
Hari Demi Hari Berganti...
Pagi ini cuaca sangat cerah..
Tiara nulai tenang karena hampir satu minggu dirinya tidak mendapatkan teror nurahan itu..
sudah hampir setiap hari Tiara akan pergi ke kantor mengendarai mobil miliknya, tentu itu pemberian dari Alm.Adam..
Sore ini Barry masih menjalani Meeting bersama client di kuar kantor, Tiara memutuskan untuk pulang sendiri mengendarai mobilnya, begitu juga dengan Syifa, karena kesibukan Fardhan ia jadi lebih sering membawa kendaraan sendiri..
Yaa memang kedua laki-laki itu tengah menjalabi beberapa proyek besar sekaligus hingga membuat mereka berdua harus ointar membagi waktu..
Tiara pulang melewati halte bus yang membuat jalan sedikit tersendat..
Tak hanya Bus kota yang mengetem, angkot bahkan Taxi pun ikut mengetem sehingga membuat keramaian ibu kota semakin terlihat ruwet...
itukan Prasetya.. Batin Tiara melihat sosok lelaki kemayun yang ia kenal..
Tiara mengambil ponselnya memencet nomer kontak "Pras" lalu menghubunginya..
terlihat Prasetya mengangkatnya...
"Lihat mobil silver di belakang angkoy kuning, itu aku! Masuklah!" Kata Tiara dalam sambungan Telfon tersebut..
"Ayo cepat, jangan membantah!" kata Tiara sedikit tegas..
Terlihat Prasetya melangkahkan kakinya menuju mobil Tiara..
Tiara yang sudah menurunkan kaca mobil itu pun berkata agar Pras segera masuk...
"Ada apa ibuperi" kata Pras dengan nada kemayunya
"kamu ga bawa kendaraan?" Tanya Tiara karena heran sekelas sekertaris perusahaan besar masih menaiki angkutan umum, apalagi Pras juga mantan sekertaris perusahaan eksport import..
"Motorku di bengkel, jadi aku naik bus" katanya dengan gaya gemulainya
"Bagaimana keadaan ibu nu" kata Tiara to the poin
Seketika Pras tertunduk
"Ibu Peri, apa Ibu mau menanyakan uang itu" kata Pras merasa sangat malu jika Tiara menagih uang itu.. Namun Pras salah sangka. Tidak ada niat Tiara untuk menagihnya bahkan berharap di kembalikan pun tidak..
"kau bicara apa?! apa wajahku terlihat wajah seorang oenagihbhutang? ha?" kata Tiara sedikit menaikan nada suranya namun wajahnya terlihat menertawakan pembicaraan Pras..
"Aku hanya ingin menanyakan Ibumu, bagaimana kabarnya?" Kata Tiara kembali melembut
"Ibuku baik, dia sudah semakin pulih.. itu berkat ibu peri yang membantuku" kata Pras tersenyum namun ia masih merasa malu
"Syukurlah aku lega mendengarnya... dimana kau tinggal" tanya Tiara lagi
"Di daerah melati empat, apa ibu peri tau?" Kata prasetya dengan nada gemulai
"tau itu dekat dengan Caffeku, mau mampir? kita bisa minum kopi disana! Gratis" kata Tiara menawarkan dengan nada candaan
"boleh ibu peri. Tapi apa Pak Bos Tampan ga marah?" Tanya Pras sedikit mengingat wajah masam Barry
"Tenang, aku sudah biasa selepas pulang kerja mampir ke caffeku" kata Tiara menenangkan Pras..
Perjalanan memakan waktu 40 menit lamanya..
"wah jadi ini milik mu peri? pantas saja mobilmu bagus, uang mu banyak.. wahhh" kata Pras berdecak kagum
"Baru pertama kesini?" tanya Tiara membawa dua cangkir kopi ekspresso
"pernah sekali, tapi aku sudah tidak pernah nongkrong lagi, sayang uangnya peri" kata Pras nampak jujur
"apa kamu ga mau cuti untuk menjenguk ibu mu?" Tanya Tiara membuat debar jantung Pras berdegub kencang
"Tidak Peri... pekerjaanku sedang banyak-banyaknya" kata Pras tertunduk sambil memainkan tepi meja dengan jarinya
"Barry dan Fardhan akan mengerti, apalagi orang tuamu yang sakit..." kata Tiara melembut
"Maksud mu? Selama ini bagaimana kamu tau keadaan mereka?"
"Aku tau lewat adikku, dia bekerja sebagai penjaga toko di pasar jadi saat dia bekerja itulah waktu yang tepat untuk kita berkomunikasi" ucap Pras sedikit bergetar
"Apa hubungan mu dengan kedua orang tua mu tidak baik?" Tanya Tiara membuat pras terdiam membisu, pergerakannya pun seolah terhenti begitu saja
"maaf.. tak perlu kau ceitakan, maaf aku lancang.. minumlah" kata Tiara sambil mengangkat cangkir kopi nya
Tiara sebanrnya tidak terlalu suka kopi, ia selalu menyukai gerantea latte namun sesekali ia akan meminum coffe disaat kepenatan menghantui dirinya..
"tak apa Peri, selama ini aku memendamnya sendiri.. karena aku malu maka aku memendamnya" kata Prasetya lirih
Tiara diam dan merasakan seruputan kopi miliknya..
"Sepuluh tahun lalu aku pergi dari kampungku di daerah kabupaten Bandung, aku pergi ke kota demi menghidupi keluargaku.. aku malu setiap hari ibu dan bapakku selalu bertengkar karena aku... " ucapan Pras tertahan dadanya sangat sesak
"Pras jangan di lanjutkan" kata Tiara sambil menggelengkan kepalanya
"Tak apa peri..."
Pras menarik nafasnya, dan ia buangbkasar!
"Mereka bertengkar karena aku, aku yang seperti ini.. Bapak membenci ku Peri, bapak selalu menjadikan ku pelampiasan kekesalannya, bahkan Bapak juga selalu mengutukku sebagai anak pembawa sial, pembawa bencana.. hiks hiks hiks"
Yaa Tuhan, Seringkali aku mengeluh akan cobaan-Mu ,, Tapi nyatanya ada yang mendapatkan cobaan yang tak kalah beratnya...
"Berhenti jika tak sanggup Pras, aku tak mau memaksamu" kata Tiara yang sudsng mengusap bahu Pras
"Tak apa Peri... Peri sejak aku pergi sepuluh tahun lalu, aku sempat menjadi J*la*g, aku sempat di jadikan war*a,, selama 3 bulan aku bekerja, lalu ibu mengetahuinya dari banyak omongan tetangga yang juga bekerja di kota... Akhirnya Ibu sangat membenciku, ibu semakin menjadi bula -bulanan bapak yang tidak bekerja namun akan haus akan uang.. Aku memutuskan pergi ke Jogja, aku kabur dari Bandung agar terjerat dari pekerjaan haram itu... Aku menjadi pengamen disana, aku berjualan baju daster dan banyak hal yang bisa menghasilkan uang halal aku kerjalan, Sampai akhirnya aku kuliah dan lulus.. aku bekerja di perusahaan export dan import sejak aku semester tujuh, saat aku lulus aku dijadikan sekertaris seorang wanita cantik, namun banyak yang tidsk menyukaiku, bahkan ia mencari tau masalaluku, sehibgga reputasiku di kantor buruk, akhirnya aku menetap di jakarta selama 1 bulan terakhir, aku sempat bekerja di laundry dekat kost ku, sampai akhirnya aku bekerja disini....."
Prasetya menceritakan kisahnya sangat tegar meski di awal ia merasa sesak di dadanya... namun melihat sikap care Tiara, ia merasa sangat tenang kala itu..
"Apa selama 10 tahun ini kamu tidak pernh pulang Pras?" Tanya Tiara pelan
"pernah, saat aku ingin menujukan Ijazahku, lima tahun lalu.. namun Bapak mengusirku mentah-mentah lalu mengambil ponsel serta uang cash yang aku bawa untuk Ibu... adikku bilang ibu sangat merindukanku dan sudah memafkan ku, tapi Ibu mendapat ancaman dari bapak, ibu akan dibunuh oleh Bapak kalo sampai Ibu menghubungi aku" Kata Pras sedikit meneteskan air mata
"ibu sakit dua Tahun ini, uang yang adiku dapat dari hasil gajinya tak cukup untuk biaya hidup apalagi biaya pengobatan, semntara Bapak terus merengek pada adikku, uang uang dan uang... hanya untuk kepuasannya bermain judi, menyewa perempuan j*al*g... aku ingin membebaskan ibu, namun sulit mengingat isi satu kampung itu rasanya sungguh membuatku semakin terpuruk karena mereka juga tidak menyukai ku karena ulah Bapak..."
"lalu apa kau pasrah dengan keadaan ini?" Tanya Tiara membuat hati Pras tersentak
"Pras, aku akan membantumu jika kau mau" kata Tiara sangat Tulus
"Perii... Ini sangat sulit" kata Pras lirih
"aku udah pernah mencobanya Peri, sulit" kata Pras tertunduk
Tiara menatap Prasetya penuh dengan Semanagat..
"Aku yakin bisa! kamu juga harus yakin dong!" Kata Tiara tegas
"Dan keyakinan kamu harus di dasari dengan kemauan yang gigih" kata Tiara dengan senyum penuh semangat
"Bagaimana?"
"Okeeee akan aku coba.. Makasih Ibu Peri, lagi-lagi kamu mau membantuku" kata Pras dengan gaya kemayunya
plak
Tiara menepis tangan Pras yang lentik!
"jangan tampakkan lagi tangan lentik itu, bicara biasa aja, mulai besok hitamkan rambut pirang mu itu" kata Tiara mulai mendikte satu persatu
Pras hanya mengangguk, dan mengingat-ingat hal apa yang harus ia rubah perlahan-lahan...
Yaa Allah, semoga Pras bisa merubah semuanya meski aku tau itu butuh proses yang panjang dan butuh perjuangan...
Ridhoi Pras yaa Allah, bimbinglah iaa...
*************