
Haii guyss, aku kembali
Selamat Baca ya
❤️❤️❤️
Pagi kembali tiba, sepertinya malam ini adalah malam keberuntungan untuk Alika. Karena ia bisa tidur nyenyak tanpa tangisan dari kedua anak-anaknya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Alika kepada suaminya. Terlihat Bilmar masih duduk berselonjor di sofa, sambil memegangi kepala.
"Pusing...." cicitnya manja.
Alika kembali menoleh lalu menghentikan aktivitasnya ketika sedang membereskan tempat tidur. Ia pun berjalan untuk menghampiri suaminya.
"Ayo sini, tidur aja di kasur!" Alika menggandeng tangan suaminya untuk bangkit dari sofa menuju ranjang mereka.
Lalu
Dengan cepat
Bilmar mengunci tubuh Alika dari belakang, ia ciumi tengkuk leher istrinya.
"Aku kangen kamu, Al! Aku udah sebulan lebih nahan pusing---"
Untuk menahan segala hasrat, ketika Alika masih dalam masa nifas. Bilmar memilih untuk berenang setiap malam agar rasa sakit dikepalanya bisa menghilang.
Entah mengapa selama melahirkan, hasrat Alika berkurang drastis. Ia jadi malas jika ingin disentuh, di cium atau di peluk oleh suaminya.
Ini terjadi karena ia merasa tubuhnya sangat letih. Beberapa malam terjaga karena Ammar yang rewel, haus karena ingin susu, atau Maura yang demam.
Belum lagi ia menjadi sedikit takut, karena masih merasakan sedikit sakit pada luka pasca persalinan dan merasa kurang percaya diri dengan bentuk tubuhnya.
"Bil, tapi aku kan masih belum boleh--" Alika bergeliat ingin menjauh dari wajah Bilmar yang sekarang sedang mendengusi tubuhnya.
"Masa sih? Aku tau kok kamu udah enggak pakai pembalut lagi!" Bilmar berdecis geli, walau dalam hatinya ada perasaan kesal sejak semalam.
Namun karena ia tidak ingin bertengkar sekarang dan menghancurkan hasratnya, maka Bilmar hanya bisa mengalah untuk mau memaafkan.
Sontak kedua mata Alika mendelik tajam, ia terdiam sebentar seraya berfikir.
"Kamu kok tau---?"
"Iya semalam tuh, aku nggak sengaja raba, eh tau nya bener udah nggak pakai. Sekarang aja yuk, Al!" Jawab Bilmar jujur.
"Apa??" Sontak, Alika kaget dan seketika tanpa ampun menginjak kaki Bilmar dengan kencang.
Bilmar pun mengerang. "Aduhh duh, Ammar tolongin Papa, Nak! Papa di aniaya---" Bilmar tertawa sambil melirik ke bayinya yang masih tertidur.
"Kamu tuh! Dasar penjahat kelamin!" Sentak Alika melepas begitu saja tangan Bilmar dari perutnya. Namun tenaga Bilmar lebih kuat, dan kembali memeluk Alika lebih erat.
"Kamu nggak semudah itu bisa lepas dari aku sayang, tubuh kamu tuh kecil!"
"....Sekarang aku udah gendut, Kok!"
"Hahahha, ngaku juga akhirnya ya?"
"Iihhhh kamu tuh! Lepasin nggak!!"
"Nggak mau, Al! Sassy dulu yuk---" Bilmar kembali menciumi leher istriya. Ia tidak malu melepas sedikitpun Alika saat ini.
Namun Alika terus meronta-ronta dan akhirnya berkata dengan nada tinggi.
"LEPASIN AKU!!"
Seketika Bilmar melepaskan tubuh Alika begitu saja, rasa nafsunya pun terhancurkan. Alika dengan kagetnya langsung memutar tubuhnya untuk melihat lebih jelas kedua bola mata suaminya.
"Keterlaluan kamu! Aku udah lama nunggu, Al. Dan kamu bohongin aku terus!" Bilmar mulai emosi dan frustasi.
"Kamu ngertiin aku dong, Bil! Aku lagi nggak ingin, aku juga masih takut--"
"Takut apa??"
"Rasa sakit melahirkan masih terbayang sampai sekarang, aku butuh waktu, Bil! Aku nggak ingin--"
Alika diam membisu. Ia tidak bisa berucap apapun sekarang.
"Aku udah cukup sabar menghadapi kamu! Mulai dari Ammar lahir, sikap kamu berubah 100 persen ke aku!"
"Aku hanya ingin cium kamu aja, tapi kamu menolak! Kamu selalu menghindar setiap aku ingin peluk kamu!
"Tapi selama 40 hari ini aku selalu mewajarinya, aku mengerti kamu memang sedang letih karena Mengurus Ammar dan Maura. Dan aku selalu menunggu kamu setelah masa nifas berakhir.
"Ternyata kamu bohongin aku, Al! Setiap hari aku nanya, apa kamu udah bersih. Kamu selalu jawab, BELUM!"
"Dan aku sabar, untuk terus nunggu! Tapi aku nggak suka dibohongi!"
"Asal kamu tau, kamu udah DOSA, Al! Kamu bohongi aku secara mentah-mentah!"
Bilmar pun berlalu dengan cepat dari hadapan Alika. Alika sempat menutup kedua telinganya ketika suaminya membanting pintu kamar dengan kasar.
Membuat Ammar terbangun dan menangis kembali. Baru saja satu jam lalu dengan segala perjuangan Alika berhasil menidurkan Ammar.
"Sayang, jangan nangis ya, Nak!"
Alika meraih Ammar untuk digendong dan memberikannya asi. Alika duduk ditepian ranjang menyusui putranya. Kedua matanya berkaca-kaca, ia masih terngiang-ngiang ucapan kekecewaan suaminya.
"Mama salah sama Papamu, Nak! Sekarang Papa marah sama Mama---" Alika mengadu kepada Ammar yang masih sibuk minum asi miliknya.
Tentu saja Bilmar kecewa dan kaget. Karena selama menikah, Alika tidak pernah menolak keinginannya, walau dalam keadaan letih sekalipun. Ia akan menyambut dengan senang hati kapanpun dan dimanapun.
****
.
.
.
.
.
.
Makasi banyak untuk kalian yang sudah Like, Vote aku dan kasih semangat. Karena Kalian juga cerita ini terus mengalir.
Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:
1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang
2.Jangan Berhenti Mencintaiku
3.Dua Kali Menikah
Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya
Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :
VOTE
LIKE
RATE
dan
KOMEN YA🖤🖤
sekali lagi👇
Thankyou readers kesayangan🥰
With love, gaga😘