
Hayy para readers kesayanganku. Aku balik lagi nih, semoga aja kalian masih tetap setia ya...❤️❤️
met baca🤗
***
"Tolong jaga anakku, Bayu!" ucap Papa Luky memelas. Kini hanya tinggal mereka berdua dibangku taman. Alika dan Bilmar sudah lebih dulu pergi kembali ke kamar. Binara dan Rendi pun terlihat sedikit menjauh merubah posisi mereka untuk membiarkan Papa Luky dan Papa Bayu bisa berbicara berdua.
"Kakak harus terus mengambil hati Alika. Dia hanya butuh waktu untuk bisa menerima Kakak dan Binar didalam hidupnya. Wajar kalau sekarang ia masih merasa bingung dan sulit."
Papa Luky menghela nafasnya amat dalam. Ia terus menatapi langit yang sedikit sudah mulai panas karena terik matahari. Ia trus membayangi wajah Alika yang masih benci melihatnya.
"Apalagi, selama ini Alika sudah dibesarkan oleh Mama dan Papa sambungnya. Ia merasa begitu dicinta dan diurus sampai besar. Menjadikan Alika sebagai sosok yang dapat berdiri dikaki sendiri seperti sekarang. Merubah nama Papanya yang sudah terpatri lama lalu berganti dengan nama Kakak. Hal itu merupakan suatu hal yang sangat tidak mudah. Butuh proses yang panjang." ucap Papa Bayu kembali, membuat Papa Luky menolehkan kembali ke wajah adiknya.
"Lalu, aku harus bagaimana Bayu? aku sudah menua, mungkin besok umurku sudah tiada. Aku hanya ingin melihat anak-anaku berkumpul bersamaku. Aku memang egois saat ini memaksakan kehendak agar Alika mau menerimaku dengan tangan terbuka!"
Bayu memberikan senyum biang lala ketika melihat Binara dan Rendi saling bercanda tawa beberapa meter dari mereka. "Lihat Binara Kak, dia saja butuh proses dari penyembuhan depresi akan kejadian masa lalunya. Dia mampu untuk bangkit. Begitu juga dengan Alika, hatinya akan berangsur pulih seiringnya waktu. Kakak jangan pesimis. Kakak harus terus jaga kesehatan dan terus berdoa, agar kita semua selalu diberi kebahagiaan dan keselamatan. Jika Allah saja sudah berkehendak mempertemukan kalian, pasti tujuannya hanyalah untuk membuat kalian bersama. Jadi bersabarlah dulu Kak." Papa Bayu diam sejenak, lalu bertutur kembali. "Aku akan berbicara dari hati ke hati dengan Alika. Ia hanya masih tegang dalam mengetahui semua kebenaran ini Kak, pelan-pelan ia pasti akan menerima Kakak!"
Papa Luky kembali menghela nafasnya, ia merasa angin segar sudah masuk kembali ke dalam kepalanya. Meraih kembali semangat yang sedari kemarin sudah berantakan "Makasi, Bayu. Tolong bantu Kakak." balasnya lirih.
Papa Bayu merangkul Papa Luky yang masih gundah gulana. Kecewa karena sebuah penolakan, itu sudah pasti. Namun dibalik rasa kecewa pasti akan ada rasa bahagia. Papa Luky harus bisa memaklumi proses perubahan jati diri Alika yang tidak begitu saja mudah untuk diganti.
***
"Aikh...Bil..." rintihan Alika meraung, terdengar begitu nyaring dibalik pintu kamar mandi.
"Lepasin aja Al, aku tau kamu butuh ini...aku kangen banget sama kamu!"
Alika kembali berpeluh, dalam kenikmatan yang kini tengah merekah diantara mereka.
Bunyi kucuran air terdengar dari dalam menemani isak rintihan dan keluhan yang saling bersautan diantara Alika dan Bilmar.
Sepertinya kata sepupu yang kemarin sempat membuat mereka sedikit berbeda dan tabuh. Saat ini sudah tertepis mantap. Bagi Alika dan Bilmar, mereka tetaplah pasangan suami-istri. Rasa cinta mereka lebih besar dari apapun. Mereka harus tetap bersatu, untuk terus melanjutkan hidup bersama setelah 12 tahun berpisah begitu saja tanpa penjelasan.
Mereka butuh kebahagian!
"Kamu tetap istriku, Al..Euhh!"
Alika dan Bilmar terus merintih didalam. Saling melepas asa, penat dan luka. Bukan Bilmar namanya, jika hanya melalukan permainan dalam satu kali babak. Ia akan terus menagih dan membuat panas Alika, untuk terus bermain. Memang rasa cinta antara suami istri akan lebih menggema ketika melakukannya dengan ikhlas, keterbukaan dan penerimaan.
"Mau gaya apa lagi sayang?"
"Gaya apa aja, aku siap, Bil. Yang penting kamu senang."
"Okelah, wait Sassy. Aku datang.."
Kemudian mereka tertawa bersamaan, lalu kembali merintih dan mendesahh. Bagi Bilmar, setiap malam adalah malam pertama untuk mereka. Yang harus dilakukan penuh gairah dan sensasional.
Tak lama kemudian, suasana yang masih memanas diantara mereka begitu saja terhancurkan dengan suara hentakan dari luar.
"BILMAR! SUDAH CUKUP!"
Ada suara yang tak asing, terus mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan kencang. Mungkin lelaki itu merasa risih mendengar saut-sautan suara mereka yang begitu nyaring lebih dari kucuran air. Bilmar dan Alika pun sontak menjadi kelabakan untuk memilih menyudahinya, wajah mereka tegang dan merah.
"Itu Papa ya? duh gimana nih Bil, aku malu!"
Bilmar sudah tidak fokus, ia juga sudah kepalang malu diketahui oleh Papa sendiri. Bilmar sudah melepas penyatuan mereka di babak yang ketiga ini. "Udah nggak apa-apa, sini aku bersihkan dulu tubuhmu dengan sabun."
Bilmar tetap harus bisa menjaga suasana hati Alika agar tidak cemas dan malu. Karena wajar saja mereka melakukannya, namun Papa Bayu hanya akan marah kepada Bilmar, karena tidak bisa sedikit saja menahan nafsu ketika sang istri masih belum pulih betul. Walau Alika merasa, ia juga butuh tanpa dipaksa. Baginya berduaan dengan Bilmar seperti itu, membuat kepercayaan diri kembali membaik.
"Ayo cepat keluar, Bilmar, Alika!"
"Iya, Pah!" ucap mereka bersamaan dari dalam kamar mandi.
****
Berikan aku semangat terus ya...
Like Vote Rate dan Komen..🖤🖤
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘