pengorbanan dan perjuangan yang sangat berharga.


Bilmar menyandarkan dirinya di sandaran sofa sambil membuang nafasnya pelan. Ia terlihat letih, walau kerjaannya hanya memandori tukang.


"Bil?"


"Hemm..kenapa sayang?" Bilmar memainkan ujung rambut Alika.


Wanita hamil itu terpaksa memotong rambutnya dengan model Bob atau seperti rambut si dora the explorer. Karena sepanjang hari ia terus berkeringat menimbulkan kegerahan disetiap lekuk tubuhnya. Dengan gaya rambut sekarang membuat dirinya menjadi ringan dan segar. Entah mengapa Bilmar lebih menyukai penampilan istrinya yang sekarang.


Pipi Alika yang berangsur berisi sangat lucu jika dipadukan dengan model rambut yang seperti itu. Ia terlihat imut dan menggemaskan. Wajahnya yang Baby Face membuat Alika tidak pernah tua, ia malah terlihat seperti seorang adik yang berumur jauh dengan Bilmar, jika mereka sedang jalan bersama.


"Antar aku periksa ke Dokter Mata yuk, Bil. Akhir-akhir ini pandangan mataku buram---"


"Hah, gimana?" Bilmar menegapkan tubuh nya, ia memiringkan sedikit posisinya untuk menatap dua bola mata istrinya. Seperti sedang menyelidik apa yang terjadi di dalam sana.


"Aku bukan katarak, Bil. Enggak ada bercak putih di mataku! Aku hanya buram."


Desahan nafas Bilmar menghilang walau ia masih khawatir. "Apa sudah saatnya kamu pakai kaca mata, Al?"


"Mungkin, iya--" Jawab Alika.


"Ya udah sekarang aja ke Dokternya. Biar gak penasaran!"


Begitulah Bilmar, ia tidak ingin tersiksa dengan rasa penasaran. Ia takut masalah pada mata Alika ada kaitannya dengan kehamilannya saat ini.


****


"Dari hasil pemeriksaan saya, kedua mata Ibu masih dalam batas normal. Tidak ada kelainan apapun, namun karena sekarang Ibu sedang hamil. Saya jadi curiga akan sesuatu hal." Ucap Dokter Mata kepada Alika dan Bilmar yang membulatkan kedua matanya menjadi bulat sempurna. Raut cemas kembali membisik wajah mereka.


"Curiga, Dok?" Bilmar kembali mengulang ucapan itu menjadi sebuah pertanyaan balik.


Dokter mengangguk dan kembali menatap berkas rekam medik Alika. Ia menemukan tulisan Perawat menulis angka 150/90 sebagai ukuran tensi darah Alika disana.


"Sudah, Dok. Bahkan dua minggu lalu kita baru saja kontrol dan Dokter bilang tensi darah saya sudah kembali normal." Jawab Alika. Jauh dari sebelahnya, ada tatapan sedih dari Bilmar. Wajahnya begitu saja redup ketika kondisi sang istri dikatakan sedang tidak aman lagi.


"Bisa saja buram yang terasa di mata Ibu karena tensi darahnya sedang tinggi. Saya takut ini adalah tanda-tanda preklamsia, Bu. Ibu harus hati-hati. Menjaga pola makan, tidak boleh capek dan satu lagi---Jangan banyak fikiran!"


Begitulah ucapan Dokter Mata yang masih terbayang-bayang dalam benak Bilmar sekarang. Walau ia sedang menyetir dengan tatapan lurus kedepan, namun hatinya tetap saja melalang buana kemana-mana. Lelaki itu kembali gelisah dan khawatir. Harus bagaimana lagi menjaga kondisi Alika agar tensi darahnya selalu dalam batas normal.


"Sayang..." Panggilan itu membuat Bilmar menghapus lamunannya. Lelaki itu menurunkan tangan kirinya untuk meraih tangan Alika, lalu digenggam dan diletakan diatas pahanya.


"Iya sayang?" tanya Bilmar.


"Kamu marah sama aku, Bil?"


Kedua alis Bilmar saling bertaut. "Marah? Kenapa memangnya?" Bilmar menutupi rasa cemasnya, ia tidak ingin hati Alika menjadi gamang.


"Itu....." Ada jeda sedikit. "Karena tensi darahku yang tidak stabil---" Jawab Alika pelan yang tidak henti diliputi rasa resah.


"Aku nggak marah, Al. Itu semua kan diluar kemampuan kita!"


"Tapi selama ini aku selalu menjaga pola makan ku dan istirahatku, Bil... Kenapa tensiku masih aja naik ya?" Suaranya terdengar seperti orang yang ingin menangis. Ia takut Bilmar menyalahkan dirinya. Alika merasa kasihan jika usaha Bilmar menemaninya menjaga pola makan, tidak ada hasilnya.


"Bagaimana dengan fikiranmu? Apa ada yang sedang menganggu?"


Tepat sekali, pertanyaan Bilmar sekarang memang satu-satunya awalan untuk mengungkap keganjalan yang selama ini istrinya rasakan, namun Alika masih belum yakin untuk menceritakannya kepada sang suami.


Melihat Alika hanya terdiam, Bilmar kembali bersuara.


"Al?"


"Ya, Bil."


"Kok ga dijawab pertanyaan ku?"


"..Memang ada sih yang sedang aku fikirkan."


"Tuh kan..." Bilmar menyelak cepat. "Ada masalah? Kenapa kamu gak cerita?"


"Bukan masalah, Bil. Karena aku masih belum yakin aja untuk cerita, aku belum bisa menafsirkan nya---"


"Kamu menafsirkan tentang hal apa, sayang?"


"Bisa nggak, Bil. Kita minum air kelapa muda? Kayaknya enak kalau sambil cerita?" Alika tertawa tipis sambil terus mengusap-usap perut buncitnya ketika dirasa dua anaknya didalam sedang bergerak aktif.


"Kayaknya Bilka dan Abrar lagi ingin, gimana?" Sambung nya lagi.


"Ayo kita cari aja disekeliling jalan ya..." Bilmar menurutinya.


"Tapi aku maunya minum air kelapa muda di Purwakarta, Bil. Sambil liat air mancur." Pinta Alika dengan ucapan santai.


Bilmar melongo, menatap istrinya yang masih menatapnya dengan rasa harap. Ia melihat arloji yang terpasang di pergelangan tangannya, sepertinya masih ada waktu jika berangkat dari sekarang. Mereka tidak akan pulang kemalaman menuju arah balik Jakarta.


Jika memungkinkan, menancapkan bendera di puncak gunung saja, akan Bilmar lakukan. Jika hal itu menjadi permintaan Alika yang sedang mengidam, namun tentu saja itu tidak akan pernah terjadi. Jangankan untuk memanjat gunung, naik eksklator saja Bilmar sangat gugup, tidak aneh, karena lelaki itu sangat pobia akan ketinggian.


Namun karena permintaan Alika hanya seperti ini. Ia pun dengan senang hati langsung menyanggupinya. Apalagi hanya membelah jalanan untuk melesat menuju kabupaten Purwakarta, pasti akan ia lakukan dengan sangat sukarela.


"Ya udah kamu kabarin Bik Minah ya, biar dia sama Maura juga nggak nyariin kita."


"Iya sayang..."


****