Mantanku PresdirKu Suamiku

Mantanku PresdirKu Suamiku
Atas Nama Papaku, Aku Minta Maaf!


Hayy semuaa, masih anteng gak nih di MT & NT. Secara ini malam minggu, tapi mending dirumah aja ya guys. Baca semua novel di MT atau tidur aja dirumah, kita harus tetap putus rantai covid-19 walau udah new normal. Tetap pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak.


Sehat selalu buat kalian, salam dari kami tim medis🤗❤️


selamat baca guyss


***


"Hallo sayang..kenapa lama sekali diangkatnya? Aku khawatir !"


Suara Rendi disambungan telepon terdengar cemas. Rendi sudah menelpon Binara sebanyak 10x dan dua jam kemudian baru di jawab. Mengingat dua hari sebelum akad, mereka sudah tidak bisa bertemu.


"Maaf Kak, aku habis anterin obat untuk Papa.."


"Oh, aku kira kamu kenapa-napa! Papa gimana keadaanya sekarang?"


"Kayak nya psikis Papa mulai terganggu deh, semenjak kepulangan Papa Bayu dari rumah, Papa diam aja. Mengunci diri di ruang kerja, aku tau dia lagi nangis di dalam--"


"Papa Bayu? Bilmar sama Alika juga kesana?" tanya Rendi menyelidik.


"Enggak Kak, Kak Bilmar masih marah dan lebih parahnya lagi Kak Alika lagi terguncang jiwanya, aku sedih banget---" Ada suara merintih pelan terdengar di telinga Rendi.


"Ya Allah, sudah aku duga. Alika pasti akan seperti ini! Kamu sabar, Bin. Masalah ini memang nggak mudah !"


"Tapi, besok hari pernikahanku. Aku mau dia datang!" Binara mulai menangis. "Mana janjinya ingin mengajariku memasak, dia berbohong Kak!! Dia membenciku dan Papa sekarang!" Binara meremas-remas seprei dengan kepalan tangannya.


Lalu menjatuhkan dirinya di pertengahan kasur. Ia masih menangis menatapi setiap sudut kamar yang saat ini sudah selesai di dekor.


"Alika bukan membenci tapi ia masih kecewa, Bin! Jangan egois, kamu harus mengerti keadaan hati nya--"


"Bagaimana jika besok mereka tetap tidak datang?"


"Tengah malam bangun ya. Kita shalat malam, doakan Alika dan Bilmar. Siapa tau hati nya akan tergerak."


Meminta lah kepada Sang Maha Pencipta. Karena Tuhan lah yang bisa membolak- balikan hati manusia dalam sekejap.


***


Terlihat Bilmar masih berdiri di sekitaran jendela kamar yang menghadap ke taman. Kedua tangannya menyila di dada. Tatapannya lurus ke depan. Ia masih memikirkan ucapan Papa Bayu tadi siang.


"Sayang, lagi apa?" suara Alika mengagetkan Bilmar dengan langkah kemunculannya dari luar pintu.


"Ayo minum dulu susumu--" Alika menyodorkan segelas susu kepada Bilmar.


Alika tahu suaminya tengah gundah. Tapi sesuai janji yang telah ia ucapkan, ia akan menurut saja apa kemauan suaminya sekarang.


Alika berjalan ke sofa untuk membereskan beberapa lembaran dokumen-dokumen Bilmar yang masih tercecer. Mematikan laptop dan meletakannya kembali ke tempatnya.


Tuk.


Gelas susu di letakannya di nakas kembali


"Kok nggak di habiskan susu nya?" tanya Alika, membuat Bilmar menoleh. "Kamu sakit sayang?" Alika bangkit lalu mendekati suaminya. "Nggak demam, Kok.." punggung tangan di letakan di dahi Bilmar.


"Aku nggak sakit, Al!" Bilmar mulai meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ayo sini kamu tidur!" Bilmar menepuk bantal disampingnya. "Malam ini aku mau tidur sambil peluk kamu aja!" Alika tersenyum, ternyata suaminya sedang manja.


Alika pun merangkak untuk naik ke ranjang, lalu berbaring di samping tubuh suaminya.


"Sayang--"


"Emm?" Alika masih mengelus-ngelus rambut Bilmar. "Kenapa?"


"Selama kita berpisah, apa kamu pernah menjalani hubungan dengan lelaki lain?"


Alika menyerengitkan dahinya. "Kok tiba-tiba tanya kayak gini?"


"Nggak apa-apa, mau tau aja."


"Ya ada, malah sampai nikah. Mas aziz..." Alika tertawa.


"Itu mah aku udah tau!" dengus nya pelan.


"Selain itu? Karena aku sempat dengar kamu banyak di sukai di EG!"


Wajah Alika mencebik. "Sok tau ah kamu! Ayo, tau dari mana??"


"Ya elah, Al. Masukin si kedua keparat itu ke penjara aja aku bisa kok, masa percintaan monyet kaya gitu aku nggak tau--"


"Jadi kamu ngatain aku monyet??" Alika berdecak.


"Bukan kamu, tapi laki-laki yang suka sama kamu semua itu monyet!"


"Berarti kamu juga monyet, hahaha!"


"Emang ya dari dulu kamu selalu aja bisa ngejawab omongan aku.." Bilmar memiringkan bibirnya.


"Semenjak kamu pergi, aku benar-benar susah membuka hati lagi ke lelaki lain. Kadang Mama suka kesal liat aku kalau malam minggu hanya di rumah, dia takut aku nggak suka sama lelaki. Parah kan?"


"Tapi dulu kenapa sama aku galak banget coba?"


"Ya kan waktu itu masih SMA, Mama nggak mau lihat aku pacaran. Parahnya lagi sampai dipanggil guru BK. Karena kamu mau cium aku--"


"Habisnya ngapain kamu teriak-teriak segala, jadi heboh kan!"


Alika terdiam sebentar.


"Bil, kok aku jadi kangen ya sama Mama.." cicitnya sendu.


"Nanti kita ziarah ya ke makam Mama kamu."


"Ke makam Mama kamu juga ya."


"Maafin Mama aku ya, Al. Karena Mama kita sempat berpisah--"


"Tapi kan akhirnya kita dipertemukan kembali, mungkin garis tangan jodoh kita memang seperti ini, Bil. Jalannya!"


"Sekali lagi atas nama Mama aku minta maaf!" Bilmar masih mengelus-elus pipi istrinya.


"Begitupun aku sayang, atas nama Papa. Aku minta maaf ya--"


Secara tidak sengaja Alika menyentil hati Bilmar kembali. Alika memang hanya refleks mengatakan hal itu, tidak bermaksud sengaja. Kedua mata Bilmar terus menatap dalam-dalam wajah Alika.


Wajahnya kembali sendu. Hatinya kembali merana, ia belum bisa memberikan keputusan.


"Aku tau Papa ku sudah banyak menyakiti kamu, Bil! Dengan pernikahan mu bersama Binara, ke otoriterannya, ancamannya, kemauannya dan terakhir kejadian kemarin. Sungguh, aku tahu bagaimana kekecewaanmu saat ini..sayang." suara lembut Alika sangat mengiris kalbu Bilmar.


"Sekali lagi untuk nama Papaku, aku minta maaf ya, Bil--"


Bilmar hanya mengangguk dengan senyuman tipis. Sungguh tidak adil jika saat ini ia harus menghardik dan berkata kasar kepada istrinya untuk memperlihatkan rasa kecewanya dengam Papa Luky.


Karena ia tahu, Alika saja sudah bisa memaafkan tentang kesalahan Mama Mira di masa lalu.


"Ayo tidur sayang--" Alika mengusap-usap tubuh Bilmar yang sudah kencang memeluknya. Alika tahu untuk mencairkan hati Bilmar tidak melulu dengan kata paksaan, cukup dengan kelembutan, pelukan dan rangkulan. Ia tidak akan memaksa, karena ia tahu betul bagaimana rasa kecewa ketika hadir dan bertahta.


***


Pagi kembali datang. Alika sudah berada di kamar Maura untuk mendandaninya yang akan sebentar lagi ikut pergi bersama Papa Bayu ke pernikahan Binara dan Rendi.


Maura masih terlilit handuk di tubuhnya. Ia hanya diam duduk di sofa. Menatapi sang Mama yang tengah sibuk berjalan kesana kemari untuk menyiapkan keperluannya.


Alika meraih godie bag berisi dress putih untuk Maura yang sengaja sudah disiapkan oleh Binar, yang dititipkan kemarin kepada Papa Bayu.


"Mama kok nggak siap-siap?" tanya putrinya.


"Mama belakangan, sekarang Maura dulu--"


Alika memakaikan dress itu ditubuh anaknya. Lalu menyisir rambut Maura dan membuat kepangan cantik disana.


"Mama kenapa? Kok nangis?"


Langkah Bilmar terhenti sekejap diambang pintu kamar Maura, ketika mendengar ucapan anaknya. Ia mengurungkan langkah kaki nya untuk masuk ke dalam.


"Nggak apa-apa sayang."


"Iya betul, Mama nangis!" Maura menyeka air mata yang turun dari kedua mata Mama sambung nya.


Bilmar tau istrinya menangis karena tidak bisa menahan kesedihannya. Jauh dari relung jiwanya, ia ingin sekali datang ke pernikahan Binara dan Rendi.


"Nggak, Nak. Mama nggak nangis. Ini cuman kelilipan aja." Alika meyakinkan sang putri.


"Alika, Maura!" seruan Papa Bayu terdengar dari bawah memanggil nama mereka untuk segera turun.


Bilmar pun memutuskan kembali untuk masuk kedalam kamarnya.


"Ayo Nak, kita turun. Kakek sudah menunggu!"


Papa Bayu terlihat sudah rapih memakai beskap berwarna putih.


"Papa masih gagah nggak, Nak?" tanyanya penuh percaya diri.


"Gagah banget Pah.." Alika memberikan senyuman termanisnya. "Kamu benar tidak pergi?"


Alika menelan salivanya, membohongi hati dan jiwanya. "Alika hanya bisa menunggu Bilmar Pah, terserah saja dengan dia."


"Apa perlu Papa yang bicara lagi dengan suamimu?"


"Jangan..jangan, Pah. Biar Alika nanti yang bicara lagi sama Bilmar. Papa berangkat aja dulu sekarang, Papa kan, akan jadi saksi disana."


"Oh iya hampir lupa, kalau begitu Papa jalan dulu ya dan ingat ucapan papa, pernikahan Binar dan Rendi tidak akan di adakan untuk kedua kalinya, Alika harus berjiwa besar. Boleh kecewa dengan Papa Luky. Tapi tidak harus memutuskan hubungan seperti ini. Papa sudah bilang kemarin kepada adikmu. Kalau kalian akan datang!"


Papa Bayu terus memaksa Alika agar tetap datang. Mendengar ucapan itu membuat perasaan Alika makin terhimpit. Ia menjadi mantap untuk datang. Terserah bagaimana Bilmar, ia ingin tetap datang. Walau harus menangis darah, akan ia lakukan untuk hari ini. Mungkin ia harus melanggar janjinya.


Papa bayu pun berlalu bersama Maura untuk pergi kerumah Papa Luky.


Dengan langkah cepat, ia menaiki anak tangga. Ingin menemui suaminya meminta belas kasih untuk mengizinkannya pergi walau hanya sebentar.


Dan


"Bil?"


Alika kaget. Kedua matanya terperangah seketika garis senyumnya melebar. Tatapan sendu pun menghilang. Ia terus melihati Bilmar yang sudah berdiri didepan cermin yang sudah selesai memakai beskap putih pemberian Binara.


"Ayo cepat ganti bajumu! Nanti kita terlambat!"


***


Mungkin beberapa episode lagi akan membuat cerita ini berakhir. Aku sih belum ada bayangan untuk nulis season ke duanya, hehehe. Maka dari itu, enjoy lah kalian mengikuti terus kisah mereka. Jangan rindu yaa🤗🤗❤️


Hey teruntuk kalian yang baik hati, beri dukungan vote dong buat Alika sama Bilmar


Oh iyaa selagi kalian nunggu aku Update, bisa loh baca karya ku yang lain:


1.Bersahabat Dengan Cinta Terlarang


2.Jangan Berhenti Mencintaiku


3.Dua Kali Menikah


Bisa klik di profil aku ya, terus pilih karya


Berikan aku bukti semangat dari kalian dengan cara :


VOTE


LIKE


RATE


dan


KOMEN YA🖤🖤


sekali lagi👇


Thankyou readers kesayangan🥰


With love, gaga😘