
Selamat pagi. Hai semua, adakah yang rindu dengan Bilmar dan Alika?
Oke deh selamat baca ya guys
❤️❤️
.
.
.
.
.
.
.
Setelah tamparan panas mendarat di pipinya, emosi Nayla semakin meradang. Wanita itu menatap Alika dengan tatapan benci. Ia melangkah maju untuk membalas, ia ingin menampar Alika, namun wanita hamil ini bisa begitu saja menghindar.
"Nayla jangan!" Seru Papa Bayu yang masih tersungkur dibawah sambil mengucek-ngucek mata kirinya. Mata nya terasa perih dan sakit karena sikut Nayla tidak sengaja mengenai bagian sensitiv tersebut.
Alika meraih tangan Nayla untuk diremas, diputar dan di dorong sampai tubuh wanita itu sedikit terpental jauh. Bayangkan saja wanita mungil yang sedang hamil tiga bulan namun sudah terlihat buncit itu terus saja mengeluarkan ilmu bela dirinya walau ia juga sedang menggendong Maura, tentu Nayla harus hati-hati dengan Alika. Jangan lupakan, Alika sudah berada di kasta sabuk hitam di dunia taekwondo.
"Argg..!" Nayla mendengus kesal karena ada rasa linu yang ia rasakan ketika tangannya di remas oleh Alika. Ia semakin geram dengan langkahnya yang blingsatan, ia langsung mendorong tubuh Alika yang sedang membantu Papa Bayu untuk bangkit berdiri.
Bug.
Alika tersungkur ke lantai. Maura pun ikut terjatuh. Alika terlihat meringis dan memegangi perutnya. Pinggang dan bokongnya begitu saja linu ketika terdorong dengan kasar mengenai lantai.
"Alika..." Seru Papa Bayu yang ingin membantu, namun matanya tidak jelas.
"Ah, Tante jahat!" Teriak Maura kepada Nayla, anak itu memukul-mukul perut Nayla. Maura tidak suka jika Mamanya di sakiti.
Alika masih meringis kesakitan. Ia terus mengatur ritme nafasnya yang tersengal-sengal agar kembali normal. Alika terus mengusap-usap perutnya, ia takut perutnya akan keram.
"Lepasin Maura!" Seru Alika ketika Nayla berhasil menggendong Maura, walau anak itu terus berontak dan menangis.
"Untuk apa kamu marah? Toh Papa kandungnya saja sudah mengizinkan dia untuk bersamaku!"
Nayla tertawa ia menyeringai bagai sampah busuk. Ia sengaja memfitnah Bilmar agar hati Alika semakin panas dan kurang konsentrasi, karena fikirannya akan hanya tertuju kepada suaminya.
Tatapan Alika berubah menjadi burung gagak yang siap menerkam habis mangsanya. Kedua alisnya menukik tajam. "Apa maksud kamu?" tentu saja Alika akan bertanya dengan kata-kata seperti itu.
"Oh jadi suamimu belum cerita? Bagaimana beberapa jam yang lalu kami menghabiskan siang bersama?" Nayla membuka satu kancing dan memperlihatkan bagian tulang selangkanya yang memerah.
"Sudah tau kan, kalau memerah seperti ini berarti tanda apa?"
Tanda kissmark, sialan! Dari mana wanita gila itu mendapatkannya, jelas-jelas Bilmar tidak melakukan apa-apa kepadanya malah mengusirnya. Dua bola mata Alika terus saja menatap bekas merah di bagian sana.
"Apa?" Desahnya pelan, Alika tidak begitu saja percaya. Ia teringat bagaimana rasa cinta Bilmar kepadanya.
"Bohong kamu! Jangan fitnah suami saya, dia tidak murahan seperti kamu!" Ucap Alika dengan wajah berapi-api.
"Terserah! Malah saya menyesal mengapa harus merasakan semua itu sekarang! Mungkin Kak Bilmar rindu dengan Kak Kannya----"
Dasar wanita halu!
Alika tidak suka mendengar hal itu, dadanya terasa sesak. Berkali-kali ia ingin percaya suaminya namun begitu saja terpatahkan. seolah ucapan Nayla begitu saja benar, Ia tahu persis bagian yang disukai oleh suaminya ketika sedang bertempur dengannya di atas ranjang. Bilmar akan selalu meninggalkan kissmark di tulang selangka.
Tentu tanda merah yang Nayla perlihatkan itu hanyalah bekas kerokan ketika ia habis di pijat beberapa hari yang lalu. Namun warnanya sudah berangsur memudar.
Namanya juga wanita gila! Tentu ia punya banyak ide untuk hal itu.
"Nayla tutup mulut kamu! Putra saya tidak akan melakukan hal kotor seperti itu!" Ucap Papa Bayu.
Nayla tahu Alika sudah terpancing. Ia melihat Alika dengan mata yang berkaca-kaca. Dada Alika terasa linu dan sesak. Sepertinya oksigen disekitarnya berubah begitu saja menjadi karbon dioksida, membuat ia seperti tercekik.
"Kak Bilmar sudah melimpahkan hak asuh Maura kepadaku!"
"BOHONG!" Suara itu tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Suara yang menggelegar nyaring untuk mempertahankan harga dirinya di mata sang istri.
"Tega sekali kamu memfitnah saya!" Bilmar melangkah cepat untuk menghampiri istri dan Papa. Ia pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya diantara posisi Alika dan Papa Bayu yang begitu saja masih tersungkur di lantai.
"Pah.." Ucap Bilmar.
"Sayang kamu gak apa-apa? Ada yang sakit?" Tanya Bilmar dengan wajah cemas penuh kekhawatiran. Bilmar beralih menatap Nayla lalu mengubah tatapan rindu kepada Maura.
"Turunkan putri saya! Dasar brengsekk kamu! Kamu apakan istri saya!"
Maura pun menggigit bahu Nayla dengan kuat. Nayla pun melepaskan anak kecil itu dari gendongannya. Ia mengerang kesakitan, Maura berlari untuk mendekap sang Mama dan Papanya.
"Bil, apa benar ucapan wanita itu?"
Bilmar menggeleng cepat.
"Dia berbohong sayang! Aku gak pernah memberikan hak asuh kepadanya!" Bilmar menunjuk ke arah Nayla yang sedang menahan sakit. "Kurang ajar kamu---Beraninya memfitnah saya seperti ini!" Terlihat kobaran api tersembul dari dua bola mata Bilmar.
"Dengan gampangnya kamu melupakan aku begitu saja, setelah kita---"
"Bil, jawab! Benar kamu----?" Alika menyelak ucapan Nayla yang semakin tidak pakai fikiran.
Ia tidak sanggup melanjutkan pertanyaan itu. Bilmar semakin jijik dengan Nayla, Ia tahu arti perkataan biadab dari adik iparnya yang selalu ia anggap baik, polos dan lugu. Ia tidak menyangka wanita ular itu akan melalukan berbagai cara untuk merusak rumah tangganya.
"Demi Allah, Al. Aku gak melakukan apapun dengan wanita kecoa itu!"
"Apa? Kecoa?" Sahut Nayla tidak suka.
"Iya kecoa! Karena kamu menjijikan, Nay! Sudah tega membohongi kami selama ini dan sekarang mencoba memfitnah aku didepan istriku! Benar-benar kamu kurang ajar, Nayla!! Jika saja kamu laki-laki. Sudah habis nyawa kamu saat ini ditanganku! Jangan main-main kamu----"
Bilmar kembali menunjuk ke arah wajah Nayla dengan jari telunjuknya. Bilmar menatap Nayla, seperti tatapan seorang mafia yang siap mengambil jantung secara hidup-hidup dari tawanannya.
Nayla si wanita lakhnat itu hanya mendegus kesal dan memutar bola matanya jenga. Ia pun tertawa, masih terus berusaha untuk menyakiti Alika.
"Walau kamu gm mengakuinya, aku tetap terpukau. Bahwa kamu handal dibidang itu, hahahaha!" Nayla semakin menggila. Mungkin betul, sebentar lagi wanita itu tidak akan waras.
"Bil?" Seru Alika kembali kepada Bilmar. Wanita hamil itu semakin gamang.
"Demi Allah, Al. Demi tuhan, demi kamu, demi orang tuaku, demi semua anak-anaku! Aku bersumpah tidak pernah menjamahi wanita manapun selain kamu!" Bilmar terus bersumpah untuk meyakinkan sang istri. Ia tahu nafas Alika semakin berat. "Oh iya, kamu bisa cek rekaman cctv di ruanganku!"
Kedua mata Nayla terbelalak. Sial, fikirnya. Ia lupa jika diruangan Bilmar ada cctv yang bisa memperlihatkan jelas tentang keadaan tadi siang.
Ia merogoh ponselnya untuk menelpon Katherine agar mengirimkan potongan cctv diruangannya ketika kedatangan Nayla ke kantor.
Hati Alika begitu saja lega. Ketika Bilmar berani menunjukan bukti untuk memperlihatkan kebenarannya.
"Aku percaya sama kamu sayang!" Alika mengelus pipi suaminya untuk memanasi hati Nayla yang sedang gundah frustasi. "Jangan pernah bermimpi kamu untuk bersaing dengan saya!" Alika kembali menatap wanita halu itu.
"Suamiku, Ayo kita pulang! Tolong bantu aku berdiri sayang..." Alika sengaja berucap lembut kepada suaminya.
Bilmar pun memapah tubuh istrinya untuk bangkit berdiri. Setelah itu ia membantu Papa Bayu untuk berdiri juga.
"Mah.."
"Iya Nak, Maura pulang sama Mama ya----" Jawab Alika dengan wajah bahagia, walau tubuhnya masih mengerang karena sakit.
"Nggak bisa!" Nayla berdecak kesal.
"Cukup Nayla! Kamu keterlaluan! Saya bisa laporkan kamu ke polisi! Karena sudah menyembunyikan anak saya dan menyakiti Istri dan Papa saya!"
Nayla seketika bungkam. Ia pun terdiam karena posisinya untuk melawan saat ini tidak tepat.
Papa Bayu pun digandeng oleh Maura dan Bilmar memapah tubuh istrinya. Mereka semua berjalan menuju pintu utama. Entah mengapa Alika mendadak pusing dan tubuhnya begitu saja lemas. "Sayang.." Desah Bilmar ketika mencoba menegap kan langkah istrinya yang terasa begitu lemah. "Papa gendong ya, Mah?"
Alika pun mengangguk dan Bilmar melolongkan ke dua tangannya untuk menyangga punggung dan di bawah kedua paha istrinya. Ia menggendong Alika sampai kedalam mobil. Setelah ia meletakkan tubuh Alika di kursi mobil.
Deg.
Bilmar kembali panik. Ia shock bukan main. Lelaki itu pun berteriak ketika ada cairan basah yang begitu saja menempel dikedua tangannya.
"Al?" Seru Bilmar sambil melihat kearah kaki istrinya. Ada darah segar yang mengalir begitu saja.
"Ya Allah, Bil!" Alika pun berteriak histeris, ketika kedua matanya menatap telapak tangan suaminya yang basah karena cairan darah yang tembus dari dressnya, ia semakin tersentak ketika melihat kedua kakinya sudah dialiri darah segar dari dalam inti tubuhnya.
Alika tidak bisa menahan kecemasannya, Alika pun pingsan ditempat.
****
Pasti setelah ini pada mikirnya, Alika keguguran ya thor? hehehehe. Segini dulu ya, aku sambung lagi besok❤️❤️