
"Kita harus lakukan tindak operasi pak, bayi harus segera di keluarkan kalo enggak akan membahayakan ibu dan bayi sendiri" kata Dokter berparas cantik
"tapi dok kandungan isteri saya baru usia 8 bulan" kata Fardhan panik..
"betul pak, tapi apa yang saya lakukan selama dua Minggu, tidak sia-sia .. saya selalu menyuntikkan pematang paru, insya Allah bayi lebih matang, saya sudah khawatir kan hal ini terjadi... " kata dokter itu
"Yauddah dok, lakukan yang terbaik saja buat menantu dan cucu saya dok" timpal cepat ibu Erna
"Baik Bu, bapak bagaimana sebagai suami?" Tanya dokter tersebut mwmebuat Fardhan merasa tertekan, disisi lain ia memikirkan tumbuh kembang anak, disisi lain ia memikirkan keselamatan keduanya...
"Bapak tenang saja, bayi bapak pasti prematur pak, namun kami punya penanganan khusus bagi bayi prematur pak, kedepannya bayi bapak juga pasti akan mendapatkan perawatan intensif" kata Dokter menjelaskan
"Fardhan kita ga bisa buang waktu" Kata ibu Erna memberi peringatan pada Fardhan
"Baik dok, lakukan saja dok" kata Fardhan pasrah dan berharap semua akan berjalan dengan baik-baik saja...
*
"Gimana kak, mah?" Tanya Risa
"kita tunggu depan ruang operasi aja mah, dek" kata Fardhan berjalan penuh kecemasan
"mah" kata Risa menahan tangan ibu Erna
"doakan saja Ris, ini jalan terbaik.. terpaksa Syifa harus melahirkan secara Caesar" kata Ibu Erna dalam rasa sedih terpukulnya atas cobaan Fardhan dan Syifa kali ini
Risa ikut menitihkan air matanya, ia tidak menyangka jika kehamilan Syifa justru mengalami sedikit trauble di akhir masa kehamilannya ...
Risa segera memberi kabar pada Tiara yang masih terjebak dalam kemacetan ibu kota..
"Fardhan sudah ngabarin bunda belum?" Tanya ibu Erna pelan
"udah mah, udah di jalan kayaknya" kata Fardhan terlihat berusaha tenang..
yaa Allah selamatkan anak isteriku,...
Syifa maafkan aku sayang, aku pernah berjanji menemani kamu saat melahirkan l, tapi keadaan mengharuskan aku tertahan disisni... maafkan aku, maafkan papa nak... Batin Fardhan sambil menahan kuat air mata nya..
**
Satu jam kemudian, seluruh keluarga Atmja, merua fardhan dan dua teman Fardhan hadir di rumah sakit, mencoba memeberi suport bagi Farhdan..
Tak lama terdengar pintu terbuka membuat Fardhan menghampiri dokter tersebut..
"Bagaimana siteri dan anak saya dok??" kata Fardhan to the Poin
"ibu Syifa dalam keadaan sangat lemah pak, saya menempatkan nya sementara di ICU sampai kondisinya stabil..." kata Dokter
"Untuk anak bapak, dia sangat tampan dan cukup kuat, bayi pintar sangat kooperatif, saat ini bayi bapak di ruang NiCu ya pak, nanti akan ada dokter dan suster yang akan menjelaskan selanjutkan tentang kondisi anak bapak" kata dokter itu menjelaskan panjang lebar dan di dengar oleh seluruh anggota keluarga..
Ada rasa senang, terucap rasa syukur atas kehadiran putera pertama Fardhan, meski terlihat jelas rasa sedih mendera pada diri Fardhan mengingat Syifa yang begitu lemah dan harus mendapatkan perawatan khusus di ICU..
"kaaaakkk" Risa memeluk erat kakaknya itu, Risa ikut menangis kala Fardhan juga menangis..
ibu Erna juga memeluk erat bunda Syifa menumpahkan air mata mereka..
"Sabar Dhan, Syifa pasti baik-baik aja" kata Barry menepuk bahu saudaranya itu
"makasih bar" kata Fardhan pelan dan lirih
"gue yakin Syifa kuat, sabar, tenang, berserah sama Allah" kata Roy yang nampak lebih religius meski sikap lucu, dan konyolnya tak nampak hilang
"iya Roy, makasih yaa.."
"makasih pin.. " kata Fardhan
"gue mau liat syifa... " kata Fardhan melangkah gontai ke arah ICU
"Pak Fardhan" kata salah satu suster membuat langkah Faradhan terjeda dan ia pun menoleh
"Bapak di panggil dokter Ilyas, dokter yang menangani putera bapak" kata Suster membuat Fardhan sedikit tersandar jika ia harus kuat untuk anak juga isterinya
"mari pak kesini" titah suster mengarahkan kesuatu tempat..
Merekapun tiba di ruang bayi yang steril, dan di jaga begitu ketat oleh petugas, bahkan untuk masuk hanya orang tertentu saja.. Fardhan pun harus memakai pakaian standar ruangan tersebut..
melihat bayi mungil yang masih merah berada di dalam box bayi dan terpasang alat-alat penunjang..
"Assalamualaikum sayang... terimakasih sudah hadir di hidup papa dan mama" kata Fardhan lirih, kemudian ia melakukan kewajibannya sebagai ayah pertama kali, yaitu mengadzani nya...
Air matanya menetes beriringan dengan lantunan adzan yang terucap dari mulut Fardhan, bibirnya sedikit gemetar kala itu...
setelah selesai, Fardhan menatap lagi bayinya lekat-lekat..
"Kita doain mama ya sayang, supaya mama cepet sehat, bisa kasih kamu susu, kita bisa main bareng... kamu juga harus kuat demi mama dan papa yaa..." kata Fardhan benar-benar tak kuasa menahan haru nya..
"Maaf pak Fardhan" tegur dokter membuyarkan sendu Fardhan kala itu..
"iya dok"
"Pak.. bayi bapak termaksud yang kuat, dia hebat bahkan dia menangis lima detik setelah keluar dari perut mama nya.. PR kita adalah memberi asupan ASI, saya berharap ini tidak lebih dari 2 Minggu namun, banyak kasus seperti ini bayi harus dalam penanganan kami satu bulan sampai dua bulan lamanya..." kata Dokter jujur
"Astagfirullahaladzim... dok apa tumbuh kembang anak saya akan terhambat?" tanya Fardhan mengenai kekhawatirannya
"saya yakin tidak untuk bayi bapak, bahkan berat bayi bapak pun saya katakan tidak terlalu kecil, 2,5 kg cukup besar untuk bayi prematur... bahkan mama nya sempat di suruh diet ya sama dokter salsa..yaa karena kalo sampai lahir di usia normalnya bayi bapak bisa 3,8 kg pak" kata dokter tersenyum lebar..
ga sia-sia kamu makan banyak sayang, sepertinya feeling kamu sama baby kuat...
Batin Fardhan..
"Terus bagaimana sama asupan anak saya dok?" tanya Fardhan kembali menoleh bayi tampannya
"lebih baik sebenarnya minum Asi ibunya pak, tali sambil menunggu ibu sadar dan bisa memproduksi asi, kita akan kasih susu terbaik untuk anak bapak" kata dokter anak tersebut
"baik dok, terimakasih...."
"Dok saya mau lihat isteri saya" kata Fardhan jujur
"Boleh, mari pak, nanti akan di antar suster" kata dokter mempersilakan..
**
di ruangan ICU Fardhan kembali melihat kenyataan buruk dalam hidupnya, kini isterinya juga berbalut beberapa alat di tubuhnya...
meski hanya selang oksigen, infus, atas perekam detak jantung, namun hati Fardhan seolah teriris sakit melihat isterinya lemah tak berdaya...
"Sayang...anak kita sudah lahir" bisik Fardhan sambil meneteskan air matanya
"dia butuh kamu sayang... kamu harus kuat yaa, kamu harus bangun untuk anak kita sayang... " kata Fardhan semakin terisak..
"Kamu jangan marah yaa, maaf aku ga bisa tepatin janji aku nemenin kamu melahirkan, keadaan yang nuntut aku harus berada di luar ruangan operasi kala itu... " sambung Fardhan....
"I love you sayang, cepet bangun... " kata Fardhan mengecup pungung tangan Syifa berkali-kali....