
Kesibukan tengah terjadi di kantor Atmaja, semua karyawan sibuk dengan tugasnya sebelum mereka menimkati jam makan siangnya...
Tiara Hari ini membawa bekal yang telah di siapkan oleh Ibunya.. Tentu Tiara tidak membawanya sedikit, dia bahkan membawa untuk porsi 5 orang...
Andin, Syifa, Anwar dengan Senang hati memenuhi ajakan Tiara untuk menyantao bersama makan siang gratis itu...
Mereka tengah berkumpul di Ruangan Tiara, Syifa Dan Anwar...
"sering-serinh aja ibu bawain kamu bekal begini, aku bisa berhemat" celetuk Syifa yang sedang menyiapkan Dua macam lauk di atas piring yang baru ia bawa dari pantry
"dasar pelit, sama diri sendiri aja pelit" celetuk Anwar
"bukan pelit, tapi tanggal tua begini emang harus menghemat" kata Syifa cekikan
sementara Tiara masih sibuk dengan ponselnya
"memang ada acara apa Ti ibu mu sampai membawakan bekal sebanyak ini?" tanya Andin penasaran..
Tiara hanya diam, tidak menggubris bahkan ia terlihat sangat fokus pada ponselnya..
Anwar, Syifa juga Andin saling bertatap..
"hellowwwwwww" tegur Syifa sambil melayangkan kedua tangannya ke kanan dan kiri persis di depan wajah Tiara
"haaaa," kata Tiara dengan jantung berdebar kencang sambil menekan tombol kunci ponselnya
"kamu melamun?" tanya Syifa dengan tatapan tajam
"kamu mikirin apa?" tanya Anwar yang juga penasaran
"ah tidak tidak, aku cuma membalas pesan dari ayahku... ayo mari makan aku lapar" kata Tiara yang sengaja berbohong dan mengalihkan pembicaraan dengan cepat
Mereka mengangguk dan segera mendatangi meja yang telah terhidang Nasi, Capcay seafood juga Ayam bakar...
Baru mereka akan menyendok makanan mereka, pintu ruangan itu terbuka..
"Pak Fardan..."
"eh lagi pada party ya, pantes agak bising dari luar .." kata Fardan yang masih menggantungkan tubuhnya di ambang pintu
mereka yang berada di ruangan itu saling tatap...
"eh engga Pak, ini lagi makan siang, mari makan pak" kata Andin seraya basa basi
"wah kalo kalian ga keberatan saya boleh gabung saya akan senang" kata Fardan melangkah masuk ke dalam ruangan
"dia juga suka makanan gratis, padahal uangnya banayak, jadi dia lebih pelit dari aku" Bisik Syifa kepada Anwar
Anwar hanya terkekeh kecil
"tenang saja pesanan makananku dari kantin akan segera datang kesini" kata Fardan menatap Syifa penuh arti
Astaga dia sepertinya dia mendengar omonganku" Kata Syifa dalam hati
Merekapun jadi cangung karena kedatangan atasanya, tak lama ponsel Fardan berbunyi menandakan panggilan masuk..
"ah jam istirahatpun dia menganggu" kata Fardan pada ponselnya
"saya makan di ruangan Tiara dan kawan-kawan pak" kata Fardan pada pembicaraan ponsel
Tiba-tiba ponsel itu ia tarik dari telinga nya agar bisa ia tatap...
"sial di matiin sepihak" kata Fadran berdecak kesal...
"silakan makan lah duluan, aku menunggu makananku" kata Fardan
"makan ini aja pak, seertinya cukup" kata Tiara dengan sopan
"hemm sepertinya enak" kata Fardan melihat sekeliling meja makan
"mari pak silakan makan" ucap Andin memersilakan..
dengan sigap Fardan memulai mengambil makanan di hadapannya, saat sudah siap makan makanan yang tersaji di piringnya pintu terbuka...
"Pak Barry" ucap seluruh karyawan itu kecuali Fardan yang malah berdecak kesal lalu menggaruk kepala nya yang tidak gatal
Barry masuk menuju meja yang berada di tengah ruangan itu sambil membawa box yang sudah pasti berisi makanan
"bisa-bisanya seorang asisten dan sekertaris makan tanpa memikirkan atasan nya" kata Barry dingin
"itu apa yang bapk bawa" dengan berani Syifa berbicara sambil melirik bawaan Barry
"ini??" sambil mengangkat box makanan
"ini makanan dia, dia malah makan disini" kata Barry sambil menunjuk Fardan
"maaf pak itu maksud saya untuk bapak" kata Fardan berbohong
"mana mungkin, disini jelas-jelas tertulis nasi ayam geprek kamu tau kan saya gak suka pedas" kata Barry sambil menujukan catatan di atas box tersebut...
"makan ini, aku makan yang ini" kata Barry sambil mengambil piring di hadapan Fardan yang telah terisi makanan
Mau tidak mau Fardan menurut, sementara yang lainnya malah tertawa cekikikan atas apa yang terjadi barusan... apalagi ekspresi Fardan begitu melas menerima kenyataan gagal memakan makanan Tiara ..
sementara itu, Tiara sangat berusaha menghilangkan rasa Khawatirnya karena Barry berada di ruangan itu, ia Takut sekali hubungannya akan ter endus meskipun dengan sahabatnya...
"enak, cocok di lidah.. siapa yang masak" tanya Barry yang makan sangat lahap
"Ibu nya Tiara Pak" kata Andin sopan
"ohh.. enak, semoga anaknya juga pintar masak" kata Barry santai
Uhuk uhuk uhuk
Tiara tersedak karena kaget mendengar ucapan Barry
"minum minum" kata Syifa sambil memberikan air mineral di gelas
sambil minum Tiara menatap Barry sinis, Barry hanya tersenyum sambil mebaikan alisnya justru membuat Tiara kesal...
"Tiara pintar masak kok paK, apalagi Sop Iga buatan Tiara... sedep pak" celetuk Syifa jujur
membuat Mata Tiara membulat ke arah sumber suara
"wanita idaman" kata Fardan nyeletuk
Tiara semakin salah tingkah merasa tidak nyaman...
Barry pun merasa terancam karena Fardan memberi sinyal-sinyal yang tak ia suka..
"Andin,,,, apa kamu jadi mengundurkan diri?" tanya Barry seolah membuyarkan perkataan Fardan tadi..
Benar saja ucapan Barry berhasil menggundang perhatian Tiara, Syifa dan Anwar....
Andin pun menatap para sahabatnya yang terlebih dulu sudah menatap nya meminta penjelasan...
Pak Barry kenapa mendahuluiku untuk berbicara masalah ini
Dalam Hati Andin
"Jadi pak" kata Andin singkat"
"Kenapa mba? kenapa Mba Andin mau berhenti bekerja?" Tanya Tiara dengan rasa sedih dan penasaran
"aku.. hemm aku mau menikah dua minggu lagi, dan Suamiku di tugaskan di kantor pemerintahan di daerah surabaya, aku harus ikut dia karena dia dalam masa pengabdian selama 5 tahun, sementara kami sudsh berpacaran 3 tahun, tidak mungkin rasanya kalau menunda pernikahan sampai 5 tahun kedepan" kata Andin menjelaskan hal sesungguhnya
"Benarkah? aku senang mba akan menikah meskipun disisi lain aku sangat sedih akan berjauhan dari sahabatku disini" kata Tiara menatap Andin
"benar Mba,, aku bahagia tapi aku juga sedih" celetuk Syifa sambil meletakan gelas yang baru ia ambil untuk minum
Barry, Anwar juga Fardan hanya menatap ketiga wanita itu yang menurutnya penuh dengan drama itu...
"sebenarnya aku akan cerita ke kalian, tapi sudah Pak Barry ucapkan duluan" kata Andin dan membuat Barry menjadi tak enak hati, namun Barry tetap stay cool pura-pura tak merasakan hal apapun..
"nah untuk itu aku mau mengajak kalian untuk main ke rumah ku besok, hanya makan makan kecil, bagaimana?" kata Andin yang lupa jika disitu ada Fardan dan Barry
"setuju" celetuk Barry singkat
"eh bapak mau ikutan?" kata Syifa melongo seolah tak percaya
"Tentu, bukankan Andin juga mengajakku?" kata Barry menatap Andin
"ah iya tentu pak, begitu juga Pak Fardan, tapi rumah saya kecil pak, jelek. saya malu" kata Andin merasa tak enak hati
"itu bukan masalah.." jawab Barry sambil berdiri
"lima menit lagi waktu istirahat selesai, bersiaplah kembali bekerja" kata Barry sambil berjalan ke arah luar ruangan
"oh iya, Tiara makasih makan siangnya, masakan Ibu mu Enak, lain kali saya mau coba masakan kamu" kata Barry yang terhenti di ambang Pintu..
Sontak ucapan Barry menggundang rasa heran, terutama Tiara yang merasa sangat malu kepada teman-temannya..
Tiara menatap Syifa si mulut ember..
"aku cuci tanggan dulu" kata Syifa segera berlari keluar ruangan karena ia tau akan kemarahan Tiara...
semebtara teman-teman yang lain malah tertawa cekikan melihat Syifa yang beranjak pergi...
menggemaskan
Kata Fardan dalam hati.....
*
*
*