Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Walau kamu seram, aku tetap cinta


Hai kesayangan, selamat pagi❤️


Aku kembali guys.


Selamat baca yaa


❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


Binara sudah mendaratkan mobilnya didepan rumah Ny. Gweny. Dirinya sendiri yang mengemudikan mobil untuk kakak iparnya. Selama diperjalanan perutnya terasa sakit, ia terus tertawa karena melihat Bilmar dalam keadaan penampilan yang sangat jelek sekali.


Bilmar sudah kepalang janji kemarin dan Binara ingin lelaki itu menepatinya. Berjuang untuk kebahagiaan sang adik tentu harus dilakukan oleh Bilmar. Mengingat betapa banyak jasa Papa Luky untuk dirinya selama ini.


"Ayo Kak coba tes vocal dulu..." Ujar Binar kepada Kakaknya yang masih sibuk menggaruk-garuk bagian punggung, lengan dan lehernya. "Bin, pakai baju yang lain aja. Demi Tuhan aku gatal banget!"


"Nggak ada lagi Kak, kamu mau bertelanjang dada kedalam? Nanti disangkanya kamu orang gila..."


"Aduh tapi ini gatal!" Bilmar menoleh ke arah lehernya.


"Lihat nih, di sekitar kerah lehernya aja hitam banget! Ini pasti kumpulan daki, Bin----Huh!!"


"Udah deh Kak, hanya sebentar aja didalam. Untuk memastikan itu Diego atau bukan---Ayo cepat tes vocal, aku ingin tau suara yang akan kamu pakai ketika didalam."


Bilmar mencoba berkonsentrasi, ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan ke udara mobil. Untuk mencari puing-puing kekuatan dan keberanian.


"...Perkenalkan saya James!" Suara pertama Bilmar.


"Jangan james dong, kebagusan! Momon aja. Terus suara nya jangan kaya gitu terlalu datar, coba kalau ditebelin dikit, ayo ulangin..."


"....Perkenalkan saya Momon!" Suara kedua Bilmar.


"Agak tebal Kak, jangan cempreng. Itu lebih mirip suara bancii----"


Bilmar kembali menggaruk-garuk tubuhnya. "Terserah deh, yang penting sekarang aku ingin cepat turun! Ingin cepat selesai, nggak tahan nih! Gatal banget, uuhh!!"


"Ya udah sana. Semangat ya Kak, kalau ada apa-apa segera telepon aku----SEMANGAT!!"


Binara terus memberikan semangat untuk Kakak iparnya. Melihat wajah Binara yang berbinar-binar tentu tak sampai hati jika Bilmar membatalkannya.


Ia pun turun dari dalam mobil dan memanggul tas besar yang beratnya melebihi tubuh Alika.


"Masya Allah, berat banget sih!" Bilmar terus memanggul sampai ke gerbang rumah Ny. Gweny.


Setelah ia meyakinkan para penjaga bahwa dirinya hanyalah tukang AC yang akan melakukan service rutin bulanan. Maka Bilmar segera di perbolehkan masuk dengan mudah.


"Wah cepat banget nih kancil bisa lolos dari jeratan buaya. Hahaha, semangat Kak. Aku mendoakan mu!" Binara terus memperhatikan Bilmar dari dalam mobilnya.


*****


Jantungnya bergemuruh. Bilmar merasa gugup ketika langkah kaki nya sudah sampai tepat di depan pintu utama rumah Ny. Gweny. Tentu saja perangai seperti ini sangat membuat Bilmar seperti buronan, jika saja ada Siberian Husky disini. Sudah pasti anjing itu akan mengejar Bilmar sampai wig gondrong itu akan terbang dan terlepas dari kepalanya.


Beruntunglah


"Ya Allah, gimana reaksi Alika kalau tau suaminya seperti ini? Semoga aja aku nggak bertemu dengan dia---Diego lah yang harus bertemu denganku!" Gumamnya. "Duh gatal banget sih!" Bilmar kembali bergeliat menggaruk tubuhnya.


"Sudah stop! Ayo fokus, Bil!" Ucapnya kepada diri sendiri dan terus memperlancar ritme nafasnya.


Tok tok tok


Bilmar mulai mengetuk daun pintu, hatinya masih saja was-was. Ia takut jika penyamaran ini gagal. Padahal kemarin dia paling bersemangat untuk menyamar, namun entah mengapa setelah Alika memberikan nasihat lembut kepadanya.


Membuat lelaki ini menenggelamkan niatnya. Ia malah takut kalau istrinya akan marah karena sikapnya yang tidak bisa diajak negosiasi.


Krek.


Pintu utama dibuka. Entah bagaimana semesta ingin mempermainkannya. Seketika Bilmar membuang wajahnya ke bawah manakala melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang berdiri diambang pintu.


"Ya Allah..."


Alika seketika memalingkan wajahnya. Wanita ini terkejut ketika melihat laki-laki berambut gondrong dengan kumis lebat dan tompel lebar. Ia masih berdiri disana sambil menggendong Gadis.


"AH SERAM SUSTER..." Gadis berteriak ketakutan. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Alika dan memalingkan wajahnya. "Sela takut!!" Seru anak ini lagi.


"Ada apa ya Pak?" Alika menolehkan kembali wajahnya dengan sedikit keberanian yang dipaksakan.


Bilmar pun kaget melihat reaksi dari Alika dan Gadis. Ia terus mengerutkan dahinya seraya berfikir, apakah betul seseram itu wajahnya saat ini?


"Keterlaluan banget si Binar! Wajah ganteng kayak begini malah di rubah jadi hantu gentayangan!" Batinnya frustasi. "Mana gatal banget----" Bilmar tetap menahan untuk tidak menggaruk tubuhnya lagi.


Tiba-tiba ia lupa harus memakai suara yang seperti apa. Tidak mungkin ia berbicara dengan suara apa adanya. Alika pasti akan mengenalinya.


Ting.


Ide brilian muncul.


"Pak? Ada perlu apa ya?" Tanya Alika kembali sambil mengelus-elus tubuh Gadis.


"Oh Bisu ya, kasian sekali----"


"Ya Allah!" Lagi-lagi suara histeris datang dari sumber suara lain. "Mas tukang AC ya?" Mba Ratna terlihat ikut meringis ketika melihat perawakan Bilmar.


Lelaki itu pun menjawab dengan gerakan tangan. "Kasian banget ya, udah seram, bisu lagi...." Cicit Mba Ratna pelan.


Tepat sekali! Hari ini memang jadwal service AC rutin bulanan di rumah ini. Sedari tadi para Art sudah menunggu kedatangan tukang AC.


"Hebat juga telepati si Binar, bisa tepat gini rencananya! Syukurlah, aku bisa bernafas lega.." Batinnya.


Bilmar menghela nafasnya perlahan. Ia selamat saat ini.


"Sayang, aku mohon jangan kenali aku ya. Aku takut cinta kamu berkurang buat aku!" Bilmar berdecis geli dalam hatinya.


"Apakah ini ya, anaknya Binar? Nanti pulang sama Om ya, Nak!" Bilmar terus mematung melihat tubuh Gadis yang masih meringkuk ketakutan.


"Ayo Pak silahkan kedalam---"


Alika membangunkan lamunan Bilmar. Benar-benar penyamaran Bilmar saat ini sangat membangkitkan rasa ketakutan semua orang.


Alika pun masuk lebih dulu dengan Gadis. Sedangkan Bilmar ditemani Mba Ratna untuk menuju AC mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu.


"Kamar Non Sela dulu aja deh..."Ucap Mba Ratna. "Ayo Mas, ikuti saya!" Bilmar pun mengikuti Mba Ratna untuk masuk kedalam kamar Gadis.


"AC ini aja dulu ya Mas. Kemarin kayaknya kurang dingin."


Bilmar sepertinya lupa bahwa dia sedang menyamar menjadi orang bisu. Ia malah menjawab ucapan Mba Ratna.


"Baik Mba..."


"Waduh, bisa ngomong ya? Saya kira sampean bisu Mas. Maaf loh---" Mba Ratna tertawa. "Ya udah Mas saya tinggal ya, mau buatkan minuman dulu."


Bilmar mengangguk, ia kembali menjadi orang bisu. Lelaki ini terus mendongakkan wajahnya, menatap lurus AC yang menempel tinggi di dinding.


Tiba-tiba


Blass


"Susah ya Mas?" Bilmar tersentak dengan suara yang tiba-tiba muncul disebelah tubuhnya. Lelaki ini meringis melihat tubuh istrinya yang sudah berdiri disampingnya.


"Kenapa? Kaget ya Mas?" Tanya Alika kepadanya.


Kemudian


"AHH...DUH! PERIH!" Suara Bilmar terdengar nyaring begitu saja ketika Alika berhasil menarik kumis mainan itu dari atas bibirnya. Ia membekap mulut Bilmar dan mendorongnya sampai ke dinding.


"Sayang...." Desah Bilmar. Ia tetap memberikan senyum terbaiknya kepada sang istri.


"Kamu tuh ya, Bil! Keterlaluan banget sih!" Alika berbisik pelan. Ia terlihat sangat marah.


Bilmar melepas tangan Alika yang masih membekapnya. "...Kok kamu tau sayang, ini aku yang datang?"


Alika menarik sudut bibirnya untuk naik keatas. Melipatnya dengan masam. "Tukang AC beneran nya udah datang! Aku alihkan ia ke kamar yang lain! Aku tuh hafal leluk tubuh kamu! Bisa-bisanya yah kamu buat masalah, Bil! Buat apa sih kayak begini!!" Alika menggelengkan kepalanya, tidak akan menyangka suaminya akan melakukan hal seperti ini.


"Wah, aku harus cepat kabur nih sayang. Ayo tolongin aku!" Bilmar memelas.


"Ya udah pergi sana, lewat taman belakang aja. Tapi disana ada banyak musang yang dilepas gitu aja. Kalau lewat depan ada Siberian Husky yang lagi bergoler di depan gerbang utama. Terserah deh kamu mau keluar dari sini lewat mana..." Ujar Alika berbohong, ia kesal karena sudah ditipu oleh suaminya sendiri.


"Jangan gitu dong Al, ayo bantu aku untuk keluar dari sini. Ini semua tuh idenya Binar!"


"Apa??" Alika makin menajamkan kedua bola matanya.


"...Hei, siapa kamu?"


Alika dan Bilmar terkejut bersamaan manakala ada seruan yang nyaring mengagetkan mereka berdua. Dengan cepat mereka menoleh ke arah ambang pintu. Lelaki ini pun masuk dan menghampiri mereka berdua yang jaraknya sangat dekat.


"Ya Allah benar! Lekaki ini memang Diego! Kenapa bisa tepat sekali perkiraan Binar!" Ucapnya dalam hati. Bilmar terus melihati wajah Diego tak urung-urung.


"Maaf Tuan, ini tukang AC yang akan service AC dikamar Nona." Alika membela cepat. Ia takut Bilmar dalam masalah.


"Hem..??" Diego menaikan satu alisnya, ia menatapi Bilmar dengan kecurigaan. Mengapa bisa tukang AC berdandan seseram ini.


"Berliana, jangan terlalu dekat dengan orang asing---" Diego meraih tangan Berliana dan menariknya untuk berdiri tegak disampingnya.


Bilmar mendelikan matanya dengan tajam ketika tangan sang istri digenggam oleh Diego.


"Brengsekk!" Umpatnya dalam hati. Seketika itu pula Alika merasa takut, ia sudah tau bagaimana perasaan suaminya sekarang.


"Maaf Tuan..." Alika langsung melepaskan genggaman tangan itu.


"Ayo bersiaplah, aku dan Gadis menunggu kamu diluar!"


"...Nyonya bagaimana Tuan?"


"Tenang, itu urusan saya. Cepatlah, kami menunggu kamu."


"...Baik Tuan. Saya akan menyusul!"


Diego pun berlalu dan keluar dari kamar.


"Sayang, pulang ya. Aku mohon.." Alika merintih dan memohon kepada Bilmar. Mengusap pipi suaminya dan menciumnya. "Walau seram begini, tapi aku tetap cinta kamu--" Alika tersenyum. Ia pun pergi keluar meninggalkan Bilmar untuk menyusul Diego dan Gadis.


*****


Like dan Komen ya guyss❤️