Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
MPS 2 : Kedatangan Nayla.


Selamat sore guyss


Aku kembali


Selamat baca ya


❤️❤️❤️❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


Terlihat selang infusan sudah mengalirkan cairan ke tubuh Alika. Wanita itu ditemukan ketika akan jatuh dan tidak sadarkan diri oleh suaminya. Beruntunglah Bilmar datang tepat waktu, jika tidak, sudah dipastikan Alika akan jatuh ke lantai dan mungkin akan kehilangan bayinya. Saat ini Alika sudah ada di kamar perawatan Rumah Sakit. Bilmar masih mendekap Alika di ranjang pasien.


"Aku mau pulang, Bil..." Alika terus merengek. Ia menarik-narik lengan baju Bilmar yang masih diam menatapnya.


"Di sini dulu ya. Kata Dokter kamu kekurangan cairan karena terus muntah, makanan juga gak ada yang masuk." Jawab Bilmar.


"Terus gimana dong sama Ammar, Maura dan Gadis? Aku juga kan harus nyusuin Ammar!" Cicitnya sendu.


Bilmar menghela nafasnya seraya berfikir kembali. Dirinya bingung, di satu sisi istrinya tengah sakit dan kata Dokter memang harus dirawat kurang lebih 2-3 hari. Tapi di satu sisi lagi, ada anak-anak mereka dirumah yang harus dijaga. Bagaimana Bilmar bisa membagi waktu dan dirinya untuk menjaga mereka dalam waktu bersamaan, apalagi dirinya sedang banyak di sibukkan dengan berbagai rapat penting di EG.


Baru saja ia ingin membuka suara untuk memberi ide, Alika lebih dulu menyelak.


"Aku gak mau kalau anak-anak dibawa ke Rumah Sakit, bahaya Bil, takut kena penyakit!"


"Lagian juga, memang kamu bisa ngurusin mereka kalau aku tetap di rawat disini??"


Bilmar terdiam, ia tidak bisa menjawab apa-apa. Apa yang dikatakan istrinya selalu saja benar.


"Tapi kan ada, Bin---"


Alika memotong cepat. "Walau ada Binar tetap aja, aku was-was. Mana bisa dia ngurus tiga anak sekaligus, ngurus Gadis juga masih belajar."


"Maura susah makannya, harus disuapin. Ammar juga kalau lagi nyusu harus pelan-pelan, anak itu gampang tersedak. Belum lagi Gadis kalau kemana-mana harus digendong, mereka pasti nangis nyariin aku..."


"Aku bakal gak sehat juga disini, karena fikiran aku terus memikirkan mereka, sayang..." Alika melembutkan suaranya. "Bolehin aku pulang ya? Aku di rawat dirumah aja, sekalian ngurus mereka, gimana?" Alika kembali merayu suaminya.


"Tapi kamu dan si kembar juga butuh istirahat, Al! Kamu muntah-muntah terus.." Wajah Bilmar terus mengembang kecemasan.


"Istirahat dirumah aja ya..." Alika tetap memaksakan kehendaknya.


Bilmar kembali mengedarkan pandangannya ke sisi kamar perawatan. Kembali berfikir mencari jalan terbaik, namun tetap saja ia tidak mempunyai alasan tepat untuk menolak.


Walau dengan segala keterpaksaan akhirnya Bilmar mengangguk pelan. Ia menyetujui permintaan istrinya. Bilmar pun kembali menemui Dokter untuk mengizinkan Alika untuk pulang atas permintaan sendiri.


Alika pun tahu dirinya saat ini sedang lemah, lemas dan tidak sehat. Tapi ia adalah seorang ibu, ibu yang akan selalu mengutamakan kepentingan anak-anaknya. Walau saat ini ia sakit karena tengah mengandung calon bayi kembar mereka.


****


"Gak usah di gendong, Bil. Aku jalan aja. Udah gak terlalu lemas..."


"Ya udah pelan-pelan!" Bilmar terus memapah tubuh Alika untuk turun dari dalam mobil.


Belum saja langkah keduanya sampai diambang pintu, mereka sudah dikagetkan dengan tangisan Maura yang begitu nyaring. Anak perempuan itu memanggil-manggil Mamanya. Terdengar Binara sedang mencoba untuk menenangkan keponakannya itu.


"Jangan nangis lagi ya sayang, nanti Mama pasti pulang kok!" Binara menggendong Maura, namun anak itu terus saja menangis dan meronta-ronta.


"Assalammualaikum..." Suara yang Maura tunggu akhirnya muncul. Membuat anak itu langsung turun dari gendongan Binara.


"MAMA!!" Serunya kencang. Ia berlari menghampiri Alika. Sebelum anak itu menerjang sang Mama, Bilmar lebih dulu menangkap Maura dan menggendongnya. Bilmar tahu bahwa anak itu pasti akan meminta gendong kepada istrinya.


"Gak mau Pah, aku mau nya sama Mama...Mah.." Maura terus menjulurkan kedua tangannya untuk diraih oleh sang Mama.


"Gak apa-apa, Bil. Sini sama Mama, sayang.."


"Jangan, Al! Kamu masih lemas!" Ucap Bilmar tegas, lalu ia beralih ke arah Binar yang masih mematung melihat mereka.


"Bin. Tolong bawa Alika ke kamar!"


"Aku yang memaksa pulang, Bin. Aku khawatir sama Anak-anak."


"Mah, gendong Mah.." Maura tetap ingin turun dari gendongan Bilmar. Namun tenaga Bilmar terlalu kuat untuk di lawan.


"Iya Nak, sini sama Mama.."


"Al?" Bilmar menggelengkan kepalanya. Lalu ia menatap Maura. "Kalau Maura minta gendong terus, Papa akan kurung dikamar, mau??" Seketika itu pun Maura berhenti dari tangis, ia menundukkan kepalanya. Anak itu takut jika melihat sang Papa sudah memberikan ultimatum kepadanya.


"Jangan gitu, Bil. Kamu berlebihan, aku gak akan mati kok, kalau hanya gendong Maura!"


"Jadi kamu bantah aku?"


"Ya aku gak bantah! Tapi kamu nya aja yang keterlaluan, masa sih hanya gendong aja gak boleh! Sampai mau ngurung anak segala!"


Alika memberanikan diri berbicara dengan nada tinggi kepada suaminya. Menatap wajah Bilmar dengan tatapan kesal. Bilmar pun menerima tatapan Alika dengan wajah yang tak kalah emosi.


"Lebay tau gak!" Alika berdecak malas.


"Lebay dari mana??" Nada Bilmar terdengar lebih tinggi. "Aku begini juga buat kamu! Buat bayi kita juga! Apa sih susahnya untuk nurut?" Bilmar semakin di ledak emosi.


Mendengar Bilmar dan Alika ribut, Maura pun menangis kembali. Anak itu kaget karena kedua orang tuanya berbicara dengan nada kencang.


"Udah deh kenapa jadi berantem sih!" Binara melerai mereka. "Sini, Nak. Sama tante ya.." Binara meraih tubuh Maura untuk digendongnya. "Kalau mau berantem jangan depan anak dong! Tuh liat anak ku juga ketakutan lihat kalian!!" Binara menunjuk Gadis yang masih melongo melihat ke arah mereka dari sofa ruang tamu.


"Mau punya anak empat, masih aja kaya anak-anak! Gak ada dewasanya!" Binara terus berdecak lalu ia merangkul Alika untuk dibawa duduk di sofa.


Kedua mata Alika terlihat berkaca-kaca. Sudah lemas tubuhnya ditambah lagi hanya masalah sepele, yang membuat ia harus ribut dengan suaminya. Entah mengapa selama Bilmar tahu Alika hamil anak kembar, perasaan takut, gelisah, cemas dan khawatir terus bersatu padu dalam tubuhnya. Selalu saja insting tidak baik melingkup dalam benak Bilmar.


Apakah yang akan terjadi?


Bilmar mengusap wajah sampai ke rambutnya dengan kasar. Lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang. Mengeluarkan desahan nafas yang panjang untuk mengeluarkan segala beban dengan kepala tertunduk.


Baru saja Alika dan Binar duduk si sofa, ia kembali menoleh ketika ada suara lain yang tengah mengucap salam diambang pintu.


Bilmar pun menoleh dan Binar bangkit berdiri. Mereka berdua sama-sama terperangah dengan kedatangan seorang wanita yang tidak asing didalam hidup mereka.


"Asslammualaikum.." Salam nya lagi ketika ia melihat semua orang hanya diam tak menjawab salam dari nya.


"Nayla?" Ucap Bilmar. Ketika melihat wanita itu sudah ada di ambang pintu rumahnya.


"Siapa, Bin?" Tanya Alika kepada Binar yang masih berdiri melihat langkah wanita itu masuk kedalam.


"Apa kabar Kak Bilmar?" Tanya nya sambil membungkukkan badannya untuk mencium punggung tangan Bilmar.


Ia pun mengulas senyum ke arah Alika dan Binara. Binara hanya memberikan senyuman tipis kepadanya, sedangkan Alika masih melongo menatapnya.


"Boleh Nayla masuk, Kak?" Suaranya kembali membangunkan lamunan Bilmar. Lelaki itu pun cepat tersadar dan mengangguk.


"Ayo masuk Nay.." Bilmar membawa langkah Nayla menuju sofa ruang tamu yang saat ini juga tengah di duduki oleh istri dan adik iparnya.


"Nayla kenalkan ini istri saya, namanya Alika..." Bilmar mempersilahkan untuk mereka berkenalan.


"Aku Nayla, Kak.."


"...Alika."


Mereka saling berjabat tangan.


Bilmar pun duduk disebelah istrinya. Sedangkan Nayla duduk di single sofa.


"Bin, tolong bawa dulu Maura dan Gadis ke kamar!" Titah Bilmar kepada adik iparnya.


"Iya Kak." Binara menggendong kembali dua anak itu dan dibawa ke dalam kamar tidur mereka.


Alika masih menatap Bilmar dengan tatapan aneh. Ia merasa seperti akan ada pembahasan penting diantara mereka. Nayla terus tersenyum ke arah Alika dan Bilmar, namun berbeda dengan Bilmar. Wajah lelaki itu terlihat khawatir, ia terus diam. Bingung ingin memulai awal pembicaraan dari mana, ia terus menoleh ke arah Alika.


"Bagaimana Kak?" Nayla memecah keheningan dengan membuka suaranya dulu.


Alika yang masih menatap Nayla langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang suami. Menatap lurus dan tajam, seperti ada pembicaraan yang sudah terjadi sebelumnya diantara Nayla dan Bilmar.


"Ada apa ini?" Alika langsung beralih untuk menatap Nayla kembali. "Siapa kamu? Ada hal penting apa yang ingin dibicarakan??"


Wanita hamil itu butuh penjelasan tentang siapa Nayla dan apakah tujuannya. Mengapa Bilmar terlihat gusar dan gegana. Ia tahu pasti setelah ini, istrinya akan merajuk, menangis dan sangat kecewa kepadanya.


****